Masa Ta’aruf Santri: Pedagogi Cinta dari Gerbang Pesantren
Setiap tahun penerimaan santri, halaman pesantren selalu menghadirkan pemandangan yang sama. Seorang ibu berkali-kali merapikan sarung anaknya, meski sebenarnya tak ada lagi yang perlu dibenahi. Seorang ayah menepuk pundak putranya sambil berpesan, “Hormati kiai, cintai ilmu, jadi anak yang baik.” Tak lama kemudian kendaraan meninggalkan gerbang, sementara seorang anak berdiri memandanginya hingga menghilang di tikungan jalan.
Pada saat itulah, sesungguhnya ia tidak sekadar meninggalkan rumah. Ia sedang memasuki sebuah dunia baru yang akan membentuk cara berpikir, cara beribadah, cara menghargai manusia, bahkan cara mengabdi kepada bangsa.
Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Ia membentuk kebiasaan hidup, melatih kedisiplinan, mengajarkan kesederhanaan, membangun solidaritas, dan menanamkan adab sebagai fondasi ilmu. Karena itu, Mata Santri (Masa Ta’aruf Santri) tidak semestinya dipahami hanya sebagai agenda penyambutan santri baru. Ia adalah gerbang pendidikan yang menentukan kesan pertama seorang anak terhadap dunia pesantren.
Apa yang dirasakan santri pada hari-hari pertamanya sering kali lebih membekas daripada pelajaran yang diterimanya bertahun-tahun kemudian. Cara ia disambut akan memengaruhi cara ia belajar. Cara ia diperlakukan akan membentuk cara ia memperlakukan orang lain. Di sinilah masa ta’aruf memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pengenalan tata tertib atau pembagian kamar.
Pedagogi Cinta
Saya memandang Mata Santri perlu dibangun di atas apa yang dapat disebut sebagai Pedagogi Cinta, yaitu pendekatan pendidikan yang menjadikan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, keteladanan, dan pengasuhan sebagai fondasi pembentukan karakter. Disiplin tetap menjadi bagian penting dari kehidupan pesantren, tetapi disiplin yang tumbuh dari kesadaran jauh lebih kokoh daripada kepatuhan yang lahir dari rasa takut.
Gagasan ini bukan sesuatu yang asing dalam tradisi pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara dalam Bagian Pertama: Pendidikan (1962) menjelaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Menuntun berarti mendampingi pertumbuhan, bukan memaksakan kehendak.
Pandangan tersebut berpadu dengan pemikiran KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Ālim wa al-Muta’allim (sekitar 1925) yang menempatkan adab sebagai pintu masuk ilmu. Dalam tradisi pesantren, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari banyaknya kitab yang dibaca, tetapi dari perubahan akhlak yang lahir dari proses belajar itu sendiri.
Landasan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menggunakan istilah li ta’ārafū. Ta’aruf dalam Al-Qur’an bukan sekadar saling mengenal, tetapi saling memahami dan saling memuliakan. Maka, Masa Ta’aruf Santri semestinya menjadi ruang pertama untuk menghadirkan nilai tersebut. Santri baru tidak datang untuk ditaklukkan, tetapi untuk dituntun; tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dikuatkan.
Sayangnya, praktik orientasi di sebagian tempat masih menyisakan budaya senioritas yang kehilangan makna pendidikan. Padahal, pesantren sejak awal dibangun melalui keteladanan. Sebagaimana ditunjukkan Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1982), kekuatan pesantren terletak pada hubungan kiai dan santri, kehidupan berjamaah, khidmah, serta transmisi nilai dalam keseharian. Pendidikan hidup di asrama, di serambi masjid, di ruang makan, dan dalam setiap aktivitas bersama.
Pesantren yang Memanusiakan
Pedagogi Cinta menemukan bentuk nyatanya dalam Kurikulum Cinta, yakni budaya pendidikan yang menghidupi seluruh aktivitas pesantren. Pengurus hadir sebagai kakak pengasuh, ustaz sebagai pembimbing, dan kiai sebagai teladan. Santri tidak hanya diperkenalkan pada bangunan atau jadwal kegiatan, tetapi juga pada makna di balik setiap tradisi; mengapa bangun sebelum Subuh melatih kedisiplinan ruhani, mengapa khidmah menumbuhkan kerendahan hati, dan mengapa berjamaah membangun persaudaraan.
Pendekatan seperti ini akan melahirkan well-being santri, yaitu kesejahteraan fisik, psikologis, sosial, intelektual, dan spiritual. Carol D. Ryff (1989) menunjukkan bahwa manusia berkembang ketika memiliki hubungan yang sehat, tujuan hidup, penerimaan diri, dan kesempatan untuk bertumbuh. Sementara Martin E. P. Seligman dalam Flourish (2011) menegaskan bahwa pendidikan harus melahirkan emosi positif, relasi yang baik, makna hidup, dan keterlibatan aktif. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam tradisi pesantren.
Semangat itu pula yang menjadi dasar Pesantren Ramah Anak. Ramah anak bukan berarti menghilangkan disiplin, tetapi memastikan bahwa disiplin ditegakkan melalui keteladanan, dialog, dan pembinaan. Ketegasan tetap ada, tetapi tidak pernah kehilangan kasih sayang.
Arah tersebut memperoleh legitimasi melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menegaskan fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Amanat tersebut meneguhkan bahwa pesantren bertugas membentuk insan yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, serta memberi manfaat bagi kehidupan bersama.
Sebagaimana diingatkan Abdurrahman Wahid dalam Menggerakkan Tradisi (2001), kekuatan pesantren terletak pada kemampuannya menghidupkan tradisi agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Mata Santri adalah salah satu ruang terbaik untuk mewujudkan semangat itu. Dari gerbang inilah pesantren memperkenalkan wajahnya yang paling otentik yaitu mendidik dengan kasih sayang, membimbing dengan adab, dan menyiapkan generasi yang kelak mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Sesungguhnya, masa depan pesantren tidak ditentukan pada hari wisuda seorang santri, melainkan pada hari pertama ketika ia disambut. Sebab dari cara pesantren menyambut, di situlah seorang anak mulai mencintai ilmu. Dari ilmu lahirlah adab. Dari adab tumbuh pengabdian. Dan dari pengabdian itulah peradaban Indonesia akan terus dirawat. Semoga.
Penulis: Fahmi Arif El Muniry (ASN pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments