Meraih Keberkahan Maksimal di Akhir Ramadhan

Ramadhan hanya tinggal hitunga hari. Artinya, kesempatan untuk meraih kemuliaan ini semakin sempit. Tidak ada pilihan untuk segenap kaum Muslimin yang mengharapkan kesuksesan pada bulan Ramadhan tahun ini, kecuali harus tetap gigih dalam beribadah, hingga akhir Ramadhan nanti. Jangan sampai kendor.

Lantas, amalan apa yang harus mendapat porsi lebih di masa ‘injury time’ Ramadhan seperti saat ini?  Bila kita perhatikan kondisi kekinian, tak berlebih kiranya bila sedekah/infak/shodaqoh meniadi amalan yang diprioritaskan sebelum tutupnya bulan penuh rahmat ini.

Efek Pandemi

Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Dimana Ramadhan kali ini harus kita lalui bersama dengan pandemi corona yang sedang melanda. Namun demikian, kemulyaan dan keberkahan ramadhan tidak akan berkurang sedikitpun. Layaknya intan berlian yang berada ditengah kubangan lumpur nilainya tidak akan berkurang, bahkan tetap akan dicari meski harus bersusah payah.

Hampir semua sendi sendi kehidupan terkena efek dari penyebaran virus mematikan ini. Sebagaimana kita saksikan bersama bahwa bencana non alam ini menuntut sebagian pabrik merumahkan tenaga kerjaan, sekolah sekolah meliburkan para muridnya, pasar dan mall sepi karena masyarakat takut keluar rumah. Hiruk pikuk tempat wisata, terminal, pelabuhan dan tempat umum lainnya juga tidak bisa kita saksikan karena adanya himbauan sosial distance dan physical distance. Kondisi tersebut membuat stagnasi perekonomian secara nasional. Banyak orang miskin semakin miskin, bahkan tidak sedikit orang yang tadinya berkecukupan menjadi “tak punya” karena kehilangan pekerjaannya.

Ditambah lagi dengan pemberlakuan kebijakan PSBB di beberapa wilayah menjadikan kondisi masyarakat semakin gamang. bagaimana tidak, mereka mau tetap bertahan di kota sementara uang sudah tidak ada, mau mudik tidak dibolehkan dan tiap perbatasan kota dijaga ketat oleh petugas. Kalaupun ada yang lolos sampai di desa, mereka harus di karantina 14 hari lamanya. Balada “tidak pulang rindu, pulang malu dan takut” kayanya benar adanya. malu karena tidak membawa cukup uang untuk merayakan lebaran bersama keluarga dan takut terjangkit virus corona. Sungguh sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan sedang kita saksikan bersama.

Solusu dan Menyucikan

Kondisi sebagaimana diatas seakan memaksa kita untuk membuka mata lebar lebar. Sekarang dan beberapa bulan kedepan, jiwa kepedulian diantara kita harus benar benar dihidupkan dan ditumbuh kembangkan. Dimana kita saksikan banyak orang meminta hanya demi menyambung kelangsungan hidup mereka.. Masyarakat sangat membutuhkan uluran tangan dari para orang yang berpunya. Sekaranglah saatnya kita mengaktifkan sensor kedermawanan kepada sesama. Karena sunguh kepedulian dan kehadiran kita sangat dinantikan oleh mereka.

Yakinlah bahwa dengan kita berbagi kepada sesama, tidak akan berkurang sedikitpun  dari harta yang kita punya. Allah SWT malah melipatgandakannya, sebagaimana firmanNya:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (Nafkah yang dikeluarkan oleh) orang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas karuni nya lagi maha mengetahui” (QS: Al-Baqarah: 261)

Terlebih di momen akhir Ramadhan seperti sekarang ini. Dimana setiap Muslim tidak hanya dianjurkan untuk berinfaq tapi diwajibkan juga untuk mengeluarkan zakat. Tentunya kewajiban zakat ini harus kita sadari sebagai pembersih harta dan menyucikan jiwa. Sehingga ketika mengeluarkannya kita bisa benar benar ikhlas dan tidak ada sedikitpun rasa berat dan terpaksa.

Jika semua umat Islam sadar akan kewajiban dan manfaat dari zakat ini maka sudah barang tentu potensi zakat di Indonesia yang nominalnya sampai 2,8 T bisa termaksimalkan. Sebagaimana disampaikan oleh Wahyu Kuncahyo, Direktur Operasi Baznas (dilansir oleh Kompas.com). Kalau tahun sebelumnya banyak orang yang belum sadar dan seakan kurang peduli untuk mengeluarkan zakatnya maka tahun ini mari kita keluarkan zakat kita.

Kesadaran berzakat harus senantiasa didengungkan, lebih lebih dimasa pandemi seperti sekarang ini. Karena selain zakat merupakan ibadah yang berdimensi vertikal, zakat juga mempunyai dimensi horisontal. Maksudnya adalah zakat berdampak ganda selain berdampak kepada pelakunya secara pribadi, zakat juga berdampak kepada kehidupan sosial kemasyarakatan. Keberadaan dana zakat pasti sangat membantu dan bisa mengurangi penderitaan masyarakat yang terdampak Covid 19.

Jika pada kondisi ini saja hati orang orang kaya belum terpanggil untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya. Mungkin hatinya memang benar benar sudah mati rasa. Sensor kepedualian mereka sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Disaat realita disekelilingnya sangat membutuhkan uluran tangannya, mereka tetap tidak bergeming. Atau mungkin ujian dan teguran ini belum cukup untuk membukakan mata hatinya. Apakah perlu diuji atau diberi teguran secara khusus sehingga mereka tersadar dari tidur panjangnya.

Semoga diakhir Ramadhan yang penuh berkah ini Allah SWT membukakan pintu pintu hati orang yang berpunya untuk mau menunaikan zakatnya. Sehingga potensi zakat yang ada bisa termaksimalkan. Terakhir mari kita tunjukkan bahwa konsep zakat yang mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat itu benar dan nyata, tidak hanya wacana atau isapan jempol belaka.

Oleh: Alim Puspianto

(huddarusslam.id)

Read More

Amal-amal Utama di Lailatul Qadar

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Keutamaan Lailatul Qadar didapatkan dengan mengerjakan amal shalih di malam itu. Yaitu dari terbenam matahari hingga terbit fajar. Ini berlaku umum untuk semua amal shalih. Tidak terbatas pada shalat dan tilawah saja. Maka setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah di malam itu dengan amal shalih jenis apapun berharap akan dilipatgandakan pahalanya dan memperoleh keutamaannya yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)

Lailatul Qadar adalah malam yang diagungkan dan dimuliakan. Allah nampakkan keagungannya dengan meningkatnya amal-amal ibadah hamba. Siapa yang amal ibadahnya diterima di malam itu nilainya lebih utama dibandingkan amal ibadah selama seribu bulan. Pahala yang sangat banyak dan balasan yang sangat besar atas amal-amal kecil dan sedikit.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang siapa yg beramal di dalamnya,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Siapa yang menghidupkan malam itu dengan shalat diikuti amal ketaatan lainnya karena membenarkan janji Allah dan pahala atas amal itu, meminta ganjaran dari Allah, bukan karena sebab lainnya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Yang terpenting bagi kita di malam itu adalah kesungguhan kita dalam beribadah dan ikhlas dalam melaksanakan ibadah; baik tahu malam itu Lailatul Qadar atau tidak.

Dari sekian banyak amal shalih ada beberapa amal yang sangat istimewa secara umum, yaitu shalat malam, tilawah Al-Qur’an, berdzikir, istighfar dan taubat, berdoa, bersedekah, dan amal-amal lainnya.

Perlu kita ketahui, keutamaan Lailatul Qadar bisa didapatkan oleh setiap muslim yang diterima amal ibadahnya di malam itu.

Ibnu rajab dalam Lathaif al-Ma’arif, saat menjelaskan hadits, “di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa diharamkan kebaikan di dalamnya sungguh telah diharamkan dari kebaikan.” Juwaibir berkata: Aku berkata kepada al-Dahhak, bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas dan haid, musafir, dan orang tidur; apakah mereka mendapat bagian di Lailatul Qadar? Ia menjawab: ya, setiap orang yang Allah terima amalnya niscaya Allah berikan kepadanya bagian (keutamaan) Lailatul Qadar.”

Sesungguhnya karunia dan anugerah Allah sangat luas. Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan karunia dan kebaikan yang besar kepada kita di bulan Ramadhan ini, khususnya di Lailatul Qadar. “Ya Allah janganlah engkau haramkan kami dan kaum muslimin dari kebaikan di malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Oleh:ustadz Badrul Tamam

(hud/darussalam.id)

Read More

Mengakui Dosa Ternyata Mulia

Yang membuat seorang terhina, terutama bukanlah kesalahannya, melainkan ketaksediaanya untuk mengaku keliru, memohon ampun, dan memperbaiki keadaan. Itulah mengapa pengakuan kesalahan justru diabadikan Al Quran sebagai doa terindah.

Dosa bisa bermakna dan berharga, jika menuntun pada taubat dan kedekatan denganNya. Ketaatan bisa berbahaya, jika menyusupkan angkuh dalam dada. Adam bermaksiat lalu bertaubat, dan Allah mengampuninya. Iblis beribadah lalu tinggi hati, maka Allah mengutuk ia selamanya.

Dosa, pada suatu makna adalah tanda cinta Allah untuk memanggil kita kembali padaNya.

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim)

Mengakui dosa melahirkan kerendahan hati. Ia juga mengajari kita untuk tidak membantu syaitan, ketika saudara kita jatuh dalam dosa. “Jangan menjadi pembantu syaithan bagi saudaramu”, demikian Nabi  ﷺ bersabda pula. Bagaimanakah itu? “Yaitu ketika dia jatuh ke dalam dosa lalu kalian membuatnya putus asa dari rahmat Allah.” Maka pada pendosa yang niat taubatnya mengintip malu, beri tepukan semangat di bahu. Bisikkan, “Ayo saudaraku, keshalihanmu dirindu!”

Dosa meninggalkan tanda. Orang beriman dan berhati jernih mungkin merasakannya hingga kadang hubungan kita dengan mereka ikut terluka. Dosa membuka pintu untuk terjadinya dosa lain. Setiap dosa melahirkan kebas hati yang membuat rasa bersalah makin tipis. Dosa mengungkung nurani hingga membuat kita kadang salah menafsir suara hati. Dosa menghalangi jalur rizqi seperti kerak lemak menghalangi aliran darah. Istighfar dan air mata yang akan mengikisnya.

Akhirnya; “Jika masih terasa gelap dalam dada ketika kau berdosa”, ujar Al Imam Ibn Al Jauzi, “Maka berbahagialah. Itu tandanya masih ada cahaya di sana.”

Iya. Sebab yang paling berbahaya adalah putus asa dari rahmatNya..

Oleh: Ustadz Salim A Fillah

(hud darussalam.id)

Read More