Follow us:

Cuma Amal yang Menemani Manusia di Dalam Kubur, Ini Penjelasan Rasulullah

Kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap manusia. Ketika ajal tiba, seluruh jabatan, kekayaan, dan orang-orang yang dicintai akan ditinggalkan. Keluarga hanya mengantar hingga ke liang lahat, harta hanya menjadi warisan bagi yang ditinggalkan. Setelah itu, seseorang memasuki alam barzah seorang diri.

Lalu, siapakah yang setia menemani manusia di dalam kuburnya?

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hanya amal yang akan tetap bersama seorang hamba setelah seluruh manusia kembali ke rumah masing-masing.

Jika amalnya saleh, ia akan memperoleh kenikmatan di alam kubur hingga hari kebangkitan. Sebaliknya, apabila amalnya buruk, maka ia akan menghadapi azab kubur sesuai kehendak Allah SWT.

Penjelasan itu terdapat dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA.

Tiga Hal Mengiringi Jenazah, Hanya Satu yang Tetap Bersamanya

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى وَاحِدٌ؛ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

‘An Anasi bin Mālikin raḍiyallāhu ‘anhu qāla: Qāla Rasūlullāhi ﷺ: Yatba’ul-mayyita ṡalāṡatun, fayarji’u itsnāni wa yabqā wāḥid. Yatba’uhu ahluhu wa māluhu wa ‘amaluhu. Fayarji’u ahluhu wa māluhu wa yabqā ‘amaluhu.

“Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada tiga perkara yang mengiringi jenazah seseorang. Kemudian dua di antaranya kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Yang mengiringinya adalah keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarganya dan hartanya kembali, sedangkan yang tetap bersamanya adalah amalnya.'” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qurthubi juga menukil hadis ini dalam kitab At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah (hlm. 297–298, Maktabah Darul Minhaj) ketika menjelaskan bahwa alam kubur merupakan awal perjalanan menuju kehidupan akhirat.

Tujuh Amal yang Terus Mengalir di Dalam Kubur

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa ada beberapa amal yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Qatadah, dari Anas bin Malik RA.

وَرَوَى أَبُو نُعَيْمٍ مِنْ حَدِيثِ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: سَبْعٌ يَجْرِي أَجْرُهَا لِلْعَبْدِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ أَجْرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلًا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ.

Wa rawā Abū Nu’aim min ḥadīṡi Qatādah, ‘an Anasi bin Mālik raḍiyallāhu ‘anhu qāla: Qāla Rasūlullāhi ﷺ: Sab’un yajrī ajruhā lil-‘abdi ba’da mautihi wa huwa fī qabrih: man ‘allama ‘ilman, aw ajrā nahran, aw ḥafara bi’ran, aw gharasa nakhlan, aw banā masjidan, aw warraṡa muṣḥafan, aw taraka waladan yastaghfiru lahū ba’da mautih.

“Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Qatadah, dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada tujuh perkara yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba setelah ia meninggal dunia dan berada di dalam kuburnya, yaitu: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai atau saluran air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf Alquran, atau meninggalkan anak saleh yang memohonkan ampun untuknya setelah ia meninggal dunia.'”

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui jalur Az-Zuhri, meskipun sanad riwayat Abu Nu’aim dinilai gharib karena memiliki jalur periwayatan yang khusus.

Amal Tidak Berhenti Saat Kematian Tiba

Hadis di atas menunjukkan bahwa tidak semua amal terputus ketika seseorang meninggal dunia. Ada amal-amal yang manfaatnya terus dirasakan masyarakat sehingga pahalanya pun terus mengalir kepada pelakunya.

Mengajarkan ilmu yang bermanfaat, membangun sarana air bersih, menggali sumur, menanam pohon yang memberi manfaat bagi manusia dan makhluk hidup, membangun masjid, mewariskan mushaf Alquran, hingga mendidik anak menjadi saleh termasuk amal yang terus menghasilkan pahala selama manfaatnya masih berlangsung.

Makna ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang sangat masyhur:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Idzā māta ibnu Ādama inqaṭa’a ‘amaluhu illā min ṡalāṡ: ṣadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa’u bih, aw waladin ṣāliḥin yad’ū lah.

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Bekal Terbaik Menuju Alam Barzah

Hadis-hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat menanam amal. Harta, jabatan, dan popularitas tidak ikut masuk ke liang lahat. Yang tetap menemani seseorang hingga hari kebangkitan hanyalah amal yang pernah ia lakukan semasa hidup.

Karena itu, setiap Muslim dianjurkan memperbanyak amal saleh, memperluas manfaat bagi sesama, serta meninggalkan warisan kebaikan yang terus hidup setelah dirinya wafat. Sebab ketika seluruh manusia telah kembali dari pemakaman, hanya amal yang akan tetap setia menemani di alam kubur. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved