SIFAT-SIFAT IDEAL BAGI SEPASANG SUAMI ISTRI

 

Sifat-Sifat Yang Selayaknya Dimiliki Seorang Istri

Dr. Ahmad Zain Annajah, MA

  1. Hendaknya Seorang Istri/Calon Istri Taat Beragama

Karena pentingnya ilmu agama maka hal ini menjadi perhatian bagi kita dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya, dan istri yang shalihah adalah awal mendapatkan keturunan yang shalih dan shalihah pula, karena peran seorang ibu sangat besar dalam membimbing seorang anak menjadi anak yang Taat kepada Allah dan RasulNya, Dan disinilah diperlukan ilmu agama.Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقّهْهُ فِى الدّيْنِ

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka difaqihkan (diberi pendalaman) ia tentang ilmu agama.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Pada sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tadi, Rasulullah menyebutkan lafadz خيرا yang berarti kebaikan dalam bentuk nakirah (indefinitif) yang didahului oleh kalimat bersyarat sehingga menunjukkan makna yang umum dan luas. Seakan-akan nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hendak mengatakan, jika Allah menghendaki seluruh kebaikan diberikan kepada seorang, maka Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang Dia pahamkan terhadap agama-Nya. Karena seluruh kebaikan hanya Allah berikan bagi orang-orang yang mau mempelajari dan mengkaji agama Allah Ta’ala.

Dari hadits di atas juga, kita dapat memahami bahwasanya mereka yang enggan mempelajari agama Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka tidak memperoleh kebaikan. Oleh karenanya, imam Ibnu Hajr Al Asqalani Asy Syafi’i tatkala menjelaskan hadits di atas, beliau mengatakan,

مَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر

“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan”. (Fathul Baari)

Jadi, orang yang baik pasti ia paham agama, namun jika baik tapi tidak paham agama, maka baiknya karena kebetulan, tidak berangkat dari keikhlasan dan mutaba’ah (mengikuti) petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena kebaikan yang sempurna adalah kebaikan yang berangkat dari pemahaman agama. Sedangkan orang yang paham agama belum tentu baik, karena terkadang ia tidak mau mengamalkan ilmunya. Namun paling tidak ilmu yang dimilikinya bisa mengekangnya dari berbuat maksiat dan bisa menunjukkan seseorang kepada jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah: 221

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (البقرة: 221)

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Al Baqarah: 221)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

تُنْكَحُ المَرْأةُ لأَرْبَعِ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وجَمَالِهَا ولِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذاتِ الدين تَرِبَتْ يَدَاك

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya (jika tidak kau lakukan) maka tanganmu akan menempel dengan tanah”. (HR. Bukhari)

Ada beberapa pendapat tentang penafsiran perkataan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam تَرِبَتْ يَدَاكَ “kedua tanganmu akan menempel di tanah”, pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu ‘Arobi adalah ada fi’il syart yang di takdirkan yaitu “Jika engkau tidak memilih wanita yang baik agamanya” maka kedua tanganmu akan menempel di tanah. Ibarat ini digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang buruk, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah “engkau akan merugi”, ada juga yang mengatakan “lemah akalmu”. (Lihat Fathul Bari)

An-Nuhhas berkata, “Maksudnya adalah jika engkau tidak melakukannya maka tidak ada yang kau raih dengan kedua tanganmu kecuali tanah”.  (Lihat Fathul Bari)

Pernikahan ditujukan untuk bisa mengambil kenikmatan (satu sama lainnya) dan untuk membina rumah tangga yang shalihah serta masyarakat yang baik. Sehingga manakala wanita tersebut adalah wanita yang taat beragama dan berakhlak mulia maka dia menjadi lebih dicintai oleh setiap jiwa dan lebih selamat akibatnya. Maka wanita yang beragama, dia akan taat menjalani perintah Allah, senantiasa menjaga hak-hak suami, rumah tangga serta anak-anak dan harta suaminya. Senantiasa membantu suami untuk menunaikan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di kala suami ingat kepadaNya. Jika suami malas maka dia yang menyemangatinya, jika suami marah maka dia yang membuatnya ridha. Sedangkan wantia yang berakhlak adalah wanita yang memberikan belaian kasihnya kepada suami dan menghormatinya. Selalu menyegerakan apa yang disukai suami dan tidak menunda-nunda sesuatu yang disuka suami.

Jika telah mempunyai sifat agama, maka yang harus diperhatikan selanjutnya adalah keturunannya. Kemudian kecantikannya, baru kemudian hartanya.

Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya. Karena keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.

Berkata Ibnu Hajar Rahimahullahu, “Dan disunnahkan bagi pria yang berasal dari nasab yang tinggi untuk menikahi wanita yang bernasab yang tinggi pula, kecuali jika bertentangan antara wanita yang memiliki nasab yang tinggi namun tidak beragama baik dengan wanita yang tidak bernasab tinggi namun memiliki agama yang baik maka didahulukan wanita yang beragama, demikian juga pada seluruh sifat-sifat yang lain (jika bertentangan dengan agama yang baik maka didahulukan sifat ini)”. [Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, terbitan Darul Fikr)

Beragama dan berbudi pekerti baik, berasal dari keturunan yang baik, hartawan (kaya) lagi cantik, semuanya ini ada dalam diri siti Khadijah Radhiallahu Anha, siti Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa Alaihissalam dan Fatimah binti Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (namun beliau tidak kaya).

Berbicara tentang Khadijah binti Khuwalid, ada ucapan Rasulullah untuk Ummul Mukminin Khadijah Radhiallahu Anha yaitu “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan memberikan wanita pengganti untukku yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku ketika orang- orang ingkar kepadaku. Ia mempercayaiku ketika orang – orang mendustakanku, ia menghiburku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku. Ia memberiku anak keturunan ketika istri-istriku yang lain tidak bisa memberinya untukku.”

Kisah tersebut menjelaskan, bahwa saat Rasulullah mendapatkan wahyu di Gua Hira, maka Khadijahlah adalah wanita pertama yang menenangkan, sekaligus beriman dan mempercayai Muhammad sebagai Rasul. Ketika itu, Khadijah juga mengorbankan hartanya untuk berjuang di jalan Allah. Masya Allah. Begitulah Khadijah, wanita yang penuh pengorbanan selama hidupnya.

Ketika berbicara tentang Fatimah binti Muhammad, maka dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa “Sesungguhnya Fatimah adalah pemimpin wanita penghuni surga.” (HR. Al-Hakim)

Bahwa Fatimah menggantikan fungsi ibunya dalam mengurusi ayahnya Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam, setelah ibundanya wafat. Ia hidup dalam kesederhanaan dan sifat yang paling menonjol adalah tidak pernah mengeluh akan kekurangan hartanya.

Begitu pula Asiyah binti Muzahim. Ia adalah suri tauladan bagi wanita beriman. Ia adalah istri Fir’aun, pemimpin yang mengaku Tuhan, sangat berkuasa, kafir, dan menggetarkan istana, karena kesyirikan dan paganismenya. Meski istri seorang Firaun, iman Asiyah sangat dalam. Hubungannya dengan Allah sangat kuat, pemahamannya luar biasa, ucapannya halus, logikanya tajam, dan permintaannya halus.

Perempuan terakhir dambaan al-Qur’an adalah Maryam ibunda Isa Alaihissalam. Dalam surat Ali Imran ayat 42 disebutkan:

“Hai maryam sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa hidup dengan kamu).“ (Ali Imran: 42)

Ia adalah satu-satunya perempuan suci, yang melahirkan putra tanpa ayah. Satu-satunya perempuan yang namanya disebut dalam Al-Qur’an beberapa kali. Bahkan ia menjadi nama salah satu surat dalam Al-Qur’an.

  1. Subur dan Penyanyang kepada anak dan suami

Diantara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur,

عن مَعْقِل بن يَسَارٍ رضي الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ “إِنِّي أَصَبْتُ امرأةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لاَ تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟”، قَالَ: “لاَ”. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: “تَزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu Anhu berkata, “Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata, “Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Jangan!”, kemudian pria itu datang menemui Nabi kedua kalinya dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tetap melarangnya, kemudian ia menemui Nabi yang ketiga kalinya maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak (subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain”. [HR. Abu Dawud dan ini adalah lafalnya, Ibnu Hibban, An-Nasaai, berkata Syaikh Al-Albani, “Hasan Shahih”]

Wanita yang mudah beranak banyak dan sangat penyayang kepada suaminya jika disertai dengan keshalihan maka ia termasuk penduduk surga.

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِرِجالِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةْ ؟؟، النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ وَالصِّدِّيْقُ فِي الْجَنَّةِ وَالشَّهِيْدُ فِي الْجَنَّةِ وَالْمَوْلُوْدُ فِي الْجَنَّةِ وَالرَّجُلُ يَزُوْرُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ الْمِصْرِ لاَ يَزُوْرُهُ إِلاَّ للهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku kabarkan tentang para lelaki dari kalian yang masuk surga?, Nabi di surga, As-Shiddiq di surga, orang yang mati syahid di surga, anak kecil yang meninggal di surga, orang yang mengunjungi saudaranya di ujung kota dan ia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah. Dan istri-istri kalian yang akan masuk surga yaitu yang mudah beranak banyak lagi sangat penyayang kepada suaminya, serta yang selalu datang kembali yaitu jika suaminya marah maka iapun datang kembali kepada suaminya dan meletakkan tangannya di tangan suaminya dan berkata, “Aku tidak akan merasakan ketenangan hingga engkau ridha”. [An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubro, At-Thabrani dalam Al-Awshath, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani karena syawahidnya)

Wanita yang mempunyai sifat kasih sayang akan menjauhi perpecahan dan perselisihan dengan orang lain. Tidak suka mengadu domba orang lain bahkan sebisa mungkin mendamaikan orang yang bertengkar atau berselisih dengan sifat kasih sayangnya maka akan menjadi damai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ قَالَ أَحَدُهُمَا صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ وقَالَ الْآخَرُ نِسَاءُ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى يَتِيمٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang mengendarai unta.” Perawi berkata; diantaranya adalah wanita Quraisy yang baik. Sedangkan yang lainnya mengatakan; wanita Quraisy adalah wanita yang paling penyayang kepada anak sejak mereka masih yatim, dan paling perhatian kepada suaminya”. (HR. Muslim)

  1. Dianjurkan menikah dengan perawan

Gadis perawan lebih utama untuk dicari karena wanita janda bisa jadi hatinya masih terikat dengan suami sebelumnya sehingga cintanya kepada suami barunya tidak sepenuhnya (tidak sempurna), berbeda dengan gadis yang masih perawan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال هَلَكَ أَبِي وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعَ بَنَاتٍ فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا فَقَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا قُلْتُ بَلْ ثَيِّبًا قَالَ فَهَلاَّ جَارِيَةٌ تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَتَرَك بَنَاتٍ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ فَقَالَ بَارَكَ اللهُّ لَكَ أَوْ قَالَ خَيْرًا

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu Anhuma ia berkata, “Ayahku wafat (dalam riwayat yang lain, استشهد “Ayahku mati syahid”, dan meninggalkan tujuh atau sembilan anak-anak perempuan maka akupun menikahi seorang wanita janda, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadaku, “Engkau telah menikah ya Jabir”, aku menjawab, “Iya”, ia berkata, “Gadis atau janda?”, aku menjawab, “Janda”, ia berkata, “Kenapa engkau tidak menikahi yang  masih gadis sehingga engkau bisa bermain dengannya dan ia bermain denganmu (saling cumbu-cumbuan), engkau membuatnya tertawa dan ia membuatmu tertawa?” (dalam riwayat yang lain, فَأيْنَ أَنْتَ مِنَ الْعَذَارَى ولِعَابِها “Dimana engkau dengan gadis perawan dan cumbuannya?”, aku katakan kepadanya, “Sesungguhnya (ayahku) Abdullah wafat dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka aku membawa bagi mereka seorang wanita yang masih gadis seperti mereka maka akupun menikahi wanita (janda) yang bisa mengurus mereka dan membimbing mereka”. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, “Semoga Allah memberi barokah kepadamu” atau ia mengucapkan خَيْرًا “Baik jika demikian” . (Dalam riwayat yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, أَصَبْتَ “Tindakanmu benar”, dan dalam riwayat yang lain Jabir berkata, فَدَعَا لِي “Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mendoakan aku”. (HR. Tirmidzi)

Berkata An-Nawawi, “Hadits ini menunjukan kemuliaan Jabir yang mengutamakan kemaslahatan dan kepentingan saudara-saudara wanitanya di atas kepentingan pribadinya”. (Al-Minhaj syarah Shahih Muslim)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالْأبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ

“(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih manis tutur katanya, lebih banyak keturunannya, dan lebih menerima dengan sedikit (qana’ah)”. [Hadits riwayat lbnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah]

Pertanyaannya kenapa Rasulullah memilih janda??

Pertama untuk maslahat, dan kedua karena beliau membutuhkan perempuan yang kuat pendirian.

 

Rasulullah melakukan pernikahan dengan Khadijah pada saat umur beliau 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun. Semasa hidup Khadijah beliau tidak menikahi isteri yang lain hingga Khadijah meninggal dunia saat berumur 65 tahun dan saat itu Nabi berumur di atas 50 tahun. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Kenapa? Selain petunjuk dari Allah Ta’ala tentu saja ada alasan-alasan lain yang sangat strategis sehubungan dengan tugas beliau yang sedang mengembangkan islam. Secara ekonomi dan status sosial di masyarakat Arab pada saat itu, Khadijah menduduki posisi yang utama, yakni seorang janda kaya raya yang berasal dari keturunan mulia pula. Dengan demikian, ketika Nabi Muhammad bersanding dengannya, kegiatan dakwahnya mendapat dukungan tidak saja material tapi juga moril. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tetap setia tanpa menduakan Khadijah hingga beliau wafat.

 

Kemudian pernikahannya dengan Ummu Salamah adalah untuk meringankan beban hidup yang dialami Ummu Salamah sendiri karena ditinggal suaminya yang syahid di jalan Allah Ta’ala pada peperangan. Lalu Saudah yang dinikahi oleh beliau Shallallahu Alaihi Wasallam karena memiliki sifat yang mulia dan hidup dalam kesendirian dalam keislamannya. Begitu juga pernikahan beliau dengan para istri lainnya yang tentunya memiliki alasan dan hikmah yang luas.

 

  1. Hendaknya memilih perempuan yang cantik, taat dan amanah

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.

 

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menyebutkan 4 ciri wanita sholihah yang salah satunya,

 

وإن نظر إليها سرته

 

“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

 

  1. Ketika suaminya pergi, sang istri menjaga dirinya dan harta suaminya

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Qutaibah telah memberi tahu kami, berkata al-Layts menyampaikan hadits dari Ibn Ijlan dari sa’id al-Maqburi, dari Abi Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya: Wankita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab, “yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi”. (HR. An-Nasa`iy)

Dengan kata lain isteri yang baik itu pandai menjaga diri dan harta suami tatkala suaminya tidak di rumah. Dengan demikian, sifat yang dimiliki isteri yang baik ialah menggunakan tenaga maupun hartanya pada hal-hal yang sesuai dengan kesepakatan suami isteri, baik di depan suami maupun di belakangnya. Dalam al-Qur`ân ditegaskan pula bahwa isteri shâlihat ialah:… حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ  …“Yang senantiasa memelihara dirinya tatkala suaminya tiada, sebagaimana Allâh Subhanahu Wa Ta’ala telah menjaganya.” (An Nisa’: 34)

Isteri juga menjadi pengganti posisi suami yang sedang tidak di rumah dalam hal kepemimpinan dan menjaga ketenteraman rumah tangga. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

Kaum wanita juga menjadi pemimpin atas rumah tangga dan anak suaminya. Dia akan dimintai tanggung jawab tentang mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini juga mengisyaratkan, bahwa isteri yang baik adalah yang mampu memikul tanggung jawab kepemimpinan keluarga tatkala suaminya tidak ada di rumah.

Sifat-Sifat Yang Selayaknya Dimiliki Seorang Suami

  1. Laki-Laki Harus Taat Beragama

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “…Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Al Baqarah: 221)

Diharapkan sekali menjadi syarat nomor wahid untuk calon suami idaman (selain sudah muslim tentunya) adalah seorang laki-laki yang taat dan memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah Ta’ala, karena seorang calon suami seperti ini telah memenuhi syarat menjadi calon pemimpin rumah tangga, dengan ilmu agama yang ia miliki dan bekal keimanan-nya, sangat diharapkan calon suami seperti ini mampu mendidik anak dan istrinya kelak menjadi seorang yang shalih dan shalihah, menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang taat pula, sehingga keharmonisan dan tersusunnya suatu rumah tangga yang sakinah bisa (insya Allah) diwujudkan.

  1. Hafal Atau Mengerti Sebagian Dari Alquran

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ يَقُولُ: إِنِّي لَفِي الْقَوْمِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ قَامَتِ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا، ثُمَّ قَامَتْ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتِ الثَّالِثَةَ فَقَالَتْ: إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ، فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْكِحْنِيهَا. قَالَ: هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: اذْهَبْ فَاطْلُبْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ. فَذَهَبَ فَطَلَبَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: مَا وَجَدْتُ شَيْئًا وَلاَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ. فَقَالَ: هَلْ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْءٌ؟ قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا. قَالَ: اذْهَبْ فَقَدْ أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ

Dari Sahl bin Sa’id As-Sai’di, ia berkata: Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu? Beliau pun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian berdirilah wanita itu dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliaupun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian ia pun berdiri untuk yang ketiga kalinya dan berkata: “Sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikan dia, bagaimana menurutmu.” Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” Beliaupun menjawab: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Ia berkata: “Tidak.” Kemudian beliaupun berkata: “Pergilah dan carilah (mahar) walaupun cincin dari besi.” Kemudian iapun mencarinya dan datang kembali kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sambil berkata: “Saya tidak mendapatkan sesuatupun walaupun cincin dari besi.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an?” Ia berkata: “Ada, saya hafal surat ini dan itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al-Qur`an yang ada padamu”. (Shahih Al-Bukhari Kitabun Nikah)

Seorang calon suami yang banyak memiliki hafalan Al-Qur’an merupakan calon pasangan yang ideal bagi seorang wanita yang shalihah, seorang calon pemimpin rumah tangga yang ideal tentunya harus saggup mengajarkan Al-Qur’an kepada keluarganya kelak, menjaga hafalan dan bacaan Al-Qur’an anak dan istrinya, apalagi jika sang calon suami juga memahami tafsir ayat dari hafalan Al-Qur’annya, sehingga bisa menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan rumah tangga kesehariannya.

Faedah dari Hadits

  • Disunnahkan bagi seorang wanita yang meminta dari seorang laki-laki (untuk menikahinya) namun tidak memungkinkan bagi laki-laki tersebut untuk memenuhinya, hendaknya seorang wanita dapat menahan diri (diam) dengan diam yang dapat dipahami oleh seorang yang dimintai hajat. Janganlah membuat laki-laki tersebut malu dari menolak. Tidak sepantasnya dalam meminta disertai dengan terus-menerus mendesak. Termasuk dalam hal ini yaitu meminta dalam urusan dunia dan agama dari seorang ahli ilmu. (Seperti seseorang bertanya kepada ulama setelah selesai menuturkan soal kemudian ulama tersebut diam, maka tidak sepantasnya untuk meminta dengan terus mendesak agar diberikan jawaban, -edt)
  • Tidak ada batasan dalam mahar tentang sedikit atau banyaknya.
  • Bolehnya menjadikan hafalan Al-Qur`an sebagai mahar dengan cara mengajarkan kepada istrinya.
  • Sekufu dalam pernikahan adalah dalam hal status diri apakah ia budak atau merdeka, dalam agama, nasab, dan bukan dalam hal harta. Karena dalam hadits di atas, laki-laki tadi tidak memiliki harta yang ia jadikan sebagai mahar kecuali hafalan Al-Qur`an yang ada padanya. (lihat Fathul Bari, Al-Minhaj)

Demikianlah beberapa sifat seorang istri atau suami idaman yang bersumber dari alquran dan as sunnah.

Wallahu Ta’ala A’lam

Bersambung…

Read More

PERNIKAHAN YANG DIANGGAP RUSAK MENURUT SYARA’

Darussalam.id – Kesempatan kali ini kita akan membahas tentang 4 pernikahan yang dikatakan rusak dalam istilah fiqihnya dikatakan dengan Al Faasidah. Sebagian ulama’ membedakan antara kata فاسدة dengan باطلة .

Kalau batil adalah sesuatu yang tidak sah secara agama. Misalnya menikah dengan salah satu dari delapan golongan perempuan yang haram dinikahi sementara. Menurut sebagian ulama’, nikah seperti ini harus dipisahkan secara paksa tanpa harus cerai. Begitu juga menikah dengan non muslim, pernikahan seperti ini juga tidak sah (batal).

Sementara nikah fasid adalah pernikahan yang rusak sebagian syarat-syaratnya,  tetapi sah. Hanya perlu diperbaiki. Sebagian ulama memberikan contoh pernikahan yang rusak yaitu jika seorang laki-laki memberikan mahar berupa daging babi, pernikahan seperti ini sah, namun maharnya harus diganti dengan yang halal. Karena mahar tidak boleh dari sesuatu atau hasil dari sebuah yang diharamkan.

Hal ini seperti perkataan sebagian ulama’, misalnya seorang yang shalat dengan memakai baju hasil curian, shalatnya tetap sah tapi pelakunya tetap berdosa. Begitu juga dengan orang naik haji dari hasil uang korupsi, hajinya sah tapi ia tetap berdosa. Karena sah menurut fiqih adalah jika terpenuhi rukun dan syaratnya. Termasuk juga, orang shalat dalam keadaan riya’, shalatnya sah tetapi pahalanya tidak sampai kepada Allah Ta’ala. Begitu juga dengan orang berpuasa namun sering berbohong, puasanya sah, tetapi pahalanya berkurang sebanyak kebohongannya.

Lalu apa bedanya? Padahal nikahnya sah tapi kenapa pahalanya tidak sampai? Karena pahala itu berhubungan dengan Allah Ta’ala di akherat. Adapun keabsahan, berhubungan dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Dalam pernikahan juga seperti itu, pernikahannya dianggap sah namun syarat-syarat yang rusak harus diganti. Sepertihalnya memberikan mahar dengan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mahar tersebut harus diganti.

Sebagian ulama’ menyebutkan 5 pernikahan yang rusak tapi nikahnya sah. Namun sekiranya jika mau memisahkan, maka harus melewati perceraian terlebih dahulu. Dan sebagian dari masalah yang akan kita bahas, belum ada kesepakatan diantara para ulama’.

  1. Nikah Asy Syighar (pernikahan bersyarat)

Yaitu seorang laki-laki menikahkan anak perempuan, saudara perempuan atau budak perempuannya atau selain dari ketiganya yang masih dalam perwaliannya kepada seorang laki-laki lain, dengan syarat laki-laki tersebut menikahkan anak perempuan, saudara perempuan atau budak perempuannya kepadanya. Pernikahan seperti ini tidak sah (rusak), baik dengan adanya mahar ataupun tidak.

Dalam ash-Shahihain dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu Anhuma:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّغَارِ.

“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah melarang nikah Syighar”. [Muttafaq ‘Alaihi]

Para ulama telah sepakat mengharamkan nikah syighar, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai keabsahan nikah syighar. Jumhur ulama berpendapat nikah syighar tidak sah.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah melarang nikah syighar. Beliau bersabda:

وَالشِّغَارُ أَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: زَوِّجْنِي ابْنَتَكَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِيْ، أَوْ زَوِّجْنِيْ أُخْتَكَ وَأُزَوِّجُكَ أُخْتِيْ.

“Dan nikah syighar adalah, seseorang berkata kepada orang lain, ‘Nikahkan aku dengan anak perempuanmu, maka aku akan menikahkan anak perempuanku denganmu,’ atau, ‘Nikahkan aku dengan saudara perempuanmu, maka aku nikahkan engkau dengan saudara perempuan-ku”. [HR. Muslim]

Juga bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

عنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ : إنَّ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فَقَالَ : مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ، مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ مَرَّةٍ، شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ

Dari Urwah bin Zubair berkata, bahwasanya Aisyah Ummul Mukminin Radhiallahu Anha memberitahukannya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa mensyaratkan sesuatu yang tidak terdapat dalam kitab Allah (al-Qur’an), maka ia tidak sah, sekalipun ia mensyaratkan 100 syarat. Syarat dari Allah itu lebih haq dan lebih kuat“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Permasalahannya adalah jika perempuan mensyaratkan syarat yang tidak dilarang dan tidak diperintahkan. Misalnya perempuan ketika dilamar mengatakan, “Kamu boleh nikah dengan saya, tapi jangan engkau larang saya untuk melanjutkan sekolah, ijinkan saya setiap hari berangkat kuliah. Jika setuju, maka saya terima lamaranmu dan jika tidak setuju, maka saya menolak pernikahan ini”. Syarat seperti ini diperbolehkan, karena tidak bertentangan dengan tujuan pernikahan. Adapun jika seprang perempuan mengatakan, “saya mau nikah denganmu, tetapi saya tidak mau tinggal bersama kamu dalam satu rumah”. Atau mengatakan, “saya mau nikah denganmu, tapi jangan digauli selama pernikahan”. Ini merupakan syarat yang dilarang dan syarat batil di dalam pernikahan.

Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ شِغَارَ فِي اْلإِسْلاَمِ.

“Tidak ada nikah syighar dalam Islam”. [HR. Muslim]

Beberapa hadits shahih yang telah disebutkan di atas menjadi dalil atas keharaman dan rusaknya nikah syighar, juga menunjukkan bahwa perbuatan tersebut menyelisihi syari’at Allah. Dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak membedakan apakah dalam nikah syighar tersebut disebutkan maskawin ataupun tidak.

Adapun apa yang disebutkan dalam riwayat Ibnu ‘Umar Radhiallahu Anhuma tentang tafsir syighar, yaitu: seseorang menikahkan orang lain dengan anak perempuannya dengan syarat ia dinikahkan dengan anak perempuan orang itu juga tanpa ada maskawin di antara keduanya. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebenarnya tafsir tersebut berasal dari perkataan Nafi’ yang meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Umar dan bukan merupakan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sedangkan tafsir Nikah Syighar dari beliau adalah hadits riwayat Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas, yaitu: seseorang menikahkan orang lain dengan anak perempuan atau saudara perempuannya dengan syarat ia dinikahkan dengan anak perempuan atau saudara perempuannya pula, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak menyebutkan adanya maskawin di antara keduanya.

Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan menyebutkan atau tanpa menyebutkan maskawin dalam nikah syighar tidak berpengaruh apa pun. Akan tetapi yang menyebabkan rusaknya nikah tersebut adalah adanya syarat mubadalah (pertukaran). Perbuatan tersebut mengandung kerusakan yang sangat besar karena akan mengakibatkan adanya pemaksaan terhadap wanita atas pernikahan yang tidak diinginkannya karena mementingkan maslahat bagi para wali dengan mengenyampingkan maslahat wanita. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan kemunkaran dan kezhaliman terhadap kaum Hawa. Pernikahan semacam ini akan dapat mengakibatkan wanita tidak mendapatkan maskawin seperti wanita-wanita lainnya sebagaimana yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang melakukan akad pernikahan yang munkar ini kecuali orang yang dikehendaki oleh Allah. Sebagaimana juga dapat mengakibatkan perselisihan dan permusuhan setelah terjadinya pernikahan. Dan yang demikian itu termasuk hukuman Allah yang disegerakan bagi orang yang menyelisihi syari’at-Nya.

  1. Nikah Muhallil

Nikah muhallil adalah seorang laki-laki (perantara) yang menikahi seorang perempuan yang sudah dicerai oleh suaminya sebanyak tiga kali, (setelah menikahi) kemudian menceraikannya dengan tujuan agar suami yang pertama dapat menikahinya kembali.

Nikah ini (muhallil) termasuk dosa besar, yang dilarang oleh Allah. Orang yang menjadi perantara dan diperantarai dalam nikah muhallil dilaknat oleh Allah. Dalil yang melarang nikah muhallil:

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu dia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.

“Rasulullah melaknat al-Muhallil (laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan tujuan agar perempuan itu dibolehkan menikah kembali dengan suaminya yang pertama) dan muhallal lahu (laki-laki yang menyuruh muhallil untuk menikahi mantan isterinya agar isteri tersebut dibolehkan untuk dinikahinya lagi)“. (HR. Tirmidzi, an Nasa’i dan Ahmad)

Jumhur ulama seperti Malik, Syafi’i –dalam salah satu pendapatnya-, Ahmad, Al laits, at-Tsauri, Ibnu Mubarak dan ulama lainnya berpendapat nikah ini tidak sah. Umar bin Khaththab, Abdullah bin Umar dan Ustman bin Affan juga berpendpat demikian. (Lihat Al Bidayah Al Mujtahid, Al Mughni)

Dan dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ؟ قاَلُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: هُوَ الْمُحَلِّلُ، لَعَنَ اللهُ المُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang at-Taisil Musta’aar (domba pejantan yang disewakan)?” Para Sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah” Beliau kemudian bersabda, “Ia adalah al-Muhallil, Allah akan melaknat al-Muhallil dan al-Muhallal lahu”. [Hasan, HR. Ibnu Majah, Baihaqi]

  1. Nikah Mut’ah

Mut’ah berasal dari kata “mata’a”  yang berarti menikmati. Nikah mut’ah yaitu seorang lelaki yang menikahi seorang perempuan untuk waktu tertentu -sehari, dua hari atau lebih- dengan memberikan imbalan kepada pihak perempuan berupa harta atau lainnya. Disebut nikah Mut’ah karena dengan pernikahan tersebut laki-laki dapat menikmati istrinya sampai batas waktu yang telah ditentukan dalam akad.

Disebut juga dengan az-Zawaj al-Mu’aqqat (nikah sementara) dan az-Zawaj al-Munqati’ (nikah terputus).

Para Ulama terkemuka dari masing-masing madzhab sepakat atas haramnya pernikahan model ini. Mereka mengatakan: “seumpama pernikahan seperti ini terjadi, maka tidak sah dengan sendirinya”. Sehingga hubungan badan yg dilakukan sepasang laki –laki dan  perempuan dengan dasar Nikah Mut’ah adalah dianggap sebagai perzinaan.

Nikah mut’ah pernah diperbolehkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian dihapus oleh Allah melalui sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan beliau telah mengharamkan nikah mut’ah samapi hari kiamat.

Terdapat perbedaan mengenai hadits-hadits yang menjelaskan tentang informasi waktu dihapuskannya nikah mut’ah. Diantara hadits-hadits shahih yang menjelaskannya adalah:

  1. Nikah mut’ah dihapus pada saat perang Khaibar

Diriwayatkan dari Ali bahwa dia pernah berkata kepada Ibnu Abbas,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نكاح المتعة  وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأهلية زمن خَيْبَرَ

 “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengharamkan nikah mut’ah dan mengharamkan memakan daging keledai piaraan pada waktu perang khaibar”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah itu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memberi keringanan lagi dengan membolehkan nikah mut’ah. hanya saja informasi tentang keringanan ini tidak sampai kepada Ali bin abi Thalib, sehingga dia melandaskan pendapatnya berdasarkan apa yang pernah dia dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang diharamkannya nikah mut’ah pada peristiwa khaibar.

  1. Nikah Mut’ah dihapus pada tahun penaklukan kota Mekah.

Dari Sabrah Radhiallahu Anhu, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِيْنَ دَخَلْنَا مَكَّةَ، ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا.

“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah menyuruh kami untuk melakukan mut’ah pada saat pembukaan kota Makkah tatkala kami memasuki Makkah, kemudian kami tidak keluar darinya sampai beliau melarangnya kembali”. [HR. Muslim]

dalam Riwayat lain disebutkan “….wanita-wanita yang kami nikahi secara mut’ah itu bersama kami selama tiga hari, kemudian Rasulullah memerintahkan kami agar mencerai mereka”. (HR. Muslim dan Baihaqi)

  1. Nikah Mut’ah dihapus pada tahun Authas

حدثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حدثنا أَبِي، حدثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ: أَنَّ أَبَاهُ، حَدَّثَهُ: أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فقَالَ: ” يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عَنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَه، وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا “.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair: Telah menceritakan kepada kami ayahku: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Umar: Telah menceritakan kepadaku Ar-Rabii’ bin Sabrah Al-Juhaniy: Bahwasannya ayahnya telah menceritakannya: Bahwasannya ia pernah bersama Rasulullah shallallaahu Alaihi Wasallam, lalu beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku pernah mengijinkan kalian nikah mut’ah. Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya hingga hari kiamat. Barangsiapa yang masih mempunyai ikatan mut’ah maka segera lepaskanlah, dan janganlah kalian ambil sesuatupun yang telah kalian berikan kepada wanita yang kalian mut’ahi itu”. [HR. Muslim]

Pernikahan tahun ini (Authas) adalah pengharaman secara permanen sampai hari kiamat.

  1. Menikah Dengan Niat Cerai

Pendapat Pertama menyatakan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya boleh. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Berkata Imam Nawawi dari madzhab Syafi’i di dalam Syarh Shohih Muslim (9/182): “Berkata al Qadhi: “Mereka sepakat bahwa seseorang yang menikah dengan akad nikah mutlak (akad yang telah memenuhi rukun dan syaratnya), tetapi di dalam hatinya ada niat untuk tidak bersama istrinya kecuali dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan niatnya, maka nikah tersebut sah, dan bukan termasuk nikah mut’ah”.

Berkata Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali  di dalam  Al Mughni  ( 7/537): “Jika seseorang menikahi perempuan tanpa ada syarat, hanyasaja di dalam hatinya ada niat untuk menceraikan setelah satu bulan , atau menceraikannya jika dia telah menyelesaikan pekerjaannya di kota ini, maka jika seperti itu, maka pernikahannya tetap sah menurut pendapat mayoritas ulama, kecuali Al Auza’i yang mengatakan bahwa hal tersebut termasuk nikah mut’ah. Tetapi pendapat yang benar bahwa hal tersebut tidaklah apa-apa, dan niat tersebut tidak berpengaruh”.

Mereka beralasan bahwa pernikahan tersebut telah memenuhi syarat dan rukunnya, sehingga secara lahir hukumnya sah. Adapun hati dan niat diserahkan urusannya kepada Allah swt, selama itu tidak tertulis di dalam akad nikah. Karena, barangkali calon suami ada niat untuk menceraikannya, tapi ternyata setelah menikah dia senang dan merasa cocok dengan istrinya tersebut, atau karena pertimbangan lain, sehingga dia tidak jadi menceraikannya.

Pendapat Kedua menyatakan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya haram. Ini adalah pendapat madzhab Ahmad dalam riwayat yang masyhur dan pendapat Imam Auza’i, serta al-Majma’ al-Fiqh al-Islami, Rabithah al-Ulama al-Islami pada pertemuannya yang ke- 18 yang diadakan di Mekkah pada tanggal 10-14 Rabi’ul Awal 1427 H / 8-12 April 2006 M.

Maksud dari haram disini adalah tidak boleh dilakukan, tetapi jika seseorang tetap melakukannya, maka ia berdosa, karena di dalamnya mengandung unsur penipuan, tetapi walaupun begitu pernikahan tersebut tetap sah, sedang niatnya batil dan niat tersebut harus diurungkan.

Mereka beralasan bahwa tujuan pernikahan adalah mendapatkan ketenangan, kasih sayang, dan ketentraman, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir”. (Ar Rum: 31)

Menikah dengan niat cerai telah menyalahi tujuan dari pernikahan sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas.

Selain itu, bahwa pada dasarnya kehormatan (kemaluan) seorang wanita adalah haram, kecuali  melalui pernikahaan yang sah prosesnya dan benar maksudnya. Di dalam pernikahan yang ada niat untuk menceraikan istrinya adalah pernikahan yang  maksudnya sudah tidak benar dahulu, sehingga menjadi tidak boleh.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya boleh tapi makruh. Ini pendapat Abul Khair al Imrani dan Ibnu Taimiyah, sebagaimana di dalam (Majmu’ Fatawa: 32/107-108),  tetapi di tempat lain Ibnu Taimiyah berpendapat boleh (Majmu’ Fatawa: 32/ 147)

Berkata Abu al al Khoir al Imran yang wafat pada tahun 558 H, di dalam bukunya al Bayan, (Dar al Minhaj): 9/ 279: “Jika ia menikahinya dan berniat di dalam hatinya akan hal tersebut (yaitu ingin menceraikannya), kemudian ia menikahinya dengan pernikahan mutlak, maka hal tersebut makruh, tetapi tetap sah”. (Bisa dirujuk pula dalam Mujib al Muthi’i, Takmilah al-Majmu’: 17/ 352)

Kesimpulan dari keterangan di atas, bahwa menikah dengan niat cerai hukumnya boleh menurut pendapat mayoritas ulama, tetapi makruh, maka sebaiknya ditinggalkan. Maksud dari boleh dan sah di sini adalah bahwa hasil dari pernikahan tersebut diakui oleh Islam, yaitu  anak yang lahir dari pernikahan tersebut adalah anak yang sah dan dinisbatkan kepada orang tuanya, suami diwajibkan untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, jika salah satu dari kedua orangtuanya meninggal dunia, maka anak-anaknya berhak mendapatkan warisan darinya, dan hal-hal lainnya.

Dan ini berlaku bagi orang-orang yang sedang dalam perjalan keluar negri atau tempat yang jauh dalam suatu tugas atau berdagang atau belajar ilmu, sedangkan dia takut untuk terjerumus di dalam maksiat atau perzinaan. Dalam keadaan seperti ini, mayoritas ulama memberikan jalan keluar yaitu membolehkan menikah dengan niat cerai jika telah menyelesaikan tugasnya. Dan ini lebih baik dari pada terjerumus di dalam maksiat atau perzinaan. Walaupun demikian, para ulama menganjurkan untuk  menikah sebagaimana biasanya, tanpa harus berniat untuk menceraikannya, karena tanpa itupun, dibolehkan baginya untuk menceraikan istrinya. Kenapa harus mempersulit diri sendiri dengan menyertakan niat cerai dan menjerumuskan diri pada hal-hal yang para ulama masih berselisih tentang  hukumnya.

Kalau dikatakan nikah ini seperti nikah mut’ah, maka penyamaan seperti ini tidak benar, karena keduanya ada perbedaan yang sangat mencolok diantaranya:

  1. Nikah Mut’ah menyebutkan syarat tersebut di dalam akad pernikahan, sedang nikah ini ( nikah dengan niat talak) tidak disebutkan.
  2. Nikah Mut’ah tidak ada perceraian dan tidak ada masa iddah, jika masanya habis, pernikahan tersebut dengan sendirinya bubar. Sedang dalam nikah ini ada perceraian dan ada iddahnya juga, sebagaimana pernikahan pada umumnya.
  3. Nikah Mut’ah jika masa kontraknya habis, maka pernikahan tersebut harus dibubarkan. Kalau keduanya ingin melangsungkan pernikahannya lagi, harus dengan akad baru. Sedang dalam pernikahan dengan niat cerai, bisa jadi tidak terjadi perceraian sebagaimana diniatkan, bahkan mungkin berlangsung terus sebagaimana pernikahan pada umumnya.

Nikah Kontrak di Puncak

Adapun kasus yang terjadi di puncak Bogor, atau tepatnya di daerah Cisarua, yaitu banyaknya perempuan Indonesia yang melakukan pernikahan dengan sebagian orang asing yang berasal dari Timur Tengah dengan nikah kontrak, bukanlah termasuk dalam pembahasan kita. Karena pernikahan tersebut hanyalah untuk membungkus tindakan tercela mereka untuk melampiaskan syahwat seksual dan syahwat materi.  Dalam nikah kontrak tersebut, tidak ada sama sekali terdetik di dalam hati kedua mempelai tersebut untuk tinggal dan hidup bersama pasangannya dalam waktu yang panjang atau selama-lamanya. Bahkan keduanya sudah mengetahui bahwa pernikahan yang berlangsung tersebut hanyalah bersifat sementara antara satu minggu sampai satu bulan saja.

Setelah sampai batas waktu yang mereka sepakati bersama, maka mereka berpisah, mungkin dengan cara suaminya menceraikan istrinya atau sekedar berpisah begitu saja. Dengan pernikahan tersebut seorang laki-laki bisa melampiaskan syahwat seksualnya sesuka hatinya, dan sebaliknya seorang wanita bisa melampiaskan syahwat materinya dengan mendapatkan harta yang melimpah dari laki-laki tersebut. Oleh karenanya, kadang kita dapatkan seorang wanita bisa menikah dalam satu tahun dengan sepuluh laki-laki.

Sampai sekarang belum kita dengar satu ulamapun yang membolehkan pernikahan kontrak seperti yang terjadi di Cisarua ini, karena kerusakan yang ditimbulkan darinya sangat banyak dan dahsyat serta membahayakan generasi Islam. Wallahu Ta’ala A’lam
(ddn/Darussalam.id)

Read More

Syaikh Dr. Jamal Muhammad Al Fazzani “Keluarga Bagi Masyarakat”

Kajian Ilmiah bersama Syaikh Dr. Jamal Muhammad Al Fazzani “Keluarga Bagi Masyarakat”

silakan klik berikut!

https://www.youtube.com/watch?v=ujiniuaQ4V8

 

 

Read More