Pentingnya Mempelajari Isra Mikraj, Bukan Sekadar Libur Nasional
Setiap memasuki bulan Rajab, umat Islam kembali berhadapan dengan satu tanggal merah dalam kalender nasional, yaitu peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Namun, harus diakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir gaung peringatan peristiwa agung ini terasa semakin redup. Ucapan selamat di ruang publik tidak seramai peringatan hari besar Islam lainnya, kajian tematik kian terbatas, dan tidak sedikit masyarakat yang hanya mengetahui bahwa 27 Rajab adalah hari libur, tanpa benar-benar memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal tersebut.
Fenomena ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Isra Mikraj bukan sekadar hari libur nasional, melainkan peristiwa fundamental dalam sejarah Islam yang menyentuh inti keimanan seorang muslim. Menjadikannya hanya sebagai waktu rehat dari rutinitas kerja, tanpa upaya memahami makna dan pesan yang dikandungnya, merupakan kerugian spiritual yang tidak kecil.
Sejatinya, menjaga makna hakiki dari peringatan peristiwa agung ini merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen umat: guru, ustaz, ulama, pemerintah, tokoh masyarakat, hingga orang tua di lingkungan keluarga. Edukasi tentang Isra Mikraj harus terus dihidupkan agar anak-anak dan generasi muda memahami sejarah, makna, serta nilai-nilai besar yang terkandung di dalamnya, bukan sekadar mengingatnya sebagai tanggal merah di kalender.
Isra Mikraj adalah perjalanan suci yang tidak pernah dialami oleh nabi mana pun selain Rasulullah SAW. Dalam satu malam, beliau diperjalankan dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina (Isra), lalu dinaikkan ke hadirat Allah SWT hingga mencapai Sidratul Muntaha (Mikraj). Mufti Dar al-Ifta Mesir, Prof. Dr. Nazhir Muhammad ‘Iyad, menegaskan bahwa Sidratul Muntaha merupakan tempat yang bahkan tidak dijangkau oleh malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus. Ini adalah bentuk pemuliaan Allah yang sangat istimewa, bukan hanya kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga kepada umatnya yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai umat terbaik.
Karena itu, Isra Mikraj tidak layak dipahami sebatas kisah historis atau dongeng religius. Ia merupakan bagian dari identitas iman umat Islam. Mempelajarinya berarti merawat kedekatan spiritual dengan Nabi Muhammad SAW, lalu menerjemahkan kecintaan tersebut dalam kehidupan nyata: meneladani sunnah beliau, menghidupkan akhlaknya, serta menghadirkan wajah Islam yang ramah, moderat, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Memang, para ulama berbeda pendapat mengenai waktu pasti terjadinya Isra Mikraj, baik dari sisi tahun maupun tanggalnya. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan mencerminkan kekayaan tradisi keilmuan Islam. Di Indonesia, peringatan Isra Mikraj secara turun-temurun dilaksanakan setiap 27 Rajab, yang pada tahun ini bertepatan dengan 16 Januari 2026. Di sejumlah daerah, peringatan ini diperkaya dengan tradisi lokal, seperti kenduri tet apam Buleun Rajab di Aceh, yang memperkuat kebersamaan dan solidaritas sosial. Meski demikian, seluruh bentuk peringatan tersebut semestinya bermuara pada pemahaman substansi, bukan berhenti pada simbol dan seremoni.
Isra Mikraj juga menegaskan satu prinsip penting dalam ajaran Islam, bahwa iman tidak selalu tunduk pada logika empiris semata. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah al-Isra ayat 1, sebagai penegasan bahwa kekuasaan Allah SWT melampaui batas nalar manusia. Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, menyebut Isra Mikraj sebagai anugerah ilahi yang melampaui hukum alam dan menjadi penguatan spiritual bagi Nabi Muhammad SAW di tengah beratnya tantangan dakwah.
Dalam konteks inilah, peringatan Isra Mikraj seharusnya tidak berhenti pada pengingat tanggal dan cerita. Ia perlu menjadi momentum belajar kembali tentang iman dan ibadah: mengapa salat begitu sentral dalam kehidupan seorang muslim, mengapa Nabi Muhammad SAW dimuliakan melalui peristiwa ini, dan mengapa ibadah tidak boleh dijalankan sekadar sebagai rutinitas. Tanpa pemahaman yang mendalam, Isra Mikraj berisiko hanya menjadi seremoni tahunan tanpa pengaruh nyata bagi perilaku keagamaan umat.
Oleh karena itu, peringatan Isra Mikraj perlu dikembalikan pada makna hakikinya sebagai peristiwa iman yang dipelajari, direnungkan, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Libur nasional yang menyertainya akan menjadi benar-benar bermakna apabila dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman keagamaan, meningkatkan kualitas pelaksanaan salat, serta memperkuat akhlak sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Selamat memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 H. Semoga peristiwa agung ini tidak hanya tercatat dalam kalender, tetapi benar-benar hidup dalam kesadaran, ibadah, dan laku kehidupan umat Islam.
Penulis: Muhammad Nasril, Lc. MA (ASN Kemenag Aceh Besar & Mahasiswa S3 Hukum Islam UIN Jakarta – Awardee BIB Kemenag-LPDP). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments