Karakter Umat Muhammad

Khutbah Jum’at_Ust. Abdullah Adam, Lc

Karakter Umat Muhammad

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا. أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم على هذا النبي الكريم والرسول المبين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه، ومن سن بسنته، ومن دعا بدعوته، ومن جاهد في سبيل الله حق جهاده، ومن سار على دربه إلى يوم الدين.

قال الله تعالى في القرأن الكريم: مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

وقال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Berbahagialah kita menjadi umat nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena umat nabi Muhammad adalah umat terbaik dan mulia. Umat yang dijanjikan oleh Allah akan dimenangkan dan dijanjikan akan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.

Tetapi, tidak semua orang yang mengaku dirinya sebagai umat Muhammad mendapatkan kemuliaan-kemuliaan itu. Maka mengenal karakteristik atau ciri-ciri umat nabi Muhammad sangat penting, agar kita kita termasuk di dalamnya dan menjadi orang-orang yang Allah menangkan. Allah Ta’ala menjelaskan karakteristik umat nabi Muhammad dalam ayat 29 surah Al Fath.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath: 29)

Karakter pertama, umat nabi Muhammad yakin bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa risalah islam untuk semua manusia.

Ketika risalah islam yang dibawa oleh nabi Muhammad telah selesai dan sempurna, maka tidak ada jalan untuk mendapatkan ridha Allah kecuali harus melalui risalah islam. Kita yakin bahwa Islam adalah agama yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satupun persoalan kecuali ada di dalam Islam. Dan kitapun harus yakin bahwa beliau adalah contoh dan teladan terbaik.

Karakter kedua, bersikap keras kepada orang-orang kafir

Bersikap keras bukan berarti tidak menghormati pemeluk agama lain, tetapi kita diajarkan untuk menghargai pemeluk agama lain selama mereka tidak mencaci maki, menghalang-halangi dakwah islam dan tidak memusuhi kita.

Kapan kita bersikap keras? Ketika mereka menghalang-halangi dakwah islam, memusuhi dan membenci umat islam. Kita juga tidak boleh kompromi terhadap kebenaran agama kita. Musuh-musuh Allah sejak awal islam telah menjadi lawan Islam dan kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَاناً وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nashrani”. Yang demikian itu, disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (Al Maidah: 82)

Diantara upaya mereka dalam menghentikan dakwah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah dengan menemui paman nabi Abu Thalib untuk membujuknya menghentikan dakwah islam dan menawarkan tawaran menggiurkan.

Di dalam riwayat oleh Baihaqi dikatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah datang menemuiku dan mereka berkata ini dan itu, maka kasihanilah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan urusan yang tidak mampu dipikul olehku dan olehmu. Maka jauhilah mereka dari perkataan yang dapat menyakiti mereka.”

Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawabnya dengan bersabda,

وَاللَّهِ يَا عَمِّ ، لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي ، وَالْقَمَرَ فِي شِمَالِي ، عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ ، حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ،  أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ

“Demi Allah! Wahai paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”

Setelah mengucapkan itu, berlinanganlah air mata Rasulullah karena menangis. Kata-kata pamannya telah membuat Rasulullah mengira bahwa pamannya akan meninggalkannya, tidak memberi perlindungan lagi dalam menjalankan usaha dakwah, rela menyerahkannya, dan tidak mampu lagi untuk berdiri di pihaknya.

Suatu saat, ‘Utbah (Abul Walid) pergi menemui nabi dan berkata, “Hai Muhammad, jika kau mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan sehingga kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy. Jika kamu ingin menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan menikahkanmu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sudah selesaikah pembicaraanmu?” “Ya,” jawab Utbah. Rasulullah bersabda lagi, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…” setelah mengucapkan basmalah, Rasulullah membaca ayat 1-13 dari surah Fushshilat.

Allah Ta’ala menegaskan dalam ayat yang lain,

…… وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

…. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 217)

Karakter ketiga, saling berkasih sayang kepada sesama Muslim

Mereka saling membantu dan memback up dakwah, karena tidak mungkin kerja dakwah yang besar ini dipikul oleh satu kelompok. Inilah yang disebut dengan ukhuwah islamiyah. Nabi memberikan permisalan cinta yang mudah,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Kalau sekarang kita melihat umat islam saling berpecah belah dan saling menyalahkan dan tidak bersatu, bukan konsep islamnya yang salah. Tetapi umat islamnya yang belum berkomitmen menjadi umat nabi Muhammad yang sebenarnya. Karena umat Muhammad adalah yang berlemah lembut kepada orang-orang mukmin dan bersikap keras kepada orang-orang kafir.

Ukhuwah islamiyah adalah sebuah kekuatan paling unggul setelah aqidah. Kenapa? Karena kemenangan yang diperoleh pada masa salafusshalih lantaran mereka memiliki kekuatan ukhuwah islamiyah. Dan inilah yang ditakutkan oleh musuh-musuh islam. Karena apabila umat islam bersatu dalam aqidah yang sama, maka insya Allah Islam menjadi umat terkuat.

Sebab itu, Rasulullah selalu memberikan motivasi kepada kita agar selalu bersatu, saling mencintai dan berukhuwah. Bersatu bukan berarti harus seragamm harus selalu sesuai dengan visi dan misi hidup kita. Dua hal yang harus sama adalah akidah dan tujuan perjuangan kita, yaituIslam dan ridlo Allah Swt. Selebihnya adalah perbedaan yang akan menambah indah kehidupan kita bersama, keragaman yang akan memberi warna dalam setiap episode hidup kita. Bersaudara bukan berarti menolak perbedaan, menentang kemajemukan. Bukankah perbedaan itu sudah ada sejak generasi pertama agama ini. Lihatlah bagaimana para khulafaur rasyidin dengan lapang dada menerima perbedaan di antara mereka, tanpa ada rasa dendam, fitnah atau caci maki.

Di sekitar ‘Arsy ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, dari wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan para Nabi ataupun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya para sahabat, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah saling bersahabat karena Allah dan saling berkunjung karena Allah.” (HR. Tirmidzi)

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Karakter keempat, senantiasa ruku’ dan sujud

Ruku’ dan sujud adalah dua gerakan yang paling menonjol dalam shalat. Shalat merupakan simbol ketundukan totalitas seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Maksudnya, umat nabi Muhammad adalah umat yang sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah Ta’ala. Sikap orang beriman, ketika diajak untuk tunduk kepada hukum Allah mereka hanya berkata “kami mendengar dan kami taat.”

Karakter kelima, mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya

Umat nabi Muhammad senantiasa berupaya keras mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Umat Muhammad tidak pernah diam, karena jika satu pekerjaan selesai, ia beralih kepada pekerjaan lainnya. Maka segala gerak-gerik, langkap, sikap, ucapan dan perbuatan umat Nabi Muhammad tidak pernah sia-sia karnea selalu ditujukan dalam rangka mencari ridha Allah. Dan ternyata, ridha Allah adalah diantara nikmat terbesar setelah nikmat Surga.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim, Sesungguhnya Allah berfirman, berdialog dengan para penghuni Surga, Mereka dengan gembiranya menyambut panggilan Allah, “bahwasanya kebahagiaan, kebaikan, ada di tanganMu ya Allah.” Allah bertanya, “Apakah kamu sudah ridha, sudah puas?” Jawab mereka, “Yaa Rabb, bagaimana kami tidak ridha, sementara Engkau telah berikan kepada kami apa saja yang Engkau tidak berikan kepada makhluk-Mu yang lainnya.” Allah bertanya, “Maukah Aku berikan kalian yang lebih mulia dari itu semuanya?” Mereka berkata, “Ya Rabb, apakah ada lagi yang lebih utama dari apa yang telah kami nikmati ini?” Allah jawab, “Aku halalkan ridhaKu kepada kalian. Aku tidak akan Marah padamu selamanya.”

Karakter keenam, mempunyai tanda di wajah mereka

Setiap umat Nabi Muhammad yang benar, maka segala apa yang dikerjakannya akan memberikan pengaruh positif. Bukan hanya pada fisiknya, tetapi dalam keimanannya juga. Semakin bertambah imannya, maka semakin membaik hubungannya terhadap masyarakat dan Rabb-Nya. Ia menjadi manusia terbaik diantara manusia. Karena manusia paling baik adalah ketika orang lain merasakan manfaat dirinya. Ibadah yang mereka lakukan akan semakin meningkatkan dirinya menjadi orang bertakwa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah: 21)

Mari kita bersama-sama introspeksi diri, apakah kita sudah termasuk umat Nabi Muhammad yang sebenarnya? Umat terbaik yang mendapatkan rahmat dan ridha-Nya?

Dengan kita menyadari tingkat diri kita, insya Allah kita akan menjadi umat nabi Muhammad yang sebenarnya dan akan mendapatkan janji-janji Allah Ta’ala.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

 

 

 

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *