RUMAH YANG TIDAK DIMASUKI SYAITHAN

Pembahasan kita pada kali ini adalah tentang rumah-rumah yang tidak dimasuki syaithan. Jika sebuah rumah dimasuki syaithan maka akan menjadi sebuah masalah hidup bahkan sumber masalah. Karena rumah merupakan tempat bernaung keseharian manusia. Syaithan akan menyebarkan jerat-jerat racunnya ke seluruh penghuni rumah sehingga rumah itu penuh dengan kemaksiatan dan kesesatan. Manakala jerat rayuannya berhasil mengenai sasaran, syaithan pun akan bersuka ria gembira.

Dan sudah merupakan janji Iblis kepada Allah Ta’ala bahwa dirinya akan menyesatkan mereka dari jalan Allah dengan menggodanya dari segala arah, baik depan, belakang, samping kanan, maupun kiri. Kisah iblis telah disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kitab-Nya,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ (الأعراف: 11) قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ{12} قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ{13} قَالَ أَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ{14} قَالَ إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِينَ{15} قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ{16} ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ{17}

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis, dia tidak termasuk mereka yang bersujud”. 12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13.  Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” 16.  Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. 17.  Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).  (Al A’raf: 11-17)

Apakah Perbedaan Antara Jin, Syaithan, Dan Iblis?

Dalam kitab Ahkamul Qur’an karangan Al Qurthubi Rahimahullahu dijelaskan perbedaan pendapat para ulama  mengenai asal-usul Jin;

Imam Hasan al-Bashri Rahimahullahu berpendapat: bahwa Jin adalah keturunan Iblis, seperti manusia keturunan Adam. Dari dua kelompok ini ada yang beriman dan ada yang kafir, keduanya juga berhak mendapatkan pahala dan siksaan dari Allah. Mereka yang beriman dari keduanya adalah kekasih Allah dan mereka yang kafir adalah Syaithan.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً (الكهف:50)

Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim”. (Al Kahfi: 50)

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berpendapat; Jin adalah keturunan Jann, mereka bukan syaithan, mereka bisa mati dan mereka ada yang beriman dan ada yang kafir. Sedangkan syaithan adalah anak Iblis, mereka tidak akan mati kecuali bersama-sama Iblis.

Dalam tafsir surat An-Nas, Qatadah Rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya dari jin dan manusia terdapat syaithan-syaithan”. Ini mirip dengan pendapat Hasan Bashri di atas. Dalam surah Al-An’am ayat 112, dikatakan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

“Dan demikianlah Aku jadikan untuk setiap nabi musuh dari syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (Al An’am: 112)

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Apakah kalian akan menjadikan mereka (jin) dan keturunanya sebagai kekasih selain Aku (Allah) padahal mereka adalah musuh kalian”. (Al-Kahfi: 55)

Dalam kitab “Ahkaamul-Marjan fi Ahkamil Jan” karangan Syibli (hal. 6) disebutkan bahwa jin mencakup malaikat dan mahluk lainnya yang kasat mata. Sedangkan syaithan adalah jin yang durhaka dan kafir, mereka adalah anak-anak Iblis.

Yang terpenting bagi umat manusia adalah meyakini bahwa Syaithan adalah musuh mereka dan selalu berusaha untuk menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan Allah. Syaithan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.

  1. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,

الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد

“Syaithan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang”. (‘Alamul Jinni was Syayathin)

Dinamakan syaithan, karena berasal dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena syaithan dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان)

Dalam surah Yasin ayat 60 disebutkan bahwa Allah Ta’ala melarang kita untuk menyembah syaithan,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Bukankah Aku (Allah) telah membuat perjanjian kepadamu hai bani Adam agar kalian tidak menyembah syaithan, mereka adalah musuh yang paling jelas”. (Yasin: 60)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً

“Sesungguhnya syaithan adalah musuh kalian maka jadikanlah mereka musuh”.. (Fathir: 6)

Dan banyak dalil-dalil yang mengingatkan kita agar hati-hati terhadap tipu daya dan rayuan syaithan ini.

Adakah Rumah Yang Terbebas Dari Gangguan Syaithan

Kembali kepada inti pembahasan tentang adakah rumah yang terbebas dari gangguan Syaithan dan tidak dapat dimasukinya? Rumah itu adalah rumah yang penghuninya menerapkan aturan Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan berakhlak mulia. Kita berharap rumah kita menjadi salah satu yang tidak bisa dimasuki Syaithan.

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang istri, ataupun sebagai seorang anak. Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotannya yang wah, namun karena semua merasa tentram ketika masuk dan berada di dalamnya, meskipun rumah tersebut kecil dan sederhana.

Seorang suami pulang ke rumah usai aktivitasnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah. Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya.

Seorang istri merasa betah berdiam dalam rumahnya. Karena memang seperti titah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum hawa:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Tetaplah kalian tinggal di rumah kalian”. (Al-Ahzab: 33)

Juga karena suasana dalam rumah turut mendukung timbulnya rasa betah tersebut. Anak-anak pun merasa senang dalam rumah mereka walaupun rumahnya kecil dan sederhana. Kerukunan dan kasih sayang senantiasa terjalin di antara anggotanya.

Gambaran seperti yang kita ungkapkan tentunya menjadi keinginan setiap insan. Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut? Diantara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para syaithan. Kenapa demikian? Karena syaithan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh”. (Fathir: 6)

Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya. Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya. Salah satu target utama syaithan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.

Iblis, gembong para syaithan, demikian bergembira bila anak buahnya berhasil memisahkan seorang istri dari suaminya. Sebagaimana kabar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirimkan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat diantara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang syaithan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu menerangkan bahwa iblis bermarkas di lautan, dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan suami dengan istrinya, karena kagum dengan apa yang dilakukan si anak buah dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Iblis pun merangkulnya. (Al-Minhaj, 17/154-155)

Kata Al-Imam Al-Qadhi Iyadh Rahimahullahu, hadits ini menunjukkan besarnya perkara firaq (perpisahan suami dengan istrinya) dan talak, serta besarnya kemadharatan dan fitnahnya. Selain itu, juga menunjukkan besarnya dosa orang yang berupaya memisahkan suami dari istrinya. Karena dengan berbuat demikian berarti memutuskan hubungan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan untuk disambung, menceraiberaikan rahmah dan mawaddah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan di dalamnya, serta merobohkan rumah yang dibangun dalam Islam. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, 8/349)

Iblis berikut bala tentaranya ini berambisi menghancurkan hubungan suami dengan istrinya. Sementara suami dan istri ini tentunya bernaung dalam sebuah rumah. Nah, tentunya syaithan tidak akan tenang bila tidak bisa masuk ke rumah tersebut. Bila syaithan telah berhasil mendiami sebuah rumah, niscaya ia akan menebarkan kerusakan di dalamnya, sehingga terjadilah perselisihan di antara anak-anak dan perpisahan antara suami dengan istrinya. Berubahlah mawaddah (kasih sayang) menjadi ‘adawah (permusuhan), rahmah menjadi adzab.

Menjaga lebih baik daripada mengobati. Namun terkadang kita tidak menyadari bahwa kondisi rumah kita selama ini rawan dijadikan sarang Syaithan, atau gangguan mereka sudah terlanjur datang dan mereka telah melakukan serangan, baik kepada diri kita maupun kepada anggota keluarga lainnya. Jika demikian keadaannya, lakukanlah tindakan pembersihan. Namun jangan sekali-kali menggunakan jasa dukun atau orang pinter untuk mengusir dan memburu Syaithan. Karena mereka sendiri hakikatnya adalah agen Syaithan di bumi ini.

Kalau dengan cara perdukunan, gangguan Syaithan di rumah hilang, maka itu adalah tipuan. Hilangnya gangguan hanya sementara, lalu akan muncul lagi. Atau gangguan yang ada selama ini hilang, tapi secara tidak sadar, ternyata kita sudah masuk pada gangguan Syaithan lainnya, yaitu memanfaatkan jasa perdukunan yang beraroma kesyirikan. Keluar dari sumur, lalu masuk ke jurang yang lebih dalam.

Karena pada dasarnya kita tidak bisa melihat wujud asli jin atau Syaithan, maka sangat mustahil bagi kita untuk menangkap jin pengganggu lalu membuangnya. Kalau kita melakukan hal itu, berarti kita telah melakukan tindakan yang konyol. Lebih baik bagi kita untuk memohon langsung kepada Dzat yang menguasai mereka, iblis dan teman-temannya.

Manusia tidak bisa melihat jin, namun jin bisa melihat manusia. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Diantara Senjata Dalam Menghadapi Syaithan

  • Membaca Bismillah dalam memulai setiap aktivitas (makan, minum, masuk rumah dan sebagainya)
  • Memperbanyak dzikir dan Istighfar kepada Allah Ta’ala
  • Memperbanyak kalimat dzikir لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
  • Jangan tidur sendirian dan jangan tidur di tempat yang tidak suci
  • Senantiasa melazimi dzikir pagi dan sore hari
  • Memelihara shalat berjama’ah di masjid
  • Tidak mendengarkan music dan nyanyian yang membangkitkan syahwat
  • Tidak memakai pakaian yang tidak sesuai syari’at

Pintu Terbesar Yang Dimasuki Syaithan

Cara syaithan untuk memasuki (menggoda) seorang hamba jumlahnya amatlah banyak. Pada kali ini kami akan menunjukkan pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang syaithan biasa memasukinya.

  1. Hasad dan Dengki

Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki syaithan yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya syaithan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, syaithan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.

  1. Marah

Ini juga adalah pintu terbesar yaitu. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara syaithan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah.

  1. Berlebihan Dalam Menghias-hiasi tempat tinggal

Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.

  1. Terlalu Kenyang

Kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat.

  1. Tamak Kepada Orang Lain

Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka dihadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.

  1. Tergesa-gesa

Sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari syaithan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Kubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shaghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Cinta Harta

Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.

  1. Fanatik

Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.

  1. Memikirkan Hakekat (Kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai akal

Yaitu mengajak orang lain untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.

  1. Berburuk Sangka

Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.

Dengan penjelasan di atas kita bisa memahami kenapa kita harus membentengi diri dan rumah kita dari syaithan yang terkutuk. Sebab, rumah merupakan syurga kita di dunia, betapapun jeleknya rumah kita, tetap saja ia adalah tempat yang senantiasa menjadi obat dan penawar keletihan kita, baik dari aktivitas jasmani maupun rohani kita, tapi bila rumah yang kita tinggali  juga menjadi tempat tinggal syetan bagaimana jadinya, semegah apapun rumah kita akan terasa sempit bahkan menyesakkan dada. Berikut syarat rumah tangga islami agar syetan tidak bersemayam dalam kehidupan rumah tangga kita.

Muhammad Asy-Syahim dalam kitabnya Buyuut Laa Tadhkhuluuhaa Asy-Syayaathiin (Rumah yang tidak dimasuki syaithan) memaparkan adanya rumah-rumah yang tidak dimasuki syaithan lantaran kondisi anggota keluarga teguh mentaati ajaran islam.

Muhammad Asy-Syahim menggolongkan rumah menjadi dua jenis rumah yang enggan dimasuki syaithan. yaitu:

Pertama, rumah yang terjaga aqidah dan ibadahnya, yaitu yang penghuninya selalu melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Menyucikan diri dan berdzikir (ingat kepada Allah)
  2. Selalu sujud dan Ruku’
  3. Orang yang benar dan menetapi janji
  4. Selalu memakan makanan yang halal
  5. Memelihara silaturrahim
  6. Berbakti kepada orang tua
  7. Istri yang shalihah dan suami yang shalih
  8. Menunaikan hak dan kewajiban

Kedua, penghuninya mempunyai kemuliaan akhlaq dan perilaku, diantaranya menjaga adab sebagai berikut:

  1. Dapat menjaga rahasia
  2. Tidak menghimpun hal-hal yang diharamkan
  3. Menolak segala bentuk dan perbuatan bid’ah
  4. Selalu menebar ucapan salam
  5. Bersikap tawadhu’ (memiliki kerendahan hati)
  6. Suka memaafkan kesalahan dan suka berbuat baik kepada sesame
  7. Menolak hal-hal yang sama, serta mencintai dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Itulah beberapa sifat yang harus dimiliki sebuah keluarga muslim agar rumahnya menjadi rumah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja jika sebuah rumah sudah dilingkupi oleh barakah Allah maka syetan pun tak mampu menyusup ke dalam rumah untuk menggoda anggota kelyarga itu dan rumah pun dapat menjadi surga yang diidam-idamkan setiap muslim.

Bersambung….

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ust. Abu Rabbani Abdullah

(Hud/DARUSSALAM.ID)

Read More

JANGAN REMEHKAN DOA

الحمد لله العزيز الحكيم، إياه نعبد وإياه نستعين، الهادي إلى صراط مستقيم. أشهد أن لا إله إلا الله المالك الحق المبين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الصادق الوعد الأمين. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين.

أيها المسلمون أو صيكم وإياي نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله تعالى فى القرأن الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} آل عمران: 102

Kaum muslimin yang dirahmati Allah..

Alhamdulillah pada siang kali ini kita berkumpul dalam sebuah masjid. Karena kita datang memenuhi panggilan Allah dan tengah berkumpul di rumah-Nya, mudah-mudahan yang memuliakan kita adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kemuliaan di dunia dan akhirat.

Inti daripada khutbah jum’at adalah seorang khatib berkewajiban menyampaikan ajakan takwa kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya. Dan Ia memesankan bahwa janganlah meninggalkan dunia ini melainkan dalam keadaan islam.

Mudah-mudahan pada waktu dipanggil oleh Allah, kita tetap dalam keadaan iman dan islam sehingga meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah.

Secara bahasa, takwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai takwa. Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya. [Tafsir Ibn Katsir]

Umumnya, para ulama mendefinisikan taqwa sebagai berikut: “Menjaga diri dari  perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa besar, serta berperilaku  dengan adab-adab syariah.” Singkatnya, “Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji.” Atau pengertian yang sudah begitu populer,  taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Kata takwa sudah amat akrab di telinga kita. Tiap khutbah Jumat sang khatib senantiasa menyerukan pesan takwa. Mudah-mudahan dengan seruan takwa tersebut kita dijadikan sebagai orang-orang Muttaqin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan memang, jika ingin memperoleh kemuliaan di dunia maupun di akhirat, maka tidak bisa terlepas dari sikap Takwa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

…. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ …. (الحجرات: 13)

“Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa”. (Al Hujurat: 13) 

Jika mengharapkan rahmat dan barakah Allah dicurahkan dari langit dan dikeluarkan dari bumi, hidup tenang dan tentram, menjadi negara yang disebut alquran sebagai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Gafuur”, kuncinya juga takwa.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (سبأ: 15)

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”. (Saba’: 15)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ (الأعراف: 96)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al A’raf: 96)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari Muslim dikisahkan sebuah peristiwa yang terjadi pada zaman Bani Israil, jauh sebelum diutusnya Rasulullah. Beliau mengisahkannya kepada kita berdasarkan wahyu dari Allah Ta’ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

بَيْنَمَا ثَلاَثَةُ نَفَرٍ يَتَمَشَّوْنَ أَخَذَهُمُ الْمَطَرُ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فِي جَبَلٍ فَانْحَطَّتْ عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَانْطَبَقَتْ عَلَيْهِمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: انْظُرُوا أَعْمَالاً عَمِلْتُمُوهَا صَالِحَةً لِلهِ فَادْعُوا اللهَ تَعَالَى بِهَا، لَعَلَّ اللهَ يَفْرُجُهَا عَنْكُمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَامْرَأَتِي وَلِي صِبْيَةٌ صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ حَلَبْتُ فَبَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ بَنِيَّ، وَأَنَّهُ نَأَى بِي ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَا فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ أَحْلُبُ فَجِئْتُ بِالْحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ رُءُوسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِيَ الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا، وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ، فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ. فَفَرَجَ اللهُ مِنْهَا فُرْجَةً فَرَأَوْا مِنْهَا السَّمَاءَ، وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمٍّ أَحْبَبْتُهَا كَأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ وَطَلَبْتُ إِلَيْهَا نَفْسَهَا فَأَبَتْ حَتَّى آتِيَهَا بِمِائَةِ دِينَارٍ فَتَعِبْتُ حَتَّى جَمَعْتُ مِائَةَ دِينَارٍ فَجِئْتُهَا بِهَا فَلَمَّا وَقَعْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا قَالَتْ: يَا عَبْدَ اللهِ، اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفْتَحِ الْخَاتَمَ إِلاَ بِحَقِّهِ. فَقُمْتُ عَنْهَا، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا فُرْجَةً. فَفَرَجَ لَهُمْ، وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنِّي كُنْتُ اسْتَأْجَرْتُ أَجِيرًا بِفَرَقِ أَرُزٍّ فَلَمَّا قَضَى عَمَلَهُ قَالَ: أَعْطِنِي حَقِّي فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ فَرَقَهُ فَرَغِبَ عَنْهُ، فَلَمْ أَزَلْ أَزْرَعُهُ حَتَّى جَمَعْتُ مِنْهُ بَقَرًا وَرِعَاءَهَا، فَجَاءَنِي فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَظْلِمْنِي حَقِّي. قُلْتُ: اذْهَبْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ وَرِعَائِهَا فَخُذْهَا. فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ: إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ، خُذْ ذَلِكَ الْبَقَرَ وَرِعَاءَهَا. فَأَخَذَهُ فَذَهَبَ بِهِ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مَا بَقِيَ. فَفَرَجَ اللهُ مَا بَقِيَ

Ketika ada tiga orang sedang berjalan, mereka ditimpa oleh hujan. Lalu mereka pun berlindung ke dalam sebuah gua di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung itu lalu menutupi mulut gua mereka. Lalu sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Perhatikan amalan shalih yang pernah kamu kerjakan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengan amalan itu. Mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu dari kalian.”

Lalu berkatalah salah seorang dari mereka: “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua ibu bapak yang sudah tua renta, seorang istri, dan anak-anak yang masih kecil, di mana aku menggembalakan ternak untuk mereka. Kalau aku membawa ternak itu pulang ke kandangnya, aku perahkan susu dan aku mulai dengan kedua ibu bapakku, lantas aku beri minum mereka sebelum anak-anakku. Suatu hari, ternak itu membawaku jauh mencari tempat gembalaan. Akhirnya aku tidak pulang kecuali setelah sore, dan aku dapati ibu bapakku telah tertidur. Aku pun memerah susu sebagaimana biasa, lalu aku datang membawa susu tersebut dan berdiri di dekat kepala mereka, dalam keadaan tidak suka membangunkan mereka dari tidur. Aku pun tidak suka memberi minum anak-anakku sebelum mereka (kedua orangtuanya, red.) meminumnya. Anak-anakku sendiri menangis di bawah kakiku meminta minum karena lapar. Seperti itulah keadaanku dan mereka, hingga terbit fajar. Maka kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukakanlah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langit.”

Lalu Allah bukakan satu celah hingga mereka pun melihat langit.

Yang kedua berkata: “Sesungguhnya aku punya sepupu wanita yang aku cintai, sebagaimana layaknya cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Aku minta dirinya (melayaniku), tapi dia menolak sampai aku datang kepadanya (menawarkan) seratus dinar. Aku pun semakin payah, akhirnya aku kumpulkan seratus dinar, lalu menyerahkannya kepada gadis itu. Setelah aku berada di antara kedua kakinya, dia berkata: ‘Wahai hamba Allah. Bertakwalah kepada Allah. Jangan engkau buka tutup (kiasan untuk keperawanannya) kecuali dengan haknya.’ Maka aku pun berdiri meninggalkannya. Kalau Engkau tahu, aku melakukannya adalah karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami satu celah dari batu ini.”

Maka Allah pun membuka satu celah untuk mereka.

Laki-laki ketiga berkata: “Ya Allah, sungguh, aku pernah mengambil sewa seorang buruh, dengan upah satu faraq beras. Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, dia berkata: ‘Berikan hakku.’ Lalu aku serahkan kepadanya beras tersebut, tapi dia tidak menyukainya. Akhirnya aku pun tetap menanamnya hingga aku kumpulkan dari hasil beras itu seekor sapi dan penggembalanya. Kemudian dia datang kepadaku dan berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah, dan jangan zalimi aku dalam urusan hakku.’

Aku pun berkata: ‘Pergilah, ambil sapi dan penggembalanya.’ Dia berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan jangan mempermainkan saya.’ Aku pun berkata: ‘Ambillah sapi dan penggembalanya itu.’ Akhirnya dia pun membawa sapi dan penggembalanya lalu pergi. Kalau Engkau tahu bahwa aku melakukannya karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami apa yang tersisa.”

Maka Allah pun membukakan untuk mereka sisa celah yang menutupi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan Menganggap Remeh Doa

Doa merupakan suatu ibadah dan salah satu bentuk taqarrub yang paling afdhal yang harus dilakukan oleh seorang Mukmin terhadap Rabb-Nya. Ia juga mengandung makna perlindungan seorang hamba kepada Rabbnya dan bagaimana dia merasakan betapa faqir, hina dina serta lemahnya kekuatan yang ada pada dirinya.

Doa juga merupakan senjata orang beriman. Namun banyak orang berdoa hanya saat dalam keadaan sempit dan terjepit. Sebaliknya ketika senang dan lapang dirinya lupa kepada Allah. Mengaji dianggap sebuah kegiatan yang hampir tidak ada manfaatnya, dirinya tertumpu pada kekuatan, kekayaan dan sebagainya. Tetapi begitu diberikan ujian berupa sakit hingga menginap di rumah sakit. Hidungnya terpasang oksigen, kanan kiri terpasang cairan pengganti yang dibutuhkan tubuhny, dokterpun mengatakan sudah berusaha maksimal, tapi Allah lah yang menentukan. Ketika kita menjenguknya dirinya pun berkata, “tolong doakan saya”. Padahal selama ini dirinya lupa kepada Pencipta-Nya dan lupa kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam hal ini, ketiga orang tersebut berlindung kepada Allah Ta’ala dan memohon agar Dia Ta’ala menyelamatkan mereka dari kondisi yang tengah mereka alami (terkurung dalam gua) melalui doa dan tawassul mereka kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Rabbmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Ghâfir: 60)

Dan firmanNya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Al-Baqarah: 186)   

Mengapa harus berdoa?? Karena harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas izin Allah. Perjalanan hidup ini masih panjang sedangkan Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sebagainya.

  • Berbakti Kepada Kedua Orangtua

Hadits diatas juga menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua (birr al-Wâlidain), patuh, melakukan kewajiban terhadap hak-hak keduanya dan mengabdikan diri serta menanggung segala kesulitan dan derita demi keduanya. Diantaranya hak-hak keduanya adalah:

melakukan perintah keduanya selama bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, melayani, membantu dalam bentuk fisik dan materil, berbicara dengan ucapan yang lembut, tidak durhaka serta selalu berdoa untuk keduanya.

Memperbanyak doa untuk keduanya, bersedekah jariyah atas nama keduanya, melaksanakan wasiat, menyambung rahim serta memuliakan rekan-rekan keduanya. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’: 23-24)

  • Meninggalkan Maksiat Karena Allah

Terlihat dari doa orang kedua dari tiga orang yang terkurung dalam gua tersebut. Dirinya bertawassul kepada Allah melalui perbuatannya yang dianggap paling afdhal dan ikhlas dilakukannya yaitu meninggalkan zina karena Allah.

“Sesungguhnya aku punya sepupu wanita yang aku cintai, sebagaimana layaknya cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Aku minta dirinya (melayaniku), tapi dia menolak sampai aku datang kepadanya (menawarkan) seratus dinar. Aku pun semakin payah, akhirnya aku kumpulkan seratus dinar, lalu menyerahkannya kepada gadis itu. Setelah aku berada di antara kedua kakinya, dia berkata: ‘Wahai hamba Allah. Bertakwalah kepada Allah. Jangan engkau buka tutup (kiasan untuk keperawanannya) kecuali dengan haknya.’ Maka aku pun berdiri meninggalkannya. Kalau Engkau tahu, aku melakukannya adalah karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami satu celah dari batu ini.”

Karena sikapnya yang dapat menjaga dirinya tersebut, dia akhirnya mendapatkan balasan yang baik di dunia, yaitu dengan merenggang dan terbukanya rongga gua dari batu besar yang menutupnya. Sungguh, apa yang berasal dari sisi Allah adalah lebih baik dan abadi.

  • Memberikan Hak Pekerja

Bagi setiap majikan hendaklah ia tidak mengakhirkan gaji bawahannya dari waktu yang telah dijanjikan, saat pekerjaan itu sempurna atau di akhir pekerjaan sesuai kesepakatan. Jika disepakati, gaji diberikan setiap bulannya, maka wajib diberikan di akhir bulan. Jika diakhirkan tanpa ada udzur, maka termasuk bertindak zhalim.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih)

Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.

Pemberian upah ini tetap harus diberikan kepada yang berhak. Hal inilah yang dicontohkan oleh doa orang ketiga meskipun telah berlangsung beberapa lama. Doa orang ketiga tersebut yaitu, “Ya Allah, sungguh, aku pernah mengambil sewa seorang buruh, dengan upah satu faraq beras. Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, dia berkata: ‘Berikan hakku.’ Lalu aku serahkan kepadanya beras tersebut, tapi dia tidak menyukainya. Akhirnya aku pun tetap menanamnya hingga aku kumpulkan dari hasil beras itu seekor sapi dan penggembalanya. Kemudian dia datang kepadaku (setelah beberapa tahun) dan berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah, dan jangan zalimi aku dalam urusan hakku.’

Aku pun berkata: ‘Pergilah, ambil sapi dan penggembalanya.’ Dia berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan jangan mempermainkan saya.’ Aku pun berkata: ‘Ambillah sapi dan penggembalanya itu.’ Akhirnya dia pun membawa sapi dan penggembalanya lalu pergi. Kalau Engkau tahu bahwa aku melakukannya karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami apa yang tersisa.”

Maka Allah pun membukakan untuk mereka sisa celah yang menutupi.

Demikianlah diantara pelajaran dan hikmah yang kita perolah dari kisah yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mari kita jalani kehidupan ini dengan ikhlas dan mengharap keridhaan Allah. Oleh karena itu, milikilah amal unggulan yang bisa dijadikan sebagai wasilah untuk bermunajat kepada Allah untuk meminta dilepaskan dari kesulitan yang dihadapi ketika berada dalam situasi seperti kisah di atas. Mudah-mudahan kisah ini memberikan manfaat dan barakah bagi kita semua.

بارك الله لي ولكم في القرآن العزيزونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم

Oleh: Ust. Drs. H. Aseph Aonuddin, M.Si

(Hud/Darussalam.id)

Read More

MENGETAHUI PERKARA-PERKARA JAHILIYYAH

Di dalam menjalankan agama Allah tidak hanya dituntut mengetahui perkara ketaatan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, namun juga harus mengetahui keburukan-keburukan yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab keburukan tersebut dapat merusak agama.

Kerusakan agama tersebut diantaranya disebabkan oleh perkara Jahiliyyah. Jahiliyyah banyak diartikan orang sebagai kebodohan, arti ini terbatas dan terlalu sederhana. Memang, secara etimologis kata “Jahiliyah” berasal dari kata “Jahila” yang bermakma “Bodoh, Tidak Mengetahui atau tidak mempunyai pengetahuan”, lawan kata dari “Alima” yang bermakna “Mengetahui”. Dan dari pengertian inilah kaum orientalis menyempitkan maknanya hanya dalam konteks bodoh secara intelektual atau juga bisa dengan istilah primitif.

Namun lebih dari itu, Jahiliyyah sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan adalah perkara-perkara yang menghancurkan keadaan umat (baik Yahudi, Nashrani dan sebagainya) sebelum diutusnya para Nabi.

Banyak orang mengerti ketaatan, tapi mereka belum tentu mengerti perkara jahiliyyah itu apa? Padahal Allah Ta’ala telah menjelaskannya di dalam alquran. Tapi sedikit dari kaum muslimin yang memahaminya. Diantaranya disebutkan dalam surah Al Ahzab ayat 33.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً (الأحزاب: 33)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab: 33)

Dalam surah Al Fath ayat 26 Allah Ta’ala juga menyebutkannya,

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً (الفتح: 26)

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Al Fath: 26)

Urgensi Mengerti Perkara Jahiliyyah

Sebesar apa kebutuhan kita untuk mengerti perkara jahiliyyah? Sangat besar. Sebab, barangsiapa yang tidak mengerti perkara jahiliyyah bisa jadi ia menjalankan keislaman tercampur dengan perkara jahiliyyah yang dapat mendatangkan murka Allah Ta’ala. Mari kita memegang perkataan Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu terkait jahiliyyah;

“Hampir-hampir pintalan agama Islam ini akan lepas satu persatu

apabila tumbuh pada umat ini orang yang tidak mengetahui perkara-perkara jahiliyah”.

 

Setidaknya inilah alasan yang mendasari kita mengapa harus mengetahui perkara yang tercela, dalam hal ini adalah tradisi jahiliyah, bukan untuk kita amalkan akan tetapi untuk kita hindari dan jauhi, supaya kita tidak terjerumus dan melakukannya sehingga tanpa sadar kita telah menodai agama Islam dengan melepas pintalan tersebut sebagaimana perkataan Amirul Mu’minin Umar bin al-Khaththab Radhiallahu Anhu di atas.

 

Banyak orang tidak mengetahui perkara jahiliyyah. Sebab terkait dengan kebencian yang membutuhkan energy lebih besar daripada energy mencintai. Oleh itu, banyak orang mampu mencintai tapi tidak mampu membenci. Sebab, tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak mencintai dan membenci apa-apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah Azza Wajalla. Khususnya membenci perkara-perkara jahiliyyah yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Sahabat Hudzaifah bin al-Yaman Radhiallahu Anhu beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang kejelekan. Padahal para sahabat berlomba-lomba untuk bertanya tentang kebaikan yang kemudian untuk diamalkan, beliau mengatakan alasannya seraya berkata: “Dahulu manusia bertanya tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang kejelekkan karena aku takut kejelekan tersebut akan menimpaku”.

 

Mengetahui perkara jahiliyyah merupakan pokok perkara penting. Sebab, sempurnanya iman kita kepada Allah bukan hanya sekedar mengetahui ketaatan, tapi juga ketika kita mengerti bagaimana menjauhkan diri kita dari perkara-perkara jahiliyyah yang merusak kehidupan agama kita.

Allah Ta’ala berfirman,

…. فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (النور: 63)

….Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An Nur: 63)

Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir dan batin karena niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Imam Ahmad Rahimahullahu berkata, “Tahukah engkau apakah fitnah itu? Fitnah itu adalah kesyirikan, barangkali apabila ia menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam maka akan menimpa dia sesuatu, berupa kecondongan kepada kesesatan yang menyebabkan ia binasa”.

Salah satu contohnya adalah ketika kaum muslimin dengan pasukan minim dan persiapan seadanya, ternyata meraih kemenangan di Perang Badar. Di Perang Hunain, pasukan kaum muslimin berjumlah banyak. Secara logika, pasti menang, apa lagi dengan label sebagai “pejuang al haq”. Namun ternyata di Perang Hunain, pasukan kaum muslimin hampir mengalami kekalahan. Strategi apa yang salah? Ikhtiar apa yang kurang? Ternyata kekalahan itu terjadi bukan karena kurangnya ikhtiar, bukan karena kurangnya perlengkapan senjata, tetapi karena ada maksiat yang dibawa saat perang, yang tersembunyi di dalam dada sebagian besar tentara kaum muslimin. Kemaksiatan yang halus, yang hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya. Yaitu congkak dengan perkataan: ”Kali ini kita tidak mungkin bisa dikalahkan.” Padahal justru hal itu mendatangkan kesulitan tersendiri bagi pasukan kaum muslimin”. Sebab, keunggulan jumlah bukanlah satu-satunya faktor penentu kemenangan. Namun karena karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

…… وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً …..

…..dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun….” (QS. At Taubah: 25-26). Tentara muslim yang banyak jumlahnya itupun lari ke belakang dengan bercerai berai, hingga seseorang tidak lagi memperdulikan temannya.

Tapi akhirnya, kaum Muslimin dapat melakukan serangan balasan. Dan dalam waktu yang sangat singkat, mereka berhasil memukul mundur musuh. Untuk memberi semangat kepada kaum Muslimin, Nabi mengatakan, “Saya Nabi Allah dan tidak pernah berdusta, dan Allah telah menjanjikan kemenangan kepada saya”.

Kemenangan tidaklah diturunkan Allah dengan begitu saja, tetapi melalui tarbiyah dari Allah Ta’ala hingga orang-orang beriman siap menerima kemenangan, di saat yang tepat. Jangan pernah menyalahkan musuh, tetapi salahkan diri sendiri mengapa bisa memperoleh kekalahan. Apa yang salah dalam taqarrub kita kepada Allah Ta’ala?

Apa Saja Perkara-Perkara Jahiliyyah Itu?

  1. Syirik Dan Kufur Kepada Allah

Syirik maknanya menyekutukan sesuatu bersama Allah di dalam kekhususanNya dalam KeuluhiyahanNya, KerububiyahanNya serta Nama dan sifat-sifatNya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْل الْمُظْلِم يُصْبِح الرَّجُل مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِح كَافِرًا يَبِيع دِينه بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا   {رواه مسلم}

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal kebajikan sebelum datangnya fitnah-fitnah, seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Ada seseorang yang pagi harinya dalam keadaan beriman dan sore harinya telah kafir, atau pada sore harinya mukmin dan pagi harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim)

Bagi orang yang menunda-nunda kebaikan, niscaya ia akan mendapatkan fitnah-fitnah, seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Ketika seseorang berjalan di malam yang gelap, maka ia tidak mengetahui apa yang ada di depannya, belakangnya, kanan kirinya, apakah ada jurang, batu, duri, hewan buas dan sebagainya. Artinya apa? Akan datang suatu fitnah dimana seseorang tidak lagi mengetahui mana yang haram dan halal, mana yang haq dan batil. Bahkan nabi merincikan lagi,  bahwa ada seseorang yang pagi harinya dalam keadaan beriman dan sore harinya telah kafir, atau pada sore harinya mukmin dan pagi harinya dalam keadaan kafir. Bahkan seseorang menjual agamanya dengan kenikmatan dunia. Menjual akidahnya dengan dunia.

Batasan antara syirik dan iman begitu tipis, hingga nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengibaratkannya dalam sebuah hadits,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، عَنْ سَلْمَانَ ، قَالَ : ” دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ ، وَدَخَلَ رَجُلٌ النَّارَ فِي ذُبَابٍ ، قَالُوا : وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ : مَرَّ رَجُلانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ ، لا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا ، فَقَالُوا لأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ ، قَالَ : لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ ، قَالُوا : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا ، فَقَرَّبَ ذُبَابًا ، قَالَ : فَخَلَّوْا سَبِيلَهُ ، قَالَ : فَدَخَلَ النَّارَ ، وَقَالُوا لِلآخَرِ : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا ، قَالَ : مَا كُنْتُ لأُقَرِّبَ لأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللَّهِ ، قَالَ : فَضَرَبُوا عُنُقَهُ ، قَالَ : فَدَخَلَ الْجَنَّةَ ”

Dari Thariq bin Syihab, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga karena seekor lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Maka dia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Maka mereka mengatakan, “berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Maka dia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan mereka juga mengatakan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Dia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad, shahih mauquuf dari Salman)

Hikmah yang terkandung dari hadits ini ialah:

  1. Peringatan akan bahaya syirik walaupun dalam masalah kecil. Dan syirik itu memastikan pelakunya masuk ke neraka. Sebagaimana hadits di atas.
  2. Menumbuhkan sikap wara’ terhadap segala hal yang memungkinkan untuk terjatuh dalam perbuatan syirik merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim betul-betul tunduk dan patuh kepada Allah dan rasul-Nya.

Karena terkadang seseorang terjatuh ke dalam kesyirikan lantaran ia tidak mengetahui bahwa apa yang telah ia perbuat merupakan perbuatan kesyirikan yang memastikan ia masuk ke dalam neraka. Diriwayatkan dari sahabat Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah saw telah bersabda :

إِِنَّ الْحَلاَ لَ بَيِّنٌ وَ إِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَ بَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَا تٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌمِنَ الْنَّا سِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبْهَاتَ فَقَدْ  اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبْهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa menghindari perkara-perkara yang syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara tersebut, maka ia telah terjerumus dalam perkara yang haram…..”

  1. Meremehkan segala hal yang telah ditetapkan di dalam Al Quran dan sunnah, merupakan suatu perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Lebih-lebih hal itu masuk dalam hal yang bersifat ushuli.

Dan akibat yang didapatkan dari sikap seperti ini ialah terjerumusnya seseorang ke dalam neraka Allah Azza wa Jalla. Hal ini dapat kita lihat, bahwa orang yang disebutkan dalam hadits di atas sebelumnya adalah seorang muslim yang meremehkan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Jika seandainya ia bukan seorang muslim, tentunya Rasulullah saw tidak akan bersabda, “Masuk neraka karena seekor lalat…”.

Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata : “Sesungguhnya (suatu saat nanti) kalian akan beramal dengan amalan yang kalian anggap lebih kecil (remeh) dari pada sehelai rambut. Dan kami menganggap pada masa Rasulullah saw, hal itu merupakan bagian dari hal-hal yang dapat membinasakan seseorang”

  1. Orang tersebut masuk neraka dengan sebab ia melakukannya karena ingin bebas dari kejahatan pemuja berhala. Dan ini ia lakukan tanpa adanya pengingkaran dalam hatinya. Berbeda dengan sahabat Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh kaum kafir Quraisy untuk mengatakan bahwa Latta, Uzza dan Manat adalah tuhan yang patut disembah. Walaupun ia terpaksa mengatakannya, akan tetapi ia tetap mengingkari dalam hatinya. Sebagaimana firman Allah:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan Allah Azza wa Jalla, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar”

  1. Perkataan, “aku tidak patut untuk mempersembahkan kurban selain kepada Allah”, ini menerangkan keutamaan tauhid, keikhlasan dan ketabahan hatinya dalam memurnikan keimanannya pada Allah Azza wa Jalla, serta keuletannya dalam memegang agama. Yaitu ketabahannya dalam menghadapi eksekusi / hukuman mati dan penolakannya dalam memenuhi permintaan mereka. Karena tanpa adanya keikhlasan hati dalam memurnikan ketauhidan dan keimanannya pada Allah Azza wa Jalla niscaya ia tidak akan mampu seperti firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حَنَفَاءُ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus …..

Imam Ath Thabari Rahimahullah mengatakan bahwa kalimat, “mukhlisina lahud diin”, mempunyai  dua makna, yaitu ketaatan sepenuhnya kepada-Nya dan tidak mencampurinya dengan suatu kesyirikan.

Obatnya adalah aqidah yang shahihah. Dan beribadah kepada Allah antara takut dan harap. Inilah yang disebut dengan takwa. Ibnu Rajab menyatakan bahwa takwa adalah takut. Dan takut tidak dapat diperoleh melainkan dengan mengumpulkan tiga perkara secara berurutan. Yaitu; takut berbuat syirik, takut berbuat bid’ah dan takut berbuat maksiat.

Diantara Macam-Macam Syirik

Pertama, Syirik Dalam Masalah Niat, Maksud Dan Tujuan

Rasulullah telah mengajarkan doa agar terhindar dari syirik,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan kami memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dari Abu Musa al Asy’ari. Dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Targhib wa al Tarhib)

Kedua, Syirik Ketaatan

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam. Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Dan tafsir ayat ini yang maknanya sudah jelas yaitu ketaatan kepada Ulama dan ahli Ibadah dalam perkara maksiat, dan bukanlah yang dimaksud mereka berdoa (beribadah) kepada mereka. Sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wassallam menafsirkan ayat ini kepada Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassallam , beliau Radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah kami beribadah kepada mereka” maka Rasulullah shalallahu alaihi wassallam mengatakan kepadanya :“Yang dimaksud dengan beribadah kepada mereka yaitu menaati mereka dalam kemaksiatan”. (Hadits dari Adi bin Hatim Radiyallahu’ anhu. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/378) Tirmidzi (2954) Ibnu Hibban (7206). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam  “Shohih Sunan Tirmidzi” (31/56)).

Dan pada kenyataannya hal ini sering kia temui di sekitar kita, suatu perkara yang sudah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang keharaman atau kehalalannya dengan enteng bisa dibantah seseorang dengan kalimat “tapi kata kyai saya gak haram kok” atau dengan kata-kata yang lebih halus “maknanya bukan seperti itu, kata ustadz saya …..”  Dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dikalahkan dengan ucapan ustadz, kyai, guru atau syaikhnya.

Ketiga, Syirik dalam doa

Sebelumnya harus diketahui, doa terbagi dua. Yaitu:

Pertama: Doa Ibadah, seperti Sholat, Puasa, Zakat, Haji dan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah-ibadah ini teranggap sebagai doa, dikarenakan di dalamnya terkandung doa, yaitu agar dimasukkan surga dan dijauhkan dari Neraka dengan sebab mengerjakan amalan tersebut. Dan doa Ibadah ini tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata, apabila ditujukan kepada selainnya maka pelakunya telah terjatuh dalam perbuatan syirik akbar. Seperti perbuatan seseorang yang bersujud kepada selain Allah atau berpuasa dengan tidak mengharap pahala Allah tapi dengan niat memperoleh ilmu kekebalan dsb.

Kedua: Doa Mas’alah, seperti meminta Rezeki, meminta keturunan atau meminta dilepaskan dari suatu kesulitan.

Doa masalah boleh ditujukan kepada selain Allah dengan dipenuhinya seluruh dari 3 syarat tanpa ada satupun yang tidak terpenuhi, yaitu:

  1. Hidup, yakni maknanya tidak boleh meminta tolong kepada orang yang sudah mati atau meminta tolong kepada batu, pohon dan semisalnya
  2. Hadir, Yakni maknanya yang dimintai tolong dapat berhubungan langsung dengan yang meminta tolong baik secara bertatap muka ataupun melalui alat perantara seperti Telepon, surat dan sebagainya. Sehingga tidak diperbolehkan bagi seseorang meminta tolong kepada orang lain yang terpisah dalam jarak yang jauh tanpa adanya perantara yang zhohir. Seperti memanggil-manggil sang guru ketika terancam bahaya dalam keadaan sang guru terpisah jarak yang sangat jauh, dan dia berkeyakinan bahwa sang guru saat itu mampu mendengar permintaan tolongnya.
  3. Mampu, yakni maknanya yang dimintai bantuan memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan, sehingga tidak diperbolehkan bagi seseorang meminta kepada orang lain untuk diberi keturunan, diturunkan hujan atau dipanjangkan umur, karena semua kemampuan ini tidak dimilki oleh makhluk dan hanya Allah yang memilkinya.

Perbuatan syirik dalam doa masalah ini sebagaimana perbuatan sebagian orang yang berdoa kepada selain Allah dengan memohon perkara-perkara yang kemampuan tersebut tidak dimiliki kecuali oleh Allah, seperti berdoa kepada Jin, batu atau dukun untuk diberi keturunan atau rejeki atau dipanjangkan umur. Sebagian lagi berdoa dan memohon kepada jin-jin penunggu laut dan gunung meminta agar hasil tangkapan laut atau hasil pertaniannya melimpah. Maka semua perbuatan ini dan sejenisnya adalah tergolong perbuatan syirik akbar.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka menaiki kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)(QS. Al-Ankabut : 65)

Allah Ta’ala juga telah berfirman :

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan janganlah kamu memohon/berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat hal itu maka sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang dzolim (musyrik). Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. Yunus: 107).

 

Keempat, Syirik Kecintaan

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman kecintaan mereka yang terbesar hanya untuk Allah semata.(QS. Al Baqarah: 165)

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ustadz Oemar Mita, Lc.

(Hud/DARUSSALAM.ID)

 

Read More