Follow us:

Beberapa Ketentuan Allah Dalam Kehidupan

Oleh: Ustadz DR. Ahzami Samiun Jazuli, MA

Tema ini bertujuan memberikan ketajaman pemahaman kepada kaum muslimin menghadapi permasalahan-permasalahannya. Apakah itu permasalahan internal ataupun eksternal berupa konspirasi/persesongkolan musuh-musuh islam untuk memerangi kaum muslimin. Diantara caranya adalah melalui memberikan pemahaman yang memadai tentang sunnatullah (ketentuan Allah) yang pasti berlaku dalam kehidupan ini.

Diantara sunnatullah yang berlaku sepanjang masa adalah:

  1. Peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus menerus hingga tiba hari kiamat

Pemahaman dan mengimani sunnatullah ini sangat penting, tujuannya agar tidak ada satupun kaum muslimin yang selalu merasa dalam zona aman, seolah-olah hidup ini aman-aman saja.

Orang-orang beriman berperang di jalan Allah, sementara orang-orang kafir berperang di jalan Thaghut. Dan Allah menginstruksikan kepada seluruh kaum muslimin agar memerangi teman-teman syaithan dan tidak usah takut, meskipun mereka punya media dan lain sebagainya. Sebab, tipu daya syaithan itu lemah.

الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُواْ أَوْلِيَاء الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً{76}

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An Nisa’: 76)

Dalam ayat ini, Allah menghadirkan kata kerja mudhari’ (akan dan sedang). Dalam kaidah bahasa arab disebutkan bahwa fi’il mudhari’ berfaedah actual, selalu akan terjadi dimanapun dan kapanpun berada. Jadi, jangan sampai kaum muslimin di Indonesia dan di Negara lainnya hanya mengetahui bahwa peperangan hanya terjadi di Syiria dan Iraq saja. Perlu diketahui, bahwa perang antara kaum muslimin dan orang kafir itu jelas sebagaimana jelasnya peperangan antara para sahabat ketika melawan kaum musyrikin.

Tetapi yang lebih membutuhkan kejelian adalah ternyata dalam peperangan antara haq dan batil tersebut tidak selamanya jelas. Kenapa? Karena orang yang tidak paham seolah-olah mengatakan bahwa terjadi penyerangan terhadap kaum muslimin oleh muslimin lainnya. Sehingga di media sering disebut sebagai perang saudara. Dimana kebanyakan media tidak berpihak kepada islam. Ketika yang menjadi korban adalah kaum muslimin yang komitmen terhadap alquran dan assunnah, maka pelaku-pelaku kezaliman biasanya tidak disebutkan namanya, cukup dengan golongan tertentu, agar kaum muslimin lainnya diam tidak bergerak.

Di dalam sejarah islam, hancurnya umat islam tidak selamanya dikalahkan oleh orang kafir. Tapi diantara sebab kalahnya umat islam adalah adanya pengkhianatan pihak-pihak tertentu yang mengaku islam, tapi dalam kenyataannya mengadakan koalisi, persesongkokolan dengan orang kafir, walaupun harus membunuh dan menyerang kaum muslimin.

Dan di dalam sejarah juga disebutkan, ketika mereka masih minoritas, belum berkuasa, selalu berslogan “kita harus menjunjung tinggi perbedaan dan kita harus toleransi terhadap kelompok minoritas”. Bagitu berkuasa atau mempunyai kesempatan untuk menyerang kaum muslimin, mereka sudah melakukan apa saja.

Ini yang harus kita pahami, sehingga kita tidak merasa dalam zona aman dan selalu waspada. Sebagaimana firman Allah Ta’ala lainnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ خُذُواْ حِذْرَكُمْ فَانفِرُواْ ثُبَاتٍ أَوِ انفِرُواْ جَمِيعاً (النساء: 71)

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! (An Nisa’: 71)

Ayat ini mewanti-wanti kaum muslimin agar tidak berjuang sendirian, sebab akan mudah dikalahkan meskipun jumlah kaum muslimin banyak. Itulah sebabnya dalam surah Al Anfal ayat 46-47 disebutkan tentang syarat-syarat kemenangan diantaranya adalah harus bersatu dan tidak bercerai berai.

“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al Anfal; 45-47)

Memang kaum muslimin punya masjid banyak, mempunyai jama’ah yang berbeda sesuai dengan ketenangan hati dan kekuatan dalil yang digunakan oleh jama’ah dimana seseorang berafiliasi kepadanya, tetapi dalam menghadapi kebatilan jangan sampai kaum muslimin maju sendiri-sendiri, tetapi mereka harus bersatu.

Jadi, jangan sampai ada lagi orang yang mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada perang. Seolah-olah perang antara kebenaran dan kebatilan itu hanya perang senjata. Mereka lupa bahwa perang secara fisik itu biasanya didahului dengan perang-perang lainnya diantara adalah perang pemikiran, media, politik, ekonomi, peradaban, ilmu pengetahuan, perang wawasan dan opini. Sehingga jangan sampai kaum muslimin merasa dalam zona aman!!

  1. Sunnatullah Dalam Peringatan (Indzar)

Diantara musibah yang menimpa sebagian umat islam yang di dalamnya sudah barang tentu ada saudara kita bahkan mungkin kita sendiri adalah musibah yang bernama musibah ketidak pekaan (ndablek). Tidak paham-paham terhadap peringatan Allah.

Kami mengatakan, bahwa musibah dan bencana bukan hanya terjadi pada masa sekarang, pada masa terbaik pun ada musibah atau bencana. Cuma perbedaan besarnya adalah musibah tersebut tidak panjang, sebentar langsung dicabut oleh Allah. Mereka cepat sadar bahwa musibah tersebut turun karena ada kemaksiatan. Oleh karena itu, Umar Radhiyallahu Anhu mengatakan, “kema’shiatan kita lebih berbahaya daripada musuh kita”.

Hal ini terbukti pada masa awal perang Hunain, jumlah umat islam banyak tapi berbuat maksiat karena menganggap kemenangan ditentukan oleh jumlah pasukan. Sehingga di awal peperangan pasukan kaum muslimin cerai berai dan berantakan. Musibah kekalahan itu berhenti, setelah kaum muslimin bertaubat. Setelah itu, baru kemudian Allah Ta’ala menurunkan kemenangan dan bala tentara tidak berupa manusia.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ {25} ثُمَّ أَنَزلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُوداً لَّمْ تَرَوْهَا وَعذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ{26} ثُمَّ يَتُوبُ اللّهُ مِن بَعْدِ ذَلِكَ عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ{27}

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (Ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak Karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan Demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At Taubah: 25-27)

Cuma, di negara tertentu terjadi musibah banjir dan belum selesai, pesawat terbang jatuh, begal ada dimana-mana, antar lembaga tinggi Negara bertikai dan musibah-musibah lainnya, semuanya berlangsung lama, dan tiap kita menanyakan kapan musibah itu akan selesai?? Padahal musibah-musibah tersebut merupakan peringatan dari Allah.

Agar Musibah Cepat Dicabut

Seperti apa ketentuannya agar kita semua mudah menerima peringatan Allah, sehingga musibah demi musibah segera dicabut oleh Allah?

  • Selalu Mengikuti Peringatan Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (يس: 11)

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Yaasin: 11)

Dan diantara nama lain Alquran adalah Adz Dzikr,

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ (الزخرف: 44)

“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (Az Zukhruf: 44)

Jadi, jika dalam hidup ini selalu mengikuti peringatan Allah, maka kita akan menjadi seseorang yang mudah dalam menerima peringatan, sehingga musibah cepat dicabut oleh Allah Ta’ala.

  • Khasyaturrahman (Takut Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)

Masih berlandaskan firman Allah Ta’ala dalam surah Yaasin ayat 11.

Jadi, masalah yang menimpa umat manusia dewasa ini adalah tidak takut kepada Allah dan tidak mengagungkan-Nya. Karena kata خشي tidak sama dengan خاف , sebab makna خشي bukan sebatas takut, tapi rasa takut yang yang timbul dari kebesaran, keagungan, kekuatan obyek yang ditakuti yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Abdullah bin Dinar meriwayatkan bahwa suatu hari dia berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. ”Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!” ujar Amirul Mukminin. ”Aku hanya seorang budak,” jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, Umar bin Khatab membujuk: “Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?” Dijawab oleh anak tersebut dengan mantab: “Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya.” Umar bin Khatab terus mencoba membujuk: “Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Atau Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk membeli baju atau roti.” Anak gembala tetap tidak terbujuk dan mengabaikan uang yang disodorkan oleh Umar.” ”

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ”Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa Allah pasti mengetahui siapa yang berdusta?”

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, seorang pemimpin. Dia adalah seorang pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

  • Selalu Menjaga Kehidupan Hati

Pada dasarnya peringatan Allah dan Rasul-Nya ditujukan kepada seluruh alam, sebagaimana ayat berikut:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً (الفرقان: 1)

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (Al Furqan: 1)

Namun faktanya, yang mau menerima peringatan adalah seorang yang hatinya hidup.

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir.” (Yaasin: 70)

Lagi-lagi redaksi ayat di atas menggunakan frase kalimat نذير peringatan. Peringatan tersebut diberikan kepada orang-orang yang hidup hatinya. Dan ini merupakan perbedaan antara orang-orang mukmin dan orang-orang munafiq.

Mukmin dan munafiq ketika tidak diperlukan adanya sikap yang jelas dan tegas, maka susah dibedakan. Kenapa? Karena secara dlahir sama-sama mengaku dan menjalankan ajaran islam.

Kapan bisa diketahui bahwa seseorang itu munafiq atau bukan? Ketika dibutuhkan sikap yang jelas terkait keberpihakan. Bisa dilihat dalam sejarah dunia, bahwa selamanya orang-orang munafiq selalu berpihak kepada orang-orang kafir.

Dan ketika berkaitan dengan peringatan Allah, maka orang-orang beriman ketika dibacakan alquran, maka bertambah pula iman dan tampak kegembiraannya. Berbeda dengan orang-orang munafiq, ketika ayat alquran dibacakan maka bertambah pula kotoran nifaqnya dan akhirnya mati dalam keadaan kafir, meskipun dulunya beragama islam. Bahkan meskipun dulunya sempat diberikan title oleh masyarakat sebagai tokoh islam.

Sekali lagi, kita tidak mengatakan bahwa si fulan adalah munafiq. Tapi kita cukup mengetahuinya melalui kriteria yang disebutkan oleh alquran.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ{124} وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَافِرُونَ{125}

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” adapun orang-orang yang beriman, maka surat Ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At Taubah: 124-125)

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata,

“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua takut kemunafikan menimpa dirinya. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sejajar dengan keimanan Jibril dan Mika’il.”

Para Sabahat yang ditemui oleh Ibnu Abi Mulaikah ketika itu -yang paling mulia diantara mereka- adalah ‘Aisyah, Asma’, Ummu Salamah, Abdullah bin ‘Abbas, Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Amr, Abu Hurairah, ‘Uqbah bin al-Harits, dan al-Miswar bin Makhramah Radhiyallahu Anhum.

Kalau kelasnya sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam saja masih kuatir tertimpa kemunafikan, tentunya kelasnya kita harus lebih dan lebih kuatir kemunafikan menimpa diri kita.

Inilah beberapa sentuhan alquran untuk mempertajam pikiran dan hati kita ketika diberikan peringatan oleh Allah untuk segera mendengar dan taat, serta bersegera untuk memperbaiki diri.

Wallahu Ta’ala A’lam

 (Hud/Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved