- info@darussalam.id
- 021 8493 2440
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sembilan poin tausiyah dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M.
Tausiyah tersebut dikeluarkan melalui surat Nomor: Kep-37/DP-MUI/III/2026 yang ditandatangani Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan pada 16 Maret 2026 M.
Berikut sembilan poin tausiyah yang dikeluarkan MUI dalam Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H:
1. Mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada seluruh umat Islam di Indonesia, teriring doa semoga semua amal kebaikan dan ibadah selama Ramadhan diterima oleh Allah Ta’ala, taqabbalallahu minna wa minkum, kullu ‘am wa antum bikhair.
Mohon maaf lahir dan batin. Idul Fitri merupakan momentum spiritual yang sangat penting bagi umat Islam sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa, meningkatkan ketakwaan, menumbuhkan empati sosial, serta mempererat ukhuwah di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2. Mengajak umat Islam untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT serta ungkapan syukur atas nikmat hidayah dan keberhasilan menjalankan ibadah Ramadhan. Allah SWT berfirman,
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 185)
Syiar takbiran hendaknya dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan, ketertiban, serta menjaga kemaslahatan dan ketenteraman masyarakat.
3. Mengharap kepada pemerintah, khususnya pihak kepolisian, agar dapat menjamin keamanan dan kenyamanan umat Islam dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri, baik pada saat perjalanan pergi dan pulang mudik, malam takbiran maupun pada saat pelaksanaan shalat Idul Fitri di lapangan, di masjid, surau, atau tempat lainnya.
4. Mengimbau umat Islam agar menjadikan Idul Fitri sebagai Momentum Taqarrub Ilallah. Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk kembali kepada fitrah dengan memperkuat ketakwaan dan keistiqamahan dalam menjalankan ajaran Islam. Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 102).
Karena itu nilai-nilai Ramadhan seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian sosial, dan kedisiplinan spiritual hendaknya terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk mempererat silaturrahim, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR Bukhari dan Muslim). Silaturrahim merupakan fondasi penting dalam memperkuat persatuan umat dan harmoni sosial.
6. Mengingatkan umat Islam agar merayakan Idul Fitri dengan penuh rasa syukur, kesederhanaan, serta menghindari perilaku berlebih-lebihan (israf) dalam konsumsi maupun perayaan. Allah SWT berfirman,
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31).
Semangat Idul Fitri hendaknya diwujudkan dengan meningkatkan kepedulian kepada fakir miskin, anak yatim, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks ini mengingatkan kembali Fatwa MUI Nomor 83 tahun 2023 yang berbunyi: “Umat Islam diimbau untuk memaksimalkan menghindari konsumsi dan penggunaan produk-produk Israel dan pihak-pihak yang mendukung agresi Israel ke Palestina.”
7. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kohesi sosial dan persatuan bangsa; yaitu dengan menjaga kerukunan, memperkuat ukhuwah, serta memelihara persatuan bangsa sebagai amanah bersama. Allah SWT berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10).
Rasulullah SAW bersabda,
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan memperkuat kohesi sosial, masyarakat akan memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
8. Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, MUI mengajak umat Islam memperkuat ketahanan umat melalui solidaritas sosial, penguatan ekonomi umat, serta optimalisasi instrumen syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Allah SWT berfirman,
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ
“Agar harta tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS Al-Hasyr: 7).
Penguatan ekonomi umat dan solidaritas sosial merupakan bagian penting dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama.
9. Momentum Idul Fitri hendaknya juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak doa bagi terciptanya perdamaian dunia serta berakhirnya berbagai konflik kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Allah SWT berfirman,
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepada perdamaian itu.” (QS Al-Anfal: 61).
MUI mengajak umat Islam Indonesia untuk terus meneguhkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) serta berkontribusi dalam membangun peradaban dunia yang damai, adil, dan berkeadaban. (UYR/MUI)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments