Follow us:

Menyemai Literasi di Madrasah: Catatan Seorang Pendidik dari Tesis ke Buku

Pendidikan dasar selalu menjadi ruang yang sunyi, sekaligus menentukan. Di ruang kelas itulah anak-anak pertama kali belajar mengenal huruf, merangkai kata, dan pelan-pelan memahami dunia melalui bacaan. Membaca dan menulis, pada tahap ini, bukan sekadar keterampilan sekolah, melainkan cara anak berjumpa dengan realitas di sekelilingnya. Cara mereka menyimak cerita, menafsirkan makna, dan menuliskan kembali pengalaman kecilnya, kelak akan menentukan bagaimana mereka berpikir dan bersikap di masa depan.

Ketika pandemi Covid-19 datang di akhir 2019, ruang sunyi itu tiba-tiba berubah. Kelas-kelas jadi kosong, bangku-bangku ditinggalkan, dan proses belajar berpindah ke layar yang dingin, yang sering kali tidak ramah bagi anak-anak usia sekolah dasar. Di banyak madrasah, termasuk Madrasah Ibtidaiyah, guru dipaksa belajar cepat, beradaptasi tanpa cukup waktu untuk menyiapkan diri. Pada masa itulah persoalan literasi kembali terasa mendasar: bagaimana anak-anak tetap belajar membaca dan menulis secara bermakna, ketika perjumpaan tatap muka terputus dan pendampingan langsung menjadi terbatas.

Dalam situasi semacam itulah, tesis Metros Prihatin lahir. Penelitian yang kemudian menjadi dasar buku ini berangkat, dari kegelisahan yang sangat konkret: apakah literasi dasar baca-tulis masih dapat tumbuh dengan baik di tengah keterbatasan pembelajaran jarak jauh? Tesis berjudul “Literasi dalam Media Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Toyareka Purbalingga” ini tidak berdiri sebagai kajian abstrak, tetapi sebagai upaya membaca realitas pendidikan yang tengah berubah. Prihatin menegaskan, literasi dasar merupakan fondasi awal yang tidak bisa ditunda karena, dari sanalah anak membangun kemampuan akademik dan sosialnya pada jenjang berikutnya (Prihatin, Purbalingga: 2022).

Keputusan untuk mengubah tesis ini menjadi buku tidak lahir dari hasrat akademik semata. Ia berangkat dari kesadaran, bahwa pengetahuan yang berhenti di ruang ujian atau rak perpustakaan seringkali kehilangan daya hidupnya. Buku ini ingin keluar dari batas-batas akademik, menyapa guru, orangtua, dan siapa pun yang peduli pada pendidikan anak. Penelitian, dalam pengertian ini, tidak dimaksudkan untuk dikagumi sebagai dokumen ilmiah, tetapi untuk dibaca, dipikirkan ulang, dan jika memungkinkan, dipraktikkan dalam keseharian pembelajaran. Pengetahuan baru akan bermakna ketika ia bersentuhan dengan realitas, seperti diingatkan Creswell bahwa hasil riset seharusnya hadir di ruang-ruang praktik, bukan cuma di forum akademik (Creswell, 2014).

Pengalaman di MI Muhammadiyah Toyareka menunjukkan, bahwa literasi tidak dipahami sebagai kegiatan mekanis membaca dan menulis. Literasi diperlakukan sebagai proses hidup yang melibatkan pengalaman, dialog, dan relasi sosial. Guru tidak cuma mengandalkan buku cetak, tetapi juga memanfaatkan peta konsep, tayangan video, dan media komunikasi sederhana seperti WhatsApp. Media-media itu menjadi jembatan agar pembelajaran tetap berlangsung, meski dalam keterbatasan. Dari sanalah tampak, bahwa anak-anak lebih terlibat ketika mereka tidak hanya diminta membaca, tetapi juga diajak menafsirkan, berdiskusi, dan menuliskan kembali apa yang mereka pahami (Prihatin, 2022).

Praktik ini sejalan dengan pandangan bahwa literasi di abad ke-21 tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Anak-anak hidup dalam lanskapik teks yang beragam, cetak dan digital, yang menuntut kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memproduksi makna secara kritis. Knobel dan Lankshear mengingatkan, bahwa literasi modern adalah praktik sosial yang terus berubah mengikuti cara manusia berkomunikasi dan berbagi pengetahuan (Knobel & Lankshear, 2008). Akan tetapi, di tingkat madrasah dasar, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana guru memilih media dengan bijak, agar teknologi tidak menggantikan peran pedagogis, melainkan memperkuatnya.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting, dan urgen. Media pembelajaran bukan sekadar alat bantu, tetapi sarana komunikasi yang menentukan apakah pesan pembelajaran sampai atau tidak. Ketika media dipilih dan digunakan secara tepat, ia mampu menumbuhkan minat baca, mendorong keberanian menulis, dan memperdalam pemahaman siswa. Sejalan ditegaskan Azhar Arsyad, media pembelajaran dapat memperjelas pesan, meningkatkan motivasi belajar, dan mengurangi hambatan komunikasi antara guru dan siswa (Arsyad dalam Rini Puji, 2015). Temuan dalam penelitian Prihatin ini memperlihatkan, bahwa perpaduan media tradisional dan digital mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih hidup bagi anak-anak madrasah.

Pendahuluan ini, pada akhirnya, bukan sekadar pengantar isi buku. Ia adalah ajakan untuk melihat kembali literasi sebagai proses yang harus terus menerus dihidupkan. Tesis tidak diposisikan sebagai karya yang selesai ketika diuji, tetapi sebagai sumber refleksi yang dapat terus berdialog dengan praktik pendidikan. Buku karya Metros Prihatin ini, ingin menegaskan bahwa literasi aktif di Madrasah Ibtidaiyah tidak cukup dirumuskan dalam konsep, melainkan perlu dirawat melalui pengalaman belajar yang kreatif, adaptif, dan berpijak pada kenyataan hidup anak-anak di era digital.

Refleksi atas Penelitian dan Temuan Utama 

Ada sesuatu yang menarik ketika membaca buku dari tesis Metros Prihatin ini secara perlahan, tidak tergesa sebagai laporan ilmiah, tetapi sebagai catatan pengalaman pendidikan. Yang tampak menonjol bukan sekadar daftar media pembelajaran yang digunakan guru, melainkan cara literasi dihadirkan sebagai peristiwa belajar. Media, dalam penelitian ini, tidak berdiri sebagai alat bantu yang netral, tetapi sebagai ruang tempat guru dan siswa saling berjumpa, saling mencoba, dan saling belajar. Dengan demikian, literasi tidak lagi tampak sebagai keterampilan yang diajarkan, tetapi sebagai proses yang dialami.

Dalam praktik yang diamati Prihatin, pembelajaran bahasa Indonesia bergerak keluar dari pola ceramah dan latihan tertulis semata. Di kelas rendah, guru menggunakan video sederhana dan percakapan melalui WhatsApp untuk memperkenalkan ungkapan permintaan maaf. Bahasa tidak dipelajari sebagai rumus, tetapi sebagai laku sehari-hari, yang dekat dengan kehidupan anak. Di kelas lain, puisi tidak langsung dijelaskan melalui definisi, tetapi dikenalkan secara visual, perlahan, melalui tampilan yang membantu anak mengenali bentuk dan irama. Sementara itu di kelas atas, peta konsep digunakan agar siswa dapat menata pikirannya sendiri sebelum menulis teks pidato. Dari praktik-praktik kecil ini terlihat, bahwa literasi tumbuh ketika anak diberi ruang untuk memahami, bukan sekadar menirukan.

Yang menarik lagi, penggunaan media dalam penelitian ini tidak terasa dipaksakan. Media digital tidak hadir sebagai simbol kemajuan, melainkan sebagai jawaban atas kebutuhan pembelajaran. Pada masa pandemi, ketika ruang kelas menyempit dan perjumpaan langsung terbatas, media menjadi jembatan agar proses belajar tetap berlangsung. Di sinilah tampak, bahwa teknologi tidak cuma sekadar menggantikan cara lama, tetapi mulai mengubah pengalaman belajar itu sendiri. Anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat, merespons, dan menunjukkan keberanian untuk berpendapat, meskipun hanya melalui layar yang sederhana.

Dampak dari pendekatan semacam ini terasa nyata. Prihatin mencatat adanya perubahan sikap belajar siswa. Anak-anak yang sebelumnya pasif mulai berani menyimak dengan lebih sungguh-sungguh, menulis dengan lebih percaya diri, dan terlibat dalam diskusi, meskipun dengan ungkapan yang masih sederhana. Guru juga merasakan bahwa kelas menjadi lebih hidup ketika media digunakan secara tepat, dan tidak berlebihan. Literasi, dalam pengalaman ini, bukan lagi target angka atau capaian kurikulum, tetapi proses yang pelan-pelan menghidupkan suasana belajar.

Jika dibaca lebih dalam, temuan penelitian ini sesungguhnya menegaskan satu hal penting: literasi bisa aktif tumbuh itu melalui relasi. Relasi antara guru dan siswa, antara teks dan pengalaman, serta antara pengetahuan dan kehidupan sehari-hari. Anak belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan, tetapi dari cara guru menghadirkan pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna. Dalam kerangka ini, literasi menjadi praktik sosial, sesuatu yang hidup dalam interaksi, bukan sekadar dikuasai secara individual.

Refleksi atas penelitian ini juga menempatkan guru pada posisi yang sangat menentukan. Guru tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai isi pelajaran, tetapi sebagai pengarah proses berpikir anak. Guru memilih media, mengatur ritme pembelajaran, dan membaca situasi kelas dengan kepekaan pedagogis. Prihatin menunjukkan, bahwa ketika guru berani bereksperimen secara sederhana, menggabungkan buku, gambar, video, dan percakapan, maka ruang literasi menjadi lebih terbuka, dan manusiawi.

Buku karya Metros Prihatin yang lahir dari tesis di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto ini, berusaha menjaga semangat tersebut. Ia tidak dimaksudkan sebagai panduan teknis yang kaku, tetapi sebagai cermin pengalaman yang dapat menginspirasi guru lain. Setiap madrasah memiliki konteks yang berbeda, tetapi pengalaman di MI Muhammadiyah Toyareka memperlihatkan, bahwa literasi aktif dapat tumbuh di mana saja, asalkan guru bersedia membaca kebutuhan siswa, dan berani menyesuaikan cara mengajar.

Dengan demikian, refleksi ini mengantar pada kesadaran sederhana namun mendasar. Literasi aktif bukan soal seberapa canggih media yang digunakan, tetapi seberapa jauh pembelajaran mampu melibatkan siswa sebagai subjek. Media, baik tradisional maupun digital, hanyalah jalan. Yang lebih penting adalah, bagaimana jalan itu mengantar anak untuk berpikir, merasa, dan memahami dunia dengan bahasanya sendiri. Di situlah literasi menemukan maknanya sebagai proses belajar sepanjang hayat, yang dimulai dari ruang-ruang kelas kecil di madrasah.

Transformasi Tesis ke Buku dan Manfaatnya

Mengubah tesis menjadi buku, dalam pengalaman saya, bukanlah sekadar memindahkan teks dari satu format ke format lain. Ada jarak batin yang harus ditempuh. Sebab tesis betapapun pentingnya, seringkali berhenti sebagai dokumen akademik yang rapi, selesai diuji, lalu perlahan dilupakan. Sementara buku memiliki kemungkinan lain: ia bisa dibaca ulang, dibawa ke ruang kelas, bahkan diperdebatkan di ruang guru. Dalam kemungkinan semacam itu, transformasi tesis Metros Prihatin menemukan maknanya.

Tesis tentang literasi di MI Muhammadiyah Toyareka sebenarnya menyimpan pengalaman pedagogis yang kaya. Namun pengalaman itu akan kehilangan daya hidupnya jika hanya berdiam di rak perpustakaan kampus. Dengan menjadikannya buku, temuan-temuan tersebut diajak keluar, menemui guru lain, orangtua, dan siapa pun yang peduli pada pendidikan dasar. Buku ini memberi kesempatan agar praktik kecil di sebuah madrasah dapat berbicara lebih luas, melampaui konteks tempat ia lahir.

Dalam bentuk tesis, Prihatin menyusun data dengan ketelitian akademik: tabel, kutipan wawancara, dan analisis metodologis yang tertib. Semua hal itu penting. Namun, ketika dialihwahanakan menjadi buku, yang ditonjolkan bukan lagi kerangka metodologi, melainkan denyut pengalaman belajar. Bagaimana guru memilih media, bagaimana siswa merespons, dan bagaimana suasana kelas berubah ketika pembelajaran tidak lagi satu arah. Buku ini berusaha menjaga jarak dari bahasa teknis agar pembaca dapat masuk melalui pengalaman, dan bukan melalui konsep yang kaku.

Di sini, saya melihat kesesuaian yang kuat dengan pandangan John Dewey tentang pendidikan. Dewey tidak pernah memisahkan pengetahuan dari pengalaman. Baginya, belajar adalah “proses mengalami”, lalu merefleksikannya. Buku ini mencoba menempatkan temuan penelitian sebagai pengalaman yang dapat “dialami kembali” oleh pembaca, guru yang mungkin belum pernah mengajar di Toyareka, tetapi menghadapi persoalan yang serupa di kelasnya sendiri.

Buku ini juga memberi ruang yang lebih lapang untuk memaknai literasi sebagai keterampilan hidup, dan bukan sekadar capaian kurikulum. Literasi hadir sebagai kemampuan anak untuk memahami dunia, menyaring informasi, dan mengekspresikan pikirannya dengan bahasa yang bertanggung jawab. Dalam narasi buku, literasi digital tidak dipaparkan sebagai jargon abad ke-21, tetapi sebagai kenyataan yang telah dihadapi guru dan siswa, terutama sekali sejak pandemi memaksa pembelajaran berpindah ke ruang-ruang digital yang sederhana.

Yang paling terasa perubahannya adalah posisi guru. Di dalam tesis, guru sering hadir sebagai subjek penelitian. Akan tetapi, dalam buku ini, guru tampil sebagai tokoh pembelajar, seseorang yang mencoba, gagal, menyesuaikan diri, lalu belajar kembali. Transformasi ini penting, karena banyak guru membutuhkan cermin, bukan tuntunan yang menggurui. Buku ini tidak menawarkan resep instan, melainkan pengalaman yang bisa direnungkan dan disesuaikan dengan konteks masing-masing sekolah.

Lebih jauh, buku ini membuka kemungkinan keterlibatan orangtua dan masyarakat. Bahasa yang “lebih cair” memungkinkan buku ini dibaca di luar kalangan akademik. Orangtua dapat memahami mengapa literasi tidak cukup diajarkan lewat buku teks, dan mengapa media termasuk gawai perlu didampingi, bukan dijauhi. Dengan cara ini, literasi kembali pada hakikatnya sebagai praktik sosial yang tumbuh melalui kebersamaan, dan bukan hanya melalui instruksi sekolah.

Dari sudut pandang pendidikan, nilai utama transformasi ini justru terletak pada kesederhanaannya. Buku ini tidak menjanjikan perubahan besar dalam waktu singkat. Ia hanya menunjukkan, bahwa literasi aktif dapat tumbuh dari keputusan-keputusan kecil guru di kelas: memilih media, membuka ruang diskusi, dan memberi kepercayaan kepada siswa untuk berpikir. Kesadaran semacam ini seringkali lebih bermakna daripada konsep-konsep besar yang sulit diterapkan.

Dengan begitu, mengubah tesis menjadi buku adalah upaya memberi napas panjang pada sebuah penelitian. Pengetahuan tidak dibiarkan berhenti sebagai arsip, tetapi diajak berjalan, menyapa, dan mungkin mengubah cara seseorang mengajar. Buku ini tidak sekadar menambah daftar bacaan pendidikan, tetapi berusaha menjadi teman refleksi, bagi guru yang ingin tetap belajar, dan bagi pendidik yang percaya bahwa literasi aktif adalah kerja sunyi, tetapi menentukan masa depan anak-anak kita.

***

Menutup buku ini, saya justru merasa seperti sedang membuka sebuah percakapan yang lebih panjang. Sebab dari pengalaman mendampingi dunia pendidikan, saya belajar bahwa penelitian tidak pernah benar-benar selesai ketika ia diuji dan disahkan. Ia baru mulai hidup ketika dibaca ulang oleh orang lain, terutama oleh guru yang sedang mencari cara agar kelasnya tetap bernapas. Dalam konteks inilah transformasi tesis Metros Prihatin menjadi buku menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling manusiawi.

Buku ini mengajarkan satu hal yang sering luput kita sadari: literasi tumbuh itu bukan karena perintah, melainkan karena perjumpaan. Perjumpaan antara guru dan siswa, antara teks dan pengalaman, antara media dan kehidupan sehari-hari anak. Buku, peta konsep, video, bahkan pesan singkat di WhatsApp, semua itu hanyalah alat. Yang menentukan hidup-matinya literasi justru terletak pada cara guru menggunakannya dengan kesadaran dan kepekaan. Dari halaman-halaman penelitian Prihatin ini, saya membaca bahwa literasi dapat tumbuh ketika guru hadir sepenuh hati, bukan sekadar hadir sebagai pengajar.

Yang terasa kuat dari buku ini bukanlah data, melainkan suasana. Suasana kelas yang perlahan berubah ketika siswa mulai berani berbicara. Suasana belajar yang tidak lagi sepenuhnya kaku ketika media digunakan sebagai jembatan, bukan sebagai hiasan. Di sana, literasi tidak lagi tampak sebagai target kurikulum, melainkan sebagai proses pelan-pelan mengenal bahasa, mengenal diri, dan mengenal dunia. Pengalaman semacam ini tidak bisa sepenuhnya diukur dengan angka, tetapi bisa dirasakan oleh siapa pun yang pernah mengajar dengan sungguh-sungguh.

Saya juga menangkap pesan penting bahwa literasi bukan pekerjaan seorang guru saja. Ia adalah kerja bersama. Kepala madrasah yang memberi ruang, orangtua yang mendampingi di rumah, dan lingkungan yang tidak mematikan rasa ingin tahu anak; semuanya ikut menentukan. Buku ini mengingatkan kita bahwa ketika literasi diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, ia akan mudah layu. Akan tetapi, ketika ia menjadi kesadaran bersama, literasi berubah menjadi kebiasaan yang tumbuh pelan namun berakar.

Yang menarik, buku ini tidak memosisikan teori sebagai menara gading. Gagasan tentang literasi abad ke-21 hadir apa adanya, menyatu dengan praktik kelas yang nyata dan sering kali sederhana. Tidak ada klaim besar. Tidak ada janji perubahan instan. Yang ada hanyalah kesaksian, bahwa teori menjadi bermakna ketika ia turun ke kelas, menyentuh meja belajar anak-anak, dan berhadapan langsung dengan keterbatasan sekaligus kemungkinan.

Dari pembacaan itu, saya sampai pada keyakinan lama yang semakin menguat: literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan cara manusia merawat pikirannya. Anak yang dilatih membaca dengan sabar, menulis dengan jujur, dan berbicara dengan tanggung jawab, sedang dipersiapkan bukan hanya untuk ujian, tetapi untuk kehidupan. Buku ini, dalam kesederhanaannya, memberi contoh bagaimana proses itu bisa dimulai dari ruang kelas madrasah yang jauh dari hiruk-pikuk wacana besar pendidikan.

Saya berharap buku ini tidak dibaca dengan tergesa-gesa. Ia lebih cocok dibaca pelan-pelan, mungkin di sela-sela kesibukan mengajar, atau di malam hari ketika seorang guru merefleksikan kelasnya. Jika buku ini mampu membuat pembaca berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan besok di kelas?”, maka ia telah menjalankan tugasnya.

Akhirnya, perjalanan dari tesis ke buku ini mengingatkan kita, bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan keberanian untuk dibagikan dengan bahasa yang manusiawi. Ketika penelitian tidak hanya dipahami, tetapi dihidupi, di situlah ia menemukan ruhnya. Dan ketika literasi diajarkan bukan dengan suara perintah, melainkan dengan keteladanan dan kesabaran, di situlah masa depan anak-anak kita perlahan dibentuk, tanpa gaduh, tanpa slogan, tetapi dengan makna yang dalam. ***

Penulis: Abdul Wachid B.S. (Penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto)

Daftar Pustaka

Arsyad, Azhar. Dalam Rini Puji Astuti. 2015. Media Pembelajaran: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dewey, John. 1938. Experience and Education. New York: Macmillan.

Knobel, Michele, dan Colin Lankshear. 2008. Literacies: Social, Critical and Digital Perspectives. New York: Peter Lang.

Prihatin, Metros. 2022. Literasi dalam Media Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Toyareka Purbalingga. Tesis Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Purwokerto: Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved