Diantara Perkara Perusak Amal

Disampaikan paka kajian Muslimah oleh Ust. Oemar Mitha, Lc

Diantara Perkara Perusak Amal

Sebagai seorang mukmin ada suatu perkara yang paling ditakutkan yaitu ketika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Karena mereka akan merugi disebabkan amalnya tidak diterima.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً{103} الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً{104} أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْناً

“Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa orang yang paling merugi amalnya dalam kehidupan dunia bukan orang yang kehilangan harta benda atau sahamnya. Tapi mereka yang paling rugi amalnya adalah orang-orang yang menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya namun sama sekali tak bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Layaknya pekerjaan yang dikelola secara profesional, ia telah mengerahkan sekian banyak tenaga, pikiran, serta mengorbankan waktu dan dana yang tak sedikit. Ia berharap apa yang ia lakukan itu dapat memberikan manfaat.

Allah ‘Azza wa Jalla juga menerangkan dalam ayat lainnya tentang fenomena orang-orang yang gagal diterima amal ibadahnya. Diantaranya,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (Al Furqan: 23)

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka)”. (Al Ghasyiyah: 3-4)

Suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu, pernah ditanya oleh Mush’ab, anaknya tentang ayat ini. Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang paling merugi amalannya? Apakah mereka itu kaum Haruriy (suatu sekte dari golongan khawarij)? Sa’ad menjawab, “Bukan, mereka tak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. (Riwayat Bukhari)

Sahabat Ali bin Thalib Radhiyallahu Anhu berkata tentang ayat-ayat di atas bahwa sesungguhnya makna ayat-ayat ini bersifat umum mencakup semua orang yang menyembah Allah bukan melalui jalan yang diridhai. Orang yang bersangkutan menduga bahwa jalan yang ditempuhnya benar dan amalnya diterima, padahal kenyataannya dia keliru dan amalnya ditolak.

Ibnu Katsir Rahimahullah menambahkan, meski ayat ini turun kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani, tapi ia mencakup siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ayat ini sendiri tergolong Makkiyah sehingga secara akar sejarah kaum Muslimin ketika itu belum berinteraksi secara langsung dengan kaum Yahudi dan Nasrani ataupun Khawarij. Olehnya, pengkhususan suatu kaum bukanlah penghalang bagi kaum yang lain untuk termasuk di dalamnya.

Al-Ibrah bi umum al-lafdz la bi khusus as-sabab (pelajaran itu diambil dari keumuman lafadz, bukan dari kekhususan suatu sebab).

Diantara Perkara Perusak Amal

Tidak adanya Iman

Iman yang mereka miliki bercampur dengan kesyirikan dan kekufuran. Siapapun yang imannya tercampuri dengan kekufuran dan kesyirikan, amal mereka tidak akan pernah diterima oleh Allah

Kisah masa lalu yang bisa kita ambil hikmah dan pelajaran di dalamnya. Begitu tingginya nilai tauhid di sisi Allah. Bahwa semua amalan baik, tidaklah akan berharga -di hari nanti- terkecuali, si pemilik amal itu telah berikrar dengan dua kalimat syahadat, dan senantiasa memelihara persaksiannya itu dari bahaya syirik yang selalu mengancamnya.

Dialah Ibnu Jud’an adalah orang yang baik kepada sesamanya. Ia memberikan makanan yang dipunyainya kepada orang lain yang membutuhkannya. Kemudian, ia membantu kaum yang lemah. Senantiasa ia berada di garda depan untuk membela ‘wong cilik’. Dan begitu banyak kebaikan yang diperbuat oleh Ibnu Jud’an. Suatu perbuatan, yang barangkali di saat sekarang, juga kita jumpai dari segolongan orang (di luar Islam).

Yakni mereka berbuat baik kepada sesamanya, memberikan makanan kepada orang yang sedang kelaparan. Membantu ketika terjadi musibah, baik itu banjir, tanah longsor gempa bumi ataupun tsunami. Pokoknya, kebaikan yang barangkali ada segelintir kaum muslimin justru tertinggal daripadanya. Pertanyaannya adalah, apakah nanti amalan mereka bernilai disisi Allah?

Maka, istri Nabi yang paling dicintai Rasulullah, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Abdullah bin Jud’an yang mati dalam keadaan syirik pada masa jahiliyah, akan tetapi dia orang yang baik, suka memberi makan, suka menolong orang yang teraniaya dan punya kebaikan yang banyak.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: “Semua amalan itu tidak memberinya manfaat sedikitpun, karena dia tidak pernah mengatakan: ‘Wahai Rabbku, berilah ampunan atas kesalahan-kesalahanku pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Atau Abdullah bin Ubay seorang munafiq tulen yang berusaha menghancurkan Islam dari dalam. Ia menampakkan keislamannya padahal hatinya membenci islam. Secara umum kaum munafik dihukumi seperti halnya kaum muslim lainnya karena memandang dari segi zhahirnya. Dan mereka masih dihukumi muslim walaupun mereka menampakkan kekufuran mereka selagi setelah itu mereka kembali menampakkan keislamannya.

Itulah sebabnya Nabi tidak mau membunuh Abdullah bin Ubay walaupun telah banyak perbuatannya yang menunjukkan kekufurannya. Nabi berkata kepada sahabat Umar ketika beliau meminta ijin untuk membunuh Abdullah Bin Ubay;

دَعْهُ لاَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ

“Biarkanlah ia, jangan sampai orang-orang berkata bahwa muhammad membunuh sahabatnya”. (HR. Muslim)

Tetapi, mengingat kekufuran yang dilakukan kaum munafik lebih parah dan lebih berhaya dibanding orang kafir biasa, maka sebanding dengan itu, Allah menyiapkan bagi mereka siksa yang lebih pula. Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (An-Nisa’: 145)

Amal mereka tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang disampaikan oleh nabi, walaupun mereka menganggapnya baik

Allah tidak ingin disembah dengan prasangka dan meraba-raba sehingga kita mengatakan “menurut saya baik”. Tetapi Allah ingin disembah berdasarkan ilmu, karena agama ini adalah agama wahyu. Allah turunkan alquran dan mengutus utusannya nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak lain bertujuan memberitahukan ilmu sebagai landasan untuk beribadah.

Tidak ikhlas

Beribadah untuk mendapatkan pujian manusia atau beribadah untuk mendapatkan dunia. Dua hal ini sama-sama membuat amal ibadah tertolak.

 

Bagaimana Mengenal Ilmu Yang Benar?

Memuliakan Nash

Ilmu yang mengajak untuk tunduk dan patuh kepada apapun yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Semua ketetapan yang ada dalam alquran dan as sunnah berisi hikmah dan tidak pernah menzhalimi bahkan membawa kemaslahatan. Satu persatu hikmah atau maslahat dari ketetapan syari’at Allah dan Rasul-Nya akan terungkap. Misalnya, kenapa sebelum minum diperintahkan mengucapkan basmalah? Ternyata, membaca basmalah sebelum minum, air itu akan akan membawa hal yang baik bagi tubuh. Dahulu, Rasulullah dan para sahabatnya memakan buah-buahan sebelum makan makanan yang berat. Ternyata para dokter hari ini mengatakan bahwa memakan buah sebelum makan, buah itu akan merangsang lambung supaya mudah mencerna makanan yang dikonsumsi.

Setelah tunduk dan patuh, kita tidak boleh mendahului Allah dan Rasul-Nya. Perkara yang didahului mencakup semua perkara agama dan yang termasuk di dalamnya. Maka sebagai muslim, kita tidak boleh berpendapat dan membuat keputusan sebelum mengkaji lebih dahulu firman Allah Ta’ala dalam Alquran dan sabda Rasulullah dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tidak menambah dan mengurangi. Sebagaimana dicontohkan seperti itu pula kita mengamalkan.

Dari Nafi’ katanya; ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lantas mengatakan: Alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasuulillaah!  Maka Ibnu ‘Umar  mengatakan: “Aku pun mengatakan: Alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasuulillaah, tapi bukan begitu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kami (ketika bersin). Beliau mengajarkan kami agar mengucapkan Alhamdulillaahi ‘ala kulli haal”.

Sebagaimana juga Sa’id bin Musayyib (Tabi’in) pernah melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab: ”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah“ (Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih)

Imam Malik bin Anas juga pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Abu Abdillah (kunyah (panggilan) Imam Malik), dari mana saya akan memulai ihram?”. Imam Malik menjawab: “Dari Dzul-Hulaifah, di mana dulu Rasulullah memulai ihram dari situ.”

Maka orang tadi berkata: “Saya ingin ihram mulai dari Masjid Nabawi.” Imam Malik menjawab: “Jangan lakukan itu.”

Dia berkata: “Saya hanya ingin memulai ihram dari Masjid Nabawi dari sisi kuburan Rasulullah”. Imam Malik menjawab: “Jangan lakukan itu, saya takut engkau akan terkena fitnah.”

Dia mengatakan: “Fitnah apa itu? Saya hanya menambah beberapa mil saja.”

Maka Imam Malik berkata: “Fitnah apakah yang lebih besar daripada engkau mempunyai pendapat bahwa engkau bisa melakukan suatu amal perbuatan mulia yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Allah berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau adzab yang pedih.” (An-Nuur: 63) Selesai perkataan Imam Malik.

Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak mendapatkannya.

Maka dapat disimpulkan, bahwa patokan baik atau tidaknya sebuah amal perbuatan tidak hanya dilihat dari niat baik belaka, namun harus disertai dengan apakah amalan itu sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ataukah tidak. Karena tidak ada seorang pun kecuali akan berniat baik dalam ibadahnya, sampaipun para pendeta dan biksu agama kafir.

Sebab itu, janganlah kita menambah atau mengurangi nash yang telah ditetapkan Allah dan diajarkan oleh nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Wallahu Ta’ala A’lam

 

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *