Follow us:

Belajar Mencintai Anak Yatim dari Punk Tebet

DARUSSALAM.ID, Jakarta – Delapan anak punk terlihat duduk melingkar di bawah fly over Tebet, Jakarta Selatan. Puluhan sopir angkot asyik bercanda-tawa dengan sesama. Bahkan, ada yang sedang kerokan.

Tangan Aceng yang dipenuhi tatto sibuk menyusun uang koin 100 dan 200 rupiah hingga terkumpul seribu rupiah. Nurul, satu-satunya perempuan di lingkaran itu juga menyatukan recehan sembari menghisap rokok.

Sementara itu, Fadli mensolatip koin tersebut lalu dikumpulkan di tempat berbeda dibantu Ali yang berpenampilan lebih kalem. Mengenakan jaket coklat, tas selempang serta buff yang dikalungkan di leher. Septa selaku orang yang ditokohkan di antara mereka juga turut serta. Meski terlihat menahan kantuk, ia tetap semangat memungut koin.

Para pejalan kaki yang keluar masuk stasiun Tebet ikut penasaran melihat kegiatan mereka. Satu dua orang yang lalu lalang sesekali mengintip ke tengah lingkaran.

Koin ini bukan sembarang koin. Rencananya, uang receh yang disusun sejak pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 11.30 WIB akan disalurkan ke tigapuluh anak yatim di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta.

Septa selaku inisiator gerakan ini mengatakan bahwa uang receh didapat dari hasil ngamen dan donasi dari beberapa orang. Ini sudah kedua kalinya Punk Tebet menyalurkan bantuan ke anak yatim. Ia termotivasi mencintai anak yatim dari gurunya.

“Saya termotivasi melakukan ini karena melihat guru saya. Beliau merawat ratusan anak yatim di Cipinang, Jakarta Timur. Maka saya harus bisa membantu anak yatim juga. Dan mengamalkan surat Al-Maun untuk memberi makan anak yatim,” katanya saat berbincang dengan Kiblat.net pada Sabtu (05/09/2020).

Kawan Septa, Fadli mengungkapkan bahwa tujuannya ikut gerakan ini sebagai bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad. Menurutnya, jika kita mengaku cinta Nabi Muhammad, maka kita juga harus mencintai apa yang dicintai Nabi Muhammad.

“Nabi Muhammad mencintai anak yatim, maka kita juga harus cinta anak yatim,” tuturnya.

Dari anak punk Tebet kita belajar satu hal yang sangat penting, yaitu berbagi tak perlu menunggu kaya, terlebih kepada anak yatim. Kita berbagi bukan karena kaya, tapi karena tahu rasanya tidak punya. Kalau nunggu kaya, kira-kira kapan kayanya?(HUD/Kiblat.net)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved