Follow us:

Hak Suami Terhadap Istri Atau Kewajiban Istri Terhadap Suami

Oleh: Ahmad Zain An Najah, MA

Allah Subahnahu Wa Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (An Nisaa’: 34)

[289]  Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[290]  Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[291] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[292] Maksudnya: untuk memberi pelajaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

 

Hak suami atas istri termasuk salah satu hak yang paling agung untuk ditunaikan oleh seorang wanita. Diantara sekian banyak hak suami, beberapa di antaranya dapat kita rinci berikut ini:

 

  • Ditaati Dalam Selain Perkara Maksiat

Suami memiliki hak terhadap istrinya untuk ditaati dalam seluruh perkara asalkan bukan perkara maksiat kepada Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْـمَعْرُوْفِ

“Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bagi seorang perempuan, setelah ia menikah, maka orang pertama yang berhak ia taati adalah suaminya. Bahkan melebihi ketaatan kepada orangtua. Khususnya ketika suaminya sejalan dengan aturan agama. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)

Rasulullah pernah bersabda bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Rasulullah juga mengisyaratkan banyaknya wanita yang masuk surga. Bahkan, ada wanita-wanita yang bisa masuk surga dari pintu manapun. Ya, wanita muslimah seperti Anda bebas mau masuk surga dari pintu manapun, asalkan memenuhi empat kriteria di atas.

Dalam riwayat lain, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”. (HR. An-Nasa’I dan Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Catatan:

  1. Ketaatan kepada suami tidak mutlak. Suami ditaati hanya dalam sesuatu yang baik sesuai dengan alquran dan as sunnah.
  2. Suami memerintahkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan syari’at. Hal ini biasanya terkait dengan teknis. Maka mentaati suami tetap diharuskan, meski sang istri merasa berat.
  3. Jika suami memerintahkan sesuatu yang berlawanan dengan syari’at, maka istri tidak boleh taat.

 

  • Hendakny Istri Tinggal Di Rumah dan Tidak Keluar Rumah Melainkan Dengan Izin Suami

Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu”. (Al Ahzab: 33)

Ibnu Katsir Rahimahullahu ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.

Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh semoga Allah ridha kepadanya.

  • Siap Melayani Suaminya Dalam Urusan Ranjang Saat Ia Memintanya. Kecuali Dalam Keadaan Sakit Dan Lelah Yang Sangat Atau Dalam Keadaan Yang Tidak Memungkinkan

Ini termasuk hak suami atas istrinya setelah suami menyerahkan mahar dari perkawinannya. Maka jika seorang istri menolak untuk melayani suaminya maka ia telah melakukan dosa besar, kecuali ia memiliki udzur syar’i seperti haid, puasa wajib, sakit dan semisalnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya (untuk berjima’), lalu ia menolak sehingga suaminya di malam itu murka kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Saat Mu’adz tiba dari Syam, ia bersujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata: “Apa ini wahai Mu’adz?” Mu’adz menjawab, “Aku telah datang ke Syam, aku temui mereka bersujud kepada para pemimpin dan penguasa mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku melakukan itu kepada Anda.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jangan lakukan itu, kalau saja aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, pastilah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang istri disebut telah menunaikan hak Rabb-nya sehingga ia menunaikan hak suaminya. Kalau saja suami memintanya untuk melayaninya sementara ia berada di atas pelana unta, maka hal itu tidak boleh menghalanginya.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Maknanya: hadits tersebut memerintahkan kepada para istri untuk mentaati dan siap melayani suaminya. Tidak boleh ia menolak ajakan suami walau ia sudah siap melakukan perjalanan, yakni sudah berada di atas pelana untanya, maka hal ini lebih ditekankan saat ia berada dalam keadaan selain itu.

Ada pertanyaan: kenapa yang dilaknat hanya istri? Bagaimana jika istri “meminta” namun suami menolak?

Sebenarnya jika istri ‘minta’ tapi suami tidak memberi, juga dihukumi berdosa. Karena seks dalam sebuah pernikahan merupakan hak kedua belah pihak. Hanya saja, pihak istri jarang sekali ‘meminta’ lebih dulu. Hal ini disinyalir karena umumnya istri lebih kuat untuk menahan nafsunya ketimbang suami. “Suami kalau sudah minta, kadang harus dituruti, bahkan lepas kendali kalau tidak dituruti,”

Dalam Al-Fiqhul Islami karangan DR. Wahbah az-Zuhaili, ihwal hubungan seks itu sendiri dalam pandangan mazhab fiqih Islam berbeda-beda. Mazhab Maliki mengatakan bahwa suami wajib menggauli istrinya, selama tidak ada halangan atau udzur, sebagaimana zhahir teks hadits. Namun dari sini timbul pemahaman, bahwa ketika seorang istri menghendaki hubungan seks, suami pun wajib memenuhinya.

  • Tidak Mengizinkan Masuk Ke Rumahnya Orang Yang Tidak Disuka Suaminya

Diantara hak suami yang harus ditunaikan istrinya, janganlah ia membawa masuk ke dalam rumahnya orang yang dibenci suaminya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

“Tidak boleh (haram) bagi wanita untuk berpuasa sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya. Istri juga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Dan harta yang ia nafkahkan bukan dengan perintahnya, maka setengah pahalanya diberikan untuk suaminya.” (HR. Al-Bukhari)

  • Istri Tidak Boleh Puasa Sunnah Kecuali Dengan Izin Suaminya

Bila seorang istri hendak mengerjakan puasa Ramadhan, ia tidak perlu meminta izin kepada suaminya karena puasa Ramadhan hukumnya wajib, haram ditinggalkan tanpa udzur syar’i. Bila sampai suaminya melarang, ia tidak boleh menaatinya. Karena tidak boleh menaati makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.

Namun bila si istri hendak puasa sunnah/tathawwu’, ia harus meminta izin kepada suaminya. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak boleh seorang istri puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali dengan izin suaminya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu berkata: “Larangan ini menunjukkan keharaman. Demikian yang diterangkan dengan jelas oleh kalangan ulama dari madzhab kami.” (Al-Minhaj, 7/116)

Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama’ sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari (9/367).

Adapun sebab atau alasan pelarangan tersebut, wallahu a’lam, karena suami memiliki hak untuk istimta’ dengan si istri sepanjang hari. Haknya ini wajib untuk segera ditunaikan dan tidak boleh luput penunaiannya karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah yang wajib namun dapat ditunda. (Al-Minhaj, 7/116)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullahu mengatakan: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib, sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.” (Fathul Bari, 9/357)

  • Tidak Boleh Membelanjakan Harta Milik Suami Kecuali Dengan Izinnya

Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam khutbahnya pada haji Wada’:

لاَ تُنْفِقُ امْرَأَةٌ شَيْئًا مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلاَ الطَّعَامَ؟ قَالَ: ذَاكَ أَفْضَلُ أَمْوَالِنَا.

“Janganlah seorang wanita menafkahkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya.’ Ditanyakan (kepadanya), ‘Wahai Rasulullah, tidak pula makanan?’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah sebaik-baik harta kita”. (HR. At-Tirmidzi (no. 670) kitab az-Zakaah, dan menilainya sebagai hadits hasan, Abu Dawud (no. 3565) kitab al-Buyuu’, Ibnu Majah (no. 2295) kitab at-Tijaaraat, dan Ahmad (no. 21791)

Namun, apabila suami memberi istri uang dan membebaskannya untuk membelanjakan uang tersebut maka tidak ada masalah istri bersedekah dengan uang tersebut atau menabungnya. Apabila uang yang diberikan tersebut adalah uang untuk kebutuhan rumah tangga dalam periode waktu tertentu maka ini perlu perincian.

Termasuk larangan membelanjakan harta suami disini adalah meng-infaqkan harta suami. Jadi, apabila suami melarang istri mensedekahkan uang belanjanya maka istri tidak boleh melanggar larangan ini, sebab itu adalah harta suami dan ia berhak untuk mengaturnya.

Jadi, kalau seorang suami mengizinkan hartanya (Uang belanja termasuk harta suami yang dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangga) untuk disedekahkan, baik itu dengan izin ucapan secara langsung atau memang kebiasaan mayarakat menunjukkan hal yang demikian maka boleh bagi istri untuk mensedekahkan harta suaminya, misalnya bila kebiasaan di masyarakat seorang suami tidak mempermasalahkan seorang istri memberi pengemis dari sedikit uang belanjanya maka hukum bersedekah dari harta suami kala itu tidaklah bermasalah.

  • Hendaknya istri membantu suami dalam mempersiapkan seluruh kebutuhannya

Mayoritas ulama’ menyatakan bahwa ini bukan kewajiban istri. Sebagian lagi menyatakan bahwa itu adalah kewajban. Maka yang paling tepat adalah seorang istri membantu suaminya menurut kelayakan atau sekedarnya atau sesuatu yang tidak memberatkan istri. Sehingga yang paling baik adalah seorang suami menyediakan pembantu rumah tangga, karena akan mengurangi beban istrinya.

  • Hendaknya seorang istri menjaga kehormatan, harta dan anak-anak ketika suaminya tidak ada

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji wanita yang sayang kepada suaminya, penuh perhatian kepadanya, dan menjaga hartanya dengan sabdanya:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ اْلإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجِهَا فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita yang menaiki unta adalah wanita Quraisy yang shalihah; yang paling sayang kepada anak pada masa kecilnya dan yang paling memelihara hak-hak suaminya”. (Al-Bukhari kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, Muslim dalam kitab Fadhaa-ilush Shahaabah)

  • Hendaknya Istri Berterima Kasih Atas Nafkah, Kebaikan Dan Perlindungan Suami

Hendaknya istri selalu bersyukur kepada suaminya dan jauh dari keluh kesah. Mereka mensyukuri kebaikan suaminya, mereka mensyukuri uang pemberian suaminya, mereka mensyukuri kesederhanaan suaminya, setiap apa yang diberikan dari suaminya mereka mensyukurinya dan tidak mengkufurinya. Bukan seperti sebagian wanita diberi sedikit nuntut yang banyak, diberi banyak selalu merasa kurang, tidak diberi sesuatu yang istimewa dibandingkan dengan orang lain, ia mencela.

Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari.

  • Berdandan dan Berhias Diri Hanya Spesial untuk Suami

Sebagian istri saat ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari. Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”. (HR. An-Nasai dan Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

  • Jika istri memberikan bantuan untuk menafkahi keluarga atau anak sekolah, maka sang istri jangan menghitungnya sebagai hutang atau memberikannya tidak ikhlas
  • Hendaknya istri qana’ah dengan gaji suami
  • Jangan sampai seorang istri menyakiti atau menyinggung suami
  • Hendaknya istri tidak mudah menggugat cerai jika tidak ada permasalahan
  • Jika suami meninggal dunia, hendaknya menunggu masa ‘iddahnya 4 bulan 10 hari sebelum menikah lagi

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (البقرة: 234)

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[147] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (Al Baqarah: 234)

[147]  Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

Termasuk larangan bagi istri yang ditinggal meninggal suaminya, ia tidak boleh keluar untuk mengikuti pengajian di luar rumah selama masa ‘iddah kecuali darurat.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved