Follow us:

Hikmah dibalik Ibadah Qurban

Oleh:Ustadz Drs. Yakhsyallah Mansur, MA.

Firman Allah Q.S. Al-Kausar [108]: 1-3 yang berbunyi:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(٢) اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ(٣). (سوراة الكوثر [١١٠] : ١ـــ٣)

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak, Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah), Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Surat ini terdiri dari tiga ayat dan merupakan surat makkiyah menurut mayoritas ulama, walaupun sebagian ulama ada yang berpendapat surah itu madaniyah. Ia adalah surat ke-14 atau ke-15 yang turun kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  setelah surat Al- Adiyat dan sebelum surat At-Takatsur, wallahu a’lam.

Dinamakan surat Al-Kautsar  karena itu merupakan nama sungai/ telaga di surga. Al-Kautsar dapat pula diartikan nikmat yang banyak, diambil dari ayat pertama dari surat ini. Surat ini juga dinamakan surat An Nahr, diambil dari ayat kedua.

Perintah berqurban hadir di kala Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam sedang berada dalam tekanan dan serangan oleh kaum kafir Quraisy. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala justru memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam untuk melakukan qurban dan mensyiarkannya.

Syariat qurban juga untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabiyullah Ibrahim Alaihi salam, ketika diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelih putera kesayangannya, yaitu Nabiyullah Ismail Alaihi salam.

Substansi dari ibadah qurban adalah pernyataan kesediaan diri untuk menyerahkan sesuatu yang paling berharga dan paling dicintainya, semata-mata hanya karena rasa cinta dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau lambang kecintaan Nabi Ibrahim Alaihi salam ialah Ismail, seorang anak yang sudah sekian lama didamba-damba kehadirannya dan dinanti-nanti kelahirannya. Lalu ketika si anak sedang tumbuh kembang, sedang semangat-semangatnya belajar banyak hal, tiba-tiba Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta untuk disembelih.

Secara manusiawi, bapak mana yang tega melakukannya. Orang tua mana yang sampai hati mengorbankan anaknya. Normalnya sebagai seorang ayah, ia akan melakukan apapun demi keselamatan jiwa buah hati tercinta.

Namun, Nabi Ibrahim Alaihi salam segera sadar bahwa cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi segalanya. Ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalahkan semua kecintaannya kepada harta benda, termasuk keluarganya yang dicinta.

Maka, Nabi Ibrahim Alaihi salam berhasil dan lulus dari ujian itu dan sang putera tercinta juga dengan ikhlas dan ridha mematuhi perintah bapaknya. Akhirnya berangkatlah mereka ke Mina, menunaikan perintah suci, dari Rabb pencipta alam semesta.

Begitulah potret keluarga rabbani, antara ayah, ibu dan anak, semuanya memiliki orieantasi untuk beribadah kepada Allah semata. Seluruh hidupnya dipersembahkan untuk menaati perintah Allah, segenap kemampuan dan kekuatan diperuntukkan untuk ibadah kepada Allah. Bahkan jiwanya pun rela dikorbankan demi menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka, jika kita ingin mengikuti jejak keluarga Rabbani seperti keluarga Nabiyullah Ibrahim Alahi salam, marilah kita laksanakan qurban sebagai simbol ketaatan kita dengan mengorbankan apa saja yang kita cintai sebagai bukti cinta kita dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada hari Raya Idul Adha, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meminta kita untuk menyembelih anak tercinta, tidak juga dengan harta yang berjumlah besar, tetapi hanya seekor binatang, apakah itu kambing atau sapi, atau hewan lain yang diperbolehkan secara syariat,  sesuai dengan kadar kemampuan kita.

Menjelang shalat Idul Adha ini, kita sedang diuji keimanan oleh Allah, akankah kita tunduk dan patuh kepada perintah Allah untuk menunaikan qurban, ataukah kita lebih cinta harta benda karena takut berkurang atau habis karenanya.

Nabi Ibrahim Alaihi salam yang mengajarkan kepada kita bahwa seorang hamba janganlah tertipu dengan kekayaan yang sifatnya sesaat saja. Ada kehidupan yang lebih hakiki dan perlu diperjuangkan ketimbang kehidupan dunia yang fana.

Karena itu, mengorbankan sebagian harta lillahi Ta’ala tidak akan ada ruginya. Sikap semacam inilah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim Alaihi salam, yang juga diikuti puteranya, Ismail, yang begitu patuh dan saleh. Dengan bahasa lain, pengorbanan adalah bentuk pola pikir dan cara pandang manusia yang jauh ke depan menuju kehidupan bahagia di kemudian hari, termasuk di akhirat kelak.

Syariat ibadah qurban sesungguhnya menjadi barometer yang bersifat vertikal dan horizontal tentang seberapa jauh kesetiaan, pengorbanan, dan pengabdian kita terhadap nilai-nilai ketuhanan (esoterik) serta kepedulian dan empati kita kepada nilai-nilai kemanusiaan (eksoterik).

Pengorbanan yang diterima (maqbulan) adalah ibadah qurban yang berdampak spiritual terhadap diri pribadi, ditandai dengan lebih dekatnya seorang hamba kepada Rabbnya, dan membawa pengaruh positif bagi terbentuknya bangunan sosial yang kokoh, kepedulian ingin membantu meringankan beban sesama, terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat sekarang.

Ibadah qurban menjadi contoh nyata bagaimana Islam mengatur aspek kemanusiaan, sosial, bahkan juga perekonomian umatnya. Distribusi daging kurban yang menyeluruh dapat menjadi contoh baik dalam menjaga harmonisnya kehidupan sosial kemasyarakatan umat Islam, bukan hanya umat Islam yang merasakan keberkahannya, qurban juga bisa dirasakan oleh umat non-Muslim yang hidup berdampingan dengan kita. Hal ini mampu memupuk rasa solidaritas umat manusia karena menghubungkan kasih sayang antar sesama.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Tidak memandang agama, suku, kelas sosial dan atribut-atribut kemanusian yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ (رواه احمد)

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (H.R. Ahmad)

Semoga kita semua mampu menjadi hamba-hamba yang patuh, tunduk dan pasrah total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mantabkan hati kita untuk menunaikan ibadah qurban karena pengorbanan itu sesungguhnya bukan untuk Allah, tetapi akan kembali kepada kita sendiri, yang akan kita rasakan balasannya, baik ketika di dunia, terlebih nanti di Yaumil Qiyamah kelak, ketika banyak orang yang menyesal dengan harta yang ditumpuk-tumpuk dan disayangi sehingga tidak mau berqurban, dan kita yang berqurban merasakan kenikmatan dan kasih sayang Allah Subahanahu wa Ta’ala.(HUD/Mirajnews.net)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved