Follow us:

Kapan Seorang Menjadi Muslim

Sekelompok orang yang berpikir radikal. Mudah menyalahkan bahkan mengkafirkan orang lain. Terlalu mudah menumpahkan darah manusia bahkan darah seorang Muslim. Keberadaan mereka akan melelahkan negara dan menakuti masyarakat.

Hari ini, negara dan masyarakat tengah menghadapi masalah tersebut. Pembahasannya sedang ramai di mana-mana. Sayang, beribu sayang. Komentar pengamat dan penyelesaian negara belum ada yang tepat sehingga tidak bisa mengatasi masalah. Bahkan mereka yang dianggap sebagai ulama, mengeluarkan pernyataan yang hanya menyulut masalah dan belum memberikan masukan berdasarkan kekuatan ilmu Islam.

Hari ini ada sekelompok orang yang dianggap mudah mengkafirkan dan mudah menumpahkan darah seorang muslim. Hal ini pernah terjadi di Era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu, mereka disebut dengan Khawarij. Namun apakah kelompok yang hari ini ramai dibicarakan, masuk dalam kategori Khawarij atau belum?? Mengingat kita belum pernah tahu apa sebenarnya pemikiran asli mereka.

Namun, Rasulullah telah menyampaikan ciri-ciri detail kelompok ini, walaupun beliau tidak menyebutkan namanya. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.” (رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمي وأحمد والنسائي وغيرهم(

“Di akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang muda usianya, bodoh cara berpikirnya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah, namun iman mereka tidak sampai melewati kerongkongan. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Maka apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Nasa`i, dan lainnya)

Makna sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: ‘Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya’; bukanlah yang dimaksudkan dengannya (keluar dari) pokok agama, namun yang dimaksudkan dengannya adalah (keluar dari) kebanyakan perkara agama” [Al-Ajwibah Al-Ushuuliyyah ‘alal-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah].

Adapun perintah memerangi dan membunuh mereka, jangan diartikan sesuai teks hadits. Namun marilah kita merujuk kepada tindakan Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu. Karena beliau adalah khalifah yang mendapatkan cobaan kelompok ini dan beliau adalah sahabat berilmu tinggi yang pasti lebih paham aplikasi hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Hal ini dapat kita temukan dalam kitab-kitab sejarah.

Beliau juga bersabda,

إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya. Seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “. (HR. Abu Dawud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij)

Pemahaman kaum khawarij adalah mudah menghukumi seseorang dengan hukum bunuh. Padahal di dalam islam, Allah dan Rasul-Nya telah memberikan aturan hukum tentang seseorang yang berhak mendapatkan hukum bunuh menurut syariat.

Perlu diketahui secara prinsip, bahwa setiap orang yang telah mengucapkan kalimat syahadat, berarti ia telah menjadi muslim dan ia mendapatkan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Harta dan darahnya menjadi haram, tidak boleh diambil atau dirampas kecuali dengan cara yang haq.

Banyak fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat ridhwanullah ‘alaihim menghukumi seseorang masuk islam, apabila ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mereka tidak meminta saat pertama kali untuk mengucapkan kalimat-kalimat lainnya.

Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa hadits shahih yang menunjukkan dasar di atas dan kami akan tambahkan dengan menyebutkan sebagian peristiwa sejarah yang menunjukkan hal ini.

Diantara hadits-hadits itu ialah:

  1. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “seorang yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq disembah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah rasulullah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan dua kalimat itu tanpa ragu kecuali dia akan masuk jannah”. (Shahih Muslim, Syarh Imam Nawawi, juz: 1, hal: 224) Dan dalam riwayat lain: “Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan dua kalimat syahadat tanpa ragu maka dia tidak akan dihijab dari jannah”. (Shahih Muslim, Syarh Imam Nawawi, juz: 1, hal: 426)
  2. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه مسلم)

“barang siapa yang meninggal dan dia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Allah maka dia masuk jannah”. (Shahih Muslim, Syarh Imam Nawawi, juz: 1, hal: 218)

  1. Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu Ta’ala anhu berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah maka diharamkan baginya neraka”. (Shahih Muslim, Syarh Imam Nawawi, juz: 1, hal: 229)

Oleh karena itu ketika Abu Thalib (paman nabi) menjelang meninggalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Umayyah berkata,

يَا أَبَا طَالِبٍ ،أتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthollib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muttholib.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian mengatakan:

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ

“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”.  (QS. At Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai”. (QS. Al Qashash: 56). (HR. Bukhari)

Budak Wanita Yang Beriman Kepada Allah

Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami Radhiallahu Anhu, dia berkata: “Dulu budak wanitaku menggembalakan kambing-kambingku di wilayah Uhud dan Juwainiyah. Suatu hari dia kembali dalam keadaan serigala telah membawa lari seekor kambing gembalaannya. Aku adalah seorang dari anak-anak Adam yang marah sebagaimana mereka marah. Aku sungguh-sungguh memukul dan mencacinya. Maka aku datangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, perkara tersebut terasa besar bagiku.

Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku bebaskan dia?’ Rasulullah berkata, ‘Bawa dia ke hadapanku’. Rasulullah kemudian bertanya kepada budak perempuan tersebut, ‘Dimana Allah?’ Dia menjawab, ‘Allah di langit’. Beliau juga bertanya, ‘Siapa aku?’ Budak itu menjawab, ‘Engkau Rasulullah’. Rasulullah bersabda, ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman”. (HR. Muslim dan Abu Daud)

Diantara faedah hadits di atas adalah benarnya iman itu dengan syahadat tentang kerasulan Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Kemudian berkeyakinan bahwa Allah berada di langit merupakan bukti benarnya keimanan, dan ini adalah perkara yang wajib bagi setiap mu’min. sekaligus menjadi bantahan terhadap kesalahan orang yang mengatakan bahwa Allah ada di semua tempat dengan Dzat-Nya, dan yang benar bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya tidak dengan Dzat-Nya.

Diantara Contoh Islamnya Para Sahabat Yang Langsung Diperlakukan Sebagai Muslim Sepenuhnya Oleh Rasulullah

  • Masuk Islamnya Khalid bin Sa’id

Suatu malam Khalid bin Said bermimpi sedang berdiri di bibir neraka Jahanam. Ia bisa melihat betapa luasnya neraka dan betapa pedih siksaan di dalamnya. Dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba bapaknya muncul dan berusaha mendorong dirinya ke dalam neraka. Ia berusaha untuk meronta, namun tenaga bapaknya lebih kuat. Saat ia hampir saja melayang ke dalam neraka, tiba-tiba muncul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang mencengkeram kedua lengannya dan menariknya ke tempat yang aman.

Khalid amat terkejut dengan mimpi yang aneh itu. Katanya, “Demi Allah, ini adalah mimpi yang benar.” Khalid segera menemui Abu Bakar Ash-Shidiq dan menceritakan mimpinya.

Mendengar kisah mimpi aneh itu, Abu Bakar menasehati Khalid, “Allah menghendaki kebaikan untukmu. Ini adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, ikutilah beliau! Jika engkau mengikuti beliau dan masuk Islam, niscaya Islam akan mencegahmu dari masuk neraka. Adapun bapakmu akan masuk neraka”.

Hari itu juga Khalid menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Katanya, “Wahai Muhammad, engkau mengajak kepada apa?”

“Aku mengajak untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah tiada sekutu bagi-Nya dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta meninggalkan penyembahan batu yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa memberi manfaat, tidak bisa mendatangkan bahaya dan tidak bisa membedakan orang yang menyembahnya daripada orang yang tidak bisa menyembahnya”.

Mendengar uraian itu, Khalid pun bersyahadat dan masuk Islam.

  • Islamnya Abu Dzar Al Ghifari

Abu Dzar pergi sendiri ke Makkah. Setibanya di sana, ia langsung menuju Masjidil Haram. Ia belum mengenal Baginda Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Ia berpikir, tidak aman jika menanyakan tentang Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang. Maka hingga petang ia masih terus tinggal di Masjidil Haram dalam keadaan seperti itu.

Ketika hari sudah mulai gelap Sayyidina Ali Radhiallahu Anhu melihat ada seorang musafir asing. Pada masa itu, menunaikan hajat para musafir, orang-orang miskin dan orang-orang asing sudah menjadi kebiasaan masyarakat Arab. Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu pun membawa musafir itu kerumah dan menjamu nya. Tetapi Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu merasa belum waktunya bertanya mengenai siapa dan apa maksud kedatangannya. Musafir tersebut juga tidak mengemukakan maksudnya kepada tuan rumah.

Pagi harinya, ia kembali ke Masjid. Sepanjang hari, keadaan tetap seperti itu, Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu tidak bisa menemui Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia belum mengenal Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak bisa bertanya kepada siapa pun. Kemungkinan besar, hal itu disebabkan berita tentang permusuhan tentang orang-orang kafir terhadap Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah tersebar luas. Siapa saja yang berani menemui beliau akan disiksa denga segala cara. Ia pun berpikir, tidak mungkin menanyakan kepada orang lain mengenai keadaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sebenarnya. Ia takut, jika ia bertanya kepada seseorang kemudian orang tersebut berprasangka buruk, ia akan mendapatkan kesusahan.

Sore hari kedua, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu berfikir “Musafir asing ini pasti mempunyai tujuan datang kemari. Mungkin tujuannya belum terpenuhi.” Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu pun mengajak kembali tamu nya menginap dan menjamu nya dirumah. Namum, malam itupun Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu belum bertanya kepadanya. Malam ketiga pun, sama seperti malam sebelumnya. Akhirnya, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada tamunya, “Apakah tujuanmu datang kemari?” setelah meminta Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu bersumpah dan berjanji akan menjawab dengan jujur setiap pertanyaannya, barulah Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu mengutarakan maksudnya.

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh, beliau utusan Allah Subhanahu wata’ala. Jika esok pagi aku pergi, ikutilah aku. Aku akan mengantarmu kepada beliau. Karena suasana pertentangan masih panas, maka jika selama di perjalanan kita menemui seseorang yang mencurigai perjalanan kita, aku akan pura-pura buang air kecil atau pura-pura membetulkan terompah. Hendaknya engkau terus berjalan, jangan menunggu ku agar orang tidak mengetahui perjalanan kita.“

Ke-esokan paginya, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu diikuti musafir itu tiba di tempat Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka berbincang-bincang dengan beliau. Saat itulah Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu masuk Islam. Selanjutnya, karena Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencemaskan gangguan yang akan menimpa dirinya, Beliau melarang Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menunjukkan ke Islaman nya di muka Umum. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, pulanglah kepada kaummu dengan sembunyi-sembunyi, dan engkau boleh kembali lagi jika kami telah mendapat kemenangan.” Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya Rasulullah demi Dzat yang nyawaku berada ditangan-Nya, aku akan mengucapkan Kalimah Tauhid ini dengan lantang di tengah kerumunan orang-orang yang tidak beriman itu!” lalu, ia langsung menuju Masjidil Haram dan dengan suara lantang ia berseru

أشهد أن لاإله إلاالله وأشهد أن محمدا رسول الله

“Aku bersaksi tiada yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.

Selanjutnya, orang-orang menyerangnya dari segala arah tubuhnya terluka berat. Bahkan ia hampir saja menemui ajalnya. Paman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abbas, yang ketika itu belum memeluk Islam melindungi Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dengan membaringkan tubuhnya diatas tubuh Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dan berkata kepada mereka “ Kedzaliman apa yang sedang kalian lakukan? Ini seorang dari Kabilah Ghifar. Kabilah ini menetap dijalan menuju ke Syam akan tertutup.” Ucapannya itu menyadarkan orang-orang yang memukulinya. Memang benar, semua kebutuhan mereka datang dari Syam jika jalur itu tertutup, berarti bencana bagi mereka. Akhirnya, mereka melepaskannya.

Hari kedua, dengan suara lantang Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu mengulangi perbuatan menyerukan Kalimat Tauhid dihadapan orang banyak. Orang-orang tidak tahan mendengar kalimah tersebut. Mereka langsung menyerangnya lagi hari itu, Sayyidina Abbas Radhiyallahu ‘anhu juga lah yang mengingatkan kaum nya bahwa jika ia mati maka jalur perdagangan mereka akan tetutup.

  • Masuk Islamnya Thufail bin Amr Ad Dausy

Ath-Thufail mengisahkan bahwa pada suatu hari ia menginjakkan kaki di Makkah. Tidak seorang pemimpin Quraisy pun mengenalku hingga mereka menemuiku dan menyambut kedatanganku dengan meriah. Mereka memuliakanku sebagaimana mereka memuliakan para pemimpin mereka. Kemudian, para pemimpin dan pembesar Quraisy berkumpul bersamaku. Mereka berkata, “Ya Thufail, engkau telah datang ke negeri kami. Ada seorang laki-laki yang menyatakan dirinya adalah seorang Nabi. Ia telah menyusahkan urusan kami dan memecah belah kami. Kami amat takut hal ini juga terjadi di kaummu sebagaimana yang kami alami sekarang. Maka, janganlah engkau pernah berbicara dengannya. Janganlah engkau dengarkan perkataannya. Sesungguhnya, ia memiliki ucapan seperti sihir yang dapat memisahkan antara seorang anak dan bapaknya. Antara saudara dan saudaranya yang lain. Antara seorang istri dan suaminya.”

Ath-Thufail mengatakan, “Demi Allah, mereka selalu menceritakan keadaannya yang menakjubkan itu kepadaku, menakut-nakuti kaumku dengan perbuatannya, sehingga aku pun terpengaruh untuk tidak mendekatinya, tidak berbicara dengannya, dan tidak mendengarkan ucapannya sedikitpun. Ketika aku pergi ke masjid untuk thawaf di sekeliling Ka’bah dan meminta berkah dari berhala-berhala yang selalu kami agungkan dan kami berhaji untuknya, aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar ucapan Muhammad. Akan tetapi, tatkala aku memasuki masjid, aku melihat seseorang sedang shalat di sisi Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan tata cara shalat kami.

Melakukan ibadah yang berbeda dengan tata cara ibadah kami. Pemandangan itu membuatku senang. Ibadahnya menakjubkanku dan aku merasa diriku lebih rendah daripadanya. Sedikit demi sedikit, tanpa kusadari, aku mendekatinya. Dan Allah menjadikan telingaku mendengar sebagian ucapannya. Aku pun mendengar suatu ucapan yang amat baik. Aku pun berkata di dalam hatiku, “Ibumu telah menghilangkanmu dengan kematian, ya Thufail. Padahal engkau adalah seorang penyair yang cerdas dan pintar. Mengapa engkau tidak dapat membedakan yang jelek dari yang baik. Apa yang menghalangimu mendengar perkataannya? Jika yang dibawanya itu kebaikan hendaklah engkau terima, jika jelek hendaklah engkau tinggalkan.”

Kemudian ath-Thufail tetap berada di sana hingga Rasulullah pergi dari Baitullah. Ia pun membuntutinya sampai ke rumahnya. Ketika ia masuk rumah, ia pun ikut masuk, lalu berkata, “Ya Muhammad, kaummu telah menceritakan kepadaku tentangmu semuanya. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku dengan perbuatanmu sehingga aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu. Tetapi Allah tetap memperdengarkan ucapanmu ke telingaku. Dan aku mendengar sesuatu yang baik, maka katakanlah semuanya kepadaku.”

Lalu Muhammad pun mengatakan semuanya, beliau membacakan surah al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, ath-Thufail telah mendengar perkataan yang lebih baik daripada perkataannya dan ia tidak melihat suatu urusan pun yang lebih adil daripada urusannya.

Ketika itu, ia membentangkan telapak tangan kepadanya dan bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan ia pun memeluk Islam.

Masih banyak hadits dan sejarah lain yang serupa dengan ini, dan semuanya menunjukkan bahwa siapa saja yang meninggal dalam keadaan bertauhid dan bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan dua kalimat syahadat tanpa ragu maka dia akan masuk jannah, walaupun setelah sekian lama ia disiksa di neraka namun dia tidak kekal di dalamnya, ia disiksa sebagai hukuman atas dosa dan maksiat yang ia lakukan.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ust. Mirdas Eka Yora, Lc. M.Si

(Hud/darussalaam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved