Follow us:

Iman Hijrah Dan Jihad Sebagai Syarat Meraih Kemenangan

Oleh:Ustadz Abdullah Adam, Lc.

إنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي ولا رسول بعده.

اللهم صل وسلم على هذا النبي الكريم والرسول المبين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن سن بسنته، ومن دعا بدعوته، ومن ناهج بنهجه، ومن جاهد فى سبيل الله حق جهاده، ومن سارعلى دربه إلى يوم الدين.

فقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ{التوبة: 19} الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ{20} يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ{21} خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً إِنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

وقال أيضا:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

Jama’ah Jum’at Rahimakumullahu

Sebagai seorang mukmin tentunya berharap kepada Allah bahwa iman dan amal kita nantinya diterima oleh-Nya. Bahkan kita juga sangat berharap menjadi orang-orang yang ditinggikan derajatnya di sisi-Nya. Menjadi orang-orang yang dimenangkan dalam kehidupan dunia dan di akhirat kelak mendapatkan surga Allah, rahmat dan ridha-Nya. Dan setiap orang beriman berpeluang untuk mendapatkannya, bahkan semua orang berpotensi meraih kemuliaan tersebut.

Dalam surah At Taubah ayat 20-22 disebutkan:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ{20} يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ{21} خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً إِنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (At Taubah: 20-22)

Allah Ta’ala hanya menawarkan kepada kita dengan tiga hal sebagai syarat penting untuk mendapatkan derajat tinggi di sisi-Nya, kemenangan, rahmat, keridhaan dan syurga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tiga hal tersebut adalah Imam, Hijrah dan Jihad di jalan Allah Ta’ala.

Pertama, Iman

Tentunya, orang yang ingin meraih kemuliaan tersebut haruslah dengan keimanan yang sebenarnya. Kenapa? Karena banyak orang yang  beriman hanya dalam lisannya saja. Sebagaimana digambarkan dalam surah Al Baqarah ayat 8,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.

Lalu bagaimanakah iman yang benar? Iman yang benar harus memenuhi 3 unsur. Pertama, keyakinan yang kuat dalam hati serta tidak ada keraguan sedikitpun. Kedua, diucapkan dengan lisan. Dan yang ketiga adalah dilakukan dengan semua anggota tubuh. Semua konsekuensi keimanan, kita lakukan sesuai dengan kemampuan. Maka iman yang benar harus memenuhi tiga unsur ini.

Iman yang baik adalah yang akan menghantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Iman tersebut harus diiringi dengan keistiqamahan. Sebab, tidak mungkin mendapatkan kemuliaan, jika pagi beriman dan sore menjadi kafir. Maka mutlak, diperlukan sebuah keimanan yang istiqamah. Sehingga kapanpun kita dipanggil oleh Allah Ta’ala, kita dalam keadaan iman kepada-Nya. Dan begitu besar balasan yang diberikan Allah kepada mereka yang senantiasa istiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ{30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ{31}

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. (Fusshilat: 30-31)

Tetapi ingat, untuk meraih rahmat dan ridha Allah tidaklah mudah, seseorang pasti akan diuji oleh Allah.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ{214}

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah: 214)

Kedua, Hijrah

Hijrah merupakan bukti ketulusan iman seseorang.Tidak mungkin seseorang bisa istiqamah dalam keimanannya, ketika dirinya tidak berhjirah. Hijrah yang dimaksud di sini adalah meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda: “Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang Allah telah melarang daripadanya”. (HR. Imam Bukhari dan lainnya dari sahbat ‘Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhuma)

Jadi, barang siapa dari orang-orang islam, telah meninggalkan semua perbuatan yang dilarang Allah, maka ia termasuk daripada orang yang mengerjakan hijrah dalam bentuk ini. Sebab, masih ada makna lain dari hijrah.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah adalah sebuah kewajiban totalitas, adapun amal-amal shalih dikerjakan sesuai dengan kemampuan. Ketika seorang muslim telah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah, maka dengan sendirinya akan tertanam dalam jiwanya cinta kepada kebaikan-kebaikan, dan sebaliknya akan muncul rasa benci terhadap kemaksiatan. Sehingga ia bisa membedakan antara yang haq dan batil.

Ketiga, Berjihad Di Jalan Allah Dengan Harta Dan Jiwa

Jihad merupakan buah sekaligus konsekuensi logis dari aktifitas hijrah. Iman tanpa hijrah tidak akan bermakna, begitupula hijrah tanpa jihad berarti tidak berbuah. Makanya pendampingan iman, hijrah dan jihad banyak diulang di dalam alquranul karim.

Jihad adalah berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah dengan mengerahkan segala kemampuan baik harta, jiwa, tenaga, pikiran, ucapan, maupun lainnya. Dalam terminologi Islam berarti berkorban untuk Allah, yaitu menjalankan misi menegakkan kekuasaan tauhid dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan Rasul. Rasulullah Shalalahu’alaihi wasallam dalam perjuangannya menyeru manusia meninggalkan syirik dan memerangi kemusyrikan, mengangkat dari kedzaliman dan membela mereka yang tertindas, mengajak dan membimbing manusia pada kehidupan berlandaskan keadilan dan ke- Esa-an Allah.

Jihad dalam Islam merupakan kewajiban penting dan dilaksanakan dalam kerangka penegakkan sistem agar hukum Allah tegak di muka bumi. Dalam kerangka ini jihad memiliki cakupan yang luas.

Jihad ada dua macam: Pertama, jihad melawan musuh. Yaitu menyerang atau menghadapi serangan dari musuh yang nyata berupa manusia. Dan jika seseorang meninggal dalam keadaan ini, maka kematiannya adalah kematian yang termulia diantara lainnya. Sebab ia mendapatkan anugrah mati syahid, bahkan di sisi Allah mereka tetap mendapatkan rizqi.

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (آل عمران: 169)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Ali Imran: 169)  

Ketika Allah mewajibkan Jihad kepada umat islam, berarti umat islam adalah umat yang bersungguh-sungguh di dalam usaha mencapai rahmat dan ridha Allah.

Kedua, jihad terhadap nafsu. Adapun jihad terhadap nafsu terbagi dalam dua tingkatan:

Jihad melawan nafsu (QS. An-Naziaat: 40) yang mana nafsu itu datangnya dari diri sendiri. Contohnya, seperti bahwa fitrahnya seluruh manusia memerlukan makan, atau juga lelaki adalah mencintai wanita dan harta. Maka, dalam hal “makan” dan “rasa keinginan terhadap wanita itu harus dapat pula kita memerangi hawa nafsu yang ada pada diri supaya tidak melampaui batas.

Jihad melawan nafsu yang datangnya dari bisikan syaitan (An-Naas: 4). Mengenai nafsu hasutan syaitan itu, contohnya seperti durhaka terhadap hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam kedurhakaan sedemikian itu bukanlah fitrahnya manusia, melainkan akibat proses menjalani kehidupan diantara manusia bermasyarakat. Yang mana manusia itu sendiri tidak berusaha menundukkan nafsu yang dikehendaki syaitan. Sebab, di samping sebagiannya manusia yang selalu mempertahankan hukum dari kehendak syaitan (QS. Al Maidah: 50, QS. An Nisaa’: 60), maka ada pula yang senantiasa berusaha menegakkan undang-undang Allah, jika manusia itu sudah bisa berjihad dalam mengalahkan nafsu bisikan syaitan.

Sungguh benar bahwa pengertian jihad terhadap nafsu itu sangat luas. Yang mana tidak terbatas pada nafsu yang munculnya dari diri sendiri saja. Dengan kata lain, bukan yang hanya pengorbanannya cukup dirasakan oleh pribadi saja, seperti membatasi nafsu makan dalam berpuasa. Akan tetapi, mencakup pula kepada jihad terhadap nafsu yang meliputi tata cara bermasyarakat. Seperti dalam hal menolak politik dan hukum yang sejalan dengan doktrin syaitan. Tentu bahwa tujuan sedemikian itu supaya kita tidak “…sebagai orang yang telah diselewengkan oleh syetan-syetan…” (QS. Al-An’aam: 71).

Seluruh uraian di atas lebih menegaskan bahwa jihad adalah perintah agama. Siapa pun yang mengaku muslim tidak boleh sama sekali melecehkan perkara jihad. Jihadlah yang membawa risalah Islam hingga perjuangan Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam mencapai kemenangan dan mengantarkan umat Islam meraih masa kejayaannya selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Melalui jihad, tegaklah peradaban Islam yang agung, memberikan keamanan, keadilan dan kesejahteraan bagi segenap manusia. Dan dari peradaban yang agung itu terpancar kemuliaan Islam, sekaligus tegak wibawa umat Islam.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Mudah-mudahan momentum pergantian tahun baru Hijriyah ini, menjadikan kita untuk selalu berrupaya meningkatkan kualitas keimanan, hijrah dan jihad kita dalam membela agama Allah. Kalau bukan kita, siapa lagi.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا، أستغفرالله لي ولكم ولسائرالمسلمين والمسلمات فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved