INDAHNYA HIDUP BERJAMAAH

10 Robi’ul Awwal 1441 H/07 November 2019 M

Manusia ditakdirkan hidup sebagai makhluk sosial. Dengan status tersebut, tentu tak ada manusia yang mampu untuk menjalani kehidupan sendiri. Sendiri itu kaku, dingin, gelap, mencekam dan berat, baik dalam pengertian fisik maupun kejiwaan.

Kita mengulang sejenak beberapa kisah dari masa lalu untuk menyegarkan kembali ingatan kita bahwa apabila kita perhatikan, sejak Nabi Adam alaihis salam hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam, maka tak satupun kita temui dari mereka yang hidup sendiri, mereka senatiasa berjamaah, baik saat berdakwah terlebih lagi dalam jihad sekalipun. Mereka selalu bersama orang lain, keluarga dan sahabat dekatnya.

Ketika Nabi Adam alaihis salam diturunkan ke muka bumi, ia ditemani istrinya, Hawa. Begitu juga Nabi Ibrahim hidup ditemani dua putranya, Ismail dan Ishaq. Nabi Musa alaihis salam ketika diutus menjadi nabi, ia juga bersama saudaranya, Harun. Nabi Isa alaihis salam selalu didamping pengikut setianya yang dikenal dengan Hawariyun.

Begitu juga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam ketika keluar dari kesendiriannya (‘Uzlah) di Gua Hira’, ia segera mendatangi istri tercintanya, Khadijah radhiyallahu ‘anha. Maka wajar bila Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan bahwa berjamaah lebih baik dari pada sendiri.

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Berdua lebih baik daripada sendiri, bertiga lebih baik daripada berdua, berempat lebih baik daripada bertiga, maka hendaklah kalian tetap bersama berjamaah, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku kecuali atas sebuah petunjuk (hidayah).” (HR. Ahmad)

Dalam sebuah kisah diceritakan, suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dalam salah satu isi khutbahnya pernah berkata,“Siapa di antara kalian menginginkan kenikmatan surga, hendaklah ia senantiasa komitmen dengan Jamaah.”

Dalam kesempatan yang lain, Umar juga berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada Jamaah tanpa imamah, tiada imamah tanpa taat dan tiada taat tanpa baiat.”

Begitu pentingya hidup berjamaah sampai-sampai Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tetap memerintahkan kaum Muslimin untuk terus hidup berjamaah walau dalam keadaan bagaimanapun. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,“Siapa melihat ketidakberesan yang menjengkelkan pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar. Sesungguhnya siapa yang memisahkan diri dari Jamaah walau sejengkal pun kemudian dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliyah.” (HR Muslim)

Islam dan Jama’ah

Islam hadir ke dunia pada saat masyarakatnya hidup dalam keadaan gelap gulita, berpecah belah, tak tentu arah kehidupannya, roda berputar tanpa ada yang mengendalikan. Pada waktu bersamaan, akhlak dan budi pekerti merosot pada tingkat paling dasar, ini semua terjadi karena belum adanya rahmat dan cahaya dari Allah yakni dengan datangnya Islam yang diikat dalam bingkai Jamaah.

Islam dan jamaah adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan, karena kedua kata ini saling melengkapi satu sama lainnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintah manusia untuk senantiasa hidup berjamaah, tidak bergolong-golong, berpecah belah (berfirqah-firqah).

Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran ayat 103.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ…

Artinya:“Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah seraya berjamaah dan janganlah kalian berfirqah-firqah…” (Qs. Ali-Imran [3] :103)

Menurut Al-Hafidz Imam Al-Qurthuby ketika menafsirkan ayat ini, ia mengatakan, yang dimaksud dengan “jamian” pada ayat tersebut adalah bersama-sama, bersatu padu (berjama’ah). Hal ini menunjukan bahwa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam diutus untuk menyatukan umat manusia.

Islam sampai saat ini berkembang begitu pesat. Dengan berjamaah, Islam berdiri kokoh menaungi dunia dengan kedamaian. Akan tetapi ketika hidup berjamaah dengan satu kepemimpinan mulai ditinggalkan, Islam lambat laun terjun bebas kepada titik terendahnya dan pada akhirnya dilecehkan oleh orang-orang kafir, itulah salah sebab yang ditimbulkan bila Islam dan Jamaah dipisahkan.

Selain banyaknya wilayah yang terpisah-pisah, berbagai kelompok aliran juga berkembang. Ada aliran yang muncul dari kefrustrasian terhadap rusaknya masyarakat sehingga mengambil sikap menarik diri dari panggung duniawi. Ada aliran yang tumbuh dari sikap kecongkakan terhadap harga diri kelompok (Ashobiyyah), baik dikaitkan dengan keturunan maupun pemikiran keagamaan.

Jamaah, Solusi Setiap Masalah

Menghadapi berbagai keruwetan tersebut, sebagai seorang muslim, sikap yang harus diambil adalah tidak mencabut diri dari masyarakatnya, lalu menyepi dan menyendiri. Justru ia harus menggalang kekuatan dakwah dengan terus-menerus membangun kesadaran umat untuk kembali kepada sumber nilai Islam, Al-Qur’an dan Al-Hadis meskipun harus didapatkan dengan cara merintis dan merintih.

Dikarenakan Jamaah merupakan jalan keluar dalam menghadapi berbagai masalah dalam masyarakat, maka kewajiban hidup berjamaah tetap harus melekat pada setiap muslim yang hidup di wilayah non-Muslim sekalipun.

Begitulah kenyataan umat ini, masih banyak orang shalih di antara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun kering yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah yang bernama Jamaah. Barang kali banyak orang hebat di antara mereka, tapi kehebatan itu hilang diterpa masa, seperti sebuah daun yang jatuh dari pohonnya, ia terbang tanpa arah hingga terjerembab ke tanah. Atau seperti gundukan pasir yang sewaktu-waktu akan beterbangan saat badai datang menerpa. Banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu muslim, tapi semuanya berserakan, tak menyatu dalam satu Jamaah.

Jalan panjang kebangkitan umat seperti yang diprediksikan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam harus dimulai dari sekarang. Caranya, himpun dedaunan yang berhamburan di tanah itu, anyamlan jalinan cinta, satukan kerja dalam satu simpul harmoni. Dengan demikian, hal semacam ini bisa diharapkan menjadi sebuah pohon peradaban yang teduh untuk menaungi segala aspek dibawahnya.

Jamaah adalah salah satu cara paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan pada individu muslim. Dalam ikatan satu Jamaah, individu-individu yang memiliki kesamaan visi misi disatukan dalam sebuah simpul kesatuan. Meskipun banyak jamaah, tetap jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Ada sebuah ungkapan sederhana, “Memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul-simpulnya jauh lebih mudah, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.”

Memang, nyatanya itu bukan pekerjaan mudah. Ternyata, cinta tak gampang ditumbuhkan. Orang hebat tak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat lain. Mungkin benar ungkapan yang mengatakan, “Seorang prajurit bodoh, kadang-kadang lebih berguna daripada dua jenderal yang hebat. Wallahu’alam.(Hud/Jurnalis Darussalam Tv)

Read More

SURVIVE MENGHADAPI SERANGAN FITNAH SYAHWAT DI AKHIR ZAMAN

 

10Robi’ul Awwal 1441 H/07 November 2019 M

Manusia pada dasarnya telah Allah Sempurnakan dengan syahwat. Dengan adanya syahwat manusia dapat memperbanyak keturunan agar kemudian dapat mengemban beragam tugas yang ada di bumi. Namun, apabila kita lihat pada masa akhir zaman yang haq benar sedang berlangsung saat ini para musuh-musuh Islam telah menjadikan syahwat sebagai senjata mutakhir utama untuk mengancurkan generasi muslim yang kelak seharusnya menjadi pejuang-pejuang pembela Islam. Kita ketahui bahwa sejak dahulu musuh-musuh Islam memang telah melakukan berbagai pergerakan, penyerangan dan tipu muslihat untuk dapat menghancurkan Islam yang sejatinya adalah suatu kebenaran mutlak yang ada di muka bumi.

Namun apabila kita dapat mengendalikan diri kita dari gejolak syahwat ini terdapat reward yang sangat besar dari sisi Allah Subhanahuwata’ala yang dapat kita lihat pada potongan surat Al-Mu’minun berikut,

  1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
  2. (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya,
  3. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,
  4. dan orang yang menunaikan zakat,
  5. dan orang yang memelihara kemaluannya,
  6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela.
  7. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
  8. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,
  9. serta orang yang memelihara salatnya.
  10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi,
  11. (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Lalu kemudian bagaimana cara kita melindungi dan membentengi generasi muda Islam dari kuatnya gelombang propaganda syahwat yang tengah dihembuskan oleh musuh-musuh Islam ini. Berikut beberapa tips yang dapat digiatkan untuk dapat survive menghadapi serangan fitnah syahwat di akhir zaman ini.

  1. Menjauhkan Diri dan Mata dari pemancing Syahwat

Tampaknya tips yang pertama ini membutuhkan kesungguhan dan tenaga yang ekstra dikarenakan beragam rutinitas dan aktivitas manusia zaman ini bersanding manis dengan keberadaan hal-hal yang berbau syahwat. Terlebih lagi sebagian besar penduduk bumi modern memiliki perangkat canggih yang dapat memuat hal-hal berbau pornografi secara mudah, cepat, dan dimana saja.

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).

“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41).

Kita umat Islam seharusnyalah membentengi diri dengan ketaqwaan yakni patuh dan tunduk kepada Allah Subhanahuwata’ala atas perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Menjaga dan mengawasi betul setiap gerak gerik diri dan mata kita dan siap siaga melakukan rem apabila melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sejatinya adalah jebakan-jebakan syahwat yang dapat menjerumuskan kita kepada kerusakan jiwa dan moral.

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…. (an-Nisâ` [4] : 89).

  1. Menghindari Khalwat dan Ikhtilat

Apa itu Khalwat dan Ikhtilat ? Secara umum dan sederhana kita dapat artikan Khalwat sebagai berdua-dua’an dengan lawan jenis yang bukan mahrom dan Ikhtilat adalah berada dalam kumpulan orang ramai yang berdesak desakan dimana terdapat lawan jenis yang bukan mahrom disana.

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430).

“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu.’” (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975).

Dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, tartib: Abu Muahmmad Asyraf bin Abdul Maqshud, II/561, halaman 568, Maktabah Adh-waus Salaf, cetakan pertama, tahun 1419 H, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syeikh rahimahullah berkata mengomentari hadits riwayat Abu Dawud di dalam Sunan, dan Bukhari di dalam Al-Kuna, dengan sanad keduanya dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari, dari bapaknya Radhiyallahu ‘anhu : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melarang para wanita ikhthilath di jalan karena hal itu akan menyeret kepada fitnah (kemaksiatan; kesesatan), maka bagaimana dikatakan boleh ikhthilath pada selain itu.

“Bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di saat beliau keluar dari masjid, sedangkan orang-orang laki-laki ikhthilath (bercampur-baur) dengan para wanita di jalan, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita: “Minggirlah kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berhak berjalan di tengah jalan, kamu wajib berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita merapat di tembok/dinding sampai bajunya terkait di tembok/dinding karena rapatnya”.

  1. Menghindari Bersendirian

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.”

Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (Shahih. HR. Ibnu Majah).

Terutama untuk kaula muda sebaiknya menghindari bersendirian diri terlalu lama. Maksudnya adalah bersendirian di kamar atau di tempat yang berpotensi syeithan laknatullah membujuk manusia melakukan hal-hal tercela. Mengikuti kegiatan-kegiatan positif berkelompok, menghadiri majelis-majelis ilmu dan berkumpul dengan orang-orang sholeh adalah solusi untuk menghindari bersendirian diri yang apabila kita tidak memiliki iman yang cukup kuat dapat menghantarkan kita melakukan hal-hal negatif.

  1. Mewiridkan Dzikir Pagi dan Petang

Di zaman yang sudah carut marut antara haq dan batil ini sangat perlu memproteksi diri dengan selalu mengingat Allah Subhanahuwata’ala .

“Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Jadi pada intinya berdzikir sebanyak banyaknya bisa dilakukan kapanpun, terutama pada saat pagi dan petang.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Muslim) [HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737].

  1. Berdo’a Kepada Allah

Senjata seorang muslim adalah do’a. Do’a dapat menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena Allah lah yang memiliki segalanya, Ia berkuasa atas segala sesuatu. Tanpa terkecuali meminta kepada-Nya untuk melindungi kita dari kuatnya guncangan fitnah syahwat yang dijadikan sebagai propaganda oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan lini kehidupan yang tenang dan damai dalam Islam.

Dengan berdo’a berarti kita telah menunjukkan bukti ketergantungannya diri kita kepada Allah subhanahuwata’ala dan upaya selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Penuh yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan setiap do’a hamba-hamba-Nya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Bersabar

Beratnya perjuangan kita melawan musuh di negara dan zaman ini pada hakikatnya sama dengan perjuangan saudara-saudara kita di negri Syam yang berlumuran darah membela Agama, tanah, dan harga diri. Sebagian besar dari mereka telah mati di jalan Allah dalam melawan kedzaliman. Pertanyaannya apakah kita berada pada jalan perjuangan dan mati di jalan Allah? Atau kita malah terperdaya dengan geliat musuh yang sedang menjajah kita dengan pasti melalui isu budaya dan hak asasi manusia? Maka tetap berjama’ah melawan propaganda ini dan bersabar dalam menjalaninya adalah salah satu jalan.

…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Ali ‘Imrân [3] : 120).

Batas untuk bersabar itu adalah kematian, selagi ruh masih dikandung badan maka tak ada batas kesabaran. Terlebih lagi dalam menghadapi musuh musuh yang rela mengeluarkan uang dan tenaga sangat banyak hanya untuk menghancurkan dan merusak kehidupan manusia. Namun selaku orang Islam kita wajib beriman adanya pertolongan Allah dan pada akhirnya kemenangan adalah milik kaum muslimin.

“… dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan  melawan musuh. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah [2]:177).

  1. Berpuasa atau Menikah

Islam adalah agama yang mempertikan dan mengatur semua lini kehidupan manusia agar kehidupan tersebut dapat berjalan sesuai naluri dan hakikat manusia. Dan islam pun memberikan berbagai solusi dalam menyikapi ujian dan rintangan yang dihadapi agar dapat dengan mudah melaluinya.

“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menerangkan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam memerintahkan bagi orang yang telah bergejolak syahwatnya akan tetapi belum mampu untuk menikah maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai diri dari serbuan syahwat, kemudian juga karena puasa dapat membantu kita mengontrol ketidakstabilan seluruh anggota badan serta seluruh  energi negatif untuk dapat melakukan ketaatan.

Dari hadist diatas kita diberikan petunjuk bagaimana cara membentengi diri dari gejolak syahwat yang tidak pada tempatnya. Terutama para pemuda yang sangat rentan melakukan hal-hal yang mengandung unsur maksiat dengan hati dan kemaluan.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Tidaklah Allah menciptakan segala sesuatu tanpa hikmah dan tujuan. Maka seyogyanyalah kita menjalani segala bentuk ujian di dunia dalam rangka memenuhi keta’atan kepada Allah agar kelak kita dapat kembali ke kampung halaman abadi yang hakiki yakni surga dimana puncak kenikmatan yakni bertemu dan melihat wajah Allah Subhanahuwata’ala akan kita dapatkan.

Sumber dari:(Hud/ https://wahdah.or.id/survive-menghadapi-serangan-fitnah-syahwat-di-akhir-zaman/)

Read More

Karakter Umat Muhammad

Khutbah Jum’at_Ust. Abdullah Adam, Lc
Karakter Umat Muhammad
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا. أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على هذا النبي الكريم والرسول المبين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه، ومن سن بسنته، ومن دعا بدعوته، ومن جاهد في سبيل الله حق جهاده، ومن سار على دربه إلى يوم الدين.
قال الله تعالى في القرأن الكريم: مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
وقال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Berbahagialah kita menjadi umat nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena umat nabi Muhammad adalah umat terbaik dan mulia. Umat yang dijanjikan oleh Allah akan dimenangkan dan dijanjikan akan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.
Tetapi, tidak semua orang yang mengaku dirinya sebagai umat Muhammad mendapatkan kemuliaan-kemuliaan itu. Maka mengenal karakteristik atau ciri-ciri umat nabi Muhammad sangat penting, agar kita kita termasuk di dalamnya dan menjadi orang-orang yang Allah menangkan. Allah Ta’ala menjelaskan karakteristik umat nabi Muhammad dalam ayat 29 surah Al Fath.
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath: 29)
Karakter pertama, umat nabi Muhammad yakin bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa risalah islam untuk semua manusia.
Ketika risalah islam yang dibawa oleh nabi Muhammad telah selesai dan sempurna, maka tidak ada jalan untuk mendapatkan ridha Allah kecuali harus melalui risalah islam. Kita yakin bahwa Islam adalah agama yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satupun persoalan kecuali ada di dalam Islam. Dan kitapun harus yakin bahwa beliau adalah contoh dan teladan terbaik.
Karakter kedua, bersikap keras kepada orang-orang kafir
Bersikap keras bukan berarti tidak menghormati pemeluk agama lain, tetapi kita diajarkan untuk menghargai pemeluk agama lain selama mereka tidak mencaci maki, menghalang-halangi dakwah islam dan tidak memusuhi kita.
Kapan kita bersikap keras? Ketika mereka menghalang-halangi dakwah islam, memusuhi dan membenci umat islam. Kita juga tidak boleh kompromi terhadap kebenaran agama kita. Musuh-musuh Allah sejak awal islam telah menjadi lawan Islam dan kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَاناً وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nashrani”. Yang demikian itu, disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (Al Maidah: 82)
Diantara upaya mereka dalam menghentikan dakwah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah dengan menemui paman nabi Abu Thalib untuk membujuknya menghentikan dakwah islam dan menawarkan tawaran menggiurkan.
Di dalam riwayat oleh Baihaqi dikatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah datang menemuiku dan mereka berkata ini dan itu, maka kasihanilah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan urusan yang tidak mampu dipikul olehku dan olehmu. Maka jauhilah mereka dari perkataan yang dapat menyakiti mereka.”
Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawabnya dengan bersabda,
وَاللَّهِ يَا عَمِّ ، لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي ، وَالْقَمَرَ فِي شِمَالِي ، عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ ، حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ
“Demi Allah! Wahai paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”
Setelah mengucapkan itu, berlinanganlah air mata Rasulullah karena menangis. Kata-kata pamannya telah membuat Rasulullah mengira bahwa pamannya akan meninggalkannya, tidak memberi perlindungan lagi dalam menjalankan usaha dakwah, rela menyerahkannya, dan tidak mampu lagi untuk berdiri di pihaknya.
Suatu saat, ‘Utbah (Abul Walid) pergi menemui nabi dan berkata, “Hai Muhammad, jika kau mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan sehingga kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy. Jika kamu ingin menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan menikahkanmu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sudah selesaikah pembicaraanmu?” “Ya,” jawab Utbah. Rasulullah bersabda lagi, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…” setelah mengucapkan basmalah, Rasulullah membaca ayat 1-13 dari surah Fushshilat.
Allah Ta’ala menegaskan dalam ayat yang lain,
…… وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
…. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 217)
Karakter ketiga, saling berkasih sayang kepada sesama Muslim
Mereka saling membantu dan memback up dakwah, karena tidak mungkin kerja dakwah yang besar ini dipikul oleh satu kelompok. Inilah yang disebut dengan ukhuwah islamiyah. Nabi memberikan permisalan cinta yang mudah,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)
Kalau sekarang kita melihat umat islam saling berpecah belah dan saling menyalahkan dan tidak bersatu, bukan konsep islamnya yang salah. Tetapi umat islamnya yang belum berkomitmen menjadi umat nabi Muhammad yang sebenarnya. Karena umat Muhammad adalah yang berlemah lembut kepada orang-orang mukmin dan bersikap keras kepada orang-orang kafir.
Ukhuwah islamiyah adalah sebuah kekuatan paling unggul setelah aqidah. Kenapa? Karena kemenangan yang diperoleh pada masa salafusshalih lantaran mereka memiliki kekuatan ukhuwah islamiyah. Dan inilah yang ditakutkan oleh musuh-musuh islam. Karena apabila umat islam bersatu dalam aqidah yang sama, maka insya Allah Islam menjadi umat terkuat.
Sebab itu, Rasulullah selalu memberikan motivasi kepada kita agar selalu bersatu, saling mencintai dan berukhuwah. Bersatu bukan berarti harus seragamm harus selalu sesuai dengan visi dan misi hidup kita. Dua hal yang harus sama adalah akidah dan tujuan perjuangan kita, yaituIslam dan ridlo Allah Swt. Selebihnya adalah perbedaan yang akan menambah indah kehidupan kita bersama, keragaman yang akan memberi warna dalam setiap episode hidup kita. Bersaudara bukan berarti menolak perbedaan, menentang kemajemukan. Bukankah perbedaan itu sudah ada sejak generasi pertama agama ini. Lihatlah bagaimana para khulafaur rasyidin dengan lapang dada menerima perbedaan di antara mereka, tanpa ada rasa dendam, fitnah atau caci maki.
Di sekitar ‘Arsy ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, dari wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan para Nabi ataupun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya para sahabat, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah saling bersahabat karena Allah dan saling berkunjung karena Allah.” (HR. Tirmidzi)
Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Karakter keempat, senantiasa ruku’ dan sujud
Ruku’ dan sujud adalah dua gerakan yang paling menonjol dalam shalat. Shalat merupakan simbol ketundukan totalitas seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Maksudnya, umat nabi Muhammad adalah umat yang sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah Ta’ala. Sikap orang beriman, ketika diajak untuk tunduk kepada hukum Allah mereka hanya berkata “kami mendengar dan kami taat.”
Karakter kelima, mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya
Umat nabi Muhammad senantiasa berupaya keras mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Umat Muhammad tidak pernah diam, karena jika satu pekerjaan selesai, ia beralih kepada pekerjaan lainnya. Maka segala gerak-gerik, langkap, sikap, ucapan dan perbuatan umat Nabi Muhammad tidak pernah sia-sia karnea selalu ditujukan dalam rangka mencari ridha Allah. Dan ternyata, ridha Allah adalah diantara nikmat terbesar setelah nikmat Surga.
Dalam shahih Bukhari dan Muslim, Sesungguhnya Allah berfirman, berdialog dengan para penghuni Surga, Mereka dengan gembiranya menyambut panggilan Allah, “bahwasanya kebahagiaan, kebaikan, ada di tanganMu ya Allah.” Allah bertanya, “Apakah kamu sudah ridha, sudah puas?” Jawab mereka, “Yaa Rabb, bagaimana kami tidak ridha, sementara Engkau telah berikan kepada kami apa saja yang Engkau tidak berikan kepada makhluk-Mu yang lainnya.” Allah bertanya, “Maukah Aku berikan kalian yang lebih mulia dari itu semuanya?” Mereka berkata, “Ya Rabb, apakah ada lagi yang lebih utama dari apa yang telah kami nikmati ini?” Allah jawab, “Aku halalkan ridhaKu kepada kalian. Aku tidak akan Marah padamu selamanya.”
Karakter keenam, mempunyai tanda di wajah mereka
Setiap umat Nabi Muhammad yang benar, maka segala apa yang dikerjakannya akan memberikan pengaruh positif. Bukan hanya pada fisiknya, tetapi dalam keimanannya juga. Semakin bertambah imannya, maka semakin membaik hubungannya terhadap masyarakat dan Rabb-Nya. Ia menjadi manusia terbaik diantara manusia. Karena manusia paling baik adalah ketika orang lain merasakan manfaat dirinya. Ibadah yang mereka lakukan akan semakin meningkatkan dirinya menjadi orang bertakwa.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah: 21)
Mari kita bersama-sama introspeksi diri, apakah kita sudah termasuk umat Nabi Muhammad yang sebenarnya? Umat terbaik yang mendapatkan rahmat dan ridha-Nya?
Dengan kita menyadari tingkat diri kita, insya Allah kita akan menjadi umat nabi Muhammad yang sebenarnya dan akan mendapatkan janji-janji Allah Ta’ala.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Read More