Follow us:

KEBANGKITAN ISLAM

Oleh : Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA.

Pemateri menyaksikan banyak negara secara ekonomi cukup bagus, dalam urusan negara juga rapi, namun pada sisi keislaman yang mereka tempuh sepertinya perlu diperbaiki. Yang ditemukan hanya orang-orang shalih, mereka shalat, bekerja mencari halal, tetapi perhatian mereka kepada islam, perjuangan mereka untuk islam tidak terancang dengan baik. Padahal seorang muslim tidak cukup hanya menjadi orang shalih, tetapi sekaligus harus menjadi Mushlih (menshalihkan orang lain).

Setiap Muslim hendaklah menjadi pribadi yang shalih, menjadi contoh bagi keluarga, masyarakat di sekitarnya. Namun, shalih tidak hanya sekadar shalih secara pribadi, melainkan keshalihannya juga bermanfaat bagi orang lain, dengan kesholehannya bisa berdaya guna bagi masyarakat di sekitarnya dan mampu menularkan keshalihannya kepada orang lain sehingga muncul pribadi-pribadi shalih yang berikutnya.

Oleh karena itu, kita perlu membangun kekuatan umat. Dan diantara kekuatan umat yang perlu dibangun melalui SDM nya berada di tiga tempat yaitu; Masjid, Pesantren dan Perguruan Tinggi

Masjid

Rancangan fungsi masjid sekarang perlu dievaluasi kembali agar masjid menjadi pusat peradaban islam, menjadi pusat kegiatan islam, memberikan manfaat kepada umat islam. Masjid bukan hanya sebatas untuk shalat, berdzikir, tetapi masjid harusnya seperti yang difungsikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, baik untuk kaderisasi, mengerahkan umat, mengirim pasukan perang, mengirim para da’I dan memecahkan persoalan-persoalan umat.

Diantara Fungsi Masjid:

Pertama; Sebagai sarana peningkatan pendidikan umat Islam.

Pendidikan dan keimanan umat Islam dapat ditingkatkan melalui kegiatan belajar Al Qur’an, belajar bahasa arab, memahami kandungan Al Qur’an dan hadits, serta ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan ajaran syari’at Islam. Dan kegiatn-kegiatan tersebut dapat diselenggarakan dalam bentuk kursus, TPA,  pelatihan, kajian-kajian, majelis ta’lim dan lain-alin.

Kedua; Sebagai sarana peningkatan peran sosial umat.

Keberadaan masjid dapat dijadikan sebagai lembaga pendorong umat Islam untuk berkompetisi dalam berbagai bidang kehidupan apalagi disaat perekonomian masyarakat terpuruk dan kurang menguntungkan. Dalam beberapa penelitian yang membuktikan bahwa salah satu daya tarik masjid adalah adanya kantin dan mini market ataupun toko buku dan lain-lain, seperti contohnya dapat dilihat beberapa masjid yang berada di kota seperti bandung, jakarta, pekanbaru dan kota-kota lainnya. Oleh karena itu, pengurus masjid semestinya mampu menangkap secara baik dan menjadikannya sebagai peluang pengembangan bisnis Islam.

Ketiga; Sebagai sarana peningkatan politik umat.

Melalui pelaksanaan shalat jamaah di masjid setiap hari akan memberikan kesadaran terhadap jamaah bahwa semua manusia adalah sama dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan ini akan membuat mereka semakin merasakan betapa perlunya kita menjalin kesatuan dan persatuan antar sesama karena Allah Ta’ala semata.

Keempat; Sebagai sarana peningkatan peran remaja masjid.

Para remaja dapat disalurkan dan diarahkan pada jalan yang benar dan bermanfaat melalui peningkatan fungsi peran remaja masjid. Dengan demikian mereka dapat terhindar dari dampak negatif globalisasi seperti kenakalan remaja, pengedaran dan penggunaan obat-obat terlarang dan lain-lain.

Kelima; Sebagai sarana meningkatkan syi’ar agama Islam.

Syi’ar Islam dapat ditingkatkan dengan cara “menjum’atkan masjid” setiap hari. Faktanya, jumlah masjid di negeri kita semakin banyak namun jumlah jamaahnya berkurang. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat jamaah lebih baik daripada shalat sendirian dengan 27 pahala”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh. Kalau mereka mengetahui keutamaan yang terdapat dalam kedua shalat tersebut, mereka akan mendatanginya walau pun dengan merangkak. Aku sangat ingin memerintahkan shalat (dikerjakan), lalu dikumandangkan iqomat dan kuperintahkan seseorang untuk mengimami para jama’ah. Sementara itu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak ikut shalat berjama’ah dan membakar rumah-rumah mereka dengan api”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan wajibnya shalat Jama’ah. Inilah pendapat yang tepat dari pendapat para ulama yang ada. Dikatakan wajib karena yang sampai tidak shalat Jama’ah diancam dibakar rumahnya sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Sebenarnya tidaklah terhalang untuk membakar rumah-rumah mereka yang tidak berangkat berjama’ah, namun karena adanya perempuan dan anak-anak yang tidak wajib shalat berjama’ah, akhirnya pembakaran tersebut diurungkan. Sebagaimana halnya jika wanita yang hamil yang mesti kena hukuman had, hukuman tersebut dikenakan setelah ia melahirkan.

Shalat berjama’ah di sini wajib bagi laki-laki, mukallaf yaitu sudah baligh dan dewasa. Hadits di atas pun sekaligus menunjukkan keutamaan shalat Isya dan shalat Shubuh.

Demikianlah pentingnya shalat berjamaah di masjid sampai-sampai ada ancaman bagi orang yang tidak mengindahkannya.

Pesantren

Di dunia ini jumlah pesantren terbanyak ada di Indonesia, yaitu sekitar 27.000 pesantren. Dari mana pesantren itu muncul? Pesantren tersebut muncul dari pola nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengkader 70 orang Ahlussufah di pojok-pojok masjid Nabawi.  Pertanyaannya, “dimana lulusan-lulusan pesantren tersebut? Jika sumber daya para lulusan tersebut dirancang dengan baik, maka bangsa dan umat ini akan jauh lebih baik dari sekarang.

Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi sekarang ini banyak menjadi sasaran liberalisasi.  Suatu kali pemateri pernah berangkat haji bersama 38 Rektor Perguruan Tinggi Indonesia. Ketika itu, Amir Hajinya adalah Pimpinan Pesantren Gontor. Pemateri berinisiatif mengadakan dialog dengan para rektor tersebut. Pemateri menanyakan, “Apa yang sudah bapak-bapak buat dan rancang untuk islam? Mereka terdiam alias belum ada. Karena hal tersebut berada di luar pikiran mereka. Padahal seharusnya, perguruan-perguruan tinggi tersebut jika melahirkan sumber daya manusia yang memiliki misi dan visi untuk islam, maka umat dan bangsa ini akan menjadi hebat.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Al Jazeera, sejak mulai tahun 77 sampai akhir 2013 kemarin, jumlah ilmuwan muslim yang sekolah di Amerika dan tidak mau pulang karena ingin mengembangkan ilmunya disana, sebanyak 750.000 orang. Pertanyaannya siapa yang diuntungkan? Yang diuntungkan adalah Amerika.

Secara konseptual, mari merujuk kepada surah Al Maidah ayat 54. Mudah-mudahan menjadi pendorong kita untuk melakukan upaya-upaya membangun kebangkitan umat islam, baik di wilayah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, maupun pembangungan pribadi dan karakter bangsa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة: 54)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (Al Maidah: 54)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang ke Maha kuasaan-Nya, bahwa barangsiapa yang berpaling dari menolong islam dan menegakan syariat-Nya, maka Allah Ta’ala akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik, lebih kuat tekadnya dan lebih lurus pendiriannya.

Diantara Konsep Untuk Merancang Kebangkitan Islam

Pertama, Berupaya Agar Allah Mencintai Mereka Dan Merekapun Mencintai-Nya

Yaitu sifat dimana ia sangat proporsional menempatkan kecintaannya, kecintaan ia kepada orang tua, anak, teman, istri, keluarga, harta, perniagaan dan tempat tinggalnya tidak mengalahkan kecintaannya kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga untuk membuktikan kecintaannya kepada Allah Ta’ala ia akan mengorbankan apa saja yang dimilikinya, termasuk nyawanya.

Mencintai Allah Ta’ala merupakan sifat orang Mukmin yang benar, sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Baqarah: 165

Kecintaan hamba terhadap Rabb mereka adalah dengan menaati-Nya, mencari ridha-Nya, dan tidak mengerjakan segala perbuatan yang menyebabkan kemarahan dan hukuman-Nya. Sedangkan kecintaan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya adalah dengan memberikan mereka pahala atas ketaatan mereka, memuliakan, memuji, dan meridhai mereka. Demikian al-Zamakhsyari dalam tafsirnya.

Didahulukannya cinta Allah Ta’ala kepada mereka karena seandainya Allah Ta’ala tidak mencintai mereka, niscaya Allah Ta’ala tidak akan memberikan mereka taufik sehingga mereka menjadi orang-orang yang mencintai-Nya.

Kedua, Bersikap Lemah Lembut Terhadap Orang Yang Mukmin Dan Bersikap Keras Terhadap Orang-Orang Kafir

Kata adzillah merupakan bentuk jamak dari kata dzalîl. Artinya, mereka menunjukkan rasa iba, simpati, dan tawadhu’ terhadap kaum Mukmin. Sedangkan al-a’izzah bentuk jamak dari kata ‘azîz. Artinya, mereka menunjukkan sikap keras, tegas, dan tinggi atas kaum kafir. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya. Sikap ini sebagaimana juga disebutkan dalam Al-Fath: 29.

Ketiga, Berjihad Di Jalan Allah

Dengan mengangkat senjata  dan berperang di jalan Allah Ta’ala dengan harta dan jiwa. Secara syar’i, pengertian al-jihâd adalah al-qitâl fî sabîlil-Lâh (berperang di jalan Allah). Perintah berjihad amat banyak terdapat dalam Alquran dan sunnah. Keutamaan amal tersebut juga amat besar. Kaum yang dijanjikan itu menyambut panggilan Allah dan rasul-Nya untuk berjihad di jalan-Nya.

Keempat, Tidak Takut Kepada Celaan Orang Yang Suka Mencela

Dalam menolong agama-Nya, mereka sama sekali tidak takut terhadap siapa pun. Termasuk celaan dari para pencela. Bagi mereka, perintah Allah Ta’ala dan rasul-Nya lebih didengar daripada pencela yang hanya akan menjerumuskan mereka kepada kekufuran dan kemaksiatan.

Hidup ini adalah untuk berjuang, bukan berjuang untuk hidup. Buya Hamka pernah mengatakan, “kalau hidup hanya sekedar hidup, Kera di rimba juga hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, Kerbau di sawah juga bekerja”.

Pesannya begitu mendalam. Yang membedakan kita dengan hewan adalah akal yang dimiliki manusia. Nah, kalau kita bekerja hanya berdasarkan naluri saja, apa bedanya kita dengan hewan. Maka sebagai pembeda, adalah keimanan dan ketaqwaan.

Demikianlah beberapa hal yang perlu dibangun untuk kebangkitan islam sehingga umat islam ke depan lebih baik dari sekarang.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved