Follow us:

Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir

Ada satu kegelisahan yang hampir tak pernah absen dalam hati orang tua: mengapa anak tidak selalu memahami maksud baik kita? Mengapa keputusan yang diambil dengan penuh pertimbangan justru dibalas dengan penolakan, bahkan perlawanan?

Pada titik inilah kisah Nabi Musa dan Khidir dalam surat Al-Kahfi (60–82) menemukan maknanya yang paling hidup. Bukan sekadar kisah tentang ilmu, tetapi cermin tentang parenting yang berjalin antara kesabaran, hikmah, dan keterbatasan manusia dalam membaca masa depan.

Kisah itu dimulai dengan sebuah pelajaran mendasar,  kerendahan hati. Nabi Musa, seorang rasul besar, diperintahkan untuk belajar kepada Khidir.

Dalam tafsir klasik, Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah bentuk pendidikan adab bahwa tidak ada manusia yang berhak merasa paling tahu.

Dalam dunia parenting, pesan ini terasa sangat relevan. Orang tua sering kali terjebak dalam posisi “otoritas absolut”, padahal setiap anak adalah dunia yang unik, yang tidak selalu bisa dipahami dengan pendekatan tunggal.

Dalam perspektif pendidikan modern, gagasan ini sejalan dengan pendekatan “constructivism” yang dikembangkan oleh Jean Piaget.

Anak bukanlah “gelas kosong” yang tinggal diisi, melainkan subjek aktif yang membangun pemahamannya sendiri. Orang tua, seperti halnya guru, bukan pusat pengetahuan, melainkan fasilitator proses belajar. Dengan kata lain, mendidik anak menuntut kerendahan hati untuk terus belajar, bahkan dari anak itu sendiri.

Namun, perjalanan Musa bersama Khidir segera memasuki wilayah yang lebih kompleks, tentang kesabaran menghadapi hal yang belum dipahami.

Sejak awal, Khidir telah mengingatkan bahwa Musa tidak akan mampu bersabar. Dan benar, setiap peristiwa yang terjadi terasa mengguncang logika. Perahu dilubangi, seorang anak dibunuh, dan dinding diperbaiki tanpa imbalan. Semua tampak tidak masuk akal.

Di sinilah letak pelajaran penting bagi orang tua. Fakhruddin ar-Razi membaca ketidaksabaran Musa sebagai cerminan naluri manusia yang ingin segera memahami segala sesuatu. Padahal, dalam proses pendidikan, tidak semua makna hadir seketika. Ada fase di mana anak dan juga orang tua harus melewati ketidakpahaman.

Dalam teori pendidikan modern, hal ini beririsan dengan konsep “delayed gratification” yang dipopulerkan oleh Walter Mischel melalui eksperimen “marshmallow test”. Anak yang mampu menunda kepuasan terbukti memiliki capaian hidup yang lebih baik dalam jangka panjang. Namun, kemampuan ini tidak lahir secara instan; ia dibentuk melalui lingkungan yang konsisten, penuh kesabaran, dan memberi contoh nyata.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sering berada di posisi Khidir, mengambil keputusan yang tidak selalu disukai anak? Melarang pergaulan tertentu, membatasi penggunaan gawai, atau menunda keinginan mereka.

Di mata anak, itu mungkin terasa sebagai “ketidakadilan”. Namun, dalam banyak kasus, justru di situlah letak perlindungan jangka panjang. Sebagaimana perahu yang dilubangi, kerugian kecil hari ini bisa menjadi penyelamat dari kerusakan yang lebih besar di masa depan.

Sayyid Qutb dalam tafsirnya, Fi Dhilal al-Qur’an, melihat kisah ini sebagai pelatihan jiwa untuk menerima proses hidup yang tidak selalu linier. Pendidikan, dalam pandangannya, bukanlah proyek instan yang bisa diukur dalam hitungan cepat. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, bahkan ketika hasilnya belum tampak.

Peristiwa paling mengguncang dalam kisah ini tentu adalah ketika Khidir membunuh seorang anak. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi menjelaskan bahwa tindakan itu merupakan perintah langsung dari Allah, karena anak tersebut kelak akan menyeret orang tuanya ke dalam kesesatan.

Ini bukan tentang tindakan literal, melainkan tentang pesan mendalam bahwa masa depan anak mengandung kemungkinan yang tidak selalu bisa diprediksi oleh manusia.

Dalam perspektif parenting, ini mengarah pada pentingnya “preventive education”, yaitu pendidikan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga antisipatif. Orang tua tidak bisa menunggu hingga anak “jatuh terlalu jauh” baru bertindak. Pembentukan karakter, nilai, dan lingkungan sejak dini menjadi kunci.

Teori “social learning” dari Albert Bandura memperkuat hal ini. Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi dari observasi, melihat, meniru, dan menginternalisasi perilaku di sekitarnya.

Dengan demikian, proteksi terbaik bukan hanya larangan, tetapi juga keteladanan. Apa yang dilakukan orang tua sering kali lebih berpengaruh daripada apa yang mereka katakan.

Pelajaran berikutnya hadir dalam kisah dinding yang diperbaiki Khidir. Di bawahnya tersimpan harta anak yatim, dan sebab perlindungan itu bukan karena usaha mereka, melainkan kesalehan ayahnya. Ibnu Katsir menegaskan bahwa amal saleh orang tua dapat menjadi sebab penjagaan Allah terhadap anak-anaknya.

Di sini, parenting menemukan dimensi spiritualnya. Pendidikan bukan sekadar soal teknik atau metode, tetapi juga tentang kualitas diri orang tua.

Dalam istilah pendidikan modern, ini dapat dikaitkan dengan konsep “hidden curriculum”, nilai-nilai yang tidak diajarkan secara eksplisit, tetapi tertanam melalui sikap, kebiasaan, dan atmosfer keluarga.

Akhirnya, setelah semua kegelisahan dan pertanyaan, Khidir menjelaskan seluruh peristiwa itu. Tidak di awal, tetapi di akhir perjalanan. Al-Qurthubi melihat ini sebagai metode pendidikan di mana tidak semua hal harus dijelaskan saat itu juga. Ada waktu yang tepat ketika pemahaman menjadi mungkin.

Ini sejalan dengan teori “scaffolding” dari Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa bantuan atau penjelasan harus diberikan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Terlalu cepat menjelaskan bisa membuat anak tidak siap; terlalu lambat bisa membuat mereka kehilangan arah. Kuncinya adalah kepekaan membaca waktu.

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa penjelasan pada saat yang tepat akan melahirkan kepercayaan. Anak yang memahami alasan di balik keputusan orang tua tidak hanya akan patuh, tetapi juga akan tumbuh dengan kesadaran.

Pada akhirnya, kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa parenting adalah ruang perjumpaan antara ikhtiar manusia dan rahasia takdir Allah. Orang tua berusaha dengan ilmu, pengalaman, dan cinta, tetapi tetap harus menerima bahwa tidak semua hal bisa dipahami atau dikendalikan.

Di tengah derasnya teori dan metode pendidikan modern, kisah ini mengingatkan bahwa inti dari mendidik anak tetaplah sama: kesabaran, keteladanan, visi jangka panjang, dan keikhlasan menerima proses.

Karena pada akhirnya, mendidik anak bukan hanya tentang membentuk masa depan mereka, tetapi juga tentang mendewasakan diri kita sebagai orang tua.

Dan mungkin, seperti Musa yang baru memahami di ujung perjalanan, kita pun akan menyadari bahwa banyak keputusan yang dulu terasa berat, ternyata adalah bentuk kasih sayang yang paling dalam.

Mendidik anak adalah perjalanan sunyi antara apa yang kita pahami hari ini dan apa yang baru akan kita mengerti di masa depan.

Penulis: Ahmad Yani, M.A, Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (UYR/MUI)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved