Follow us:

Ketika Bahasa Arab Menjadi Bekal Masa Depan

Ketika pelajar Indonesia ditanya mengapa belajar bahasa Arab, jawabannya sering berhenti pada keinginan memahami agama. Sementara pelajar dari China atau Korea memiliki orientasi yang lebih beragam. Mereka belajar bahasa Arab karena ingin bekerja di negara-negara Arab, membangun bisnis, membuka usaha, berkarier di perusahaan internasional, bahkan mempersiapkan diri menjadi diplomat.

Perbedaan tersebut tidak perlu dipahami sebagai pertentangan antara motivasi religius dan profesional. Keduanya memiliki tempat masing-masing. Yang perlu kita renungkan adalah mengapa kita tidak memperluas tujuan belajar bahasa Arab?

Jika pelajar Indonesia belajar bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab keislaman, dan khazanah intelektual Islam, itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tetapi kemampuan bahasa Arab juga dapat menjadi bekal untuk memasuki ruang kehidupan yang lebih luas.

Bahasa Arab sebagai Bahasa Diplomasi

Gambaran tentang luasnya manfaat bahasa Arab dapat dilihat dari sosok Muhammad Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Dalam sejumlah forum yang berkaitan dengan dunia Arab dan Islam, ia menggunakan bahasa Arab secara langsung dalam menyampaikan posisi Indonesia.

Salah satu contoh yang menonjol terjadi dalam KTT Luar Biasa Arab-Islam di Riyadh, Arab Saudi, pada November 2024. Dalam forum yang mempertemukan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab tersebut, Anis Matta menyampaikan pidato dalam bahasa Arab dan menegaskan posisi Indonesia mengenai Palestina.

Fenomena tersebut memberikan pelajaran sederhana tetapi penting: bahasa Arab dapat menjadi instrumen diplomasi.

Kemampuan berbahasa Arab memungkinkan seorang diplomat berkomunikasi lebih dekat dengan mitra dari negara-negara Arab, memahami nuansa bahasa dan budaya, serta menyampaikan gagasan tanpa selalu bergantung pada perantara bahasa.

Dengan demikian, belajar bahasa Arab dapat menjadi investasi kompetensi untuk memasuki dunia diplomasi dan hubungan internasional.

Membongkar Batas Cara Pandang

Selama bertahun-tahun, pembelajaran bahasa Arab di Indonesia dekat dengan pendidikan keagamaan. Namun, dunia telah berubah. Bahasa Arab kini hadir dalam ruang diplomasi, perdagangan, pariwisata, pendidikan global, media digital, dan teknologi bahasa.

Di sinilah pembelajaran bahasa Arab perlu membongkar batas cara pandangnya. Pelajar perlu diperkenalkan pada pertanyaan: apa yang dapat saya lakukan dengan kemampuan bahasa Arab yang saya miliki?

Pertanyaan itu membawa pembelajaran dari sekadar penguasaan materi menuju pengembangan kompetensi. Pelajar tidak hanya belajar nahwu, sharaf, mufradat, membaca, dan berbicara, tetapi juga bagaimana kemampuan tersebut digunakan dalam kehidupan nyata.

Pembelajaran dapat diarahkan pada simulasi diplomasi, korespondensi bisnis, penerjemahan dokumen, presentasi, penulisan berita, hingga pengembangan konten digital. Dengan demikian, bahasa Arab tidak hanya dipelajari sebagai objek pengetahuan, tetapi juga sebagai keterampilan yang memiliki nilai sosial dan profesional.

Teknologi Membuka Ruang Baru

Kamus digital, korpus bahasa, video pembelajaran, platform pendidikan, hingga kecerdasan buatan (AI) menghadirkan kemungkinan baru dalam pembelajaran bahasa.

Dalam konteks ini, kepakaran Prof. Tamer menjadi relevan. Selain menekuni linguistik, linguistik terapan, pragmatik, dan analisis wacana, ia memiliki perhatian terhadap linguistik komputasional dan pemrosesan bahasa alami. Salah satu bidang kajiannya berkaitan dengan penggunaan Model Markov dan korpus bahasa dalam kajian serta pemrosesan bahasa.

Bahasa Arab dan teknologi tidak harus ditempatkan sebagai dua dunia yang berseberangan. Bahasa Arab justru dapat menjadi bagian dari perkembangan teknologi bahasa. AI dapat dimanfaatkan untuk latihan percakapan, umpan balik tulisan, pengembangan materi, dan analisis teks.

Namun, teknologi tidak boleh menggantikan proses berpikir pelajar. Teknologi harus digunakan untuk memperkuat daya kritis, bukan mematikannya.

Memperluas Masa Depan Bahasa Arab

Memahami agama melalui bahasa Arab merupakan tujuan yang mulia. Akan tetapi, jika bahasa Arab ingin menjadi bagian dari pendidikan yang menjawab tantangan zaman, orientasinya perlu diperluas.

Bahasa adalah alat untuk memasuki peradaban. Dengan bahasa Arab, pelajar dapat mengakses karya intelektual dunia Arab, berkomunikasi dengan masyarakat Arab, memahami perkembangan kawasan, membangun jaringan bisnis dan akademik, hingga berkontribusi dalam diplomasi internasional.

Karena itu, pertanyaan “Mengapa saya harus belajar bahasa Arab?” perlu diperluas menjadi “Ke mana kemampuan bahasa Arab dapat membawa saya?”

Jawabannya tidak harus berhenti pada satu pintu. Bahasa Arab dapat membawa pelajar ke ruang keagamaan untuk memperdalam agama, ke perpustakaan untuk meneliti khazanah Islam, ke perusahaan untuk membangun bisnis, dan ke forum internasional untuk berdiplomasi.

Pengalaman Prof. Tamer dalam berinteraksi dengan pelajar dari berbagai negara, serta contoh Anis Matta dalam forum diplomasi internasional, menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada yang selama ini kita bayangkan.

Tugas pendidikan bahasa Arab bukan menghapus motivasi lama, tetapi membuka kemungkinan baru. Pelajar perlu diberi kesempatan membayangkan masa depan yang lebih luas dengan kemampuan bahasa yang mereka miliki.

Membongkar batas pembelajaran bahasa Arab bukan berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, kita sedang memperluas ruang hidup bahasa Arab: dari bahasa agama menjadi bahasa ilmu, komunikasi, profesi, ekonomi, diplomasi, dan teknologi.

Bahasa Arab memiliki akar yang kuat dalam tradisi kita. Tantangannya sekarang adalah membuat akar itu tumbuh menjadi pohon yang lebih besar, sehingga mampu menaungi ilmu, profesi, ekonomi, diplomasi, teknologi, dan masa depan generasi muda.

Sebab, bahasa yang memiliki masa depan bukan hanya bahasa yang diwariskan, tetapi bahasa yang terus menemukan ruang baru untuk digunakan, dipelajari, dan dikembangkan.

Penulis: Shobirin, S.Pd.I., M.Pd., Dosen UNZAH Genggong Probolinggo dan Awardee BIB-LPDP Program Doktor UIN Malang.(UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved