Aisyah Putri Abu Bakar, ‘Maha Cinta’ Rasulullah

JAGAD YouTube sempat geger bersama lagu Aisyah Istri Rasulullah, sebuah lagu yang digubah oleh Mr.Bie dari Malaysia.

Para selebritis dan youtuber asal Indonesia, seperti Syakir Daulay, Sabyan, Aviwkila dan yang lain kemudian meng-covernya. Hingga menyedot jutaan viewer dari kalangan anak muda serta sukses bertengger di pentas trending.

Dengan lirik menarik full romantisme, nampaknya lebih mudah bagi anak-anak dan remaja mengalunkan dan menghapal. Di mana-mana terdengar lantunan lagunya. Bahkan beberapa keluarga nge-vlog bernyanyi bareng menyuarakan syair ini.

Lirik lagu ini lebih banyak menonjolkan gambaran fisik dan romantisme Ummul Mukminin Aisyah ra dalam kehidupan rumah tangga bersama Rasulullah ﷺ. Tak ayal, para penikmat lagu religi dibuat baper mendengarnya. Apalagi para jomblo lillah. Dijamin bakalan berandai-andai dalam imajinasinya, yakni mendapat pasangan romantis bak pangeran sempurna. Alunan nada indah serta suara merdu sang vokalis menambah rasa di jiwa jauh terhanyut.

Lirik lagunya memang berdasarkan riwayat hadits shahih Rasulullah ﷺ. Pasti niat banget sang musisi untuk menghamparkan berhimpun kebaikan-kebaikan dari Sayyidah Aisyah. Agar masyarakat kekinian lebih mengenal sosok Humairah, pendamping setia Rasulullah ﷺ. Sehingga diharapkan mampu menambah kecintaan mereka kepada Ummul Mukminin r.a. Pun agar semakin tertancap dalam benak  generasi muda, betapa kemuliaan dari Sayyidah Aisyah begitu sempurna.

Hanya saja, ada beberapa hal yang sejatinya perlu menjadi perhatian.

Hendaknya ketika menggambarkan sosok Sayyidah Aisyah lebih mengarah kepada pencaran kecerdasannya yang didapatkan dari proses pendidikan nubuwah. Karenanya, beliau menjadi mercusuar ilmu pengetahuan sepanjang masa.

Disamping itu Ummul Mukminin Aisyah memiliki segudang keistimewaan dan terkemuka dalam kesabaran, kedermawanan, kezuhudan dan dalam setiap sifat mulia.

Banyak sekali mutiara hikmah sang putri Abu Bakar ra. yang bisa dipotret dari bermacam sudut pandang.

Jika mau menguliknya, Masya Allah. Bagi seorang musisi, tentu akan sangat mudah untuk menyulapnya menjadi alunan indah sarat makna. Lirik, rima, dan aransemen kan berpadu merdu mendayu. Menggugah kerinduan akan perjumpaan dengan kesayangan Rasulullah ﷺ. Cintapun kian menggebu seiring dengan keinginan bersua dengan Sang Maha Cinta.

Khumairah

Dalam hadits memang disebutkan dengan jelas tentang sisi-sisi kecantikan beliau. Wajahnya yang cantik, putih, pipi kemerahan (khumairah).

Namun bukan lantas dengan ringannya diangkat dalam sebuah lagu. Bagaimanapun, pasti ada banyak implikasi yang menyertai dalam syair lagu. Terkait bagaimana pembawaan sang vokalis, video klipnya dan lain-lain. Karena tak bisa dipungkiri, hal inilah yang menjadikan sebuah lagu itu menjadi hits.

Bertebaran pula hadits yang membuka lembaran kisah hidupnya. Tentang kebersamaan di sisi Rasulullah. Disebutkan bagaimana Rasulullah ﷺ merebahkan diri dalam pangkuan Sayyidah Aisyah, minum di bekas gelasnya, mencubit hidungnya. Bahkan ada yang jauh lebih privasi dari itu. Sebagaimana yang digambarkan dalam salah satu hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan langsung oleh Aisyah ra.

عن عائشة أم المؤمنين قالت: كان رسول اللهِ ﷺ يضع رأسه في حجري فيقرأ وأنا حائض

“Dari Aisyah dia berkata; Rasulullah ﷺ pernah meletakkan kepalanya di atas pangkuanku, lalu beliau membaca (Al-Quran), sementara saya dalam keadaan haid.”

Namun rasanya tak elok jika kemudian dijadikan lirik lagu untuk sekedar dinikmati sebagai kisah roman. Menjadi tontonan manusia dalam berbagai versi.

Sesungguhnya apa yang terkandung dalam berhimpun hadits tentang kisahnya adalah untuk menghamparkan berbagai kemuliaan dan keistimewaan yang mengitari kehidupan Sayyidah Aisyah.

Bagai bunga yang ditanam di taman keimanan dan disiram dengan limpahan wahyu, hingga aroma harumnya begitu semerbak dan tercium dari barat sampai timur. Tumbuh dari batang pohon yang penuh berkah. Akar tunjangannya menghunjam kuat dalam tanah. Dahan menjulang ke angkasa hampir menyentuh bintang-gemintang.

Sekaligus memberi gambaran sosok manusia paling agung sepanjang zaman, Muhammad bin Abdullah  ﷺ. Yang telah diutus oleh Allah sebagai refleksi kasih sayang bagi segenap semesta raya.

Itu semua hanya diperuntukkan dalam bahasan di ranah fiqih dan keilmuan. Dari menelaah hadits-hadits tentangnya, terpancar begitu banyak cabang ilmu. Termasuk soal bagaimana kedudukan relasi suami istri, tentang kehidupan berumah tangga, hingga tataran teknis hubungan suami istri dalam medan paling privasi pun.

Jika tidak dibatasi demikian, maka tidak menutup kemungkinan lagu-lagu dengan lirik romantisme Rasulullah ﷺ dan Aisyah akan banyak dimanfaatkan untuk orientasi profit. Sehingga tak heran jika ada video yang menyertakan background seorang muslimah, hingga seolah berperan menjadi sosok Sayyidah Aisyah. Jelas ini merupakan penggambaran yang tidak dibenarkan. Meskipun tidak menyatakannya secara langsung, tapi dari gesture sang vokalis beserta model, kita digiring menuju mindset demikian.

Hal ini bisa membuat celah bagi munculnya gharizah nau’ seorang manusia. Mengingat di sana ada penguatan sisi kewanitaan dan kecantikan.

Jika alasannya adalah untuk dakwah, maka dikhawatirkan akan mengalihkan esensi serta tujuan dakwah itu sendiri. Pendapat ini untuk penjagaan saja. Supaya kita lebih berhati-hati dalam menyajikan kemuliaan yang ada pada Sayyidah Aisyah. Karena masih banyak hadits yang lebih vulgar dari sekedar itu. Jika ini lantas didramatisir menjadi sebuah lagu atau bahkan film. Pasti ada rasa keberatan dari umat muslim.

Ini tak sekedar tentang halal haram, namun ada sisi lain yang perlu menjadi pilihan penyajian. Tentu saja penting bagi kita agar  mengedepankan adab terhadap ibunda orang-orang mukmin yang dimuliakan Allah.

Mengubah Syair

Seperti apa yang disampaikan olah Buya Yahya dalam kajiannya. Beliau memberi masukan, sebaiknya diubah saja syairnya. Buya pun menyatakan tidak tega dan tidak bisa membaca syair yang demikian.

Syair lagu Sayyidah Aisyah versi bahasa Arab berikut ini terasa lebih pas.

ضياء منه القمر يستحي

كُلُّ النِّسَاءِ تَؤَدّ أَنْ تَكُون مِثلَكي

Cahaya purnamapun malu padanya

Semua wanita (sepanjang masa) mengandai menjadi sepertimu.

يَا عَائِشَةُ

بِنْتُ أَبِى بَكْرٍ

حَبِيببُ رَسُولُ اللَّه

Duhai Aisyah

Putri Abu Bakar

Kekasih Rasulullah.

بِقَلْبِ خَيْرٌ الْمُرْسَلِين

فِي الْعِلْمِ فَاقَت عِلمَ كُلِّ الْعَالَمِين

Bersemayam dalam hati seorang utusan Allah terbaik .

Ilmumu melampaui pengetahuan yang dimiliki penduduk bumi.

خَبَرٌ جَلِيلٌ

يَزِفه جِبْرِيل

يَجُوبُ الدُنْيا

Hadis yang agung

Yang disampaikan Jibril

Menyebar di bumi.

عائشة

حَبَاكِ اللَّهُ حُبَّ مَنْ يُحِبُّهُ

Duhai Aisyah

Cintamu pada Allah sebagaimana cinta yang mencintai Allah.

فَصِرتي أَحَبُّ النَّاسِ لِقُلُوب الْمُسْلِمِين

بِنْتِ أَبِي بكرٍ

حَبِيبًا رَفِيقًي النَّبِيِّ رسول الله

Maka jadilah engkau sosok paling dicintai dalam hati umat Islam.

Putri Abu Bakar

Sahabat dekat Rasulullah

Terasa unsur sastra dan keindahannya bukan? Apalagi bagi  millenial yang memahami bahasa Arab. Pasti begitu tersentuh dengan segenap kemuliaannya. Bahkan lebih semangat “bersaing” dengan Aisyah dalam meraup ilmu dan segala kebaikan. Akhlak, hafalan Al-Quran, hadits, ilmu kedokteran, dan lain-lain.

Bagi yang baru berhijrah pun bisa tercerahkan. Memahami betapa Islam  tidak mengekang seorang perempuan untuk berkarya dan berprestasi. Termasuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan seorang muslimah diharapkan mampu berkontribusi dalam upaya menuju kebangkitan Islam. Yakni menjadi batu bata terbaik bagi bangunan peradaban mulia. Wallahu a’lam bish-shawwab.(Hud/darussalam.id)

Read More

Teladan Sahabat Umar dan Amr bin Al-Ash saat Wabah Tho’un Amwas

“Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini adalah rahmat dari Tuhan kalian dan panggilan dari Nabi kalian, juga (menyebabkan) kematian orang-orang sholih sebelum kalian”

Gambar: Wabah Tho’un Amwas pada tahun 17 hijriyah. Sumber foto: Aljazeera.net

BELAKANGAN ini warga dunia sedang menghadapi wabah virus mematikan, virus Corona (yang secara resmi dinamakan WHO: corona virus disease 2019 atau COVID-19). Berdasarkan data resmi per hari ini Covid-19 telah menjangkiti lebih dari 145 ribu orang di 121 negara dengan jumlah kematian melebihi 5000 jiwa.

Sejarah abad ke-20 mencatat telah beberapa kali dunia menghadapi virus mematikan, diantaranya yang paling dikenal adalah virus Ebola asal Kongo (tahun 1976) yang mematikan 14.000 jiwa lebih. Virus H1N1 asal Amerika dan Meksiko (tahun 2009) yang mematikan lebih dari 123000 jiwa. Virus MERS asal Saudi Arabia (tahun 2012) yang mematikan kurang dari 900 orang. Namun wabah yang paling mematikan mungkin adalah Spanish Flu atau Virus H1N1 tahun 1918 (Jan 1918- Dec 1920) yang diperkirakan menjangkiti 500 juta jiwa (atau 27% dari populasi dunia masa itu yang berjumlah 1.9 milyar jiwa) dan diperkirakan membunuh setidaknya 17 juta hingga 50 juta jiwa, namun ada pula yang memperkirakan hingga 100 juta jiwa.

Nama Spanish sendiri dinisbatkan ke Spanyol bukan karena ia merupakan asal muasal wabah ini melainkan karena Raja Alfonso 13 terjangkit dan sakit keras karena penyakit ini (Wikipedia).

Dampak dari virus Covid-19 ini pun bervariasi diantara orang-orang yang terjangkitinya, dimulai dari gejala flu biasa hingga gejala batuk kering, demam tinggi, dan kesulitan bernafas. Sebagian orang akan mengalami kondisi yang lebih parah dan mengancam jiwa seperti kegagalan ginjal akut, kerusakan liver, dan pneumonia (kegagalan paru-paru) (Sumber: National Geographic).

Menghadapi kasus ini, negara asal munculnya Covid 19 menerapkan kebijakan ketat antisipasi virus dengan melarang seluruh aktivitas sosial, membangun rumah sakit darurat dengan kapasitas 1000 pasien dalam seminggu.

Langkah cepat China ini diikuti oleh negara tetangga seperti Jepang, dan Korsel. Alhasil meskipun sedikit terlambat pada mulanya, penyebaran virus sudah melambat dan kondisi mulai terkendali. Lain ceritanya dengan Italia, negeri anggota Uni Eropa ini, sebaliknya sangat terlambat dalam antisipasi terhadap penyakit ini.

Dari 3 kasus tercapat pada 15 Februari 2020, virus Corona melonjak menjadi 1.128 kasus pada 29 Februari 2020, dan per hari ini 14 Maret 2020 telah mencapai 17.660 jiwa dengan lebih dari 1.200 jiwa meninggal dunia.  Kasus negeri Iran hampir sama, dari 2 kasus pada 19 Februari penderita melonjak menjadi 11.000 kasus lebih per hari ini dengan lebih dari 500 kematian. (Sumber: Worldometers)

Melihat pengalaman negara-negara ini seharusnya Indonesia baik pemerintah maupun kalangan terdidik memperingatkan bahaya yang mengancam dari wabah massal Covid 19 . Namun sejauh yang diperhatikan masih banyak keterlambatan dalam mengambil kebijakan maupun kesalahan dalam mensikapi keadaan genting ini.

Wabah Thoun dan Virus Corona

Sebagian dai-dai ada yang mengambil dalil Surat At Taubah ayat 51 untuk membenarkan sikap menerima apa adanya dan berpasrah:

 قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚوَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”

Ayat ini adalah haqq dan benar, namun penggunaannya tidaklah tepat apabila dimaksudkan agar umat Islam tidak perlu bekerja keras merencanakan langkah-langkah penting. Terutama untuk menghambat tersebarnya virus corona sementara hanya bertenang diri, berdoa, dan menerima apa adanya musibah yang bakal menimpa mereka.

Sebaliknya, Khalifah Kedua umat Islam Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah dihadapkan pada kasus wabah menular ketika ia sedang berkunjung ke Suriah.

Apa sikap Khalifah Umar? Beliau tidak berpasrah diri dan melanjutkan rencananya mengunjungi daerah terjangkiti wabah tersebut seraya menyerukan sahabat yang lain untuk berdoa menerima yang mungkin akan menimpa mereka. Sebaliknya, Khalifah Umar mengambil keputusan tegas membatalkan rencana kunjungan tersebut, yang membuat banyak sahabat yang protes atas sikap umar itu. Riwayat lengkapnya sebagai berikut:

Ketika Umar pergi ke Syam, setelah sampai di Saragh, pimpinan tentara datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Ibnu Abbas berkata; ‘Umar berkata; ‘Panggil ke sini para pendahulu dari orang-orang Muhajirin! ‘

Maka kupanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Kata Umar; ‘Wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Bagaimana pendapat kalian? ‘ Mereka berbeda pendapat. Sebagian mengatakan kepada Umar; ‘Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.’

Sebagian lain mengatakan; ‘Anda datang membawa rombongan besar yang di sana terdapat para sahabat Rasulullah Saw. Kami tidak sependapat jika Anda menghadapkan mereka kepada wabah penyakit ini.’ Umar berkata: ‘Pergilah kalian dari sini! ‘ Kemudian ‘Umar berkata lagi: ‘Panggil ke sini orang-orang Anshar! ‘

Maka aku memanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Ternyata kebijaksanaan mereka sama dengan orang-orang Muhajirin. Mereka berbeda pendapat seperti orang-orang Muhajirin. Maka kata Umar; ‘Pergilah kalian dari sini! ‘ Kata Umar selanjutnya; ‘Panggil ke sini pemimpin-pemimpin Quraisy yang hijrah sebelum penaklukan Makkah!’ Maka aku (Ibnu Abbas) memanggil mereka.

Ternyata mereka semuanya sependapat, tidak ada perbedaan. Kata mereka; ‘Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang saja kembali bersama rombongan Anda dan jangan menghadapkan mereka kepada wabah ini. Lalu Umar menyerukan kepada rombongannya “Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian!”

Kemudian Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab: ‘Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah?

Agaknya Umar tidak mau berdebat dengannya. Beliau menjawab: “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah?”

Di tengah perbincangan Umar dengan Abu Ubaidah tiba-tiba datang sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin ‘Auf yang belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata: “Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

Mendengar itu, akhirya Umar mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu beliau pergi. Di dalam Hadis Ma’mar ada tambahan Umar berkata: “Bukankah jika kamu menggembalakan unta di tempat yang tandus dengan meninggalkan tempat yang subur berarti kamu telah membuatnya lemah?”

Ketika itu Abu Ubaidah menjawab: “Ya.” Kemudian Umar berkata: maka berangkatlah! Maka Abu Ubaidah berangkat hingga sampai di Madinah, lalu dia berkata: “Insyaallah ini adalah tempat tinggal.” (Shahih Muslim No. 4114).

Begitupula kisah dari Sahabat Amru bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu.

Ketika mewabahnya penyakit bangkitlah sahabat Abu Ubaidah bin AlJarrah ra. diantara umat lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini adalah rahmat dari Tuhan kalian dan panggilan dari Nabi kalian, juga (menyebabkan) kematian orang-orang sholih sebelum kalian, dan Abu Ubaidah memohon kepada Allah swt agar mendapatkan bagian penyakit itu untuknya, sehingga terjangkitlah beliau dan wafatlah ia. Lalu Muadz bin Jabal ra. menggantikannya memimpin umat, lalu ia bersabda kepada khalayak dan berkata sebagaimana Abu Ubaidah ra. berkata namun ia menambahkan dengan permohonan agar keluarganya pun mendapatkan penyakit tersebut, maka terjangkitilah putranya bernama Abdurrahman dan meninggallah, maka beliaupun berdoa bagi dirinya maka terjangkitilah ia seraya berkata: “Dengan ini, aku tidak mencintai sedikitpun bagianku di dunia.” lalu wafatlah beliau, dan kemudian digantikan oleh Amru bin Al-Ash ra., ketika menjadi pemimpin menggantikan pendahulunya namun berbeda pandangan dengan mereka, beliau berseru kepada khalayak umat dengan mengatakan:

أيها الناسإن هذا الوجع إذا وقع فإنما يشتعل اشتعال النار فتحصّنوا منه في الجبال

“Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini apabila menimpa maka ia akan bekerja bagaikan bara api maka bentengilah dari penyakit ini dengan berlari ke gunung-gunung.” (Diriwayatkan dari Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitab Badzal Maa’un hal 163)

Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhu yang lain memang ada yang pasrah tidak menyarankan tindakan apapun namun hal ini bukanlah berangkat dari perintah wahyu. Ketika sahabat yang terkemuka seperti Umar bin Khattab ra. dan Amr bin Al-Ash ra. menganjurkan sesuatu yang lebih tepat maka para sahabat yang lain dapat memahami dan mengikuti petunjuk dan arahan yang lebih selamat bagi ummat pada waktu itu.

Tidaklah mengherankan bahwa beberapa pemerintah negeri Timur Tengah bahkan mengambil tindakan yang terbilang sangat janggal seperti misalnya Saudi Arabia yang menghentikan ibadah umroh sebagai langkah pencegahan, Kuwait yang sampai menghentikan sholat berjamaah dan memerintahkan muadzzin untuk mengumandangkan adzan Assholat fii buyuutikum, dan Mesir yang baru-baru ini membatasi waktu sholat jum’at. Sementara Qatar belum sampai menganjurkan sholat di rumah, namun sudah mengetatkan waktu ibadah sholat lima waktuagar jeda antara adzan dan sholat hanya 5 menit dan setelah sholat fardhu masjid akan langsung ditutup. Sedangkan untuk sholat jumat, waktu sholat jumat dari adzan dan khutbah diperpendek hingga hanya 10 menit saja.

Sains modern dalam bidang kesehatan masyarakat, khususnya bidang ilmu epidemiologi, mensyaratkan apabila suatu wilayah terjangkit maka haruslah dilakukan karantina terhadap para penderita, sementara itu untuk mencegah agar wabah tidak meluas maka prosedur yang ditempuh adalah penghentian kegiatan-kegiatan umum yang melibatkan massa agar kontak sosial dapat diperkecil sebisa mungkin. Tentu sebagai seorang muslim, tawakkal kepada Allah tetap menjadi pegangan hidup namun bukan berarti muslim harus berpasrah menerima apa adanya sementara belum menempuh daya upaya ikhtiar yang maksimal sesuai dengan ilmu pengetahuan yang ada. wallahu a’lam. ACE, Doha, 14 Maret 2020.*

PhD Student, MSc – Public Health, University of Sheffield, Sheffield, United Kingdom (2020), dan MA – Contemporary Muslim Thought and Societies Hamad bin Khalifa University, Qatar (2015)(Hud/Insan Kamil;Hidayatullah.com)

Read More

DUA PELAJARAN BESAR DARI HIJRAHNYA RASULULLAH

Tahun Hijriyah adalah tahun umat islam dan sangat terkait dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Apa yang beliau putuskan, bukan tanpa alasan. Tetapi beliau berharap bahwa di kemudian hari umat islam selalu mengenang peristiwa hijrah tersebut. Sebab dalam peristwa hijrahnya Rasul, banyak kejadian yang menjadi pelajaran besar bagi umat sepanjang masa.

Dari banyak kejadian dalam hijrahnya Rasul, minimal ada dua kejadian yang menjadi pelajaran besar bagi umat islam.

  • Membangun Pusat Kegiatan Umat Islam (Masjid Quba’)

Setelah mengarungi padang pasir yang sangat luas dan amat panas akhimya pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 1 Hijrah tibalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf (Quba) yaitu sebuah tempat kira-kira 10 Km jaraknya dari Yatsrib (Madinah). Di sinilah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu menyusul Rasulullah setelah mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya. Selama empat hari beristirahat di Quba beliau mendirikan sebuah mesjid yang pertama kali didirikan dalam sejarah Islam sebelum masjid Nabawi.

Setelah empat hari beristirahat di Quba maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib melanjutkan perjalanan ke Yatsrib dan tiba di sana pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijrah atau tanggal 24 September 622 Masehi dengan mendapat sambutan yang hangat penuh kerinduan dan rasa hormat dari penduduk Yatsrib. Sejak kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di Yatsrib maka nama Yatsrib berubah menjadi Madinatun Nabiy artinya “Kota Nabi” dan selanjutnya disebut Madinah.

Ketika Rasulullah tiba di Madinah saat berhijrah, hal pertama yang dilakukan Baginda Nabi adalah membangun masjid, yakni Masjid Nabawi. Tempat yang dipilih untuk membangun masjid itu merupakan pilihan unta Nabi saat pertamakali berhenti di Madinah.

Masjid tersebut menjadi tempat shalat bagi seluruh kaum muslimin Madinah. Sebelumnya, lokasi itu merupakan lahan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon kurma dan dijadikan kuburan beberapa orang musyrik.

Rasulullah membeli tanah itu dari pemiliknya, yaitu dua anak yatim dari bani Najjar. Kemudian Rasulullah mengajak para sahabat untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon kurma”.

Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Utsman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.

Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketakwaan. Di antara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa ternyata agenda besar pertama kali yang dilakukan Rasulullah adalah membangun markas islam. Membangun pusat kegiatan umat isam. Sehingga masjid di zaman nabi bukan hanya digunakan untuk mendirikan shalat, tetapi masjid di masa Nabi dan pada masa Khulafa’ur Rasyidin dijadikan sebagai pusat kegiatan, aktifias, menyelesaikan berbagai macam persoalan yang dihadapi umat islam, bahkan khalifah Umar melatih kemiliteran di masjid.

Jadi, ruh masjid mestinya menjadi inspirasi besar bagi semua umat islam dalam melakukan agenda besar, dari mulai mengatur ekonomi sampai mengatur masyarakat dan negara, semuanya bermula dari masjid.

Karena apa? Karena masjid adalah pondasi awal yang dibangun oleh Rasulullah ketika beliau hijrah. Maka sangatlah wajar jika beliau menjadi pemimpin umat dan masyarakat. Bahkan rumah beliau tidak lebih dari ukuran 3×4 berada di dalam masjid. Dan memang ada hadits nabi yang menjelaskan bahwa rumah nabi dengan mimbar masjid tidak jauh.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي قال: “مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman diantara taman-taman surga. Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Bukhari)

Raudhah adalah suatu tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara mimbar beliau dengan kamar (rumah) beliau. Jarak antara mimbar dan rumah Nabi adalah 53 hasta atau sekitar 26,5M.

Apakah ada amalan istimewa yang dianjurkan untuk dikerjakan dalam raudhah tersebut? Tidak ada. Maknanya, tidak ada keutamaan lain kecuali jika mengerjakan shalat dalam raudhah tersebut seakan-akan shalat diantara taman-taman syurga. Dan niatnya juga bukan untuk shalat sunnah Raudhah, namun niatnya hanya shalat sunnah Tahiyyatul Masjid.

Begitu pentingnya masjid, sehingga Rasulullah menyuruh umat islam untuk shalat berjama’ah di masjid meskipun harus mendatangi dengan merangkak, bahkan beliau mengancam membakar rumah-rumah bagi yang tidak berjama’ah di masjid. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullahu mengatakan, “Shalat ‘Isya’ dan Subuh [berjama’ah] itu paling berat bagi mereka -orang munafiq- apabila dibandingkan shalat yang lainnya [meskipun secara umum mereka juga malas untuk melakukan shalat yang lainnya] dikarenakan kuatnya dorongan untuk meninggalkan kedua shalat tersebut. Karena waktu Isyak adalah waktu yang tenang dan cocok untuk beristirahat sedangkan subuh adalah waktu yang enak untuk tidur…” (Fath Al-Bari, cet Dar Al-Hadits, 2/166).

Mari kita bersama-sama kembali ke masjid, banyak agenda besar yang bisa dibicarakan di masjid. Masjid adalah milik umat bukan milik sekelompok orang. Kalau kita menginginkan Allah memberikan hidayah-Nya, maka tanamkan semangat untuk takut hanya kepada Allah. Sehingga ketika berada dalam masjid, kepentingan kita adalah ingin memakmurkan masjid. Sebab, masih banyak agenda besar masjid yang belum selesai.

Diantara agenda besar masjid itu adalah melahirkan semangat memperbaiki kondisi masyarakat. Jika kondisi masyarakat telah baik, maka akan muncul sebuah wilayah kekuasaan islam. Kenapa islam belum tegak? Karena umat islam masih menjauhi agenda besar masjid. Padahal para sahabat dahulu justru memfungsikan masjid sebagai tempat kegiatan semua persoalan umat.

  • Mempersaudarakan Sahabat Muhajirin Dan Anshar

Jika Allah memberikan izin untuk bertemu lagi, maka pelajaran ini akan kita bahas dalam pertemuan selanjutnya..

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Drs. Masdan Sutan Panis, MA.

(Hud/Darussalam.id)

Read More