Generasi Muda Didorong Terus Menulis Suarakan Kebenaran

 

DARUSSALAM.ID – Sebuah imbauan disampaikan oleh aktivis media Khairul Hibri, agar kaum Muslimin, khususnya generasi muda, turut aktif dalam tulis-menulis.

Hal ini dilatari oleh kondisi media Islam dalam mengimbangi media-media mainstream yang tak jarang mendiskreditkan kaum Muslimin, bahkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam.

“Perbandingan kekuatannya, media Islam laksana seekor semut pembawa setitik air, yang hendak memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim,” jelasnya berilustrasi, ketika mengisi pelatihan jurnalistik, di kampus Hidayatullah, Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, belum lama ini.

Karena kondisi demikian itu, lanjut alumnus STAI Luqman al-Hakim ini, seyogianya, kaum muslimin memiliki ghirah tinggi dalam memproduksi tulisan-tulisan. Berusaha semaksimal mungkin, dalam mengkonter kesesatan-kesesatan berita, ataupun isu negatif tentang kaum Muslimin dan Islam di masyarakat.

“Tujuannya, agar masyarakat tercerahkan. Jangan sampai mereka memahami ajaran-ajaran yang salah. Karena sesuatu yang keliru, bila terus disampaikan (bukam mustahil) akan menjadi kebenaran di kemudian hari,” ujar redaktur Majalah Mulia ini.

Tujuan lain, tambahnya, untuk membuktikan keberpihakan dan pembelaan kepada agama Allah yang hak ini. Tak ubahnya seekor semut, yang hanya ingin membuktikan keberpihakannya pada kebenaran yang dibawa oleh Ibrahim.

“Sebab secara logika, mustahil semut itu mampu memadamkan api yang menyala-nyala,” ujarnya.

Spirit inilah, kata Hibri, yang harus dimiliki oleh segenap umat Islam dalam menelurkan karya-karya tulis. Agar tidak patah semangat dalam menyuarakan kebenaran, di tengah gempuran opini dari media-media sekuler.

Selain Khairul Hibri, hadir juga sebagai pemateri, Damanhuri, kepala pesantren, dan Aulia el-Haq.

Dalam uraiannya, Daman memaparkan fakta sejarah, bahwa sejak cahaya Islam terbit di jazirah Arab, telah digalakkan gerakan jurnalistik.

Terbukti, sambungnya, ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Selain itu, ada juga Surat dalam al-Qur’an bernama al-Qalam, yang artinya pena. Isi ayat itu pun, spesifik mengangkat masalah tulis-menulis.

“Aktivitas jurnalistik ini di masa Nabi, digunakan sebagai wasilah dakwah. Nabi berkirim surat kepada para raja pada zaman itu. Menyeru mereka untuk masuk Islam,” urainya.

Sementara itu. Aulia El-Haq, kontributor sebuah media, mengingatkan para peserta untuk tidak lepas dari nilai-nilai Islam dalam berkarya tulis.

“Tirulah langkah ulama hadits dalam menulis. Mereka sangat berhati-hati dalam menentukan sumber berita/hadits. Dengan demikian, kevaliditasan informasi bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” gugahnya.

Acara seminar jurnalistik ini diikuti oleh para pengurus pesantren, pengasuh, dan puluhan mahasiswa.(Hud/Hidayatullah.com)

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *