Follow us:

Tujuan Tarbiyah Islamiyah

Oleh: Ustadz Muhammadun Abdul Hamid, MA

Tarbiyah adalah memperbaiki orang lain dalam hal aqidah, ibadah dan akhlaknya dengan prinsip berkesinambungan untuk selalu memperbaiki setiap kekurangan yang ada pada setiap individu dan menyempurnakan kelebihan yang dimilikinya.
Keadaan jahiliyah yang dikenal dengan ummat jahiliyah di zaman Rasul mempunyai ciri-ciri bodoh, hina, lemah, miskin, dan berpecah-belah. Keadaan ini berlaku pada saat ini dan juga mungkin terdapat di kalangan muslim sendiri. Kejahiliyahan ini membawa kita kepada kesesatan yang nyata. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui RasulNya memberikan tarbiyah Islamiyah kepada manusia.
Tarbiyah merupakan salah satu amal dari setiap nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk memperbaiki manusia. Kalau kita renungi ayat,
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ (البقرة: 129)
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Baqarah: 129)
Ayat ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam yang ketiga dan yang terakhir di sela-sela kesibukannya menyelesaikan renovasi dan pemugaran Baitullah Ka’bah. Kandungan doa ini hanya satu macam, yaitu meminta kepada Allah Ta’ala agar membangkitkan seorang rasul dari kalangan mereka untuk memperbaiki keadaan manusia di kota tersebut. Makkah adalah kota yang tandus, sehingga nabi Ibrahim berdoa agar Makkah menjadi kota yang aman dan makmur dengan dipenuhi berbagai macam buah-buahan.
Ayat di atas menjelaskan berbagai marhalah dan metode tarbiyah. Tarbiyah memiliki tiga tahapan. Pertama, membacakan kepada manusia ayat-ayat Allah. Kedua, mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan ketiga mensucikan mereka.
Kemudian doa dan tugas ini terealisasikan dengan lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hingga beliau wafat, dan diteruskan oleh umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ (الجمعة: 2)
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al Jumu’ah: 2)
Tarbiyah Merupakan Sarana Untuk Membentuk Kepribadian Islami
Rasanya sulit terjadi perubahan dalam kehidupan seorang muslim tanpa melalui proses pembinaan. Kita renungkan ayat terakhir dari surah Al Fath,
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً (الفتح: 29)
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al Fath: 29)
Ayat ini menggambarkan keberhasilan Rasulullah dalam membina para sahabatnya. Allah Ta’ala menginformasikan tentang empat karakteristik para sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Pertama, memiliki kualitas iman yang kokoh. “Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) bersikap keras terhadap orang-orang kafir”. Hanya dengan iman yang kokoh, orang Islam akan memiliki sikap tegas terhadap segala sifat, perilaku orang-orang kafir, dan menolak segala hal yang berlawanan dengan keimanan. Dengan kekuatan iman dan akhlak, Allah Ta’ala melarang kita bersifat lemah dan selalu berdamai dengan orang kafir. (QS. Muhammad: 35)
Kedua, memiliki ukhuwah yang kuat. “Tetapi berkasih sayang diantara mereka”, yaitu kasih sayang dalam persaudaraan yang dilandasi oleh ikatan iman yang haq, yaitu iman kepada seluruh rukun iman. Karakter ini juga dijelaskan Allah Ta’ala; “Hanyasanya yang bersaudara adalah orang-orang mukmin, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapatkan rahmat.” (QS. al-Hujurat: 10)
Ketiga, tekun beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan. “Mereka rukuk dan sujud (shalat) mencari karunia Allah dan ke-ridhaan-Nya.” Ikhlas adalah ruh setiap ibadah dalam Islam, tanpa keikhlasan maka segala amal ibadah akan menjadi sia-sia.
Karakter keempat adalah selalu tampil dengan akhlak mulia. “Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” Bekas itu bisa berarti efek, dampak, pengaruh atau buah dari suatu perbuatan baik.
Empat karakteristik utama yang dimiliki para sahabat di atas tidak didapat dalam waktu pembinaan yang singkat. Dan tentu saja memerlukan kesabaran yang kuat. Karena untuk dapat menikmati buahnya terkadang harus menunggu masa yang agak lama. Kita tidak boleh tergesa-gesa ingin menikmati hasil dari pembinaan. Sebab, salah satu bagian dari tarbiyah islamiyah adalah tidak tergesa-gesa untuk segera menuai hasil.
Mengapa dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di Makkah tidak ditempuh dua tahun atau lima tahun saja? Beliau berdakwah di Makkah selama 13 tahun, dan hanya menperoleh pengikut kurang lebih 45 orang sahabat sahaja, namun beliau tetap bersabar dan terus mendidik dan mentarbiyah sahabatnya, walaupun dalam keadaan tertindas dan terasing ditengah-tengah masyarakat Makkah saat itu. Setelah 13 tahun, baru kemudian beliau berhijrah ke Madinah. Beberapa tahun setelah hijrah, baru terjadi Fathul-Makkah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 H. Mengapa tidak dilaksanakan pada tahun 5 H atau jauh sebelumnya? Dan tidak ada pembukaan daerah kekuasaan kaum muslimin secara luas kecuali setelah baginda wafat. Hal ini menunjukkan bahwasanya dakwah dan perjuangan Islam ini dilakukan tidak dengan tergesa-gesa. Ini adalah buah kesabaran Rasulullah dalam mentarbiyah para sahabat yang jumlahnya kurang lebih hanya empat puluh lima orang yang kemudian melahirkan orang-orang yang membuka pintu-pintu dakwah yang lebih luas bahkan sampai sepertiga belahan dunia, sungguh sangat menakjubkan!
Contoh Hasil Tarbiyah Rasulullah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ )الحشر: 9)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (Al Hasyr: 9)
Abu Hurairah berkata: “pada suatu hari, seorang mendatangi Rasulullah dan berkata ” Rasulullah aku kelaparan.
Rasul pun menanyakan persediaan makanan kepada para isteri baginda. Namun mereka memberitahu bahwa tidak ada makanan sama sekali. Lalu Rasulullah berkata pada para sahabatnya : “Semoga Allah merahmati siapa pun diantara kalian yang mahu menjamunya malam ini. ”
“Aku akan menjamunya ya Rasulullah” kata seorang sahabat Ansar.
Ia pun pulang dan berkata pada isterinya : “Berikan makanan pada tamu Rasulullah ini”
“Demi Alllah , makanan ini hanya cukup untuk anak-anak kita.”jawb isterinya.
“Jika anak kita lapar tidurkanlah mereka dan padamkan lampu. Biarlah kita menahan lapar pada malam ini” pesan sahabat tadi.
Si-isteri pun melakukan pesan suaminya itu. Atas peristiwa ini lah Allah menurunkan ayat 9 (surah al-Hasyr) ini”. (HR. Bukhari)

Asy-Sayyid Quthb rahimahullah telah menafsirkan ayat di atas di dalam Tafsir Fi Zilalil Quran:
“Sejarah umat manusia seluruhnya tidak pernah mememui satu peristiwa kelompok manusia seperti peristiwa sambutan orang-orang Anshar terhadap orang-orang Muhajirin. Mereka telah memberi sambutan yang begitu mesra dan murah hati kepada kaum Muhajirin. Mereka berkongsi hidup dengan mereka dengan penuh kerelaan. Mereka berlomba-lomba memberi tempat kediaman kepada mereka dan memikul beban penempatan mereka, sehingga ada riwayat yang menceritakan bahwa tidak ada seorang dari Muhajirin yang tinggal di rumah orang Anshar melainkan dengan jalan undi, karena bilangan tuan-tuan rumah yang ingin memberi tempat kediaman itu lebih banyak dari bilangan orang-orang Muhajirin.
“Mereka tidak menaruh keinginan apa-apa di dalam hati mereka terhadap apa saja yang diberikan kepada mereka (Muhajirin)”
Kesanggupan mengutamakan kepentingan orang lain dari kepentingan diri sendiri yang berada di dalam kesusahan itu merupakan satu akhlak yang amat tinggi, yang telah dicapai oleh orang-orang Anshar.
“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kebakhilan dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung.”
Sifat bakhil atau kikir itulah yang menjadi penghalang setiap kebajikan, karena kebajikan itu mengandungi unsur berkorban dalam berbagai macam bentuknya yaitu berkorban harta, berkorban perasaan, berkorban tenaga dan berkorban nyawa jika perlu. Seorang bakhil yang selama-lamanya mahu mengambil dan tidak sekalipun mahu memberi, tidak mugkin berbuat kebajikan. Oleh itu, barangsiapa yang dipelihara dari tabiat bakhil berarti dia terpelihara dari penghalang kebajikan dan dia akan dapat berbuat kebajikan dengan bebas dan murah hati. Inilah keberuntungan dalam arti kata yang sebenarnya.”
Berdasarkan sirah di atas jelaslah kepada kita bagaimana tarbiyah Rasulullah telah melahirkan satu generasi yang mengutamakan kepentingan sahabat-sahabatnya lebih daripada kepentingan diri mereka sendiri.
Bagaimana seorang isteri yang shalehah (isteri sahabat Anshar) bersedia untuk memberikan makanan kepada tetamu yang lapar dan menidurkan anak-anaknya juga dalam keadaan lapar, karena makanan pada malam itu tidak mencukupi. Keshalihan kedua pasangan suami isteri ini telah mendapat pujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Ta’ala ridha dan memberikan rahmat dan keberkatan kepada kedua pasangan tersebut dan anak-anak mereka hingga turun ayat ke 9 ini.
Walaupun nilai amal pada malam itu nampak kecil tetapi ianya sungguh besar disisi Allah. Bayangkanlah betapa mulianya peristiwa malam tersebut sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan satu ayat khusus untuk memberi pujian dan kasih sayang-Nya kepada keluarga tersebut dan sahabat-sahabat Anshar yang lain.
Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved