Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
Ayat Kursi mengandung sepuluh kalimat berdiri sendiri, yang menghimpun pokok-pokok agung tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Di dalamnya terdapat penjelasan tentang keilahian, kehidupan, sifat Al-Qayyum, ilmu, kerajaan dan kekuasaan, kemampuan, kehendak, keluasan ilmu, penjagaan, ketinggian, serta keagungan Allah. Sepuluh kalimat tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
Artinya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Dialah satu-satunya yang berhak mendapatkan ibadah, kecintaan, dan pengagungan, karena kesempurnaan nama dan sifat-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ ٦٢
“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil. Dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS Al-Hajj: 62).
Kedua: الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Artinya, Allah Ta’ala memiliki kehidupan yang sempurna. Kehidupan-Nya tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan pernah berakhir dengan kebinasaan. Kehidupan yang sempurna tersebut mengharuskan adanya seluruh sifat kesempurnaan.
Allah juga adalah Al-Qayyum, Dzat yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan siapa pun. Sebaliknya, Dialah yang menegakkan dan mengurus seluruh makhluk-Nya, termasuk dalam urusan rezeki dan segala kebutuhan mereka.
Semua makhluk membutuhkan-Nya dan tidak mungkin dapat bertahan tanpa pertolongan-Nya. Sifat Al-Qayyum ini mencakup seluruh perbuatan Allah yang sempurna.
Allah Ta’ala berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ٥٨
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Furqan: 58).
Allah juga berfirman:
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَن تَقُومَ ٱلسَّمَآءُ وَٱلْأَرْضُ بِأَمْرِهِۦ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةًۭ مِّنَ ٱلْأَرْضِ إِذَآ أَنتُمْ تَخْرُجُونَ ٢٥
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur).” (QS Ar-Rum: 25).
Ketiga: لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
Artinya, sebagai bagian dari kesempurnaan kehidupan dan sifat Al-Qayyum-Nya, Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur.
“Sinah” adalah rasa kantuk yang menjadi pendahulu tidur. Adapun tidur, Allah tidak pernah mengalaminya. Sebab, tidur merupakan bentuk kekurangan yang tidak layak bagi Allah Ta’ala.
Orang yang tidur tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Sementara itu, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah. Tidur juga merupakan bentuk kelalaian, sedangkan Allah Mahasuci dari segala kelalaian.
Nabi SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur.” (HR Muslim).
Keempat: لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
Artinya, hanya milik Allah seluruh apa yang ada di langit dan di bumi. Dia memiliki seluruh yang ada di alam semesta, tanpa tandingan dan tanpa sekutu.
Semua makhluk adalah hamba-Nya dan berada di bawah kepemilikan-Nya. Karena itu, tidak selayaknya ibadah ditujukan kepada selain Allah.
Kelima:مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Artinya, tidak seorang pun berani memberikan syafaat di hadapan Allah Ta’ala kecuali setelah mendapatkan izin, perintah, dan kehendak-Nya. Hal itu menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan kewibawaan Allah.
Syafaat adalah perantaraan seseorang di hadapan pihak lain untuk mendatangkan suatu manfaat atau mencegah suatu mudarat.
Bahkan Nabi SAW sendiri tidak akan memberikan syafaat pada hari kiamat sebelum beliau meminta izin kepada Allah. Beliau akan bersujud di bawah Arsy dan memohon kepada Rabbnya, hingga Allah berfirman kepada beliau, “Berilah syafaat, niscaya engkau akan diberi izin untuk memberi syafaat.” (HR Muslim).
Keenam: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
Artinya, Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di hadapan makhluk-Nya dan apa yang ada di belakang mereka.
Dia mengetahui segala sesuatu yang telah berlalu, sekaligus mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu Allah.
Ketujuh: وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
Artinya, seluruh makhluk selain Allah tidak akan mampu mengetahui sedikit pun dari ilmu Allah, kecuali apa yang Dia kehendaki untuk mereka ketahui.
Mereka tidak mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, tidak pula mengetahui apa yang ada di belakang mereka, ataupun perkara-perkara lainnya, kecuali sebatas apa yang Allah ajarkan kepada mereka dan apa yang Dia kehendaki untuk Dia perlihatkan kepada mereka.
Kedelapan: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
Artinya, Kursi Allah yang Mahakuasa dan Mahasuci meliputi langit dan bumi, dengan segala keluasan dan kebesaran keduanya.
Adapun Kursi, ia adalah tempat kedua telapak kaki Rabb Azza wa Jalla.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ
“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, sedangkan Arsy, tidak ada seorang pun yang mampu memperkirakan kebesarannya.”
Riwayat ini dinilai sahih dan diriwayatkan oleh Ad-Darimi, Ibnu Khuzaimah, Ath-Thabrani, Ibnu Jarir Ath-Thabari, dan Abu Asy-Syaikh.
Perkataan tersebut termasuk perkara yang tidak mungkin dikatakan hanya berdasarkan pendapat pribadi. Karena itu, kedudukannya seperti perkataan yang bersumber dari Nabi ﷺ.
Kesembilan: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا
Artinya, menjaga langit dan bumi tidak membuat Allah merasa berat, lemah, letih, ataupun kesulitan.
Allah tidak terbebani sedikit pun oleh penjagaan terhadap keduanya. Sebaliknya, semua itu mudah dan ringan bagi-Nya.
Kesepuluh: وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya, Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki ketinggian yang mutlak atas seluruh makhluk-Nya.
Dia Mahatinggi dengan Dzat-Nya, berada di atas Arsy-Nya. Dia juga Mahatinggi atas seluruh makhluk-Nya dengan kekuasaan, penaklukan, kemenangan, dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
Dia adalah Dzat Yang Mahabesar, dengan keagungan yang mutlak pada Dzat, sifat-sifat, dan kekuasaan-Nya.
Bagi-Nya kesempurnaan dan kemuliaan yang mutlak. Adapun segala sesuatu selain Dia adalah hina di hadapan-Nya dan kecil jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang lebih agung daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments