Alasan Mengapa Orang Pintar tak Bernilai tanpa Takwa
Dalam pandangan Islam, ilmu tidak hanya diukur dari luasnya pengetahuan seseorang, tetapi juga dari ketakwaannya kepada Allah SWT. Sebab ilmu tanpa ketakwaan dikhawatirkan justru melahirkan kesombongan dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebaikan.
Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin rendah hati pula dirinya. Seorang alim yang benar-benar memahami hakikat ilmu akan menyadari bahwa seluruh pengetahuan yang dimilikinya hanyalah karunia Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Namun dalam kehidupan, tidak sedikit orang berilmu yang justru terjebak dalam rasa bangga terhadap dirinya sendiri. Ilmu yang dimiliki tidak membuatnya semakin dekat kepada Allah, bahkan nasihat yang disampaikannya pun sering kali tidak menyentuh hati masyarakat.
Peringatan mengenai hal tersebut pernah disampaikan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib. Wasiat itu tercantum dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya ulama besar Mesir Abdul Wahhab Asy-Sya’rani.
Rasulullah SAW bersabda:
يَا عَلِيُّ، إِذَا لَمْ يَكُنِ الْعَالِمُ تَقِيًّا ظَلَّتْ مَوْعِظَتُهُ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ كَمَا يَظِلُّ الْقَطْرُ عَلَى بَيْضِ النَّعَامِ وَالصَّفَا
Transliterasi:
Yā ‘Aliyyu, idzā lam yakunil ‘ālimu taqiyyan zhallat mau‘izhathuhu ‘alā qulūbin nāsi kamā yazhillul qathru ‘alā baidhin na‘āmi wash-shafā.
Artinya:
“Wahai Ali, jika orang alim tidak bertakwa maka nasihat yang disampaikannya kepada hati manusia seperti tetesan air di atas telur burung unta dan di atas batu yang licin.”
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa nasihat dari orang berilmu namun tidak bertakwa tidak akan membekas dalam hati manusia. Wejangan yang disampaikan mudah hilang, seperti air yang tidak mampu menetap di atas permukaan licin.
Karena itu, Islam tidak hanya menekankan pentingnya mencari ilmu, tetapi juga menjaga ketakwaan dan akhlak. Ilmu yang disertai ketakwaan akan menjadi cahaya dan membawa manfaat bagi banyak orang, sedangkan ilmu tanpa ketakwaan dikhawatirkan hanya melahirkan kesombongan yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Mengapa Ulama Salaf Semakin Tawadhu Saat Berilmu?
Dalam tradisi Islam, para ulama salaf dikenal bukan hanya karena keluasan ilmu mereka, tetapi juga karena kerendahan hati yang luar biasa. Semakin dalam ilmu yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut mereka kepada Allah SWT. Mereka menyadari bahwa ilmu manusia sangat terbatas dibanding ilmu Allah Yang Maha Luas.
Karena itu, para ulama terdahulu tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk meninggikan diri. Justru ilmu membuat mereka semakin tawadhu, hati-hati dalam berbicara, dan tidak mudah merasa paling benar. Mereka memahami bahwa setiap tambahan ilmu akan diiringi pertanggungjawaban yang lebih besar di hadapan Allah SWT.
Banyak kisah ulama salaf yang menunjukkan sikap tersebut. Imam Malik misalnya, dikenal sangat berhati-hati ketika memberi fatwa. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau lebih sering mengatakan “saya tidak tahu” dibanding memaksakan jawaban atas persoalan yang belum diyakininya. Sikap itu lahir bukan karena kurang ilmu, tetapi karena rasa takut kepada Allah jika berbicara tanpa dasar yang benar.
Hal serupa juga tampak pada Imam Syafii. Semakin tinggi kedudukan ilmunya, beliau justru semakin menekankan pentingnya adab dan penyucian hati. Imam Syafii bahkan pernah mengadukan lemahnya hafalan kepada gurunya, lalu dinasihati agar menjauhi maksiat karena ilmu adalah cahaya dari Allah SWT dan cahaya itu tidak diberikan kepada hati yang kotor.
Para ulama salaf juga mengajarkan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Penuntut ilmu tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki akhlak, keikhlasan, dan rasa hormat kepada guru serta sesama manusia. Sebab ilmu tanpa adab dikhawatirkan hanya melahirkan kesombongan dan perdebatan tanpa hikmah.
Semakin seseorang memahami kebesaran Allah SWT, semakin ia sadar akan keterbatasan dirinya. Karena itu, ulama salaf memandang ilmu bukan jalan menuju popularitas atau kemuliaan dunia, melainkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dari situlah lahir rasa tawadhu, ketenangan hati, dan ketakutan untuk menyalahgunakan ilmu yang dimiliki. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments