Follow us:

Orang tanpa Daging di Wajah: 3 Tanda Orang Terhina Menurut Rasulullah

Tidak semua kemiskinan membuat seseorang hina. Sebaliknya, banyak orang hidup dalam keterbatasan tetapi tetap mulia karena menjaga kehormatan dirinya. Yang diperingatkan Islam bukanlah miskinnya seseorang, melainkan kebiasaan menggantungkan hidup kepada manusia dan menjadikan meminta-minta sebagai jalan hidup padahal masih mampu berusaha.

Karena itu, Rasulullah SAW menempatkan kebiasaan meminta-minta sebagai salah satu tanda kehinaan. Dalam wasiatnya kepada sahabat Ali bin Abi Thalib RA, Nabi SAW menjelaskan ciri-ciri orang yang kehilangan kemuliaan di hadapan manusia maupun di sisi Allah SWT.

يَا عَلِيُّ، وَلِلْمَخْذُوْلِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ كَثْرَةُ الْكَذِبِ وَكَثْرَةُ الْأَيْمَانِ الْفَاجِرَةِ وَكَثْرَةُ الْحَوَائِجِ إِلَى النَّاسِ

Yaa ‘Aliyyu, walil-makhdzuuli tsalaatsu ‘alaamaatin, katsratul kadzibi, wa katsratul aimaanil faajirah, wa katsratul hawaa’iji ilan-naas.

“Wahai Ali, bagi orang yang terhina ada tiga tanda, yaitu banyak berbohong, banyak sumpah palsu, dan banyak hajat kepada manusia (suka meminta-minta kepada manusia).”

Keterangan tersebut termaktub dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani. Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi sikap mandiri dan menjaga harga diri selama seseorang masih memiliki kemampuan untuk berikhtiar.

Rasulullah SAW justru mengajarkan umatnya untuk menjadi pihak yang memberi, bukan yang meminta. Kemuliaan seorang Muslim tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari kemampuannya menjaga kehormatan diri dan tidak bergantung kepada manusia.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

Al-yadul ‘ulyaa khairun minal yadis suflaa, wabda’ biman ta’uul, wa khairush-shadaqati ‘an zhahri ghinaa, wa man yasta’fif yu’iffahullaah, wa man yastaghni yughnihillaah.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah (membelanjakan harta) kepada orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sedekah yang paling baik adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan. Barangsiapa berusaha menjaga diri, Allah akan menjaganya. Barangsiapa berusaha mencukupkan diri, Allah akan memberinya kecukupan.” (HR Bukhari).

Hadis ini menegaskan bahwa Islam membangun mentalitas kemandirian. Seorang Muslim diperintahkan bekerja, berusaha, dan menjaga kehormatannya, bukan menjadikan uluran tangan orang lain sebagai sandaran hidup.

Kisah Sahabat yang Memilih Bekerja daripada Meminta-minta

Rasulullah SAW tidak hanya melarang umatnya membiasakan diri meminta-minta, tetapi juga memberikan teladan tentang kemuliaan bekerja meskipun pekerjaan itu terlihat sederhana di mata manusia.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا، فَيَسْأَلَهُ، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ

La’an ya’khudza ahadukum hablahu fayahthathiba ‘alaa zhahrihi khairun lahu min an ya’tiya rajulan fayas’alahu a’thaahu aw mana’ahu.

“Sungguh jika salah seorang dari kalian mengambil talinya lalu mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia mendatangi seseorang lalu meminta-minta kepadanya, baik diberi maupun ditolak.” (HR Bukhari).

Hadis ini menggambarkan betapa Islam memuliakan kerja keras. Mengumpulkan kayu bakar di padang pasir yang panas, memikulnya di atas punggung, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidup dipandang lebih terhormat daripada mengulurkan tangan kepada orang lain.

Semangat inilah yang juga terlihat pada para sahabat Nabi SAW. Banyak di antara mereka hidup sederhana, tetapi tetap berusaha mencari nafkah dengan tangannya sendiri. Mereka memahami bahwa kemuliaan seorang Muslim terletak pada kemandirian, bukan pada banyaknya bantuan yang berhasil diperoleh dari manusia.

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini bukan berarti Islam melarang seseorang meminta bantuan dalam kondisi darurat atau kebutuhan yang benar-benar mendesak. Namun, hadis tersebut menanamkan prinsip bahwa selama seseorang masih mampu bekerja dan berikhtiar, maka jalan itulah yang lebih dicintai Allah SWT.

Pesan Rasulullah SAW ini tetap relevan hingga sekarang. Apa pun profesinya, selama halal dan tidak melanggar syariat, bekerja dengan tangan sendiri lebih mulia daripada menjadikan meminta-minta sebagai kebiasaan hidup. Sebab dalam pandangan Islam, rezeki yang diperoleh melalui usaha yang jujur bukan hanya mendatangkan penghasilan, tetapi juga menjaga kehormatan dan martabat seorang Muslim.

Apakah Meminta Jabatan dan Kedudukan Juga Termasuk Mengemis?

Ketika mendengar larangan meminta-minta, sebagian orang mungkin langsung membayangkan seseorang yang meminta uang atau bantuan materi. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa ketergantungan kepada manusia tidak selalu berbentuk harta. Dalam banyak kasus, seseorang juga dapat terjebak dalam “mengemis” jabatan, kedudukan, penghormatan, atau pengaruh di tengah masyarakat.

Islam memandang jabatan sebagai amanah, bukan hadiah yang harus dikejar dengan segala cara. Karena itu, Rasulullah SAW memberikan peringatan khusus kepada orang yang berambisi mengejar kekuasaan dan kedudukan.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Yaa ‘Abdurrahmaana bin Samurah, laa tas’alil imaaraah, fa innaka in u’tiitaa ‘an mas’alatin wukilta ilaihaa, wa in u’tiitaa min ghairi mas’alatin u’inta ‘alaihaa.

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Sebab jika jabatan itu diberikan karena permintaanmu, engkau akan dibebani mengurusnya sendirian. Tetapi jika diberikan tanpa engkau memintanya, engkau akan mendapatkan pertolongan (dari Allah) dalam menjalankannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai sikap haus kekuasaan. Sebab, orang yang terlalu bernafsu mengejar jabatan sering kali lebih fokus pada kedudukan yang ingin diraih daripada amanah yang harus dipikul setelahnya.

Dalam kehidupan modern, fenomena ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang sibuk membangun pencitraan agar dipilih menjadi pemimpin, ada yang mencari dukungan dengan segala cara demi memperoleh posisi tertentu, bahkan ada yang rela merendahkan diri di hadapan manusia demi mendapatkan jabatan yang diinginkan.

Tentu tidak setiap pencalonan atau pengajuan diri otomatis dilarang. Para ulama menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu seseorang boleh menawarkan kemampuan dan kompetensinya apabila memang dibutuhkan untuk kemaslahatan yang lebih besar. Nabi Yusuf AS, misalnya, pernah menawarkan dirinya untuk mengelola perbendaharaan Mesir karena memiliki kemampuan dan integritas untuk menjalankan tugas tersebut.

Namun, terdapat perbedaan besar antara menawarkan kemampuan untuk melayani masyarakat dan mengemis jabatan demi kepentingan pribadi. Yang pertama berangkat dari amanah dan tanggung jawab, sedangkan yang kedua berangkat dari ambisi serta kecintaan berlebihan terhadap kedudukan.

Karena itu, hadis-hadis tentang larangan meminta-minta tidak hanya mengajarkan agar seorang Muslim tidak mengulurkan tangan demi harta. Lebih jauh, Islam juga mendidik umatnya agar tidak menjadikan kehormatan, kekuasaan, dan kedudukan sebagai sesuatu yang dikejar dengan mengorbankan harga diri. Sebab kemuliaan sejati tidak lahir dari jabatan yang diminta-minta, melainkan dari amanah yang dijalankan dengan ikhlas karena Allah SWT.

Bedanya Meminta Bantuan dan Meminta-minta dalam Islam

Larangan meminta-minta dalam Islam sering kali menimbulkan pertanyaan. Jika demikian, apakah seseorang tidak boleh meminta pertolongan ketika sedang mengalami kesulitan? Apakah setiap permintaan kepada orang lain termasuk perbuatan tercela?

Para ulama menjelaskan bahwa Islam membedakan antara meminta bantuan dan meminta-minta. Meminta bantuan dalam perkara yang dibutuhkan dan mampu dibantu oleh orang lain pada dasarnya diperbolehkan. Bahkan, tolong-menolong dalam kebaikan merupakan salah satu ajaran yang dianjurkan dalam Islam.

Yang tercela adalah menjadikan meminta-minta sebagai kebiasaan hidup, padahal seseorang masih memiliki kemampuan untuk berusaha dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bukan lagi meminta karena kebutuhan mendesak, melainkan karena ketergantungan kepada manusia atau keinginan memperoleh sesuatu tanpa usaha yang semestinya.

Karena itu, para ulama menerangkan bahwa seseorang yang tertimpa musibah, kehilangan harta benda, terlilit utang yang berat, atau berada dalam kondisi darurat diperbolehkan meminta bantuan kepada orang lain. Bahkan dalam keadaan tertentu, menerima bantuan menjadi jalan yang dibenarkan syariat untuk mempertahankan kehidupan dan memenuhi kebutuhan pokok.

Sebaliknya, Islam tidak menyukai sikap yang menjadikan tangan orang lain sebagai sandaran utama hidup. Rasulullah SAW mendidik umatnya agar berusaha terlebih dahulu, bekerja sesuai kemampuan, dan bertawakal kepada Allah SWT sebelum menggantungkan harapan kepada sesama manusia.

Perbedaan lainnya terletak pada tujuan. Meminta bantuan bertujuan menyelesaikan kesulitan yang nyata, sedangkan meminta-minta sering kali dilakukan untuk memperoleh tambahan harta, kenyamanan, atau keuntungan yang sebenarnya masih bisa dicapai melalui usaha sendiri. Inilah yang menjadi sasaran peringatan keras dalam berbagai hadis Nabi SAW.

Para ulama juga mengingatkan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak diukur dari kemampuannya menolak seluruh bantuan orang lain. Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Ketika membutuhkan pertolongan, ia tidak segan meminta bantuan yang halal. Namun ketika masih mampu berusaha, ia memilih bekerja dan menjaga kehormatan dirinya.

Dengan demikian, Islam tidak melarang seseorang meminta pertolongan saat berada dalam kesulitan. Yang dilarang adalah membiasakan diri bergantung kepada manusia tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat. Sebab seorang Muslim diajarkan untuk menjadikan Allah SWT sebagai tempat bergantung utama, sementara bantuan manusia hanyalah salah satu sarana yang dihadirkan-Nya. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved