Hikmah di Balik Ikhtiar Mencari Rezeki
Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab At-Tanwir mengatakan, terdapat banyak hikmah dalam kebolehan bekerja sebagai usaha mencari rezeki. Di antaranya:
Pertama, Allah SWT mengetahui hati hamba-hamba-Nya yang lemah, tidak mampu menembus pembagian rezekinya dan tidak bisa benar-benar percaya pada jaminan-Nya. Oleh karena itu, Allah membolehkan mereka untuk bekerja sebagai bentuk usaha yang bisa menjadi sandaran dan memantapkan hatinya. Kebolehan bekerja sebagai bentuk usaha yang bisa menjadi sandaran dan memantapkan hatinya.
Kebolehan bekerja atau mencari rezeki tersebut merupakan karunia Allah SWT kepada mereka.
Kedua, usaha mencari rezeki dapat menjaga seorang hamba dari beberapa hal, yaitu kebiasaan meminta-minta dan menjaga wibawa keimanannya agar tidak turun karena menggantungkan rezeki kepada makhluk. Rezeki yang Allah berikan kepadamu melalui beberapa sebab seperti pekerjaan atau usaha lainnya bukanlah pemberian makhluk kepadamu.
Jika seseorang membeli sesuatu darimu atau menyewa jasamu, bukan berarti ia yang memberi rezekimu. Akan tetapi, ia sebatas melakukan bagiannya dan mengharapkan mengharapkan manfaat untuk dirinya sendiri. Itu berarti rezekimu diambil darinya, tapi bukan merupakan pembagiannya.
Ketiga, kesibukan seorang hamba dalam bekerja mencari rezeki dapat mengalihkannya dari berbuat maksiat dan melakukan larangan Allah. Tidakkah engkau mengamati apabila mereka libur karena hari besar atau lainnya, bagaimana orang-orang yang lalai menggunakan waktunya untuk bermaksiat dan melanggar perintah Allah? Maka dari itu, kesibukannya dalam bekerja mencari rezeki merupakan bentuk kasih sayang Allah kepadanya.
Keempat, dalam bekerja dan usaha mencari rezeki terdapat kasih sayang Allah bagi orang-orang yang berlaku tajrid dan anugerah bagi orang-orang yang mengarahkan hidupnya dalam ketaatan dan mendedikasikan diri kepada-Nya. Jika bukan disebabkan orang-orang yang bekerja dan mencari rezeki, bagaimana orang yang berkhalwat dan bermujahadah bisa fokus berkhalwat dan mujahadah? Allah menjadikan orang yang bekerja mencari rezeki seperti para pelayan bagi hamba-hamba yang mengarahkan hidup kepada-Nya.
Kelima, Allah ingin agar orang-orang mukmin bersatu padu seperti dalam firman-Nya,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
innamal-mu’minûna ikhwatun
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara (QS: Al Hujurat: 10)
Proses bekerja dan mencari rezeki menjadi sebab mereka saling mengenal dan membuat mereka saling menghasihi. Hanya orang bodoh atau lalai dari Allah yang mengingkari adanya proses bekerja atau mencari rezeki. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam berdakwah, memerintahkan umat beliau agar berhenti dari pekerjaan mereka. Akan tetapi, Nabi menyetujui apa yang mereka lakukan selagi diridhai Allah dan mengajak mereka menuju jalan petunjuk-Nya.
Pada perang uhud, Rasulullah SAW mengenakan dua pakaian besi dan memakan timun dengan kurma segar lalu berkata. “Ini akan menghindarkan dari bahaya.” Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Riwayat sebelumnya yang menyebutkan, “Pada pagi hari burung itu pergi dalam keadaan lapar dan pulang pada petang hari dalam keadaaan kenyang,” juga menetapkan adanya asbab atau proses sebab-akibat. Pergi pada pagi hari dan pulang saat petang merupakan usaha yang menjadi sebab burung itu mendapatkan rezeki. Apa yang dilakukan burung itu seperti manusia yang berangkat di pagi hari untuk bekerja dan kembali di saat petang.
Penjelasan lebih detilnya adalah bahwa usaha atau proses sebab itu harus diwujudkan, tetapi jangan bergantung padanya. AKui keberadaaan sebab (ikhtiar) sebagaimana ditetapkan Allah dengan hikmah dan kebijaksanaanNya dan jangan sampai menggantungkan rezeki pada usaha atau proses sebab tersebut karena engkau tahu bahwa yang menjamin rezeki hanya ALlah SWT.
Jika engkau bertanya, lantas apa yang dimaksud bekerja atau mencari rezeki dengan cara yang baik dalam sabda nabi,
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ
Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan carilah rezeki dengan cara yang baik. (HR Daud). (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments