Follow us:

Menghindar Dari Musibah Dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dan Istighfar

 

Oleh: Ustadz Mirdas Eka Yora, Lc. M.Si

Akhir-akhir kemarin negeri kita Indonesia sering kali ditimpa musibah yang datang silih berganti. Mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, jatuhnya pesawat terbang maupun tenggelamnya sebuah kapal yang tidak sedikit jumlah korbannya, seolah tiada henti menimpa bumi Indonesia. Ada apa dengan negeri ini?

Beberapa ilmuwan menganggap hal ini wajar jika Indonesia selalu dirundung bencana karena memang secara geologis Indonesia berada pada jalur “ring of fire“ atau cincin api, dan Indonesia adalah titik pertemuan lempeng-lempeng benua sehingga rentan terjadi gempa bumi. Tetapi dari kacamata islam, ini merupakan peringatan dari Allah Ta’ala untuk negeri ini.

Penduduk Indonesia yang sudah merosot moralitasnya, kemaksiatan yang merajalela, korupsi dan suap telah mengundang bencana. Tergantung bagaimana sikap rakyat dan pemimpin Indonesia apakah mau merubah diri atau justru menjadi-jadi yang berujung kehancuran total dan runtuhnya negeri yang bernama Indonesia ini.

Al Quran secara gamblang menjelaskan bahwa Allah akan menghancurkan suatu negeri yang penduduknya telah durhaka kepadaNya dengan terlebih dahulu menjadikan orang-orang yang jahat dan korup sebagai pemimpin.

Ingatlah dahulu bagaimana negeri Saba’ yang subur makmur di hancurkan oleh Allah. Belajarlah bagaimana dahulu kerajaan sebesar Majapahit runtuh. Bukan tidak mungkin Indonesia akan runtuh seperti Majapahit atau bubar seperti Uni Soviet dan Yugoslavia, bila moralitas bangsa tidak menunjukkan tingkat perbaikan.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً (الإسراء: 16)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (Al Isra’: 16)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa apabila Dia berkehendak membinasakan sesuatu negeri, maka sebelumnya, Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negerinya supaya menaati Allah, namun mereka malah semakin durhaka.

Maksudnya apabila sesuatu kaum telah melakukan kemaksiatan dan kejahatan secara merata, yang semestinya itu pantas dijatuhi siksaan dengan jalan menghancurkan negeri mereka dengan bencana alam, sebagai balasan yang setimpal, maka Allah Ta’ala karena keadilan Nya, tidaklah segera menjatuhkan siksaan itu, sebelum memberikan peringatan kepada para pemimpin mereka untuk menghentikan kemaksiatan dan kejahatan kaumnya dan kembali taat kepada Allah.

Akan tetapi menurut sejarah, mereka itu tidak mau mendengarkan peringatan itu, bahkan mereka menjadi pendurhaka-pendurhaka di dalam negeri itu dengan cara membangkang dan menentang peringatan itu dan memperolok-oloknya.

Maka sebagai tindakan yang pantas diperlakukan atas mereka, jalan memusnahkan mereka dari muka bumi adalah dengan adzab siksaan yang berupa bencana alam. Itulah ketentuan Allah yang tak dapat dielakkan lagi, yaitu Allah menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya, sehingga tidak ada sedikitpun yang tersisa, baik rumah-rumah mereka maupun harta kekayaan mereka. Karena adzab Allah jika diturunkan pada suatu tempat, maka ia akan menimpa semua orang yang ada di tempat tersebut, baik orang shaleh maupun thâlih (keji).

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya”. (Al-Anfal: 25)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla memperingatkan kaum Mukminin agar mereka senantiasa membentengi diri mereka dari siksa tersebut dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya serta menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran. Mudah-mudahan hal ini tidak sampai menimpa diri dan bangsa ini. Nas’alullah al afiyah.

Apa solusinya? Melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar

عَنْ حُذَيْفَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan segera mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan”. (HR. Tirmidzi dari Hudzaifah ibn al-Yaman)

Hadits Nabi riwayat Hudzaifah ini kembali menegaskan akan kewajiban setiap muslim untuk mengajak orang lain, dirinya sendiri serta keluarganya kepada kebaikan dan mencegah perbuatan yang buruk. Hukum wajib tersebut tercermin pada ancaman yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Bagi orang-orang yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar tersebut, yaitu akan diberi hukuman/siksa atas keengganannya tersebut, dan juga pada saat itu do’a yang ia panjatkan tidak akan dikabulkan lagi oleh Allah.

Bahkan dalam ayat lain, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa adzab Allah bisa turun kepada suatu negeri dimana kaumnya dalam kondisi aman dan sejahtera. Namun mereka ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah dan kufur kepada-Nya.

وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ (النحل: 112)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (An Nahl: 112)

Kajian sebelumnya telah kita bahas hal-hal yang menghidupkan hati menurut alquran adalah dzikir, tilawah alquran, banyak berdoa dan senantiasa beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Istighfar Menghindarkan Dari Musibah

Sebenarnya, ada kaitan erat antara istighfar dan tertahannya turunnya musibah, istighfar dan turunnya rezki dan lain sebagainya.

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (Hud: 3)

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (Al Anfal: 33)

Ada 2 sebab Allah tidak menurunkan adzab bagi umat manusia ketika di dunia. Sebab pertama telah tiada, yaitu beradanya Nabi dan Rasul di tengah-tengah umat.

Anda bisa perhatikan, orang musyrik sejahat itu, Allah tunda hukumannya, karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ada di tengah mereka. Sehingga beliau menjadi sebab, Allah tidak menurunkan adzab.  Inilah sebab pertama.

Sebab kedua, masih ada hingga akhir zaman yaitu banyaknya umat yang beristighfar, memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Dia menjamin, ‘Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun’.

Dalam sebuah riwayat disebutkan,

قال إبليس ياربي وعزتك لا أربح أغوي بني آدم مادامت أرواحهم في أجسادهم. فقال الله تعالى وعزتي وجلالي لا أزال أغفرلهم ما ستغفروني

Iblis berkata kepada RabbNya, “Dengan keagungan dan kebesaran-MU, aku tidak akan berhenti menyesatkan bani Adam selama mereka masih bernyawa.” Lalu Allah berfirman: “Dengan keagungan dan kebesaran-KU, AKU tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka beristighfar”. (HR. Ahmad)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً{10} يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً{11} وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

“Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Nuh: 10-12)

Terkait istighfar, ia bukan hanya menghidupkan hari seorang mukmin. Tapi ternyata juga dapat menghindari turunnya musibah. Sebab, Allah Ta’ala menjadikan hati yang beristighfar adalah hati yang selalu mencoba mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

…… dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Muzammil: 20)

وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُوراً رَّحِيماً (النساء: 110)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An Nisaa’: 110)

Saking Maha Pengampunnya Allah Ta’ala, hingga disebutkan oleh Rasulullah,

لله أشدّ فرحاً بتوبة عبده حين يتوب إليه، من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة، فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها، فأتى شجرة فاضطجع في ظلّها ، وقد أيس من راحلته، فبينما هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده، فأخذ بخطامها ، ثمّ قال من شدة الفرح : اللهم أنت عبدي وأنا ربّك، أخطأ من شدّة الفرح

“Allah Ta’ala amat gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi gembiranya salah seorang dari pada kamu semasa dalam perjalanan di kawasan tandus (kering kerontang). Ketika berhenti istirahat ontanya berjalan perlahan-perlahan meninggalkannya sambil membawa perbekalan makanan dan minumannya. Lelaki itu telah mencarinya sehingga dia merasa putus asa lalu berbaring di bawah sebuah pohon. Ketika dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba onta yang dicari-carinya tadi muncul di sisinya. Dia terus memegang tali kekang onta tersebut. Oleh karena dia terlalu gembira dia berkata dalam keadaan tidak sadar, “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu”. Ia keliru dikarenakan terlalu gembira”. (HR. Mutafaq ‘Alaih)

Oleh sebab itu, mari kita melazimi doa sayyidul istighfar.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ .

Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Istighfâr yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

(Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

(Beliau bersabda) “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga”. (HR. Bukhari, Nasa’I, Ahmad dan lainnya)

Tidaklah Nabi Yunus Alaihissalam bisa selamat secara logika akal sehat, namun salah satu yang membuat beliau selamat dari perut ikan yang menelannya adalah istighfarnya beliau Alaihissalam kepada Allah Ta’ala.

Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dia berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “ajarkanlah kepadaku sebuah doa untuk aku baca di dalam shalatku”. Nabi menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang mengampuni kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau adalah Al Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar Rahim (Maha pemberi rahmat)”. (HR. Muslim)

Istighfarnya Rasulullah

Para sahabat pernah menghitung jumlah istighfar yang beliau ucapkan dalam suatu (majlis), dan ternyata jumlahnya sangat banyak.

Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dalam satu majlis, kami pernah menghitung ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: “Rabbighfirli watub ‘alaiyya innaka Anta tawwabur-Rahim (Ya, Rabbku. Ampunilah aku dan terima taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang)”, sebanyak seratus kali. (Ash-Shahihah)

Rasulullah telah memberikan contoh kepada umatnya dalam meminta ampunan (istighfar) dan bertaubat kepada Allah Ta’ala. Beliau beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 kali bahkan sampai 100 kali dalam setiap hari, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits berikut ini,

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُاللَّه وَأَ تُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali”. (HR. al-Bukhari)

Dan sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam yang lain,

وَعَنِ الأَغَرِّ بْنِ يَسَارِ الْمُزَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي اليَوْمِ مِأَتَ مَرَّةٍ

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali”. (HR. Muslim)

Setiap hamba pasti pernah terjerumus dalam dosa kecil bahkan juga dosa besar. Sebuah hadits yang patut jadi renungan, Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah benar-benar Maha Pengampun. Setiap dosa –baik dosa kecil, dosa besar, dosa syirik bahkan dosa kekufuran- bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian walaupun dosa itu sepenuh bumi.

Diantara syirik kecil adalah perbuatan riya, sum’ah, ujub atau melakukan berbagai amal shalih karena mengharapkan balasan semisal pujian dan sanjungan dari selain Allah Azza wa Jalla.

Misalnya; seorang muslim beramal karena Allah atau sholat karena Allah namun ia membaguskan amal atau sholatnya itu agar manusia memujinya. Atau seseorang bersedekan namun ia menampakkan sedekahnya kepada orang lain dengan cara memperlihatkan atau memperdengarkannya agar orang menyanjungnya, dan lain sebagainya.

Dan hukum asal dari amal shalih yang dikerjakan orang haruslah dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi. Pelakunya menutupinya agar tidak terlihat oleh orang, khawatir tumbuh perasaan riya (berharap pujian dan sanjungan) dalam dirinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Baqarah: 271)

Perlu diketahui bahwa menampakkan dan menyembunyikan amal kedua-duanya diperbolehkan. Namun menyembunyikan amal shalih itu akan lebih ikhlas. Amalan para ulama salaf menjadi buktinya. Hanya saja, apabila seorang muslim menginginkan agar amal baiknya tersebut diikuti dan dicontoh orang maka ia boleh menampakkan amal tersebut dengan syarat ia sungguh-sungguh menundukkan jiwanya, karena syetan pasti akan berusaha memasukkan riya’ ke dalamnya.

Terdapat dalam Shahih Muslim, dari hadits Jarir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di satu siang. Lalu ada satu kaum yang tanpa pakaian, tidak bersandal, dan berkerudungkan kain sambil menenteng pedang mendatangi beliau. Mayoritas mereka dari suku Mudhar, bahkan keseluruhannya dari suku Mudhar. Wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  langsung berubah saat melihat kesengsaraan mereka. Kemudian beliau masuk rumah lalu keluar. Kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat. Setelah itu beliau berkhutbah sembari membaca firman Allah,

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya (Hawa), yang dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa’: 1)

Dan satu ayat dalam surat al-Hasyr, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). . .”

Maka (hendaknya) seseorang bersedekah dengan sebagian dinarnya, sebagian dirhamnya, sebagian pakaiannya, dan secarub gandum dan kurmanya, -sampai beliau bersabda-, “Dan walaupun bersedekah dengan separoh butir kurma”. Kemudian datang seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan membawa pundi-pundi besar hingga hampir-hampir saja tangannya tidak kuat untuk mengangkatnya. Kemudian Jarir berkata: kemudian orang-orang mengikutinya sampai aku lihat ada dua tumpuk makanan dan pakaian sehingga aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berseri-seri dan bersinar karena senangnya”.

Orang Anshar pada hadits di atas bersedekah dengan membawa kantung yang berat sehingga ia keberatan membawanya. Dan ia lakukan itu dengan dilihat dan didengar manusia. Sehingga ketika orang-orang mengikuti perbuatannya tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang mengawali satu perbuatan baik dalam Islam, maka baginya pahala perbuatan baiknya dan pahala orang mengejakannya sesudahnya tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun. . .”.

Kita akhiri dengan empat pesan nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ! أَفْشُوا اَلسَّلَام, وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ, وَأَطْعِمُوا اَلطَّعَامَ, وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ, تَدْخُلُوا اَلْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia! 1) Sebarkanlah salam, 2) jalinlah tali silturahmi (dengan kerabat), 3) berilah makan (kepada orang fakir dan miskin), 4) shalatlah di waktu malam sedangkan manusia yang lain sedang tidur, tentu kalian akan masuk ke dalam surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved