Follow us:

Begini Bentuk Mushaf Al-Qur’an untuk Tunanetra dan Tunarungu di MTQN ke-31

Al-Qur’an tidak hanya hadir dalam bentuk yang selama ini akrab di mata. Di tengah kemeriahan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 di Kota Semarang, pengunjung pameran dapat menemukan dua bentuk mushaf yang mungkin belum banyak dikenal: Mushaf Braille dan Mushaf Isyarat.

Keduanya hadir sebagai ikhtiar menghadirkan Al-Qur’an agar dapat diakses oleh saudara-saudara tunanetra dan tunarungu. Mushaf tersebut dipamerkan oleh Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama. 

Amiruddin Hamzah, pegawai UPQ yang ditemui di area pameran Simpang Lima, menjelaskan bahwa Mushaf Braille diperuntukkan bagi penyandang tunanetra. Berbeda dengan mushaf biasa yang dibaca dengan melihat rangkaian huruf, Mushaf Braille dibaca dengan meraba titik-titik yang timbul pada permukaannya.

“Braille terdiri atas beberapa titik, ada titik yang timbul dan ada yang tidak timbul. Cara membacanya adalah dengan meraba dari kiri ke kanan,” ujar Amiruddin, Rabu (16 September 2026).

Mushaf Braille

Di balik titik-titik tersebut terdapat kode tertentu yang merepresentasikan huruf-huruf Arab. Alif, lam, ha, dan huruf lainnya memiliki susunan titik yang harus dikenali oleh pembacanya.

Jika Mushaf Braille mengandalkan sentuhan ujung jari, Mushaf Isyarat hadir dengan pendekatan yang berbeda. Mushaf ini diperuntukkan bagi saudara-saudara tunarungu atau tuli.

Pada Mushaf Isyarat, huruf-huruf Al-Qur’an ditampilkan menggunakan isyarat jari tangan. Setiap huruf memiliki bentuk isyarat tertentu. 

Amiruddin memperagakan salah satunya dengan mengangkat tangan dan menunjukkan bentuk isyarat untuk huruf Hijaiyah.

“Ini adalah huruf alif, kemudian ba, ta, tsa, dan seterusnya,” ujarnya sambil memperagakan isyarat.

Mushaf Isyarah

Cara tersebut menjadi jembatan bagi penyandang tunarungu untuk berinteraksi dengan teks Al-Qur’an. Bagi mereka yang sehari-hari berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, pendekatan ini membuka ruang untuk mempelajari dan membaca Al-Qur’an dengan cara yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Tak berhenti pada pameran, pengunjung juga akan mendapat kesempatan mengenal Mushaf Isyarat lebih jauh. UPQ berencana menggelar talkshow di panggung belakang area pameran pada Jumat malam, 18 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana Mushaf Isyarat digunakan dan dibaca.

Kehadiran Mushaf Isyarat juga menarik perhatian sejumlah kafilah MTQ. Amiruddin bercerita, beberapa kafilah tunarungu sempat datang ke stan UPQ bersama seorang penerjemah. Mereka tertarik untuk mendapatkan mushaf tersebut.

Kepada kafilah tunarungu, Amiruddin menjelaskan bahwa masyarakat maupun lembaga yang membutuhkan Mushaf Isyarat dapat mengajukan permohonan bantuan kepada UPQ. Permohonan tersebut disampaikan melalui surat kepada Unit Percetakan Al-Qur’an. Informasi mengenai pengajuan juga dapat diperoleh melalui akun media sosial UPQ.

Pertemuan singkat tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap mushaf yang ramah bagi penyandang disabilitas bukanlah sesuatu yang kecil. Amiruddin mengaku baru menyadari bahwa terdapat cukup banyak yayasan di Indonesia yang secara khusus menaungi masyarakat tunarungu.

“Alhamdulillah, keberadaan mushaf seperti ini memberikan manfaat yang luar biasa. Ternyata cukup banyak yayasan yang secara khusus menaungi saudara-saudara kita yang tuli atau tunarungu,” tuturnya.

Di tengah perhelatan MTQ Nasional ke-31 yang identik dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, kehadiran Mushaf Braille dan Mushaf Isyarat menghadirkan cerita lain tentang bagaimana Al-Qur’an dapat menjangkau lebih banyak manusia.

Ada yang membacanya dengan mata. Ada yang mengenalinya melalui ujung jari. Ada pula yang memahaminya melalui bahasa isyarat.

Cara mereka berbeda, tetapi semangat untuk dekat dengan Al-Qur’an menemukan ruang yang sama di MTQ ke-31. (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved