Follow us:

Bersahabat Dengan Orang Mukmin

Oleh: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc.

Islam memerintahkan supaya mencari teman bergaul yang baik, bergaullah dengan mukmin dan hindarilah bergaul dengan orang fasik.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ

“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Hadits ini hasan kata Syaikh Al Albani)

Ketika Rasulullah memerintahkan untuk selektif dalam memilah milih sahabat, maka ada dua hal yang harus dipahami;

Pertama, maksud selektif disini adalah dalam mencari sahabat itu hendaknya adalah orang mukmin lagi wara’ (menjauhi yang haram), bukan hanya sebatas kenalan atau teman.

Hubungan itu bertingkat-tingkat, ada orang yang kenal wajahnya tapi tidak tahu namanya ataupun sebaliknya, hanya mengetahui namanya tapi tidak tahu wajahnya. Dan hadits di atas terkait dengan memilih sahabat dekat atau teman karib, itu harus selektif dan hati-hati. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat di bawah ini, bahwa Allah tidak melarang kita untuk berinteraksi dengan mereka,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Al Mumtahanah: 8)

Kedua, jangan berburuk sangka kepada Allah dan Rasul-Nya

Ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk selektif dalam bersahabat, bukanlah ingin memenjarakan dan menghambat mobilitas kita dalam bergaul. Namun, ini adalah demi kebaikan kita sendiri. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih tahu jika bersahabat dengan orang-orang yang tidak bertakwa, sama saja berteman dengan bom waktu, merusak diri, dan kita-pun akan bermasalah di dunia maupun di akhirat.

Boleh jadi, apa yang kita benci dan tidak kita sukai itu yang terbaik bagi diri kita sendiri. Oleh itu, jika kita tidak sanggup bergaul dengan mereka, maka cintailah mereka, jangan memusuhi mereka. Sebab, sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Al-Mar’u ma’a man ahabba (Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai).” (Mutaffaq ‘alaih)

Lalu, apa saja keuntungan bersahabat dengan orang-orang mukmin?

Pertama, bersahabat dengan orang mukmin dan bertakwa sejatinya adalah bersahabat dengan orang yang tahu bagaimana menunaikan hak-hak kita, bersahabat dengan orang yang dalam berinteraksinya adalah dengan menggunakan firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

Saat bertemu ia tersenyum kemudian mengucapkan salam. Kemudian ketika berbicara, ia ingat akan surah Al Isra’ ayat 53, yaitu berkata yang baik-baik saja, atau diam. Ataupun ia tidak akan memfitnah kita, tidak membohongi kita, menepati janjinya, menolong kita saat kesusahan, tidak iri jika kita sukses duniawi dan memaafkan kesalahan yang telah kita perbuat kepadanya.

Semua ini dilakukannya karena memenuhi apa yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Lihatlah Rasulullah yang dikelilingi oleh orang-orang yang bertakwa. Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu tanpa diminta, ia menyerahkan separuh hartanya, belum genap sehari, tiba-tiba Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu datang menyerahkan seluruh hartanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapatkan gelar sahabat.

Jika kita dicela ataupun dihina, sahabat kita datang membantu dan membela kita. Teringat akan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berikut:

”Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka Allah Ta’ala akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)

Inilah beberapa alasanya kenapa Nabi mengatakan janganlah bersahabat kecuali dengan orang-orang mukmin dan bertakwa. Karena hanya orang bertakwa yang tahu bagaimana cara menyikapi diri kita.

Sebab itu, Umar Radhiyallahu Anhu pernah menyatakan,

“ﻣﺎ ﺃﻋﻄيت ﺑﻌﺪ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻧﻌﻤﺔ ﺧﻴﺮﺍً ﻣﻦ ﺃﺥ ﺻﺎﻟﺢ، ﻓﺈﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻭﺩﺍً ﻣﻦ ﺃﺧﻴﻪ ﻓﻠﻴﺘﻤﺴﻚ ﺑﻪ.”

“Tidaklah aku diberi nikmat setelah nikmat Islam yang lebih baik daripada nikmat memiliki shahabat yang shalih. Jika kalian memiliki sahabat yang shalih, peganglah erat-erat.”

Hal inipun kita akui, sebab banyak pebisnis atau pengusaha mempunyai teori bahwa modal yang terpenting bukanlah harta tetapi network. Karena tidak semua yang dimiliki oleh sahabat yang bertakwa dimiliki oleh harta, tetapi sebaliknya bahwa sahabat bertakwa bisa memberikan harta, tahta maupun membantu dalam menyelesaikan masalah-masalah kita.

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ” ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻟﻚ ﺻﺪﻳﻖ -ﻳﻌﻴﻨﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ – ﻓﺸﺪ ﻳﺪﻳﻚ ﺑﻪ؛ ﻓﺈﻥ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺻﻌﺐ ﻭﻣﻔﺎﺭﻗﺘﻪ ﺳﻬﻞ .. ”

Al Imam Asy Syafi’i -rahimahullah- juga berkata: “Jika engkau memiliki saudara yang shalih yang memberimu manfaat dalam ketaatan, genggamlah tangannya erat-erat. Karena sesungguhnya memiliki sahabat itu susah dan berpisah dengannya itu mudah.”

Bahkan jika terpaksa  bermusuhan, carilah musuh yang bertakwa. Sebagaimana ungkapan Sufyan ats-Tsauri Rahimahullah, ”Lebih baik punya musuh yang bertakwa daripada teman yang fasik.”

Kenapa? Kalau kita bermusuhan dengan orang yang bertaqwa, enak. Dia tidak akan mendzalimi kita, dia tidak akan menghalalkan segala cara. Kalaupun di qishos, qishos yang sesuai dengan kesalahan kita.

Jangan berharap banyak dari teman yang fasik. Kenapa demikian???

Rabbnya, Penciptanya saja dia maksiati. Apalagi kita, apa yang sudah kita berikan kepada dia?

Rabbnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan mata, telinga, mulut, lisan, otak, jantung, ginjal dan yang memberikan rezeki pun dikhianati oleh dia, dilanggar oleh dia, dikerjakan larangan-Nya oleh dia, lalu kita mengharapkan dia setia dengan kita!?!

Oleh karena itu, carilah orang-orang yang bertakwa. Dia akan berinteraksi dengan kita menggunakan dalil, bukan mengikuti hawa nafsu, bukan bermain dengan perasaan, bukan mengikuti ego, bukan mengikuti kemauan. Dia akan memandang kita dengan objektivitas bukan dengan subjektivitas.

Lalu, apa alasan kita tidak mencari orang yang bertaqwa?

Jangan tertipu dengan euforia sementara, ketahuilah bahwa sahabat yang bertaqwa menawarkan kesetiaan, ketulusan, menawarkan akhlak yang mulia, menawarkan keimanan.

Kedua, sahabat sejati adalah sahabat yang bertakwa. Kkarena kalau sahabat kita tidak bertakwa, maka persahabatan itu akan pecah dan karam

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ (الزخرف: 67)

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Az Zukhruf: 67)

Jika punya sahabat yang tidak bertakwa, maka kelak di hari kiamat akan menjadi musuh yang saling mencela satu sama lain. Ataupun sebaliknya, kita tidak takwa sementara sahabat kita bertakwa, kelak juga akan bermusuhan.

Buat apa kita pertahankan persahabatan, jika suatu hari ia mengkhianati dan memusuhi kita?! Semuanya akan buang-buang waktu, tenaga dan harta.

Orang-orang yang berteman di dunia di atas kemaksiatannya maka di akhirat akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Kecintaan yang akan kekal adalah kecintaan yang dijalin di antara orang-orang yang bertakwa kepada Allah, karena ia dibangun di atas jalan Allah dan dalam rangka menunaikan ketaatan kepada-Nya. (lihat Aisar at-Tafasir tafsir surat az-Zukhruf ayat 67)

Ketiga, sahabat akan berpengaruh besar terhadap diri kita. Baik itu karakter, iman dan takwa kita kepada Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Salah satu teori komunikasi masa di dunia politik adalah ketika sebuah kebohongan apabila disampaikan terus menerus oleh media, maka akan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Padahal itu adalah kebohongan.

Begitu juga, jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang tidak shalat, lama-kelamaan ia akan menganggap bahkan meyakini bahwa tidak shalat itu biasa dan wajar.

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Sebab, kita butuh sahabat yang taat kepada Allah, semakin tertarik membaca alquran dan duduk di majlis ilmu, berakhlak mulia, membuat kita semakin yakin, takut dan berharap berjumpa Allah Ta’ala di surga-Nya kelak. Inilah diantara alasan kenapa kita diminta oleh Rasulullah untuk bersahabat dengan orang mukmin dan bertakwa.

Wallahu Ta’ala A’lam

 

 

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved