Follow us:

Puasa Sunnah Muharram: Keutamaan, Tata Cara Mengamalkan, dan Hikmahnya

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum) yang menempati kedudukan istimewa dalam Islam.

Di bulan Muharram ini, kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan kebaikan, salah satunya dengan melaksanakan puasa sunnah. Bahkan, puasa di bulan ini menduduki derajat yang paling utama setelah Ramadhan.

Keutamaan tersebut sebagaimana ditegaskan dalam salah satu riwayat hadis berikut:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim)

Imam as-Shan’ani (wafat 1182 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadis di atas menunjukkan keutamaan puasa Muharram sebagai puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadhan, malah lebih utama dibandingkan puasa-puasa sunnah lain yang memiliki anjuran khusus.

Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan yang melatarbelakanginya, di antaranya lantaran bulan Muharram disebut sebagai Syahrullah (bulan Allah) sebagai bentuk pemuliaan atas keagungannya.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini sebagai bentuk mengawali pergantian tahun dengan berbagai amal kebaikan.

الصِّيَامُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ، نُسِبَ إِلَيْهِ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ الْمُحَرَّمُ بَدَلٌ مِنْهُ؛ لِأَنَّهُ مُفْتَتَحُ السَّنَةِ وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ صَوْمَهُ لِيَفْتَتِحَ عَامَهُ بِفِعْلِ الْخَيْرِ، وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ أَفْضَلُ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ وَأَنَّهُ أَفْضَلُ عَلَى كُلِّ مَا وَرَدَ

“Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Penyandaran bulan ini kepada Allah merupakan bentuk pengagungan terhadap kemuliaannya. Muharram disebut secara khusus karena ia adalah pembuka tahun, dan Nabi SAW dahulu banyak berpuasa di dalamnya agar memulai tahun beliau dengan melakukan amal kebaikan. Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah Ramadhan, dan lebih utama dibandingkan puasa-puasa lain yang terdapat anjuran khusus untuk melakukannya.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shagir [Riyadh: Maktabah Dar as-Salam], vol. 2, h. 568)

Dalam tinjauan fiqih mazhab Syafi’i, hukum melaksanakan puasa pada bulan-bulan haram, termasuk Muharram, adalah sunnah. Lebih-lebih, bulan tersebut merupakan waktu yang paling utama untuk memperbanyak puasa setelah bulan Ramadhan.

Keterangan ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ibn Hajar al-Haitami (wafat 974 H) berikut,

وَسُنَّ صَوْمُ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ بَلْ هِيَ أَفْضَلُ الشُّهُورِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ وَهِيَ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ

“Disunnahkan berpuasa pada bulan-bulan haram. Bahkan, bulan-bulan itu merupakan bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Bulan-bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.” (Al-Minhaj al-Qawwim [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah], vol. 1, h. 264)

Tata Cara Mengamalkan Puasa Sunnah Muharram

Pada dasarnya, tata cara pelaksanaan puasa sunnah Muharram sama seperti puasa sunnah lainnya. Puasa diawali dengan niat. Para ulama menganjurkan melafazkan niat dengan lisan sebagai bentuk membantu menghadirkan niat di dalam hati.

Adapun lafaz niat puasa Muharram adalah sebagai berikut,

نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shaumal Muharrami lillahi Ta’ala.

Artinya: “Saya niat puasa Muharram karena Allah Ta’ala.”

Terkait hal ini, tidak terdapat batasan tertentu mengenai jumlah hari puasa yang dilaksanakan pada bulan Muharram. Seseorang dapat berpuasa satu hari, beberapa hari, atau memperbanyak puasa sepanjang bulan sesuai kadar kemampuan.

Semakin banyak puasa yang dilakukan, maka semakin besar pula kesempatan untuk memperoleh nilai keutamaan. Namun demikian, para ulama mengungkapkan bahwa waktu yang paling utama untuk memperbanyak puasa adalah pada sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Hikmah Puasa Sunnah Muharram

Di antara hikmah puasa Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah Ramadhan ialah lantaran bulan Muharram merupakan awal dalam penanggalan Hijriyah.

Oleh sebab itu, sangat tepat bilamana permulaan tahun dibuka dengan melaksanakan puasa yang termasuk salah satu amal ibadah paling utama.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) menjelaskan,

إِنَّ اللَّهَ افْتَتَحَ السَّنَةَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَخَتَمَهَا بِشَهْرٍ حَرَامٍ، فَلَيْسَ شَهْرٌ فِي السَّنَةِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْمُحَرَّمِ، وَكَانَ يُسَمَّى شَهْرَ اللَّهِ الْأَصَمَّ مِنْ شِدَّةِ تَحْرِيمِهِ وَأَفْضَلُ شَهْرِ الْمُحَرَّمِ عَشْرُهُ الْأَوَّلُ

“Sesungguhnya Allah memulai tahun dengan sebuah bulan haram dan menutupnya dengan sebuah bulan haram. Tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan yang lebih agung di sisi Allah daripada bulan Muharram. Muharram disebut sebagai bulan Allah yang sunyi atau terjaga sebab kuatnya kehormatan dan kemuliaannya. Adapun bagian yang paling utama dari bulan Muharram adalah sepuluh hari pertamanya.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 67)

Di samping memiliki kedudukan sebagai puasa sunnah paling utama setelah Ramadhan, puasa Muharram juga dilipatgandakan pahalanya. Sehingga, berpuasa satu hari di bulan Muharram memiliki pahala yang sebanding dengan puasa selama tiga puluh hari.

Dalam salah satu riwayat disebutkan,

مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا

“Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Muharram, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang setara dengan berpuasa selama tiga puluh hari.” (HR. At-Thabrani)

Syekh Abdurrauf al-Munawi (wafat 1031 H) dalam karyanya mengemukakan bahwa kemuliaan dilipatgandakannya pahala itu berkaitan dengan posisi bulan Muharram sebagai awal tahun Hijriyah. Oleh karenanya, seseorang yang mengawali tahun dengan memuliakan bulan tersebut melalui ibadah puasa akan memperoleh pahala dan ganjaran yang berlimpah.

مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً، وَمِنْ ثَمَّ ذَهَبَ جَمْعٌ إِلَى أَنَّ أَفْضَلَ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ الْمُحَرَّمُ، وَخَصَّهُ بِالذِّكْرِ لِأَنَّهُ أَوَّلُ السَّنَةِ فَمَنْ عَظَّمَهُ بِالصَّوْمِ الَّذِي هُوَ مِنْ أَعْظَمِ الطَّاعَاتِ جُوزِيَ بِإِجْزَالِ الثَّوَابِ

“Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Muharram, maka baginya pahala tiga puluh kebaikan untuk setiap hari puasanya. Dengan demikian, sejumlah ulama berpendapat bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Muharram disebut secara khusus karena ia merupakan awal tahun. Maka, siapa yang mengagungkan bulan itu dengan berpuasa yang termasuk salah satu ibadah paling utama, niscaya ia akan diberi balasan berupa pahala yang berlimpah.” (Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ as-Shagir [Mesir: al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra], vol. 6, h. 162)

Alhasil, puasa Muharram merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan sebagai sarana mengawali Tahun Baru Hijriyah dengan ketaatan kepada Allah.

Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap salah satu bulan yang memiliki kemuliaan, ibadah puasa sunnah di bulan Muharram juga memiliki keutamaan yang agung lantaran termasuk puasa yang sangat dianjurkan dan termasuk yang paling utama setelah Ramadhan.

Demikianlah penjelasan seputar puasa sunnah di bulan Muharram. Semoga bermanfaat. Dan mari kita menjadikan bulan Muharram ini sebagai momentum untuk memperbanyak amal ibadah, terutama puasa sebagai upaya memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (UYR/MUI)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved