Cerita Warga Kashmir, Idul Adha Tanpa Uang dan Dan Hewan Kurban

 

DARUSSALAM.ID – IDUL Adha yang merupakan hari raya umat Islam, identik dengan ibadah kurban, yakni penyembelihan kambing. Di berbagai belahan dunia, hal ini dirayakan dengan sukacita. Namun, di Kashmir, India, perayaan Idul Adha tahun ini penuh keprihatinan. Tak ada uang dan tak ada domba untuk dikurbankan. 

Bashir Ahmad, seorang warga Srinagar, Kashmir, bercerita, dirinya tetap bertekad untuk berkurban di hari raya Idul Adha. Kendati ada blokade militer yang diberlakukan pemerintah India, Ahmad tak gentar untuk berkendara lebih dari 20 kilometer (12,4 mil) dari rumahnya di pinggiran kota untuk menemukan sebuah pasar yang menjual domba.

Sayangnya, setelah bernegosiasi dengan barikade tentara dan melalui pagar kawat berduri yang melilit di jalan-jalan, Ahmad tidak dapat menemukan tempat untuk menarik uang yang ia butuhkan untuk membayar seekor domba.

“Saya mengambil risiko untuk berada di jalan tetapi ini tidak berguna,” tutr Ahmad kepada media AFP.

Dia menambahkan bahwa ATM telah kehabisan uang tunai dan bank-bank ditutup.

Ahmad terkenang Idul Adha tahun lalu, dia bisa membeli lima domba. Tapi tahun ini, dia tidak bisa berkurban karena keterbatasan kondisi di daerahnya.

“Saya rasa saya tidak bisa membeli domba tahun ini dan tidak bisa berkurban,” ucapnya.

Kisah yang sama juga diceritakan Shakeel Bhat, seorang warga Kashmir lainnya. DIa berhasil mencapai pasar di Srinagar setelah berjalan sejauh 10 kilometer, tetapi akhirnya dia sadar bahwa dirinya tidak mampu membeli domba atau kambing yang dijual disana.

“Target saya adalah 9.000 rupee (US $ 127) tetapi nilainya terlalu tinggi. Para penjual mengatakan mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk keluar di jalan-jalan,” kata Bhat.

Demikian pula dengan seorang muslim Kashmir lainnya, yakni Shuja Rasool. Setelah 32 tahun penuh ketaatan terhadap agama maupun pemerintah, dirinya pada tahun ini juga tidak bisa mendapatkan uang tunai untuk membeli hewan kurban.

“Kami tidak bebas dan tidak ada kebebasan untuk menjalankan agama kami,” kata Rasool, “Saya sangat sedih.”

Keluhan tentang sulitnya uang dan hewan kurban di Kashmir rupanya tak hanya dialami oleh muslim yang ingin berkurban. Para pedagang hewan kurban pun turut merasakan kesulitan dan punya keluhan serupa.

Cerita tentang penjual hewan kurban ini diungkap oleh Shamsher Khan dan dua saudara lelakinya dari komunitas nomaden Kashmir. Selama beberapa dekade, mereka telah memelihara domba dan kambing sepanjang tahun, menggerakkan mereka melintasi padang rumput dan melewati gunung kemudian menjual kawanan mereka untuk hari raya.

 

Khan berjalan hampir 250 kilometer (155 mil) dari distrik Reasi dengan kawanannya yang terdiri dari 150 domba ke Srinagar pekan lalu, ketika blokade atau penutupan kota oleh pihak keamanan India diberlakukan.

“Kami tidak memiliki omzet penjualan tahun ini. Orang-orang tidak memiliki uang tunai dan situasinya sangat buruk sehingga hampir tidak ada yang bisa keluar dari rumah mereka,” kata Khan.

“Kami tidak memiliki sumber penghasilan kecuali untuk kesempatan ini ketika kami menjual kawanan kami dan mendapatkan uang untuk menopang kami di tahun mendatang,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Idul Adha tahun ini (2019), Kashmir dicekam konflik setelah pemerintah India mencabut hak otonomi atau status istimewa bagi wilayah itu. Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan, berakhirnya otonomi bagi Kashmir akan membebaskan wilayah Himalaya dari terorisme dan separatisme serta mendorong pembangunan ekonomi.

Pemerintah India memberlakukan jam malam dan memasang barikade militer di sekitar kota di wilayah Kashmir.

“Modi telah membuat situasi begitu ketat di sini sehingga tidak terbayangkan. Ketika dia mengangkat jam malam, kita akan mengorbankan diri sendiri. Sama seperti kita mengorbankan kambing saat Idul Adha, kita akan mengorbankan hidup kita sendiri untuk bangsa kita,” kata salah satu pedagang hewan kurban di Kashmir.

Kashmir merupakan satu-satunya wilayah di India yang berpenduduk mayoritas Muslim. Sejak merdeka dari Inggris pada 1947, Kashmir terpecah dua, dua pertiga di antaranya dikuasai India, sementara sisanya milik Pakistan. Wilayah itu kemudian dipisahkan dengan garis Line of Control (LoC). [pray/islampos.com]

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *