Hikmah di Balik Musibah Covid-19

Dunia saat ini  dihebohkan dengan wabah virus yang bernama corona, tepatnya corona virus disease 19 (covid 19). Keganasan virus jenis anyar ini telah menyerang puluhan ribu manusia yang dinyatakan positif dan sebagian ada  dinyatakan sembuh pasca mendapatkan perawatan meskipun tidak sedikit yang berkahir dengan menghembus nafas terakhir. WHO sendiri sudah menetapkan wabah virus corona ini sebagai pandemi global.

Dikutip dari Covid19.go.id, (28 Maret 2020) dari 1.046 kasus tersebut, terdapat 87 kasus meninggal dan 46 pasien berhasil sembuh. Sehingga kini ada 913 orang yang dalam perawatan. Update virus corona di Indonesia per 28 Maret 2020 tercatat mencapai 1.046 kasus positif Covid-19 yang tersebar di 28 provinsi. Secara global, Indonesia berada di posisi 35 di bawah Arab Saudi dengan kasus 1.104 positif dan 3 kasus meninggal. Hingga hari ini, AS dan Italia melampaui kasus COvid-19 di Cina dengan 102.464 kasus di AS dan 86.498 di Italia. Tercatat kasus baru di AS mencapai 17.029 orang dan 5.909 kasus baru di Italia.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah dan mengatasi virus corona ini, mulai dari sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS), penggunaan masker bagi yang sakit, program rapid test, karantina individu (bagi yang memiliki gejala covid 19), hingga karantina kota dan negara (lockdown). Bahkan 70 negara  menutup akses penerbangannya untuk mencegah penyebaran virus yang penyebarannya sangat cepat itu. Meskipun begitu, jumlah kasus positif corona dan korban meninggal terus bertambah.

Di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang bisa diambil. Di antaranya, Allah menegur dan mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika virus corona muncul dan menyebar ke mana-mana banyak orang yang tidak berdaya. Mereka akhirnya terinfeksi dan banyak pula yang kehilangan nyawa. Manusia bukanlah makhluk yang super kuat tetapi Allah-lah Zat Yang Maha Kuat. Kita tidak berdaya ketika Allah menurunkan penyakit yang bernama covid 19. Maka berserah dirilah hanya kepada Allah semata diiringi ikhtiar dan doa serta introspeksi diri (taubat).

Menoleh sejarah Islam menunjukkan bahwa kita tak seharusnya menganggap remeh pandemi dan epidemi. Hal ini dicontohkan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, khususnya ketika wabah penyakit tha’un sedang terjadi sedang terjadi di Syam. Umar bin Khattab melakukan diskusi dengan para sahabat, sehingga akhirnya Amr bin Ash mengeluarkan gagasan mengenai karantina berbasis kota. Dengan seizin Allah SWT, karantina berbasis kota ini ampuh untuk meredam wabah penyakit tha’un.

Sikap Umar bin Khattab dan Amr bin Ash dalam menanggapi wabah penyakit menunjukkan bahwa umat Islam haruslah strategis dalam mengambil tindakan. Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan kita untuk berserah diri pada nasib mengenai sehat dan sakit, namun berikhtiar semampu kita dan berdo’a untuk memohon perlindungan Allah SWT dari pandemi. Hal ini selaras pula dengan sabda Rasulullah Saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah Saw bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Beranjak dari itu mari kita berikhtiar dan tidak lupa juga berdoa menghahadapi musibah Covid-19 ini. Tidak harus panik dan juga menganggap remeh. Patuhi apa yang diintruksikan umara dan ulama. Salah seorang ulama ternama Habib Ali melaaui media dakwahnya kini secara konsisten mengupas fenomena corona. Salah satu pesan Habib Ali agar masyarakat tidak panik dan terus berusaha melakukan pencegahan. Ia jugamenganjurkan kepada masyarakat untuk senantiasa berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar Allah menenangkan hati kita. Semoga.

Covid-19 telah memaksaku dan kita semua untuk :

• Menjadikan RUMAHKU syurgaku.
• Menjadikan RUMAHKU tempat ta’aruf (kenal mengenal) sejati, tafahum (saling mengerti) dan takaful (saling mendukung) antara aku dan istriku/suamiku dan antara sesama anak-anakku dan sesama anggota keluargaku.
• Menjadikan RUMAHKU pusat pembinaan iman, ibadah dan akhlak keluarga dan anak-anakku.
• Menjadikan RUMAHKU tempat mewujudkan mawaddah wa rohmah (kasih dan sayang) sejati di antara aku dengan istriku/suamiku dan antara anggota keluargaku.
• Menjadikan RUMAHKU tempat latihan dan praktek tolong menolong dalam kebaikan untuk meraih kemaslahatan dunia dan akhirat bagi anggota kelurgaku.
• Menjadikan RUMAHKU sebagai pusat latihan kreativitas hidup bagi anggota keluarga dan anak-anakku dalam berbagai lapangan kehidupan.
• Menjadikan RUMAHKU pusat latihan leadership/kepemimpinan, organisasi, dakwah, bisnis dan ekonmi anggota keluargaku.
• Menjadikan RUMAHKU pusat latihan manajemen waktu yang baik, dimulai dari disiplin shalat fardhu 5 waktu di awal waktu dengan berjamaah, disiplin tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, zikir pagi dan sore, makan, menjaga kesucian dengan berwudhu’ dan mandi dan lainnya sehingga anggota keluargaku menyadari betapa mahalnya waktu yang Allah berikan, sehingga hidup bisa sehat, efektif, efisien dan produktif.
• Menjadikan RUMAHKU pusat latihan gaya hidup bersih lahir dan batin sehingga anggota keluargaku menyadari mahalnya hidup sehat fisik dan psikis.
• Menjadikan RUMAHKU komunitas terkecil dan inti dalam transformasi iman, ilmu, amal, kreativitas dalam menuju terwujudnya kembali peradaban Islam di masa yang akan datang di atas muka bumi ini.
• Menjadikan RUMAHKU sebagai pusat membangun karakter pemenang bagi anak-anakku dan setiap anggota keluargaku dalam kehidupan dunia akhirat.
• Menjadikan RUMAHKU pusat penyadaran anggota keluargaku untk mencintai syurga dan takut kepada ancaman neraka Allah.

Oleh:Fathuddin Ja’far, MA.

(Hud Darussalam.id)

 

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *