Follow us:

Sufyan al-Tsauri: Benteng Moral di Hadapan Penguasa

Beliau adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al-Tsauri, keturunan Bani Tsaur bin ‘Abdu Manah, dari suku Mudhar. Ia bergelar Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin orang-orang beriman dalam bidang Hadis). Beliau adalah tokoh utama pada zamannya dalam ilmu agama dan ketakwaan. Lahir dan tumbuh besar di Kufah. Dalam Hilyah Auliya karya Abu Nu’aim (1974) disebutkan bahwa Sufyan al-Tsauri adalah ulama yang sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik atau syubhat.

Ia memiliki pemikiran yang cerdas dan nasihat yang sangat menyentuh hati. Kehebatan ilmu dan kepemimpinannya di dunia Islam tidak diragukan lagi. Bagi Sufyan al-Tsauri ilmu pengetahuan adalah teman sejatinya, dan zuhud adalah gaya hidup yang selalu ia jalani setiap hari. Dikisahkan Khalifah al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah pernah memintanya untuk menjabat dalam pemerintahan, namun Sufyan menolaknya. Beliau kemudian meninggalkan Kufah pada tahun 144 H, lalu menetap di Makkah dan Madinah (al-Zirikli, 2002).

Abu Hamid al-Ghazali (2005) dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menceritakan ketika Harun al-Rasyid naik tahta menjadi khalifah, para ulama berbondong-bondong datang memberikan selamat. Harun menyambut mereka dengan kemewahan dan membagikan hadiah besar dari baitul mal. Namun, di antara sekian banyak ulama, ada satu sosok yang tidak ikut merayakan peristiwa tersebut, yaitu Sufyan al-Tsauri. Padahal, sebelum menjadi penguasa, Harun dan Sufyan adalah sahabat dekat dalam ketaatan. Kerinduan Harun memuncak. Ia merasa kehilangan sosok yang dulu selalu mengingatkannya pada akhirat. Akhirnya, Harun memutuskan untuk menulis sepucuk surat yang dikirimkan melalui utusan bernama ‘Abbad al-Thaliqani.

Dalam suratnya Harun al-Rasyid mengungkapkan rasa rindu yang mendalam. Ia menegaskan bahwa jabatan tidak memutus tali persaudaraan mereka. Harun juga mengeluhkan mengapa hanya Sufyan yang tidak datang berkunjung, padahal para ulama lain telah hadir dan menerima pemberiannya. Ia memohon agar Sufyan segera menemuinya. Sesampainya di masjid Kufah (tempat Sufyan al-Tsauri). ‘Abbad menyampaikan surat tersebut, namun Sufyan enggan membuka suratnya secara langsung. Ia meminta orang lain membacakannya. Setelah mendengar isi surat Harun, Sufyan memerintahkan muridnya untuk menulis jawaban di balik kertas surat Harun (tidak memakai kertas baru).

Sufyan menuliskan nasihat dan peringatan yang sangat keras, ia menyatakan telah memutus tali persaudaraan karena Harun telah terfitnah oleh dunia dan jabatan. Sufyan juga mengecam tindakan Harun yang menghambur-hamburkan harta baitul mal untuk menyenangkan para ulama, padahal harta itu adalah hak fakir miskin, yatim, dan para pejuang yang tidak ridha atas tindakannya. Nasihat terakhir Sufyan meminta Harun untuk tidak lagi mengiriminya surat dan lebih fokus mengurusi umat Muhammad Saw. dengan adil.

Keberanian Sufyan al-Tsauri menjadi pelajaran dan teladan sangat berharga bagi tatanan integritas modern, terutama dalam isu anti-korupsi dan konflik kepentingan. Harun al-Rasyid menggunakan narasi “persaudaraan lama” untuk menarik Sufyan ke lingkaran kekuasaan sebagai legitimasi pemerintahannya. Namun Sufyan mengajarkan bahwa loyalitas kepada kebenaran harus melampaui loyalitas kepada teman atau atasan. Ketika seorang teman menjadi pemimpin dan mulai menyalahgunakan wewenang, sikap setia kawan yang paling benar adalah dengan mengingatkannya secara tegas, bukan justru menjadi stempel legalitas atas kebijakan yang keliru.

Dalam kisah tersebut, Harun membuka baitul mal dan memberi hadiah besar kepada para ulama yang datang. Dalam konteks modern, ini bisa dikategorikan sebagai gratifikasi atau upaya meredam suara kritis melalui fasilitas negara. Kritik keras Sufyan mengenai penggunaan uang negara untuk menjamu tamu-tamu pribadi adalah esensi dari anti-korupsi. Sikap tegas dan tidak berkompromi terhadap hal-hal kecil menunjukkan standar moral yang sangat tinggi. Kisah Sufyan al-Tsauri mengajarkan pada kita 
semua bahwa untuk memperbaiki sistem yang korup, dibutuhkan sosok yang berani menjaga jarak dari kekuasaan agar pandangannya tetap jernih dan objektif. 

Kisah ini bersumber dari buku Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi, terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved