Follow us:

BERKARAKTER IHSAN DALAM SETIAP SESUATU

Oleh: ustadz Dr. Muhammad Taufiq Qulaimi, MA.

Kehidupan orang-orang beriman senantiasa dibimbing oleh wahyu. Dan diantara bimbingan Allah kepada para hamba-Nya adalah dengan mengingatkan/memperingatkan, bahkan memberikan kabar gembira.

Di dalam islam ada karakter yang perlu dibangun yaitu Al Ihsan. Terkhusus bagi para da’I karakter ihsan ini mempunyai dua manfaat yaitu manfaat untuk pribadinya karena setiap insan akan dihisab. Dan yang kedua adalah manfaat untuk dakwah karena jika seorang ihsan dalam beramal akan menghasilkan para pekerja dakwah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga jikalau terjadi suatu permasalahan maka para da’I lah yang menjadi rujukan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jauh-jauh hari telah memperkenalkan ‘Ihsan’ kepada umat manusia. Dalam kumpulan Hadist Arba’in Nawawi, tepatnya hadist ke- 17 disebutkan,

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ (رواه مسلم(

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan berbuat ihsan kepada segala sesuatu. Jika kamu membunuh, maka baguskanlah cara membunuhmu. Jika kamu menyembelih, maka baguskanlah cara menyembelihmu, dan hendaknya kalian mempertajam pisau kalian dan meringankan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim)

Ihsan meniliki cakupan makna yang sangat luas. Secara bahasa ihsan artinya (puncak) kebaikan, atau ikhlas dan berbuat sebaik mungkin (itqan).  Sedangkan secara istilah, ihsan adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Ta’ala dengan menyempurnakan pelaksanaannya seakan-akan kita “melihat” Allah Ta’ala saat beribadah, atau (jika tidak mampu hingga ke derajat tersebut) kita merasakan bahwa Allah Ta’ala menyaksikan apapun yang kita kerjakan hingga kepada hal yang sekecil-kecilnya.

Namun ihsan tidak hanya dituntut ketika menjalin hubungan vertikal dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Ihsan juga ditekankan dalam hubungan horizontal sesama manusia, hewan, tumbuhan bahkan dengan alam sekitar. Kata al-ihsân dalam hadis di atas bermakna umum sehingga mencakup semua bentuk dan jenis ihsan. Ihsan dalam hal ini bukan hanya ihsan secara syar’i yang telah didefinisikan oleh Rasulullah dalam riwayat Ibn Umar Radhiallahu Anhu,

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Kemudian ia berkata lagi: “Beritahukanlah padaku tentang Ihsan“. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu.“ (HR. Muslim)

Sebab, ihsan itu diperintahkan dalam segala sesuatu, sementara ihsan dalam hadits Ibnu Umar itu khusus dalam ibadah. Dengan demikian maksud ihsan dalam hadits ini adalah makna bahasanya.

Menurut al-Jurjani di dalam At-Ta’rifât, secara bahasa ihsan adalah bagian kebaikan yang seharusnya dilakukan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu menafsirkan ihsan dengan tafadhdhul (keutamaan-kelebihan). Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadîr ketika menafsirkan QS. An-Nahl ayat 90, mengatakan: makna ihsan secara bahasa ini menunjukkan bahwa ihsan adalah tafadhdhul (kelebihan/keutamaan) dengan sesuatu yang tidak wajib seperti sedekah sunnah. Termasuk ihsan adalah perbuatan yang karena itu seorang hamba diberi pahala, berupa apa-apa yang tidak diwajibkan oleh Allah dalam ibadah maupun selain ibadah.

Jadi hadits ini adalah perintah Allah agar kita melakukan ketaatan dalam segala hal sesempurna mungkin, baik dari sisi kuantitas maupun tatacara, bukan hanya mencukupkan pada yang wajib saja.

وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُحْسِنٌ فَأَحْسِنُوا ، فَإِذَا قَتَلَ أَحَدُكُمْ ، فَلْيُحْسِنْ مَقْتُولَهُ ، وَإِذَا ذَبَحَ ، فَلْيُحِدَّ شَفْرَتَهُ ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ خَرَّجَهُ ابْنُ عَدِيٍّ .

Dan ada riwayat yang semisal dengan hadits di atas, yaitu riwayat dari Samurah bin Jundub dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Berbuat Baik maka berbuat baiklah kalian, apabila salah seorang dari kalian membunuh maka hendaknya dia berbuat baik kepada siapa yang ia bunuh itu, apabila dia menyembelih maka hendaknya dia menajamkan alat sembelihnya dan hendaknya ia membuat nyaman sembelihannya itu”. (Dikeluarkan  oleh Ibnu Adi dalam al-Kamil) Ibnu Rajab membawakan hadits ini dalam kitabnya “Jaami’ul Ulum wal Hikam”.

وَخَرَّجَ الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوا ، وَإِذَا قُلْتُمْ فَأَحْسِنُوا ، فَإِنَّ اللَّهَ مُحْسِنٌ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan Ath Thabrani mengeluarkan dalam Al Ausath dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Jika kalian memberi hukuman maka berilah hukuman dengan adil, jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan baik, karena sesungguhnya Allah adalah muhsin (maha berbuat baik) mencintai orang-orang yang berbuat baik”.

Makna Hadits

Sabda Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam, InnalLâh kataba al-ihsân ‘alâ kulli syay’in.  Frasa kataba ‘alâ, menurut ulama ushul artinya mewajibkan. Namun, makna mewajibkan itu tidak bisa diterapkan. Sebab, kulli syay’in, yang menjadi sasaran kewajiban, meliputi segala sesuatu, termasuk ghayr mukallaf yang tidak bisa dibebani taklif. Karena itu, menurut mayoritas ulama, kata ‘alâ dalam frasa tersebut bermakna (dalam).  Jadi maknanya adalah kataba fî. Hal itu seperti jawaban Rasulullah ketika ditanya tentang amal yang paling disukai: ash-shalâtu ‘alâ waqtihâ maknanya ash-shalâtu fî waqtihâ (shalat pada waktunya).

Menurut sebagian ulama, kata ‘alâ itu selain bermakna juga bermakna li (untuk). Karena itu, frasa kataba ‘alâ tersebut bermakna menetapkannya sebagai bagian dari syariah, yakni mensyariatkannya atau memerintahkannya.  Hanya saja, karena diungkapkan dengan kataba ‘alâ maka perintah itu bersifat mu’akkad (ditekankan).  Ath-Thayyibi seperti dikutip oleh al-Mubarakfuri dalam Tuhfah al-Akhwadzi menjelaskan makna kata kataba di sini: “yaitu mewajibkan, secara mubâlaghah (melebih-lebihkan), sebab ihsan di sini adalah mustahab (sunnah) dan cakupan ihsan itu adalah makna tafadhdhul (kelebihan/keutamaan)”.

Penggunaan kata ‘alâ dengan makna atau li dan bukan menggunakan kata ilâ itu menunjukkan bahwa ihsan yang diperintahkan itu tidak spesifik untuk makhluk tertentu saja, tetapi umum untuk semua makhluk dan dalam segala hal.  Dengan begitu ihsan itu diperintahkan dalam hal ibadah, dalam hubungan kita dengan diri kita sendiri dan hubungan kita dengan manusia lainnya; juga mencakup perlakuan kita kepada makhluk lainnya baik hewan, tumbuhan atau alam secara keseluruhan.

Cakupan Makna Ihsan Menurut Beberapa Riwayat Di Atas

  1. Ihsan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sesama manusia, khususnya kepada orang tua, kerabat dan manusia pada umumnya. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِالْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً﴿٣٦﴾

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (An-Nisa’: 36)

Dalam beribadah, shalat misalnya, hendaknya kita dirikan dengan sebaik-baiknya. Penuhi segala syarat dan rukunnya, juga memelihara adab-adabnya. Ihsan dalam beribadah berarti;

“Beribadah seakan-akan kita melihat Allah, kalaupun kita tidak bisa melihat-Nya, yakinlah Allah pasti melihat kita”

Ihsan adalah melakukan dengan sepenuh hati. Berbakti pada orang tua harus sepenuh hati, menjaga silaturrahmi dengan saudara dan kerabat juga dengan sepenuh hati. Bermu’amalah dengan siapa saja, baik di jalanan, di pasar, di tempat kerja, di sekolah ataupun di kampus hendaknya dengan Ihsan. Dengan sepenuh hati kita menghormati hak-hak orang lain, dengan sepenuh hati kita mencintai sesama.

Ihsan adalah profesionalitas. Ketika menggeluti pekerjaan apapun, kita harus profesional. Berupaya semaksimal mungkin supaya tujuan ataupun target yang ingin kita capai bisa terwujud. Disiplin dalam janji dan mampu menghargai waktu. Menjaga ranah-ranah kerja orang lain, dan fokus pada tanggung jawab kita adalah bagian kecil dari sikap profesionalitas. Dan amalan yang paling ihsan adalah ikhlas serta mutaba’ah kepada sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan ihsan mengajarkan kita semua akan hal itu.

Ihsan adalah akhlak dan tatakrama. Dalam bekerja, kita mungkin sudah merasa maksimal. Tapi, tanpa kita sadari saat menjalani pekerjaan itu, mungkin kita telah melukai perasaan orang lain. Kita boleh perfeksionis, namun jangan mengabaikan pendapat-pendapat orang lain. Ihsan adalah sebuah ibarat yang mewakili segala optimalisasi dalam melakukan sesuatu. Usaha maksimal, keahlian besar, ketekunan tinggi, ketelitian, keakuratan, sesungguhan hati, visi misi yang fokus. Dan semua itu tidak ada artinya bila kita tidak mengindahkan adab, sopan santun dan tatakrama yang berlaku. Ihsan mengajarkan tentang akhlak pada setiap prilaku.

  1. Ihsan kepada hewan dan tumbuhan

Selain diperintahkan untuk berbuat ihsan terhadap manusia, kita juga diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada hewan dan juga kepada tumbuhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas:

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ (رواهمسلم(

“Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih  berlakulah baik dalam hal itu; hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim)

Tidak hanya dengan manusia, Ihsan juga berarti memperlakukan binatang dengan cara bersahabat. Tidak mengurung atau menyiksa binatang, tidak menjadikan binatang alat permainan. Tidak membebani hewan untuk mengangkat beban yang tidak sanggup dipikulnya. Bahkan ketika menyembelih hewan ternak misalkan, hendaklah kita menggunakan pisau yang paling tajam dan menyembunyikan pisau itu sebelum menyembelih, tidak menyembelih di depan hewan yang lain, dan masih banyak lagi adab dan tataktrama yang berkenaan dengan perlakuan terhadap binatang.

Kedudukan Ihsan di hadapan Allah lebih tinggi dari Islam dan Iman. Ihsan adalah bentuk manifestasi Islam dan Iman di dalam kehidupan nyata.

Dalam hadits di atas secara khusus diperintahkan dua hal, yaitu:

1) Berbuat ihsan dalam membunuh, baik membunuh manusia karena alasan yang dibenarkan Allah Ta’ala, seperti membunuh pelaku kejahatan yang sudah difonis untuk dihukum mati. Maka hukuman tersebut perlu dilaknsakan dengan cara yang baik dan tidak menyakitinya. Atau membunuh hewan-hewan yang dianggap berbahaya atau buas dan mengancam nyawa, juga harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Misalnya tidak boleh membunuhnya dengan membakar atau menyiksanya.

2) Berbuat ihsan dalam menyembelih, yaitu dengan cara menajamkan pisau yang digunakan untuk menyembelih dan kedua menyenangkan hewan sembelihannya. Atau dengan kata lain memperlakukan hewan yang akan disembelih dengan baik, sepeti memberi makan dan minum dengan baik, kandang yang baik dan sebagainya. Dan ketika disembelih juga dilakukan dengan baik, seperti dihadapkan ke kiblat, membaca basmalah, pisau yang digunakan harus setajam mungkin lalu menggerakkan pisau dengan kuat sehingga secepatnya memutus kerongkongan (jalan makanan), tenggorokan (jalan nafas/udara) dan dua urat di sekitar keduanya. Adapun menyenangkan hewan yang disembelih itu dijelaskan dalam beberapa riwayat: memberi minum sebelum disembelih, tidak menyembelih di hadapan hewan  lain, tidak menajamkan pisau di depan hewan yang akan disembelih, tidak membantingnya, tidak menginjaknya, tidak memukulnya; juga membiarkan hewan itu mati sempurna (diam) sebelum dikuliti, disayat dan dipotong-potong.

Hukum Ihsan Adalah Wajib

Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa berbuat ihsan. Kewajiban berbuat ihsan ini dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah sebagai berikut:

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (النحل: 90)

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (An Nahl: 90)

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴿١٩٥﴾

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Baqarah: 195)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashsash: 77)

Berbagai Bentuk Ihsan

  1. Ihsan dalam meninggalkan hal-hal yang haram dengan cara menjauhinya dan meninggalkannya baik hal haram yang terlihat atau tersembunyi. Proporsi berbuat baik di dalamnya seperti itu adalah wajib.
  2. Ihsan dalam takdir yaitu bersabar terhadap takdir yang berlaku tanpa menggerutu dan berkeluh kesah.
  3. Ihsan yang diwajibkan dalam berinteraksi dengan manusia dan makhluk lain yaitu dengan menunaikan hak-hak mereka sebagaimana yang diwajibkan Allah Ta’ala.
  4. Ihsan dalam memimpin manusia.
  5. Ihsan dalam membunuh orang dan menyembelih binatang. Tidak boleh mencincang, menyiksa dan sebagainya.
  6. Ihsan dalam halal dan haram.
  7. Ihsan dalam segala hal termasuk mengantisipasi terhadap hal yang berakibat buruk.
  8. Ihsan dalam menyikapi dan menerima berita. Dan masih banyak ihsan lainnya.

Penerapan Makna Ihsan dalam Kehidupan

Sikap ihsan ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berbuat amalan kataatan, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati kita untuk berbuat keburukan, maka kita tidak mengerjakannya karena sikap ihsan yang kita miliki. Seseorang yang sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya. Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh amalannya. Dan untuk meraih derajat ihsan, sangat erat kaitannya dengan benarnya pengilmuan seseorang tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved