Follow us:

Keberkahan Bersama Keimanan & Ketaqwaan

Oleh:Ustadz Oemar Mita, Lc.

Kata yang paling sering diucapkan oleh manusia pada umumnya adalah kata barakah. Karena sesungguhnya kata ini apabila didengarkan akan menyejukkan hati, sebab barakah diartikan dengan banyak kebaikan dan bertambahnya fasilitas hidup. Sehingga banyak pedagang yang memberikan nama tokonya dengan “Berkah Jaya” atau “Berkah Maju”, karena pada dasarnya mereka ingin mendapatkan barakah dari dagangan yang diperjual belikan.

Sama juga dengan seorang yang bertahan dalam suatu pekerjaan walaupun pekerjaannya berat, dan hasilnya tidak sebanding dengan pekerjaannya, kita sering mendengar alasannya “saya ingin mendapatkan barakah”. Namun tidak semua orang memahami arti barakah yang sebenarnya. Padahal kata “barakah” banyak disebutkan oleh Allah di dalam Alquran dan banyak juga disebutkan di dalam hadits nabi-Nya, tapi tidak semua orang memahami arti “barakah”.

Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: (1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”.

Dalam keseharian kita sering mendengar kata “mencari berkah”, bermaksud mencari kebaikan atau tambahan kebaikan, baik kebaikan berupa bertambahnya harta, rezeki, maupun berupa kesehatan, ilmu, dan amal kebaikan (pahala).

Kata Berkah Dalam Al-Quran

Dalam Al-Qur`an kata berkah (barakah) hadir dengan beberapa makna, di antaranya: kelanggengan kebaikan, banyak, dan bertambahnya kebaikan. Al-Quran sendiri merupakan berkah bagi manusia sebagaimana firman-Nya:

“Ini (Al-Quran) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (QS. Shaad: 29)

Berkah dalam arti kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan tercantum dalam ayat berikut ini:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Kata Berkah dalam Hadits

Dalam hadits juga banyak ditemukan kata berkah, semuanya mengarah pada kebaikan dan pahala.

“Berkumpullah kalian atas makanan dan sebutlah nama Allah, maka Allah akan memberikan keberkahan pada kalian di dalamnya.” (HR. Abu Daud)

“Ya Allah, berkahilah umatku yang (bersemangat ) di pagi harinya.” (HR. Abu Dawud)

“Penjual dan pembeli itu diberi pilihan selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menjelaskan (kondisi barangnya), maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Namun bila keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Sungguh, Allah menguji hamba dengan pemberian-Nya. Barangsiapa rela dengan pembagian Allah terhadapnya, maka Allah akan memberikan keberkahan baginya dan akan memperluasnya. Dan barangsiapa tidak rela, maka tidak akan mendapatkan keberkahan.” (HR. Ahmad)

Diantara kesalahan persepsi dalam memahami arti “barakah” adalah dengan “harta”. Sehingga ketika melihat seseorang yang berlimpah harta, ia menganggapnya sebagai barakah. Sebaliknya jika melihat seseorang yang sedang disempitkan rizkinya, ia menganggap bahwa orang tersebut tidak mendapatkan barakah. Ini adalah sebuah kesalahan dalam memahami arti kata “barakah’. Sebab, jika acuan barakah adalah harta, maka banyak kaum muslimin yang kalah barakahnya dengan orang-orang kafir. Karena banyak orang kafir yang memiliki harta melimpah.

Barakah tidak terkait langsung dengan harta, ada yang diberikan barakah dengan kelapangan harta dan ada juga yang diberikan barakah dengan kesempitan harta. Harta yang Allah berikan inipun mempunyai dua sifat, pertama harta bermakna ridha dan harta yang bersifat istidraj.

Kapan harta tersebut dikatakan ridha dari Allah? Ketika seorang menggunakan hartanya untuk menambah ketaatannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana Allah memberikan pintu-pintu rizki dan kerajaan kepada Nabi Sulaiman Alahissalam.

Sebaliknya, ada seorang yang diberikan harta melimpah oleh Allah Ta’ala bukan sebagai keberkahan namun sebagai tanda kebencian Allah terhadapnya, agar dirinya semakin lupa dan bertambah jauh dari Allah Ta’ala. Perhatikanlah surah Al An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ (الأنعام: 44)

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (Al An’am: 44)

Ternyata, kaumnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika melupakan alquran dan as sunnah tidak diadzab langsung. Berbeda dengan kaum sebelum datangnya Nabi Muhammad, jika mereka melupakan ayat-ayat Allah, maka mereka langsung dilumatkan dengan siksa di dunia. Sehingga  umatnya Nabi Muhammad jika melupakan peringatan alquran dan as sunnah, Allah Ta’ala malah memberikan pintu rizki dan kesenangan duniawi yang sebelumnya tidak mereka peroleh. Sampai mereka tenggelam dengan semua kenikmatan tersebut, tiba-tiba Allah mematikan mereka dan akhirnya mendapatkan siksa dari-Nya.

Inilah jawaban dari berbagai macam pertanyaan dari banyak muslim yang melihat saudaranya melakukan berbagai macam kemaksiatan tetapi justru Allah membukakan pintu rizki-Nya yang begitu banyak. Sehingga terkadang kita membandingkan nilai harta kita dengan rutinitas ibadah yang kita kerjakan. Maka ketahuilah bahwa perbandingan ini tidak benar.

Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah”. (HR. Ahmad)

Istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman,

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ

“Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui”. (QS. Al-Qalam: 44)

Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk beristighfar, sehingga dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan semua hukumannya, itulah istidraj.

Barakah juga bisa mencakup jengkal bumi atau sebuah wilayah. Misalnya adalah bumi Makkah dan Madinah, ataupun tanah Syam. Meskipun panorama tempat-tempat tersebut tidak seindah bumi Indonesia, dan cuaca tempat tersebut tidak se-sejuk Indonesia. Tapi kita semua sepakat bahwa shalat di Masjidil Haram 100ribu kali lipat lebih baik daripada shalat di tempat lainnya. Dan kita juga sepakat akan keberkahan tanah Syam. Sebab, Allah Ta’ala memang memberikan berkah kepada Bumi Makkah, Madinah dan Syam. Inilah yang disebut barakah, bahwa barakah tidak selalu identik dengan pemandangan yang indah. Maka mari kita kembali merujuk kepada pendapat para ulama tentang arti barakah.

Diantara Arti Barakah

  • Aqidah yang benar

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء{24} تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ{25}

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24-25)

Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كـلاَمـِهِ : لاَ إِ لَهَ إِلاَ اللهُ دَخـَلَ الجـَــنَّةَ.

“Barangsiapa yang akhir ucapannya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , maka ia masuk surga”. (HR. Hakim dan lainnya)

  • Barakah Akan Menambah Ketaatan Kepada Allah

Barokah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah, yang kebaikan itu dapat menjadi langgeng dan bahkan menambah kedekatan seorang yang diberi kepada Allah yang Maha Memberi.

Permasalahan seperti ini banyak kita dapati dalam masyarakat, dan mudah untuk dikenali. Misalkan dalam sebuah kasus harta kekayaan; suatu kekayaan yang diberikan kepada seseorang dan berbarokah akan menjadikan pemiliknya lebih dekat dengan Allah, ibadahnya semakin istiqomah dan semakin membaik.

  • Dipahamkan Terhadap Agama

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada sabda nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tadi, rasulullah menyebutkan lafadz خيرا yang berarti kebaikan dalam bentuk nakirah (indefinitif) yang didahului oleh kalimat bersyarat sehingga menunjukkan makna yang umum dan luas. Seakan-akan Rasulullah hendak mengatakan, jika Allah menghendaki seluruh kebaikan diberikan kepada seorang, maka Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang Dia pahamkan terhadap agama-Nya. Karena seluruh kebaikan hanya Allah berikan bagi orang-orang yang mau mempelajari dan mengkaji agama Allah Ta’ala.

Dari hadits di atas juga, kita dapat memahami bahwasanya mereka yang enggan mempelajari agama Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka tidak memperoleh kebaikan.

Oleh karenanya, imam Ibnu Hajar Al Asqalani tatkala menjelaskan hadits di atas, beliau mengatakan,

مَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر

“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan”. (Fathul Baari 1/165)

4) Diberikan Anugrah Syahadah (Mati Syahid)

5) Diberikan Keistiqamahan Hingga Akhir Hayat

Wallahu Ta’ala A’lam

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved