600 Muslim Indonesia Gelar Shalat Id Terbesar di Ehime Jepang
Suasana haru dan khidmat menyelimuti gedung Ehime Kyouiku Kaikan (愛媛教育会館) di Kota Matsuyama, Prefektur Ehime, Jepang, pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka, ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Pulau Shikoku menorehkan sejarah baru.
Untuk pertama kalinya, lebih dari 600 Muslim Indonesia berkumpul dalam satu wadah koordinasi yang solid untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri berjamaah. Pemandangan ini menjadi pemandangan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya, Muslim Indonesia di Ehime menjalankan ibadah secara terpisah-pisah dalam kelompok kecil atau bergabung dengan jamaah dari berbagai negara dengan koordinasi yang terbatas. Namun, tahun ini suasana terasa sangat “Indonesia”. Sejak pagi buta, jamaah yang mengenakan baju koko, sarung, dan mukena khas Nusantara mulai memadati area gedung, membawa atmosfer hangat kampung halaman ke tengah dinginnya udara musim semi di Jepang Barat.
Jumlah jamaah yang mencapai angka 600 orang ini di luar dugaan panitia. Sebagai antisipasi agar ibadah tetap berjalan lancar dan nyaman, panitia terpaksa membagi pelaksanaan shalat menjadi dua kloter. Kloter pertama dimulai pukul 09.30 waktu setempat yang dipimpin oleh imam Mahmudi dan khatib Fani S. Sementara itu, kloter kedua menyusul pada pukul 10.30 waktu setempat dengan imam Andi Achmad dan khatib Risbakti.
Ini tidak lepas dari peran Komunitas Muslim Indonesia di Ehime (KMI Ehime). Meskipun organisasi ini tergolong sangat muda karena baru terbentuk pada 2025, dedikasi mereka dalam merangkul diaspora Indonesia di Prefektur Ehime dinilai patut diacungi jempol. KMI Ehime kini telah terdaftar resmi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, menjadikannya bagian sah dari jaringan diaspora nasional di Negeri Sakura.
Ketua KMI Ehime, Mashuri Imam Buchori, tidak dapat menyembunyikan rasa harunya saat melihat lautan jamaah yang memadati ruangan. Baginya, momen ini lebih dari sekadar ritual ibadah tahunan; ini adalah pernyataan eksistensi dan solidaritas.
“Kegiatan hari ini jadi bukti bahwa kehadiran KMI Ehime memang dibutuhkan oleh jamaah. Perjalanan dakwah kita masih panjang, dan ini baru langkah awal. Badan boleh capek, tapi hati bahagia bisa berjuang bersama ikhwan dan akhwat semuanya,” ujar Mashuri dalam keterangan tertulis pada Ahad (22 Maret 2026).
Prefektur Ehime selama ini dikenal memiliki komunitas Muslim yang lebih tersebar dibandingkan daerah Kanto atau Kansai. Hadirnya KMI Ehime seolah menjadi “rumah besar” yang menyatukan potongan-potongan semangat ibadah yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Diplomasi kuliner di Negeri Sakura
Idul Fitri tak lengkap tanpa tradisi makan bersama. Seusai rangkaian shalat dan khotbah, Ehime Kyouiku Kaikan berubah menjadi ruang makan raksasa yang penuh dengan aroma khas bumbu Nusantara. Menariknya, seluruh hidangan yang disajikan adalah hasil gotong royong dan donasi murni dari para jamaah. Para relawan bekerja bahu-membahu memasak menu-menu andalan lebaran seperti opor ayam dan sambal goreng, demi mengobati kerinduan lidah akan masakan ibu di rumah.
Acara ramah tamah ini juga menjadi ajang diplomasi budaya yang manis. Beberapa warga lokal Jepang terlihat hadir di tengah kerumunan jamaah Indonesia. Dengan penuh rasa penasaran dan keramahan, mereka ikut mencicipi aneka hidangan khas Indonesia. Kehadiran warga Jepang ini menunjukkan betapa Muslim Indonesia mampu berbaur dan menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat setempat, sekaligus memperkenalkan sisi indah Islam yang penuh kedamaian dan kebersamaan.
Bagi para jamaah, momen makan bersama ini adalah obat penawar rindu yang paling ampuh. Banyak dari mereka yang merupakan pekerja kontrak atau mahasiswa yang belum bisa pulang ke Tanah Air dalam hitungan tahun.
“Berada di sini, meskipun jauh dari keluarga inti, rasanya seperti punya keluarga baru yang sangat besar,” ungkap salah satu jamaah yang hadir.
Suksesnya Shalat Ied terbesar sepanjang sejarah Prefektur Ehime ini merupakan garis start bagi KMI Ehime. Mashuri menegaskan bahwa visi komunitas ini melampaui sekadar perayaan hari besar. Ke depan, KMI Ehime telah merancang serangkaian program sosial dan keagamaan, mulai dari kajian rutin, pendampingan bagi keluarga Muslim di Jepang, hingga kegiatan pendidikan bagi anak-anak diaspora.
Eksistensi Muslim Indonesia di Pulau Shikoku kini memiliki struktur yang lebih jelas. Keberadaan wadah resmi seperti KMI Ehime memastikan bahwa setiap WNI yang datang ke Ehime tidak akan merasa terasing dalam menjalankan keyakinannya. Mereka kini memiliki akses terhadap informasi ibadah, konsultasi keagamaan, hingga bantuan sosial jika diperlukan. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments