Follow us:

MEMPERTAHANKAN PERSAHABATAN

Oleh:Ustadz Wiwid Purwawan Lc, M.Si

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله  فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وحبيبه وخليله لا نبي بعده.

فقد قال الله تعالى فى محكم التنزيل وهو أصدق القائلين: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

وقال تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – : ” يَا أَبَا ذَرٍّ ، اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita patut bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan itu merupakan sikap yang tinggi bagi seorang hamba yang menyadari akan berlimpahnya nikmat Allah Ta’ala kepada kita. Apalagi, kita dapat menghadiri panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada hari ini, dimana tidak semua kaum muslimin dapat hadir menjalankan ibadah shalat jum’at. Kita bertemu dengan saudara seiman, bersama-sama meningkatkan iman dan takwa, merupakan bukti bahwa kita masih berusaha untuk tetap istiqamah di jalan Allah Ta’ala. Karena bila kita tidak berjumpa dengan saudara kita seiman, lalu kita akan berjumpa dengan siapa? Kalau kita berjumpa dengan mereka yang berbeda agama dan ideology, tentunya jika hal tersebut menyebabkan keluar dari ketaatan kepada Allah, maka kita bisa terlepas dari jalan istiqamah.

Oleh karena itu, bertemunya kita dengan saudara seiman kita dalam rangka berupaya untuk tetap istiqamah di jalan Allah, perlu kita syukuri bersama.

Pada kesempatan berbahagia ini, khatib ingin menyampaikan hal terkait persahabatan. Apa itu persahabatan, pentingnya bersahabat, dan bagaimana cara untuk melanggengkan persahabatan tersebut.

Kalau kita bercermin kepada masa Rasulullah, maka orang islam yang dikatakan sahabat adalah mereka yang bertemu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam.

Jika pengertian sahabat pada masa Rasulullah memiliki syarat keimanan dalam diri mereka, maka pelajaran yang dapat diambil darinya pada masa sekarang adalah seorang mukmin dikatakan sahabat mukmin lainnya jika keduanya sama-sama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Lalu bagaimana dengan persahabatan seorang muslim dengan non muslim? Persahabatan tersebut bukanlah persahabatan ideologis karena disana tidak ada hak dan kewajiban untuk saling menjaga keimanan antara satu dengan lainnya, berbeda dengan persahabatan mukmin. Karena sudah menjadi sifat seorang mukmin dalam rangka menunaikan hak persahabatannya adalah dengan menjaga keimanan saudaranya.

Memilih Dan Memilah Sahabat

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ ”

Dari ‘Aisyah Radhiallahu Anha berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Hadits ini memberikan keterangan tentang pentingnya memilah dan memilih tentang siapa yang baik untuk dijadikan sahabat. Tentunya sahabat disini adalah ia yang mengerti hak dan kewajiban bagi saudaranya. Sahabat yang menjaga agama saudaranya bukan yang menjerumuskan ke dalam kenistaan. Sahabat yang menjaga diri kita dari hal-hal yang haram, sahabat yang menyadari bahwa persahabatan bukan hanya di dunia saja, tetapi sahabat yang menjaga dan mengerti bahwa persahabatan tersebut bisa langgeng hingga ke akhirat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

‎ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Bahwasanya Allah berfirman pada hari kiamat: “Dimanakah orang-orang yang saling mengasihi dengan keagunganKu, maka pada hari ini aku menaungi mereka di bawah naunganku pada hari tidak ada naungan kecuali naunganKu”. (HR Muslim, dari hadits Abu Hurairah, kitabul Adab, bab Fadhlul hubbi fillah)

Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita. Memilih teman yang jelek akan menyebabkan rusaknya agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia”. (Al Furqan: 27-29)

Lihatlah bagaimana Allah menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Imam Asy-Syafi’I Rahimahullahu banyak memberi pedoman dalam memilih kawan. Beliau juga mengakui sukar mencari sahabat sejati yang mau berbagi dalam suka dan duka bersama. Ketika menilai sahabat sejati pada waktu susah, katanya:

“Kawan yang tidak dapat dimanfaatkan ketika susah lebih mendekati musuh daripada sebagai kawan.”Tidak ada yang abadi dan tidak ada kawan yang sejati kecuali yang menolong ketika susah.

Beliau Rahimahullahu juga berkata,

اِذَا كَانَ لَكَ صَدِيْقٌ فَشُدَّ بِيَدَيْكَ بِهِ، فَإِنَّ اتِّخَاذَ الصَّدِيْقِ صَعْبٌ، وَمُفَارَقَتُهُ سَهْلٌ

“Jika engkau memiliki sahabat maka peganglah kedua tangannya erat-erat, karena mencari sahabat (sejati) sangatlah sulit, adapun meninggalkan sahabat perkara yang mudah”.

مَنْ صَدَقَ فِي أُخُوَّةِ أَخِيْهِ: قَبِلَ عِلَلَهُ ، وَسَدَّ خَلَلَهُ، وَعَفَا عَنْ زَلاَّتِهِ

“Siapa yang JUJUR dalam menjalin UKHUWWAH (persaudaraan) dengan saudaranya… maka ia akan menerima ‘kecacatan’nya, mengisi kekurangannya, dan memaafkan ketergelincirannya”.

Mempertahankan Persahabatan

Setelah mengetahui betapa pentingnya persahabatan tersebut, lalu bagaimana cara untuk mempertahankan persahabatan tersebut?

Banyak diantara kita yang mudah bergaul dan berteman dengan banyak manusia, tetapi berapa banyak orang yang dapat mempertahankan persahabatannya tersebut? Bahkan karena perselisihan dan kepentingan duniawi, persahabatan tersebut buyar. Disebabkan persahabatannya bukan berlandaskan cinta dan benci karena Allah Ta’ala, bahkan bernotabene kepentingan duniawi. Maka perebutan dunia, tidak sedikit menyisakan perselisihan diantara mereka sehingga menjauhkan hati seorang muslim dengan muslim lainnya.

  1. Bercerah Wajah

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال لي النبي صلى الله عليه وسلم: لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق.

Dari Abu Dzar Radhiallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepadaku, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu”. (HR. Muslim)

Senyum kepada lawan bicara, atau orang yang ditemui, akan mencairkan hati dan menimbulkan kebahagiaan. Tidak ada hati yang fitrah dan bersih kecuali pasti akan memberikan respon positif terhadap senyuman. Wajah yang penuh senyuman adalah akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Selain menjadi bagian dari praktek akhlak mulia Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, senyuman juga hal yang diperintahkan oleh beliau kepada ummatnya dalam berinteraksi sosial. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah”. (HR. Tirmidzi, ia berkata: “Hasan gharib”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Hadits ini juga dalil bahwa senyum itu merupakan sedekah. Walhamdulillah, betapa Allah itu Ar Rahim, sangat penyayang kepada hamba-Nya. Karena ternyata sedekah itu tidak harus dengan uang atau harta benda. Cukup menggerakkan otot wajah dan bibir, membentuk sebuah senyuman, seseorang sudah bisa bersedekah. Betapa banyak orang yang ditemui setiap hari sehingga betapa banyaknya sedekah yang dilakukan jika kita mempraktekan akhlak mulia ini.

Andai anda berat untuk tersenyum, setidaknya janganlah bermuka masam, kecut, sinis kepada orang lain. Sekedar memasang muka yang cerah, itu sudah dihitung kebaikan dalam Islam. Sekecil apapun kebaikan, pasti akan berpengaruh terhadap ikatan persahabatan atau persaudaraan kita. Apabila kita belum bisa memberikan kebaikan yang besar kepada saudara kita, maka kita harus memulainya dengan hal-hal yang kecil. Dan apabila persahabatan terlanjur rusak, maka mulailah memperbaikinya dengan hal-hal yang ringan, meskipun hanya bermuka ceria ketika bertemu dengannya.

  1. Lemah Lembut

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan hal ini kepada ‘Aisyah-istri beliau Shallallahu Alaihi Wasallam,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk”. (HR. Muslim)

Sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam berkata dan bertindak.

  1. Saling Memberi

Islam mensyari’atkan sarana yang dapat menyebabkan keakraban, mendamaikan dan menghilangkan kabut hati. Di antara sarana itu adalah saling memberikan hadiah di antara sesama muslim.

Hadiah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma’af. Ia mampu menghilangkan kabut hati, memadamkan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai. Hadiah selalu memberi kesan perdamaian, rasa cinta dan penghargaan dari si pemberi kepada yang diberi.

Persahabatan semestinya tidak kering dari adanya pemberian. Saling memberi hadiah walaupun sedikit tidak ditinjau dari sisi nilai materinya tetapi lebih kepada nilai maknawinya. Hal ini dapat terlihat dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa beliau bersabda,

“Wahai para wanita kaum muslimin, janganlah ada seorang tetangga meremehkan pemberian tetangganya yang lain sekali ia (pemberian tersebut) berupa ujung kuku (teracak) unta.” (HR. Bukhari) Padahal, apalah artinya kuku yang tentunya hanya menyisakan sedikit daging.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan agar saling memberi dan menerima hadiah. Beliau menjelaskan pengaruh hadiah di dalam meraih kecintaan dan kasih sayang di antara sesama manusia,

تهادوا تحابوا

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. al-Bukhari, al-Adab al-Mufrid)

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa pemberian hadiah akan menarik rasa cinta diantara sesama manusia, karena tabiat jiwa memang senang terhadap orang yang berbuat baik kepadanya. Inilah sebab disyariatkannya memberi hadiah. Dengannya akan terwujud kebaikan dan kedekatan. Sementara agama Islam adalah agama yang mementingkan kedekatan hati dan rasa cinta. Hadiah menumbuhkan cinta yang berarti akan mengusir kebencian, permusuhan, dan kedengkian di dalam hati.

Sebagai penutup, yang semestinya diperhatikan dalam memberikan hadiah adalah seseorang hendaknya melihat keadaan orang yang akan diberikan hadiah agar hadiah tersebut berada pada tempat yang semestinya dan lebih bermanfaat bagi yang menerimanya. Seorang yang fakir diberikan hadiah yang bisa dimanfaatkannya dan bisa menolong penghidupan serta nafkahnya. Sementara orang yang berpunya diberi hadiah pula yang sesuai keadaannya seperti diberi minyak wangi dan semisalnya. Dengan demikian masing-masing diberikan yang sesuai dengan keadaannya. (Taudhihul Ahkam, 5/128)

 

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved