Follow us:

Awal Perkembangan Islam di India

Setelah Indonesia dan Pakistan, India adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar sedunia. Berdasarkan data tahun 2020, populasi umat Islam setempat mencapai tidak kurang dari 207 juta jiwa.

Berbagai pihak juga memprediksi adanya tren kenaikan muslimin India. Pada 2017, Pew Research Center merilis proyeksi bahwa negara tersebut akan memiliki sebanyak 311 juta warga muslim pada 2050. Bila hal itu mewujud, maka India akan menjadikan negara berpenduduk umat Islam terbanyak sedunia, bahkan melampaui Indonesia.

Sejarah masuknya Islam di Asia selatan, termasuk India, berkaitan dengan hubungan ekonomi dan budaya yang terjalin lama. Bahkan sejak ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam lahir, antara India dan Jazirah Arab telah terhubung, khususnya melalui kegiatan perdagangan yang dilakukan para pelaut Arab yang mengarungi Samudra Hindia.

Pada masa kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Islam mulai menyebar di India berkat peran kalangan saudagar Arab. Melalui jalur maritim, mereka menyampaikan dakwah saat bermukim di pesisir barat India, yakni bandar-bandar Malabar dan Gujarat.

Masjid pertama di India, Cheraman Juma, yang berlokasi Kodungalloor, Kerala, dibangun pada 629. Artinya, keberadaannya hanya beberapa tahun menjelang wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Menurut Irfan A Omar dalam buku Encyclopedia of India (2006), kalangan sufi dan terpelajar memegang peran paling penting dalam memperkenalkan Islam di India. Melalui mereka, Islam disebarluaskan secara relatif damai. Mereka terlibat dalam aktivitas keilmuan dan spiritual yang sejak berabad-abad silam sudah bergeliat di kawasan Asia selatan.

Sejak 2.300 tahun sebelum Masehi (SM), lembah sungai Indus –yang darinya nama ‘India’ berasal– telah memunculkan salah satu peradaban paling tua di dunia, sezaman dengan Mesir Kuno dan Mesopotamia (Irak). Peradaban India unggul terutama dalam bidang keilmuan, seperti matematika, medis, sastra, dan filsafat.

Sejak abad kedelapan Masehi, banyak sufi dari negeri-negeri luar berpindah ke India. Kekayaan budaya India tampaknya menarik minat mereka untuk mempelajarinya secara langsung. Beberapa dari mereka kemudian menikah dengan perempuan lokal sehingga berbaur dengan penduduk setempat.

Kaum sufi menjalankan tarekat yang antara lain berupa hidup secara zuhud. Praktik serupa itu sesungguhnya telah dikenal masyarakat religius India pemeluk agama-agama lain jauh sebelum kedatangan Islam.

Di antara para salik yang terkenal adalah Ali bin Utsman al-Hujfiri (1009-1073). Penulis kitab Kashf al-Mahjub (‘Menguak yang Tersembunyi’) itu merupakan seorang sufi pengelana sebelum pada akhirnya menetap di Lahore (kini Pakistan).

Di kota tersebut, dia mengajarkan tasawuf dengan cara yang mengundang simpati penduduk setempat. Sejumlah sejarawan menyebut, al-Hujfiri merupakan salah satu perintis dakwah Islam yang paling berpengaruh di Anak Benua India.

Tarekat Chistiyah juga mempelopori penyebaran Islam di India. Khwaja Muin al-Din (1142-1236) memperkenalkan gerakan tersebut ke Ajmer, salah satu pusat agama Hindu, pada abad ke-13. Selanjutnya, sufi-sufi Chistiyah cenderung dihormati bukan hanya umat Islam, melainkan juga kaum Hindu setempat. Makam mereka kerap menjadi persinggahan dua umat agama tersebut di India.

Agaknya, tarekat Chistiyah mendapat penerimaan luas publik India yang sedemikian heterogen lantaran mengajarkan tema universal, semisal cinta dan toleransi. Selain itu, para sufinya juga menggunakan musik yang menarik hati pendengarnya dari lintas kalangan. Kelompok tasawuf ini dibentuk sejak awal abad ke-10 oleh Abu Ishaq al-Syami di kota kecil Chist (kini Afghanistan).

Masyarakat India mulai mengenal teks-teks Arab dan Persia berkat dakwah Islam. Di samping itu, tidak sedikit kalangan sufi menulis dalam bahasa-bahasa lokal, seperti Punjabi, Sindi, Bengal, dan Urdu.

Dengan demikian, persebaran Islam di negeri ini tidak lantas identik dengan dominasi budaya Arab atau Persia, melainkan lebih sebagai perpaduan dengan unsur-unsur setempat. Pada akhirnya, rezim kekuasaan Islam pada masa itu menjadikan Urdu sebagai bahasa utama.

Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus merupakan penguasa Muslim pertama yang merintis penaklukkan atas Anak Benua India. Pada 711, Muhammad bin Qasim berhasil menguasai Sindh (kini Pakistan). Pemuda yang masih berusia 17 tahun itu merupakan keponakan gubernur Irak, al-Hajjaj bin Yusuf, yang terkenal berwatak keras.

Pada masa kekuasaan Ibnu Qasim yang terbilang singkat, hanya empat tahun, umat agama-agama lokal (Hindu dan Buddha) dilindungi haknya untuk tinggal dan beribadah. Situasi berubah setelah al-Hajjaj wafat. Ibnu Qasim terseret pergolakan politik yang dicetuskan khalifah baru Dinasti Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik. Pada 715, pemimpin muda ini dieksekusi mati.

Barulah pada akhir abad ke-12, mayoritas wilayah India menjadi bagian dari kekuasaan muslim berikutnya, Kesultanan Delhi. Selama 320 tahun, ada lima dinasti yang berkuasa di dalamnya, yakni Mamluk (1206-1290), Khalji (1290-1320), Tughluq (1320-1414), Sayyid (1414-1415), dan Lodi (1451-1526). (UYR/Republika)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved