Hukum Puasa dalam Keadaan Junub, Sah atau Tidak?
Puasa merupakan ibadah yang menuntut seorang Muslim menahan diri dari makan, minum, serta aktivitas seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Karena itu, selama rentang waktu tersebut seseorang dilarang melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk hubungan suami istri.
Kendati demikian, kerap muncul pertanyaan bagaimana jika seseorang mengalami hadas besar (junub) pada malam hari, lalu tertidur hingga pagi tanpa sempat mandi wajib apakah puasanya tetap sah?
Dalam salah satu redaksi hadis, Sayyidah Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memasuki waktu pagi dalam keadaan junub sebab hubungan suami istri, kemudian beliau mandi dan tetap melanjutkan puasa.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ
“Nabi Muhammad SAW pernah berpagi hari dalam kondisi junub karena jimak, kemudian beliau mandi dan terus berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Imam ash-Shan’ani (wafat 1182 H) menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan terhadap sahnya puasa orang yang memasuki pagi dalam keadaan junub. Beliau juga menukil keterangan Imam an-Nawawi yang menyatakan bahwa hal ini merupakan ijma’ (kesepakatan) para ulama.
فِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى صِحَّةِ صَوْمِ مَنْ أَصْبَحَ أَيْ دَخَلَ فِي الصَّبَاحِ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ جِمَاعٍ، وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ الْجُمْهُورُ، وَقَالَ النَّوَوِيُّ: إِنَّهُ إِجْمَاعٌ
“Di dalamnya terdapat dalil tentang sahnya puasa orang yang memasuki waktu pagi dalam keadaan junub akibat berhubungan badan. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama, Imam an-Nawawi berkata, sesungguhnya hal itu merupakan konsensus ulama.” (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram [Saudi: Dar Ibn al-Jauzi], vol. 4, h. 122)
Berdasarkan keterangan fiqih mazhab Syafi’i, suci dari hadas besar bukanlah syarat sah puasa. Sehingga, seseorang yang belum mandi junub ketika Subuh tetap sah puasanya selama ia telah berniat pada malam hari.
Meski begitu, seseorang disunnahkan mandi sebelum fajar agar ia memulai puasanya dalam keadaan suci. Syekh Khatib asy-Syirbini (wafat 977 H) dalam kitabnya menuturkan,
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَغْتَسِلَ عَنْ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ قَبْلَ الْفَجْرِ لِيَكُونَ عَلَى طُهْرٍ مِنْ أَوَّلِ الصَّوْمِ. وَلَوْ طَهُرَتْ الْحَائِضُ أَوْ النُّفَسَاءُ لَيْلًا وَنَوَتْ الصَّوْمَ وَصَامَتْ أَوْ صَامَ الْجُنُبُ بِلَا غُسْلٍ صَحَّ الصَّوْمُ
“Disunnahkan untuk mandi dari janabah, haid, dan nifas sebelum fajar agar berada dalam kondisi suci sejak awal puasa. Namun, jika perempuan yang haid atau nifas tersebut telah suci pada malam hari lalu berniat puasa dan berpuasa, atau orang yang junub berpuasa tanpa mandi terlebih dahulu maka puasanya tetap sah.” (Mughni al-Muhtaj [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], vol. 2, h. 167)
Jadi walaupun puasanya sah, seseorang yang junub dianjurkan untuk segera mandi wajib agar dapat menunaikan ibadah lainnya yang mensyaratkan suci, seperti halnya shalat. Menunda mandi tanpa uzur hingga melewatkan waktu shalat tentu saja tidak dibenarkan syariat.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa puasa orang yang memasuki waktu Subuh dalam keadaan junub hukumnya tetap sah dan tidak perlu diqadha, lantaran suci dari hadas besar bukanlah syarat sah puasa.
Dengan demikian, ia tetap dapat melanjutkan puasanya dan segera mandi junub agar dapat menjalani ibadah sepanjang hari dalam keadaan suci dari hadas besar. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (UYR/MUI)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments