Follow us:

Ke Utamaan Akhlaq Terpuji Untuk Menjadi Yang Terbaik

Oleh:Ustadz Muhammad Anwar, MA

Dewasa ini umat islam masih kurang tertarik untuk menjadi yang terbaik. Padahal naluri manusia mengatakan ingin menjadi yang baik. Namun harus disadari, bahwa menjadi orang yang baik apalagi yang terbaik tidak bisa terwujud begitu saja, kecuali dengan usaha yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, setiap orang harus berupaya semaksimal mungkin agar dirinya menjadi manusia yang terbaik di dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ …. آل عمران: 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…..” (Ali Imran: 110)

Memerintahkan orang lain melakukan kebaikan dan mencegah manusia dari melakukan kemungkaran merupakan hal yang amat dibutuhkan, karena dalam hidup ini kita menginginkan berlangsungnya kehidupan secara baik. Orang yang sudah baik membutuhkan dakwah agar bisa mempertahankan dan meningkatkan kebaikannya, apalagi orang yang belum baik. Karena itu, bila kita melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, kita akan menjadi orang-orang yang terbaik, karena tugas dakwah itu menantang kita untuk terlebih dahulu melaksanakan pesan-pesan dakwah.

Allah Ta’ala telah memperlakukan manusia jauh lebih baik daripada memperlakukan makhluk-makhluk Allah lainnya. Buktinya, secara tegas manusia diberikan tugas dan tanggungjawab. Diberikan amanah yang tidak pernah diberikan kepada makhluk lainnya diantaranya sebagai Khalifah di muka bumi. Dengan harapan, agar manusia senang terhadap hal-hal yang baik, berkumpul dengan orang-orang yang baik, di waktu dan tempat yang baik.

Hal ini menunjukkan bahwa islam mengatur pendekatan management dalam kehidupan. Kapan seseorang harus shalat, silaturrahmi, memberi, menolong, istirahat dan sebagainya. Dan untuk menjadi yang terbaik, tidak terwujud secara tiba-tiba, perlu adanya proses.

Manusia juga telah diberikan dua potensi dasar oleh Allah Ta’ala yaitu potensi positif dan potensi negative. Ada dua sisi berbeda dari jiwa manusia, yang satu mengarah kepada kebaikan dan yang satunya lagi mengarah kepada kejahatan. Bijaksana atau tidaknya seseorang bergantung pada dua sisi jiwa orang itu. Al-Qur’an memberitahu kita bahwa tingkah laku yang mengikuti nafsu adalah tidak bijaksana. Sebaliknya, setia kepada sisi baik dari jiwa membawa kepada kebijaksanaan.

Potensi positif disebut alquran dengan nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang)

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ {27} ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً {28} فَادْخُلِي فِي عِبَادِي {29} وَادْخُلِي جَنَّتِي {30}

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku”. (Al Fajr: 27-30)

Ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّة

“Wahai jiwa yang tenang” (Al-Fajr: 27)

Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu: “Wahai jiwa yang membenarkan.”

Qatadah Rahimahullahu berkata, “Ia adalah jiwa yang beriman, jiwanya tenang kepada apa-apa yang dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

Sedangkan potensi negatif disebut dengan jiwa yang suka menyuruh kepada perkara buruk (al-Ammaarah bi as-suu’).

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ (يوسف: 53)

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (Yusuf: 53)

Jiwa yang suka menyuruh kepada perkara buruk memerintah pemiliknya dengan apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya berupa syahwat-syahwat yang menyesatkan (maksiat) dan mengikuti kebathilan (paham yang menyimpang). Dan itulah tempat segala keburukan.

Jika dia mentaatinya (mengikuti keinginan hawa nafsunya), maka jiwa itu akan menuntunnya pada setiap keburukan dan setiap suatu yang dibenci.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkabarkan jiwa itu sebagai nafsu ammarah (banyak memerintah) bis suu’, Dia tidak mengatakan amirah (yang memerintah), karena begitu banyaknya keburukan yang diperintahkan. Dan itulah kebiasaan dan adatnya, kecuali jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati dan menjadikannya bersih, sehingga memerintahkan pemiliknya pada kebaikan. Yang demikian itu dari rahmat Allah, bukan dari jiwa itu, karena sesungguhnya jiwa itu secara dzatnya banyak memerintah pada keburukan.

Manusia diciptakan pada asalnya dalam keadaan bodoh dan zhalim, kecuali orang yang dirahmati Allah Azza wa Jalla. Sedangkan ilmu dan keadilan (lawan dari bodoh dan zhalim) merupakan perkara yang muncul belakangan atas jiwa tersebut disebabkan oleh ilham Rabb dan Pencipta-nya. Maka jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberi ilham berupa jalan petunjuk, niscaya dia akan tetap berada dalam kezhaliman dan kebodohannya. Karena tidaklah banyak memerintah pada keburukan kecuali akibat dari kebodohan dan kezhalimannya. Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah Azza wa Jalla atas orang-orang beriman, niscaya tak seorang pun yang memiliki jiwa yang bersih.

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (الشمس: 8)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (Asy Syams: 8)

Ibnu Katsir Rahimahullahu menafsirkan firman Allah dalam ayat ini (maksudnya): “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”,yakni memberi penjelasan kepada jiwa itu, mana jalan menuju kejahatan dan mana jalan menuju ketaqwaan. Maksudnya,Allah menampakkan hal itu kepada jiwa tersebut dan memudahkannya kepada apa yang telah Dia tetapkan untuknya.

Allah Ta’ala juga memberi kebebasan. Memilih antara dua jalan. Kebenaran dan kesesatan. Kebajikan dan kejahatan. Tentu dengan konsekuensi masing-masing. Kebenaran dipenuhi onak dan duri yang selalu menghadang. Jalan terjal berliku yang menyusahkan. Kepedihan dan kepahitan menjadi cobaan yang mesti dihadapi. Tetapi ujungnya adalah kebahagiaan tiada batas. Surga dan keridhaan-Nya.

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (البلد: 10)

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebajikan dan jalan kejahatan)”. (Al Balad: 10)

Orang yang menempuh jalan kebenaran, menjalani kehidupan di dunia ini dengan penuh perjuangan memerangi hawa nafsunya. Mereka berusaha meredam keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan aturan Allah. Bergerak sesuai aturan Allah. Bertindak dengan hukum-hukum Allah. Hingga seolah mereka berada dalam ‘penjara’ karena harus terus berjuang mengendalikan hawa nafsu. Rasulullah menjelaskan “Surga itu dikelilingi hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dikelilingi berbagai syahwat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi yang memilih kesesatan. Ada kenikmatan sementara yang terasakan. Kemudahan yang menipu akan diperoleh. Semuanya sesaat. Seumur hidup yang bagi Allah tidak sampai hitungan satu hari. Sebagai gantinya siksa pedih dan api menyala-nyala. Neraka sepanjang masa. Merekalah golongan yang mendustakan nikmta Allah dan enggan mensyukuri apa yang telah dikaruniakan Allah. Padahal jika mereka pikirkan, maka sesungguhnya nikmat Allah itu tidak akan pernah mampu mereka menghitungnya.

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ…. (الكهف: 29)

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (Al Kahfi: 29)

Meskipun dalam ayat ini digunakan lâm al-amr pada kata kufur yakni: falyakfur–, namun bukan berarti ayat ini memerintahkan manusia untuk kufur. Sebaliknya, ungkapan tersebut justru bermakna al-tahdîd wa al-wa’îd (ancaman dan peringatan). Demikian penjelasan para mufassir, seperti Mujahid, Ibnu Zaid, al-Khazin, al-Baghawi, Ibnu ‘Athiyah, Abdurrahman al-Sa’di Rahimahumullah, dan lain-lain. Ancaman keras bagi orang-orang yang berbuat dzalim dalam frasa sesudahnya menjadi bukti amat jelas untuk kesimpulan tersebut.

Makna ungkapan yang sama juga dapat dijumpai dalam firman Allah Ta’ala: i’malû mâ syi’tum (perbuatlah apa yang kamu kehendaki, (Fushilat: 40). Juga sama dengan firman Allah Ta’ala: Fa [u]’budû mâ syi’tum min dûnihi (maka sembahlah olehmu [hai orang-orang musyrik] apa yang kamu kehendaki selain Dia, (Az-Zumar: 15). Semua lâm al-amr dalam ayat tersebut adalah ancaman, bukan perintah.

Kiat Menjadi Pribadi Yang Terbaik

  • Membersihkan Jiwa

Kenapa? Karena Rasulullah memberikan petunjuk bahwa jiwa yang putih bersinar ketika pelakunya sering berbuat dosa, akan menorehkan noda hitam dalam jiwanya. Semakin banyak dosa yang diperbuat, maka akan semakin menutup jiwa tersebut sehingga jiwa tidak dapat bertugas dengan baik dan optimal.

Pertanyaannya, bagaimana cara membersihkan jiwa? Diantaranya dengan memperbanyak istighfar, mendirikan shalat dengan benar, berbuat kebaikan dan amal shalih, bersedekah dan lain sebagainya.

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (هود: 3)

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (Hud: 3)

  • Menjaga Lidah

Lidah seorang muslim, tentunya harus dipergunakan untuk membicarakan kebaikan dan berbicara dengan baik. Sehingga, jangan sampai lidah yang kita miliki tidak membawa keselamatan bagi diri kita dan orang lain, karena dipergunakan untuk membicarakan kemaksiatan, apalagi untuk menggunjing, mengolok-olok dan menghina orang lain. Perintah Rasulullah jika tidak bisa bicara baik, maka lebih baik diam.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath)

Imam An-Nawawi Rahimahullah menyebutkan dalam Syarh Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara)”.

Oleh karenanya, alquran memandang bahwa hadits di atas menduduki hal yang strategis. Sebab, kata-kata yang baik mesti akan membuahkan kebaikan untuk pribadi dan orang lain.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24-25)

  • Memanfaatkan Akal Untuk Berfikir Baik

Manusia diciptakan oleh Allah tiada lain kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya. Untuk dapat melaksanakan tugas itu sebagai bentuk pengabdiannya, Allah tidak membiarkannya tanpa bekal. Allah melengkapinya dengan akal agar bisa memahami semua petunjuk dan ciptaan-Nya.

Melalui al-Qur’an, Islam mengajak umatnya  untuk mendayagunakan akal pikirannya, memperoleh petunjuk dengan berkreativitas dan bekerja keras sehingga hidup menjadi lebih bermakna. Sebaliknya, jika akal yang telah diberikan itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hidup manusia akan berjalan seolah tanpa kekuatan dan pegangan. Itu sebabnya, karena berbekal akal, manusia diangkat derajatnya oleh Allah sebagai makhluk terbaik yang pernah diciptakan.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran: 191)

  • Memanfaatkan Semua Panca Indera Untuk Belajar Dan Berkarya

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (An Nahl: 78)

Awalnya, Allah Ta’ala menciptakan manusia ke dunia ini tanpa memiliki ilmu, kemudian Allah Ta’ala menjadikan panca indra dan akal untuk manusia sebagai perantara untuk memperoleh ilmu pengetahuan

Panca indra merupakan nikmat yang agung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Ta’ala memberi petunjuk dalam bentuk indra untuk mempelajari ilmu-ilmu-Nya. Indra yang paling penting adalah pendengaran dan penglihatan agar manusia dapat berinteraksi dengan alam di mana ia hidup menghadapi berbagai masalah dan bergaul dengan para penghuni alam tersebut. Manusia juga dapat memanfaatkan kedua indra tersebut untuk mencapai tujuan hidupnya.

Untuk itu, manusia harus selalu berdoa agar dilimpahkan rahmat atas diberikannya panca indra yang sempurna dan senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala dan berhati-hati dalam menggunakan panca indra untuk hal-hal yang bermanfaat yang dapat dimanfaatkan secara bijak bukan untuk hal-hal kemaksiatan.

  • Memanfaatkan Ilmu Untuk Diamalkan Dan Diajarkan Kepada Orang Lain

Ilmu adalah untuk diamalkan dan diajarkan demi mencari keridhaan Allah Ta’ala, bukan untuk membanggakan diri atau mengalahkan lainnya.

  • Membelanjakan Harta Benda Di Jalan Allah

“Perumpamaan (infaq yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendakin-Nya, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang yang menfakahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak diiringinya apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberian dan yang menyakiti hati, mereka diberi pahala disisi Tuhan mereka. Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak mereka berduka cita”. (Al-Baqarah: 261-262)

Infaq dijalan Allah adalah sifat terpenting dari orang-orang yang bertaqwa. Karena mereka tahu bahwa harta yang ada pada mereka bukanlah milik mereka, namun milik Allah, yang Allah berikan kepada mereka, lalu Allah membelinya dari mereka, sebagaimana firma-Nya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (At-Taubah: 111)

Jadi, orang-orang yang bertaqwa percaya bahwa harta yang ada ditangan mereka adalah harta Allah. Dan mereka tidak boleh menahannya dari orang-orang yang diperintahkan Allah untuk mereka beri. Mereka berinfaq di jalan Allah siang-malam dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Bersedekahlah segera saat kita sehat, karena itulah keutamaan sedekah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا فَقَالَ أَمَا وَأَبِيكَ لَتُنَبَّأَنَّهُ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْبَقَاءَ وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anha berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah sedekah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah dalam keadaan sehat dan sangat pelit, saat engkau mengharapkan kekayaan dan mengkhawatirkan kefakiran. Jangan engkau biarkan (niat sedekahmu), meskipun nafasamu telah sampai ditenggorokan, dengan berkata-kata, bagi si Fulan sejumlah ini dan bagi si Fulan sejumlah ini, lalu harta itu menjadi milik si Fulan (ahli waris)”. (HR. Muslim)

Harus diakui bahwa sifat kita sebagai manusia pada hakikatnya adalah kikir atau bakhil. Utamanya terhadap harta benda milik kita yang diperoleh dengan susah payah. Hal ini sesuai dengan firman Allah: ”Jiwa manusia itu diberi perangai untuk menjadi kikir”. (An-Nisa’: 128)

Sifat kikir (bakhil) tersebut termasuk salah satu sifat tercela dan hina. Bahkan Allah Ta’ala membenci orang yang bakhil dalam hidupnya dan baru memiliki sifat dermawan menjelang ajalnya.

Abu Hanifah Rahimahullahu berkata, “saya tidak melihat keadilan pada orang bakhil, karena kebakhilan menyebabkannya menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam. Lantas, ia mengambil harta melebihi haknya karena takut tertipu. Barang siapa yang keadaannya seperti ini, ia tidak layak dipercaya untuk memikul amanah.”

Oleh karena itu, jiwa kita harus senantiasa disucikan dari sifat kikir. Dan infaq (serta sedekah) merupakan salah satu wasilah terpenting untuk menyucikan jiwa dari kekikiran dan akan menjauhkan kita dari api Neraka, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya”. (Al Lail: 17-18)

  • Membiasakan Memberi

Sesungguhnya, diantara tanda kemurahan agama Islam ini adalah mendidik umatnya agar senantiasa berkasih sayang kepada sesama manusia maupun kepada segenap makhluk lainnya. Diantara bentuk kasih sayang itu adalah Allah Ta’ala mensyari’atkan kepada segenap muslimin–muslimat yang memiliki kelebihan harta benda, dan lain-lain untuk berinfak dan bershadaqah kepada sesama saudaranya yang kekurangan dan yang memerlukan bantuan.

Rasullullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam yang mulia yang menganjurkan kita untuk membiasakan diri berinfak dan bershadaqah, yang dengan itu kita berbagi suka dan duka dalam bentuk harta yang kita punyai untuk fakir miskin (orang yang tidak mampu) yang membutuhkannya, untuk anak-anak yatim yang merindukannya, untuk janda-janda miskin dan para mujahidin yang tiada meminta-minta tetapi sangat memerlukannya dan merindukannya. Pendeknya, seluruh harta yang kita infakkan, baik banyak maupun sedikit jumlahnya, Insya Allah Ta’ala akan sangat bermanfaat bagi kebaikan diri kita khususnya, juga untuk berlangsungnya misi dan visi perjuangan Dienul (Agama) Islam secara umum.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang bodoh yg dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yg bakhil”. (HR. Tirmidzi)

  • Berjiwa Besar Dan Lapang Dada

Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Al Maidah: 13)

Wallahu Ta’ala A’lam

 

 

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved