Follow us:

Tiga Tanda Orang Riya Menurut Hadis, Salah Satunya Semangat Beribadah Saat Dilihat Orang

Riya atau pamer merupakan salah satu penyakit hati yang mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam. Sifat ini muncul ketika seseorang melakukan amal atau ibadah bukan semata-mata karena Allah SWT, melainkan untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau penilaian manusia.

Secara bahasa, riya berasal dari kata Arab ra’a-yara yang berarti melihat. Adapun secara istilah, riya berarti memperlihatkan amal, ucapan, atau perbuatan kepada orang lain agar mendapat pengakuan dan pujian.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa orang yang terjangkit riya cenderung menjadikan manusia sebagai tujuan dari amalnya. Ia akan merasa senang ketika dipuji dan kecewa ketika tidak mendapatkan perhatian atas apa yang dilakukannya.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan tanda-tanda orang yang memiliki sifat riya dalam sebuah nasihat kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Beliau bersabda:

يَا عَلِيُّ، وَلِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَسُجُوْدَهُ مَعَ النَّاسِ وَيَنْقُصُهُ إِذَا صَلَّى وَحْدَهُ وَيَنْشِطُ لِلْمَرْءِ الَّذِيْ يُثْنِيْ عَلَيْهِ وَيَذْكُرُ اللهَ فِي الْخَلَا وَالْمَلَا

Yā ‘Aliyyu, walil murā`ī tsalātsu ‘alāmāt. Yutimmu rukū’ahu wa sujūdahu ma’an nās, wa yanqushuhu idzā shallā wahdah, wa yansyathu lil mar`illadzī yutsnī ‘alaihi, wa yadzkurullāha fil malā wa lā yadzkuruhu fil khalā.

“Wahai Ali, orang yang riya memiliki tiga tanda. Ia menyempurnakan ruku dan sujudnya ketika berada di hadapan banyak orang, tetapi menguranginya ketika shalat sendirian. Ia bersemangat kepada orang yang memuji dirinya. Dan ia berdzikir kepada Allah ketika berada di tengah orang banyak, tetapi tidak ketika sedang sendirian.” (Lihat Washiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani).

Dari hadis tersebut, para ulama menjelaskan bahwa salah satu ciri utama riya adalah berubahnya kualitas ibadah seseorang bergantung pada ada atau tidaknya manusia yang melihatnya. Ketika berada di hadapan orang lain, ia berusaha menampilkan ibadah yang sempurna. Namun saat tidak ada yang memperhatikan, semangat ibadahnya menurun.

Selain itu, orang yang riya cenderung mencari apresiasi manusia. Ia merasa lebih bersemangat ketika mendapat pujian dan sanjungan. Padahal dalam Islam, amal yang diterima adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Karena itu, para ulama senantiasa mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Semakin tersembunyi suatu amal dari pandangan manusia dan semakin kuat orientasinya kepada Allah SWT, maka semakin besar pula harapan diterimanya amal tersebut di sisi-Nya.

Mengapa Riya Sulit Dikenali?

Berbeda dengan sebagian dosa lahiriah yang mudah terlihat, riya termasuk penyakit hati yang sering kali tersembunyi. Bahkan seseorang dapat terjerumus ke dalam riya tanpa menyadarinya. Karena itulah para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah keikhlasan dan niat dalam beramal.

Orang yang sombong terkadang masih menyadari kesombongannya. Demikian pula orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan biasanya mengetahui bahwa dirinya sedang berbuat salah. Namun orang yang riya sering kali mengira bahwa amal yang dilakukannya telah ikhlas karena Allah SWT, padahal di dalam hatinya masih terselip keinginan untuk mendapatkan pujian, penghormatan, atau pengakuan dari manusia.

Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata:

ما عالجت شيئًا أشد عليّ من نيتي؛ لأنها تتقلب عليّ

Transliterasi:

Mā ‘āla jtu syai’an asyadda ‘alayya min niyyatī, li annahā tataqallabu ‘alayya.

Artinya:

“Aku tidak pernah berjuang mengatasi sesuatu yang lebih berat daripada niatku, karena niat itu selalu berubah-ubah.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa menjaga keikhlasan bukanlah perkara mudah. Seorang Muslim tidak cukup hanya meluruskan niat di awal amal, tetapi juga harus terus menjaganya hingga amal tersebut selesai dilakukan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa riya sering masuk melalui celah-celah yang sangat halus. Terkadang seseorang merasa senang ketika amalnya diketahui orang lain, lalu secara perlahan rasa senang itu berkembang menjadi keinginan untuk dipuji dan dihormati. Pada titik itulah keikhlasan mulai terancam.

Karena itu para ulama salaf senantiasa membiasakan diri untuk menyembunyikan amal-amal mereka. Mereka khawatir pujian manusia akan mengurangi kemurnian niat yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah SWT.

Kesadaran inilah yang membuat para ulama terdahulu lebih sibuk memeriksa niatnya sendiri daripada memperhatikan penilaian manusia. Sebab yang menentukan nilai sebuah amal bukanlah banyaknya orang yang melihat, melainkan keikhlasan hati di hadapan Allah SWT.

Tanda Amal Dilakukan karena Allah

Setelah membahas tanda-tanda riya, muncul pertanyaan penting: bagaimana mengetahui bahwa sebuah amal dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT?

Para ulama menjelaskan bahwa ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beramal. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah pujian manusia, melainkan ridha Allah SWT.

Salah satu tanda ikhlas adalah sikap yang tetap sama, baik ketika dipuji maupun dicela. Orang yang ikhlas tidak bertambah semangat karena sanjungan dan tidak berhenti beramal karena kritik. Ia menyadari bahwa manusia tidak dapat menentukan nilai amalnya, sedangkan Allah Maha Mengetahui isi hati setiap hamba.

Tanda berikutnya adalah tetap menjaga kualitas amal, baik ketika dilihat orang lain maupun saat tidak ada seorang pun yang menyaksikannya. Orang yang ikhlas tetap berusaha memperbaiki shalatnya ketika sendirian, tetap bersedekah meskipun tidak diketahui orang lain, dan tetap berzikir meskipun tidak ada yang memberikan apresiasi.

Imam Al-Fudhail bin Iyadh berkata:

تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ مِنْهُمَا

Tarkul ‘amali min ajlin nāsi riyā`, wal ‘amalu min ajlin nāsi syirk, wal ikhlāshu an yu’āfiyakalLāhu minhumā.

“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadikan manusia sebagai alasan untuk beramal maupun meninggalkan amal. Fokus utamanya adalah menjalankan ketaatan karena Allah SWT.

Tanda lainnya adalah tidak menunggu apresiasi manusia. Orang yang ikhlas tetap berbuat baik meskipun tidak dipuji, tidak dihargai, bahkan terkadang tidak diketahui siapa pun. Ia yakin bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah.

Karena itu, para ulama salaf lebih memperhatikan keadaan hati daripada penilaian manusia. Mereka memahami bahwa amal yang kecil tetapi ikhlas dapat menjadi besar di sisi Allah, sedangkan amal yang tampak besar di hadapan manusia dapat kehilangan nilainya apabila tercampur riya dan keinginan untuk dipuji. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved