Follow us:

Bersabar Terhadap Sikap Buruk Saudara

Oleh:Ustadz Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Dalam pergaulan dengan sesama –saudara atau kawan- tentu kita pernah mendapat perlakuan tidak baik atau yang menyakiti hati kita. Jika mampu, rasanya ingin membalasnya. Atau jika tidak enak, maka kita meninggalkannya dan tidak mau lagi bergaul dengannya.

Islam memberi petunjuk terbaik kepada umatnya saat mengalami kondisi di atas. Yaitu bersabar dan memaafkan. Maksudnya, tidak membalas sikap buruk tersebut dengan keburukan serupa dan tidak memutus tali persaudaraan atau persahabatan. Tetapi ia kendalikan diri dengan menahan amarah dan memaafkan. Lebih utama lagi, membalas keburukan dengan kebaikan agar tetap terjaga tali persaudaraan. Perlu diketahui, sabar terhadap sikap buruk sesama adalah tanda akhlak mulia dan termasuk tanda kuatnya iman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” QS. Al-Syuura: 43)

وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Nahl: 126)

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْراً جَمِيلاً

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzamil: 10)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ، أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

Seorang mukmin yang bergaul dengan orang-orang dan bersabar atas gangguan mereka mendapatkan pahala lebih besar daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan masyarakatnya dan tak bisa sabar atas gangguan mereka.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan keshahihannya dalam Shahih al-Tirmidzi)

Mengendalikan emosi dan menahan marah kepada sesama atas sikap buruk mereka memiliki pahala besar di sisi Allah dan termasuk tanda ketakwaan.

Allah befirman tentang sifat orang-orang bertakwa yang dijanjikan surga,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

Barangsiapa yang menahan marah padahal ia manpu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan semua makluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya memilih bidadari sesuai yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud dan dihassankan Syaikh Al-Albani)

Inilah sikap terbaik yang akan mengundang keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agar terjaga hubungan baik sesama kaum muslimin. Bersabar, memaafkan, dan membuka pintu kebaikan terhadap saudara yang menyakiti kita. Selama itu berkaitan dengan pribadi kita dan tidak semakin menjadi-jadi saat dimaafkan.

Bersamaan dengan bersabar dan memaafkan, kita dituntut membebaskan diri dari dari kezaliman orang.  Kita tidak boleh membiarkan diri dalam bahaya dan tertimpa bahaya. Kita juga boleh meminta bantuan orang lain untuk menghindarkan diri dari korban kezalimannya agar saudara kita berhenti dari kezalimannya. Atau membawa perkara ke meja hijau untuk memperoleh keadilan dan kezaliman saudara kita dihentikan secara paksa.

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada para sahabatnya,

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.” Kemudian ada seseorang bertany tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim? Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.

Menolong orang zalim adalah dengan mencegahnya dari melakukan kezaliman yang akan dikerjakannya. Jika ia sudah mengerjakan kezaliman, maka hentikan ia dari melakukan tindakan yang menyengsarakan dirinya di akhirat tersebut. Keduanya termasuk bentuk nyata menolong saudara muslim yang berbuat zalim. Wallahu A’lam. [HUD/voa-islam.com]

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved