Ini Enam Peserta Terbaik Tartil Al-Qur’an Isyarat MTQ Nasional 2026
Enam peserta ditetapkan sebagai peserta terbaik dalam ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Jawa Tengah. Peserta terbagi dalam dua metode, yaitu Kitabah dan Tilawah.
Pada metode Kitabah, peringkat pertama diraih Muhammad Azka Rinaldy dari DKI Jakarta dengan nilai 97,33, disusul Azaroby Dwi Anggoro dari Banten dengan nilai 96,67 dan Aqilah Kaila Zahra dari Jawa Barat dengan nilai 96,33.
Sementara pada metode Tilawah, Muhammad Rifqi Abdul Aziz dari Jawa Barat menjadi peserta dengan nilai tertinggi, yaitu 98,67. Posisi berikutnya ditempati Adila Latifani Amrullah dari Jawa Barat dengan nilai 97,67 dan Bintang Fahrurrozak dari Jawa Barat dengan nilai 96,67.
Hasil tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Dewan Hakim Ekshibisi Cabang Tartil Al-Qur’an Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara/Tuli MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 Nomor Kep-01/MH-PDSRW/MTQN XXXI/IX/2026. Penilaian ditetapkan di Semarang pada 15 September 2026 dan bersifat final serta mengikat.
Ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat berlangsung di Semarang pada 15 September 2026 dan diikuti 28 peserta dari 14 komunitas tuli muslim yang berasal dari sejumlah daerah. Kegiatan ini untuk pertama kalinya diperkenalkan dalam MTQ Nasional melalui format ekshibisi.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama sekaligus Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), Abu Rokhmad, mengatakan, ekshibisi tersebut menjadi bagian penting dalam membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk belajar dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
“Kami merasa sangat berbahagia dan tentu sangat bangga, penyelenggaraan MTQ Nasional ke-31 di Semarang telah melahirkan tradisi baru, sebuah sunnah hasanah. Yaitu ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat bagi penyandang disabilitas sensorik rungu wicara,” ujar Abu Rokhmad di Semarang, Rabu (16 September 2026).
Menurut Abu, penyelenggaraan ekshibisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan kesempatan mempelajari Al-Qur’an dapat diakses masyarakat dengan beragam kondisi. Kementerian Agama membuka kemungkinan agar cabang tersebut dapat terus dikembangkan pada penyelenggaraan MTQ berikutnya.
“Karena itu, tidak boleh ada seorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an. Karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” kata Abu.
Ketua Dewan Hakim merangkap Anggota, Rama Syahti Al Islamabad, mengatakan, keterlibatan peserta tuli dalam MTQ Nasional menjadi pengalaman penting bagi komunitas. Ia melihat peserta dan para pendamping mengikuti ekshibisi dengan antusias sejak pelaksanaan dimulai.
“Ini adalah MTQ Nasional pertama yang melibatkan teman tuli, dan tentunya kami lihat peserta sangat bersemangat, pendamping pun juga bersemangat,” ujar Rama.
Rama menjelaskan, dua metode yang digunakan memiliki karakter berbeda. Metode Kitabah menggunakan isyarat Al-Qur’an yang mengikuti tulisan dalam mushaf, sedangkan metode Tilawah menggunakan sistem isyarat yang lebih memperhatikan aspek pembacaan Al-Qur’an.
Rama mengatakan, kehadiran ekshibisi tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan mempelajari Al-Qur’an dapat dikembangkan melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan komunitas tuli. Karena itu, pelaksanaan pertama ini menjadi pengalaman penting untuk melihat kesiapan peserta sekaligus pelaksanaan metode dan penilaian di lapangan. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments