Follow us:

Keutamaan Menyingkirkan Segala Sesuatu Yang Mengganggu Kaum Muslimin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh aku melihat seseorang sedang berbahagia di surga dikarenakan ia telah memotong batang pohon yang menjuntai ke jalan yg mengganggu orang lewat.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “seseorang yang melewati sebatang ranting pohon yang menjuntai ke jalan. Kemudian orang tersebut berkata; ‘Demi Allah, saya akan menyingkirkan ranting pohon ini agar tak mengganggu kaum muslimin yang lewat.’ Akhirnya orang tersebut dimasukkan ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Dari hadits ini dapat kita ambil beberapa faedah, diantaranya:

  • Keutamaan menyingkirkan segala sesuatu yang bisa mengganggu kaum muslimin. Bahkan sesuatu yang mengganggu di jalan kaum muslimin.

Dalam kisah di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seseorang yang sedang berjalan di suatu jalan, kemudian menjumpai sebuah pohon yang memiliki banyak duri dan menghalangi jalan kaum muslimin sehingga dapat mengganggu orang-orang yang melewatinya. Kemudian, ia bertekad kuat untuk memotong dan membuangnya dengan tujuan menghilangkan gangguan dari jalan kaum muslimin. Dengan sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan memasukkan ia ke dalam surga-Nya. Bahkan, Rasulullah melihatnya sedang menikmati kenikmatan di surga disebabkan amalannya tersebut.

Sungguh, laki-laki tersebut telah beramal dengan amalan yang terlihat remeh tetapi ia diganjar dengan balasan yang teramat besar. Sungguh, rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas dan keutamaan-Nya Maha Agung. Apa yang dilakukan laki-laki tersebut adalah salah satu bagian kecil dari petunjuk dan syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah. Memang benar bahwa Rasulullah telah memerintahkan kita untuk berbuat sebagaimana yang telah dilakukan oleh laki-laki tersebut.

Jika pahala besar diberikan kepada mereka yang menyingkirkan ranting di jalan kaum muslimin, maka bagaimana dengan gangguan yang lebih besar dari itu?! Seperti perilaku yang dapat mengganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka.

  • haram menyakiti kaum muslimin baik dengan perkataan maupun perbuatan

Di dalam islam, kehormatan seorang muslim sangatlah dijaga. Tidak diperbolehkan menyakiti seorang muslim dihadapan mereka dengan ucapan maupun perbuatan. Entah itu dengan memberikan nama-nama yang tidak bagus atau dengan perbuatan yang menyakiti hati mereka.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “celaan terhadap seorang muslim adalah kefasikan, sedangkan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Tirmidzi) Abu Isa berkata; ‘Ini hadits hasan shahih.

Demikian pula tidak boleh menyakiti mereka ketika tidak ada dihadapan kita, dengan cara mengghibah dan sebagainya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Hujurat: 12)

Hati kitapun harus selamat dari sikap dengki dan buruk sangka terhadap kaum muslimin. Oleh itu, Qurrah bin Mu’awiyah berkata,

كان أفضلهم عند السلف أسلمهم قلبا ولسانا

“adalah orang terbaik dalam pandangan orang-orang shaleh (para sahabat) terdahulu adalah yang paling selamat hati dan lisannya.

Bahkan ketika seorang muslim telah meninggal dunia-pun tetap tidak boleh disakiti.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «لاَ تَسُبُّوا اْلأَمْوَاتَ, فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلىَ مَا قَدَّمُوْا». رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, karena mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan.” (HR. Al-Bukhari)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ ، شَهْرًا

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwasanya ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah? Dan apakah amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesama manusia. Adapun amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah engkau menggembirakan hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid Madinah ini (masjid Nabawi) selama satu bulan penuh.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Qadha-u Hawaij, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, Al-Mu’jam Ash-Shaghir, dan Al-Mu’jam Al-Kabir) Dinyatakan shahih li-ghairih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah.

Hadits ini menunjukkan betapa seorang muslim sangat berharga dihadapan Allah.

  • Terkadang Allah Ta’ala memasukkan seorang muslim ke dalam surga karena amalan shalih yang dianggap remeh oleh manusia.

Luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agungnya pahala yang disiapkan buat hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah Ta’ala memasukkan laki-laki tersebut ke dalam surga sekaligus dengan sebab amalannya yang sedikit, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin, karena memang seseorang masuk surga itu berkat fadilah Allah yang dianugerahkan kepadanya, bukan sekadar karena amalan yang ia perbuat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ – وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ – فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِاَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik- maka Allah akan menerima dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya (yang berinfak) sebagaimana salah seorang kalian mengembangbiakkan anak kuda atau anak untanya, sampai harta itu menjadi sepenuh bukit”. (HR. Bukhari)

Terkadang kita memandang remeh seseorang, namun bisa jadi seorang tersebut di mata Allah sangat luar biasa keimanannya. Sebab, Allah Ta’ala bukan hanya sebatas melihat amal zhahir saja, tetapi hatinya pun dilihat oleh-Nya.  Apakah hatinya bersih dari penyakit-penyakit hati atau tidak.

Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “orang yang zuhud adalah orang yang apabila melihat orang lain, ia berkata: ia lebih baik dariku.” (Jami’ul ulum wal hikam)

Merasa lebih baik adalah pintu ujub dan sombong sebagaimana iblis merasa lebih baik dari Adam. Kita seringkali tertipu dengan banyaknya amal shalih, merasa lebih lama ngaji, lebih banyak hafalan dan ilmu, lalu memandang orang yang baru ngaji dengan pandangan remeh, merasa dirinya lebih baik. Ia tidak sadar telah dihinggapi kesombongan, padahal tidak masuk surga orang yang ada pada hatinya kesombongan walaupun sebesar biji sawi.

  • Sebaliknya seseorang juga bisa masuk neraka karena amalan yang dianggap remah

Dalam Shahih al-Bukhâri disebutkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.

Sesungguhnya seseorang mengatakan satu kalimat yang diridhai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya, melainkan Allah akan mengangkatnya beberapa derajat. Sesungguhnya seorang hamba mengatakan kalimat yang dimurkai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya melainkan ia terjerumus dengan sebab kalimat itu ke Jahannam.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ….

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Lalu Beliau bersabda, ”Sungguh keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah” …..(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Perbuatan-Perbuatan Baik Melindungi Diri dari Kejadian-Kejadian Buruk

عَنِ أَبِي أُمَامَةَ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ : صنائع المعروف تقي مصارع السوء، والصدقة خفيا تطفئ غضب الرب، وصلة الرحم زيادة في العمر، وكل معروف صدقة، وأهل المعروف في الدنيا هم أهل المعروف في الآخرة، وأهل المنكر في الدنيا هم أهل المنكر في الآخرة، وأول من يدخل الجنة أهل المعروف. رواه الطبراني وغيره، وصححه الألباني.

Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Perbuatan baik (kepada sesama) dapat menghindarkan dari kejadian buruk, sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemarahan Ar-Rab, silaturrahmi menambah umur. Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat. Ahli kemungkaran di dunia akan menjadi ahli kemungkaran di akhirat. Sedangkan orang yang pertama masuk surga adalah ahli kebaikan”. (HR. Thabrani dan lainnya)

Beberapa faedah dari hadits ini:

  • kebaikan-kebaikan yang dilakukan akan memberikan dampak kebaikan yang luar biasa dalam hidup kita.

Suatu kisah nyata terjadi pada Imam al-Hakim Abu Abdillah penulis kitab al mustadrak. Beliau pernah terkena penyakit borok di wajahnya, ia sudah berusaha berobat dengan segala cara namun tak kunjung sembuh. Beliaupun datang kepada abu Utsman ash-Shabuni agar mendo’akan kesembuhan untuknya. Abu Utsman pun mendo’akannya di hari jum’at dan banyak orang yang mengaminkan.

Di hari jum’at mendatang, datanglah seorang wanita membawa secarik kertas dan bercerita bahwa ia telah bersungguh sungguh mendo’akan untuk kesembuhan beliau. Lalu wanita itu bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersabda: “Katakan kepada abu abdillah.. Hendaklah ia mengalirkan air untuk kaum muslimin.” Maka beliau pun segera membangun sumur di dekat rumahnya dan menyediakan airnya untuk diminum oleh manusia. Seminggu kemudian, tampak kesembuhan terlihat pada wajah beliau dan akhirnya hilang sama sekali. Dan beliau hidup beberapa tahun setelah itu. (Shahih targhib)

  • Anjuran bersedekah secara sembunyi-sembunyi

Bersedekah dengan sembunyi-sembunyi adalah amalan mulia, yang pelakunya dijanjikan pahala besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah, dimana pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” Dari tujuh pihak tersebut, Rasulullah menyebutkan bahwa siapa saja yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi -ibarat tangan kiri tak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan- maka ia termasuk salah satu di dalamnya. Begitulah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Kenapa bersedekah secara sembunyi dianjurkan? Karena ada dua fedah. Pertama, untuk menjaga keikhlasan orang yang bersedekah. Kedua, menjaga kehormatan orang yang kita berikan sesuatu.

Dahulu, tatkala malam telah menyelimuti bumi, kala mata manusia telah hanyut dalam tidurnya, ada seseorang yang selalu menyusuri jalan di kota Madinah. Punggungnya yang lemah ia paksakan untuk mengangkut beban berat berupa karung yang berisi bahan makanan. Secara diam-diam sosok misterius itu meletakkan bungkusan berisi bahan makanan di depan rumah penduduk yang ia anggap sebagai orang miskin namun ia menjaga dirinya dari menengadahkan tangan kepada orang lain. Hal ini berlangsung terus-menerus tanpa ada seorang pun yang mengetahui siapa pelakunya. Dan banyak sekali orang-orang miskin yang terbantu oleh perbuatan mulia sosok misterius ini.

Hingga suatu ketika. Tersiar kabar bahwa seorang tokoh panutan mereka, Ali bin Husain atau lebih dikenal dengan Ali Zainal Abidin meninggal dunia, maka bahan makanan yang secara misterius selalu ada di depan rumah mereka kini tidak pernah muncul lagi. Ketika para petugas yang akan memandikan jenazah beliau keheranan melihat bekas hitam di punggungnya, sadarlah penduduk kota siapa sesunggguhnya pahlawan misterius yang selalu memberikan orang-orang miskin bantuan bahan pangan di malam hari secara diam-diam. Ternyata warna hitam di punggung Ali Zainal Abidin disebabkan karena saking seringnya beliau membawa karung di punggungnya lalu membawanya mengelilingi kota setiap malam untuk membagi-bagikan bahan makanan kepada orang yang membutuhkan. Beban berat inilah yang akhirnya membekas di punggung beliau. Kini, masyarakat Madinah kehilangan sosok itu. Sosok yang telah memberikan bantuan tanpa pamrih kepada banyak keluarga di kota Madinah. Sosok yang mengamalkan ajaran kakeknya yang mengajarkan; apabila tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu.

  • Setiap perbuatan baik adalah sedekah

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu juga, bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pahala (yang banyak), mereka shalat bagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan hal yang ma’ruf adalah sedekah. Dan salah seorang dari kalian melampiaskan syahwatnya kepada istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah pada hal itu ia akan mendapat balasan pahala?” Beliau balik bertanya, “Bagaimana menurut pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada hal yang haram, apakah ia akan terkena dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan pada hal yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala.” (Shahih dikeluarkan oleh Muslim)

Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam juga menjelaskan kepada ummatnya bahwa untuk bersedekah bagi setiap ruas tulang badan setiap pagi adalah cukup dengan menegakkan sholat sebanyak dua rakaat yang dikenal dengan nama Sholat Dhuha.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

Nabi Shllallahu ’Alaih Wasallam bersabda: “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat dhuha.” (HR. Muslim)

  • Seseorang meninggal sesuai dengan kebiasaannya. Dan seseorang dibangkitkan sesuai keadaannya ketika meninggal dunia
  1. Empat Perkara Mudah Untuk Masuk Surga

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya, “Siapa yang pagi ini puasa?” Abu Bakar Radhiyallahu Anhu menjawab, “Saya, Rasul bertanya, “Siapa yang pagi ini sudah mengantar jenazah ke kuburan?” Abu Bakar menjawab, “Saya, Rasul bertanya, “Siapa yang pagi hari ini telah memberi makan orang miskin? “Abu Bakar menjawab, “Saya, Rasul bertanya, “Siapa yang pagi hari ini menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah (semua perbuatan baik itu) terkumpul pada seseorang pasti dia akan masuk surga”. (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang terkumpul padanya empat amalan dalam satu hari. Yaitu; berpuasa, mengikuti jenazah, member makan fakir miskin dan menjenguk orang sakit. Kenapa Rasulullah menjamin surga bagi yang mengerjakan empat amalan ini?? Karena memang amalan-amalan ini adalah amalan besar.

  1. Berbuat Baik Kepada Tetangga Merupakan Diantara Sebab Masuk Surga

Adat bisa menjadi patokan hukum jika memang tidak ada batasannya dalam syariat. Tetapi jika ada batasannya dalam syariat, maka adat harus menyingkir. Dalam hal ini tidak ada jumlah batasan tetangga. Maka batasan tersebut dikembalikan kepada adat istiadat masyarakat setempat, dengan syarat adat tersebut tidak bertentangan dengan syariat.

Istilah tetangga adalah umum mencakup tetangga tempat tinggal, tetangga dalam pekerjaan dan sebagainya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Dari Sa’id dari Abu Syuraih bahwasanya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada beliau; “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR. Bukhari)

Perlu diketahui bahwa tetangga menjadi lambang kebahagiaan atau kesengsaraan seorang hamba. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ؛ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ

“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, Shahih Mawarid Al-Zham’an)

Menyakiti Tetangga Merupakan Salah Satu Penyebab Masuk Neraka

Dikisahkan ada seorang wanita yang telah dikenal ibadahnya dengan baik namun ia tidak dapat mengendalikan lidahnya yakni suka mengganggu tetangganya dengannya, maka iapun masuk ke dalam neraka. Sebagaimana di dalam riwayat berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَفْعَلُ وَ تَصَدَّقُ وَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالُوْا: وَ فُلاَنَةً تُصَلِّى اْلمَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَ لاَ تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah suka shalat malam, puasa di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanyasaja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?”. Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) shalat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrod)

Tetangga itu ada tiga macam:

  • Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga. (lihat: Tabshiroh Al-An-am bi Al-Huquq fi Al-Islam karya: Abu Islam hal: 145)

Diantara Hak-Hak Tetangga

  • Memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga
  • Meringankan beban dan kesulitan tetangga
  • Menutup aib tetangga
  • Larangan keras mengganggu tetangga
  • Sabar dalam menghadapi gangguan tetangga.
  • Tidak membiarkan tetangga dalam kekurangan dan kelaparan
  • Mengutamakan tetangga yang pintu rumahnya paling dekat dengan pintu rumah kita dalam memberi hadiah. Oleh:Ustadz. Abu Yahya Badrussalam, Lc .                                                                           (Hud/DARUSSALAM.ID)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved