5 Penyakit Lisan Sangat Berbahaya dan Diperingatkan Rasulullah SAW, Namun Banyak Diabaikan
Lisan memiliki berbagai penyakit dan akibat buruk. Islam mengajarkan agar umat Muslim senantiasa menjaga lisan mereka dari hal-hal yang bersifat negatif. Tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi bagi orang lain.
Pertama, salah satu yang paling utama sekaligus paling berbahaya adalah ghibah (menggunjing).
Ghibah merupakan salah satu alat perusak bangunan keluarga dan masyarakat, sekaligus faktor yang efektif dalam memecah belah kaum Muslimin.
Larangan ghibah telah ditegaskan dalam Alquran dengan gambaran yang sangat buruk. Allah SWT berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya: “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS Al-Hujurat: 12).
Rasulullah SAW juga bersabda:
كل المسلم على المسلم حرام: دمه وماله وعرضه
“Setiap Muslim haram atas Muslim lainnya, baik darahnya, hartanya, maupun kehormatannya.”
Ghibah termasuk perbuatan yang mencederai kehormatan seseorang.
Rasulullah SAW telah memberikan definisi ghibah secara lengkap dan jelas. Beliau bertanya kepada para sahabat:
أتدرون ما الغيبة؟
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau kemudian bersabda:
ذكرك أخاك بما يكره
“Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak disukainya.”
Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika apa yang aku katakan memang benar-benar ada pada saudaraku?” Rasulullah SAW menjawab:
إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته
“Jika apa yang engkau katakan memang ada pada dirinya, berarti engkau telah menggunjingnya. Namun, jika hal itu tidak ada pada dirinya, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR Muslim).
Ghibah merupakan dosa besar yang memiliki balasan sangat berat. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:
لما عرج بي مررت بقوم، لهم أظفار من نحاس، يخمشون وجوههم وصدورهم، فقلت من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم
“Ketika aku diperjalankan naik (dalam peristiwa Mikraj), aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan mereka.'” (HR Muslim).
Kedua, di antara penyakit lisan lainnya adalah namimah (adu domba), yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan menimbulkan kerusakan dan perselisihan. Namimah merupakan saudara ghibah, bahkan dosanya lebih besar.
Orang yang melakukan adu domba adalah sosok yang bergerak menyebarkan keburukan dan berusaha mewujudkannya.
Seorang pengadu domba dapat merusak dalam satu jam sesuatu yang bahkan tidak mampu dirusak oleh seorang penyihir selama setahun. Alquran telah mencela perilaku tersebut. Allah SWT berfirman:
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
Artinya: “Janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah lagi berkepribadian hina, yang suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah (adu domba), yang enggan berbuat baik, yang melampaui batas, dan banyak dosa.” (QS Al-Qalam: 10–12).
Rasulullah SAW juga bersabda:
لا يدخل الجنة نمام
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan. Beliau bersabda:
إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير
“Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Keduanya disiksa bukan karena perkara yang dianggap besar (oleh manusia).”
Kemudian beliau menjelaskan:
بلى، أما أحدهما فكان يسعى بالنميمة، وأما أحدهما فكان لا يستتر من بوله
“Benar, salah seorang dari keduanya dahulu suka menyebarkan adu domba, sedangkan yang lainnya tidak menjaga diri dari air kencingnya.”
Ketiga, penyakit lisan lainnya adalah bermuka dua. Orang yang bermuka dua adalah seseorang yang memiliki dua sikap atau dua ucapan berbeda ketika berhadapan dengan dua kelompok yang sedang bermusuhan.
Ia mendatangi masing-masing pihak dan menyampaikan perkataan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Rasulullah SAW menggolongkan orang yang memiliki perilaku demikian sebagai salah satu manusia paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat. Beliau bersabda:
تجد من شرار الناس يوم القيامة عند الله ذا الوجهين، الذي يأتي هؤلاء بوجه، وهؤلاء بوجه
“Engkau akan mendapati di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang bermuka dua, yaitu orang yang mendatangi kelompok ini dengan satu wajah dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah yang berbeda.” (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat, di antara penyakit lisan lainnya adalah melaknat, yaitu mendoakan seseorang agar diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT.
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW melarang kebiasaan melaknat. Beliau juga menjelaskan bahwa seorang mukmin tidak sepatutnya menjadi orang yang gemar melaknat.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda:
ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش، ولا البذيء
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.”
Dari Abu Darda RA, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
إن اللعانين لا يكونون شهداء ولا شفعاء يوم القيامة
“Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat.” (HR Muslim).
Bahkan, laknat dapat kembali kepada orang yang mengucapkannya apabila orang yang dituju tidak pantas menerimanya. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments