Follow us:

Menggugah Perguruan Tinggi Ikut Membawa Madrasah Kota Bogor Mendunia

“Kita tidak lahir dari rahim yang sama, ari-ari kita tidak ditanam di tanah yang sama. Tapi kita bermukim di tempat yang sama bernama Bogor, tempat di mana kita pulang dan kita jadikan rumah,” Mahmudi Affan Rangkuti.

Kota Bogor punya modal besar di bidang pendidikan madrasah. Dari 1.156.543 penduduk, sebanyak 1.076.100 jiwa atau 93,1 persen beragama Islam. Dengan komposisi seperti ini, madrasah (RA, MI, MTs, dan MA) menjadi jalur pendidikan utama bagi sebagian besar warga kota, bukan alternatif minor. Karena itu, mutu madrasah ikut menentukan mutu sumber daya manusia Kota Bogor secara keseluruhan.

Skala Besar, Mutu Belum Maksimal

Data Kemenag Kota Bogor menunjukkan ada 270 lembaga madrasah dengan 37.819 murid, 2.121 guru, dan 545 tenaga kependidikan. Seluruhnya sudah menjadi penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dua madrasah, MAN 1 dan MAN 2 Kota Bogor, tercatat sebagai madrasah unggulan tingkat Provinsi Jawa Barat. Tahun 2026, sembilan lulusan diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Capaian itu masih usaha mandiri siswa, karena belum pernah ada promosi kelembagaan MAN 1 dan MAN 2 di tingkat internasional. Kesenjangan juga terlihat di bidang prestasi:

• Kompetisi ilmu pengetahuan (Pentas PAI, OSN, OMI): madrasah di Kota Bogor belum pernah menjadi pemenang tingkat nasional.

• Riset ilmu, sains, dan teknologi: belum pernah ada nominator presenter atau narasumber forum ilmiah tingkat nasional maupun internasional.

Karena pola ini konsisten di tiga ajang berbeda, Kemenag membacanya sebagai persoalan sistemik pada pembinaan, bukan soal keberuntungan.

Lima Akar Masalah

Kemenag Kota Bogor memetakan lima akar masalah yang menahan mutu madrasah:

1. Infrastruktur pendidikan belum maksimum.

2. Laboratorium bahasa belum maksimum.

3. Kemampuan pedagogik dan profesional guru belum maksimum.

4. Hubungan industrial kependidikan belum maksimum.

5. Kemampuan bahasa asing siswa dan guru belum maksimum.

Sebagian besar masalah ini tidak mudah dituntaskan oleh satu unit kerja, disinilah perguruan tinggi dibutuhkan.

Kemitraan yang Ditawarkan

Kemenag Kota Bogor mengajukan kemitraan yang tidak berhenti pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Ada enam langkah kebijakan, mulai dari PKS itu sendiri, revitalisasi infrastruktur dan laboratorium bahasa lewat APBN, APBD dan kemitraan kampus, peningkatan kompetensi guru, hingga pembentukan tim pembinaan kompetisi dan riset. Digitalisasi dan branding internasional MAN 1 dan MAN 2 dijalankan Kemenag sebagai proyek percontohan. Penataan hubungan industrial kependidikan juga dikerjakan bersama kampus.

Kontribusi yang diharapkan dari perguruan tinggi terbagi dalam empat bidang:

• Mutu akademik: dosen membina tim Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI), dan Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI); laboratorium bahasa kampus dipakai bersama; mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik ditempatkan di madrasah; pusat bahasa kampus melatih bahasa asing bagi guru dan siswa; serta tersedia jalur afirmasi masuk perguruan tinggi dalam dan luar negeri bagi lulusan madrasah unggulan.

• Riset dan kompetisi: payung riset bersama dosen, guru, dan siswa dengan target publikasi dan presentasi ilmiah.

• Moderasi beragama: kajian moderasi dan ruang dialog lintas iman, PPL dan KKN tematik di wilayah dengan keragaman keyakinan tinggi, pemetaan indeks kerukunan umat beragama secara berkala, dan pelatihan guru serta siswa menjadi fasilitator dialog lintas iman. Tujuannya mewujudkan Bogor sebagai kota toleransi.

• Survei kepuasan layanan: kampus menjadi surveyor independen, dosen dan mahasiswa menjadi enumerator dan analis, hasilnya dipublikasikan terbuka, dan temuannya menjadi rekomendasi perbaikan layanan keagamaan.

Alurnya dirancang berjenjang: pemetaan masalah dan kebutuhan, MoU payung, implementasi empat pilar, monitoring dan evaluasi, lalu diseminasi dan tindak lanjut, dengan umpan balik yang kembali ke tahap pemetaan.

Pembahasan di Universitas Djuanda

Gagasan ini dibahas dalam Pertemuan Penguatan Kemitraan di Ruang Smartclass, Gedung A, Universitas Djuanda (UNIDA), Selasa, 29 September 2026. Pertemuan tersebut mempertemukan perguruan tinggi, madrasah, dan lembaga pendidikan di Kota Bogor untuk membangun kolaborasi yang berdampak lebih luas bagi masyarakat.

Wakil Rektor I UNIDA, Assoc Prof Dr Aal Lukmanul Hakim, menyambut kemitraan ini sebagai momentum agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dihilirkan menjadi program yang bermanfaat nyata bagi masyarakat. Ia juga menyebut UNIDA berada di posisi ketiga dalam penelitian dan posisi kedua dalam pengabdian kepada masyarakat, sehingga punya sumber daya untuk hilirisasi yang bisa dijadikan rencana aksi, dan ia menyatakan komitmen kampus untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak.

Kepala Kantor Kemenag Kota Bogor, Mahmudi Affan Rangkuti, menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan membangun simbiosis mutualisme. Ia mengajukan pertanyaan kunci: apa fokus masing-masing mitra dan bagaimana semuanya dikolaborasikan agar Kemenag dan mitranya sama-sama berdampak.

Dua pandangan kebijakan itu bertemu di satu titik. Kampus punya riset yang butuh tempat bermanfaat, sedangkan madrasah punya murid, guru, dan persoalan nyata yang butuh pendampingan ilmiah. Madrasah menjadi ruang pengabdian yang konkret bagi kampus, dan kampus menjadi jembatan menuju standar mutu yang lebih tinggi bagi madrasah.

Peta Jalan dan Pekerjaan Rumah

Kemenag Kota Bogor menyusun peta jalan tiga tahap:

• Jangka pendek (kurang dari 1 tahun): tindak lanjut dan penandatanganan PKS, serta pemetaan kebutuhan infrastruktur, laboratorium bahasa, dan kompetensi guru.

• Jangka menengah (1–3 tahun): implementasi penuh empat pilar, dengan capaian awal di kompetisi nasional dan riset bersama.

• Jangka panjang (lebih dari 3 tahun): madrasah Kota Bogor mendunia, dan Bogor menjadi rujukan kota toleransi dengan layanan keagamaan yang prima.

Paparan kebijakan Kemenag Kota Bogor tersebut, adalah pengingat yang tepat. Banyak kerja sama berhenti pada seremoni penandatanganan. Ukuran keberhasilan kemitraan ini ada pada hal-hal yang bisa dicek: siapa guru pembina OSN dan OMI, berapa guru yang terlatih bahasa asing, laboratorium mana yang direvitalisasi, dan kapan hasil survei kepuasan layanan dipublikasikan.

Jika pertemuan 29 September 2026 ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang terukur, Kota Bogor punya peluang nyata menjadikan madrasah sebagai mesin mutu SDM kota, dan membawanya dikenal sampai ke luar negeri.

Implikasi Manajerial

Gagasan sebaik apa pun akan berhenti di dokumen jika tidak dikelola. Berikut implikasi yang layak diperhatikan para pengambil keputusan.

1. Bagi Kemenag Kota Bogor: kelola kemitraan sebagai portofolio program, bukan dokumen.

PKS hanyalah pintu masuk. Setiap pilar (mutu akademik, riset dan kompetisi, moderasi beragama, survei layanan) perlu penanggung jawab, target, dan jadwal yang jelas. Peta jalan Kemenag sudah membagi tahapan: kurang dari satu tahun untuk penandatanganan dan pemetaan kebutuhan, satu sampai tiga tahun untuk implementasi penuh dan capaian awal nasional, dan lebih dari tiga tahun untuk visi madrasah mendunia. Agar tidak berhenti sebagai slogan, tiap tahap membutuhkan indikator terukur, misalnya jumlah tim pembinaan yang terbentuk, guru yang mengikuti pelatihan bahasa, atau laboratorium yang direvitalisasi.

2. Bagi perguruan tinggi: jadikan madrasah bagian dari sistem, bukan objek kegiatan.

Kegiatan PPL, KKN, dan pengabdian paling berdampak bila terintegrasi dengan kurikulum dan beban kerja dosen, agar tidak bergantung pada niat baik individu. Riset bersama dosen, guru, dan siswa perlu masuk ke skema penelitian dan pengabdian resmi kampus supaya berkelanjutan dan terdokumentasi.

3. Bagi kepala madrasah dan guru: siapkan diri sebagai mitra yang siap.

Kemitraan hanya berjalan jika madrasah menyiapkan data kebutuhan, jadwal, dan guru pendamping. Madrasah yang punya peta masalah jelas akan lebih mudah mendapat manfaat dibanding yang menunggu.

4. Bagi Kemenag dan kampus bersama: dahulukan kemenangan kecil yang terlihat.

Dua atau tiga program unggulan yang berhasil dalam setahun, misalnya pelatihan bahasa asing untuk guru di madrasah percontohan atau satu tim olimpiade yang dibina dosen, akan membangun kepercayaan dan mempermudah ekspansi. Digitalisasi dan branding internasional MAN 1 dan MAN 2 yang diposisikan sebagai proyek percontohan Kemenag adalah langkah awal yang tepat untuk ini.

5. Bagi tata kelola kemitraan: bangun mekanisme koordinasi dan umpan balik.

Model sinergi Kemenag memuat siklus pemetaan masalah, MoU payung, implementasi, monitoring dan evaluasi, lalu diseminasi dan tindak lanjut, dengan umpan balik berkelanjutan. Siklus ini baru efektif bila ada forum koordinasi rutin, laporan kemajuan, dan pembagian peran yang tertulis, termasuk soal pendanaan. Kemenag sudah menyebut jalur APBN dan APBD sebagai salah satu sumber untuk revitalisasi infrastruktur, dan kontribusi kampus perlu dipetakan secara serupa.

6. Bagi agenda toleransi dan layanan publik: jaga independensi dan keterbukaan.

Peran kampus sebagai surveyor independen hanya bernilai jika metodologinya kredibel dan hasilnya benar-benar dipublikasikan, termasuk temuan yang kurang menyenangkan. Keterbukaan itu yang akan membuat masyarakat percaya pada layanan keagamaan Kemenag dan pada hasil indeks kerukunan yang dihasilkan kampus.

7. Waspadai risiko yang wajar.

Kemitraan lintas lembaga rentan terhadap pergantian kepemimpinan, perbedaan siklus anggaran, dan beban kerja tambahan bagi guru. Mitigasinya adalah dokumentasi yang rapi, pembagian peran yang tidak bergantung pada satu tokoh, dan target realistis di tahap awal.

Ukuran Keberhasilan

Naskah kebijakan Kemenag Kota Bogor tersebut, pada dasarnya adalah pertanyaan kepada pentahelix. Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan, lewat hal-hal yang bisa diperiksa publik: siswa madrasah yang naik podium nasional, guru yang fasih berbahasa asing, hasil riset yang dipresentasikan di forum ilmiah, hasil survei layanan yang dibuka ke publik, dan lebih banyak lulusan memperoleh beasiswa yang berangkat ke kampus dunia.

Penulis: Mahmudi Affan Rangkuti (Kepala Kemenag Kota Bogor). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved