Follow us:

Menikahlah Wahai Pemuda

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia berkata,

قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan (secara fisik dan harta), hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat meredam (syahwat)”. (Muttafaqun Alaihi)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits di atas memerintahkan para pemuda untuk menikah dengan sabdanya “falyatazawwaj” (segeralah dia menikah),  kalimat tersebut mengandung perintah. Di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan  bahwa: “al ashlu fi al amr  lil wujub “ (Pada dasarnya perintah itu mengandung arti kewajiban).

‘Abdullah bin Jibrin (w. 1430 H) dalam Syarh al-‘Aqîdah al-Thahâwiyah menjelaskan, hadits di atas menunjukkan bahwa syarat menikah adalah al-istithâ’ah (mampu menanggung beban pernikahan). Sebab, dalam hadits tersebut Nabi Saw tidak mengatakan, “Wahai pemuda, menikahlah!” melainkan “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menanggung beban pernikahan, maka menikahlah…”.

Makna Ba’ah Dalam Pernikahan

Dalam hadits di atas, Rasul memerintahkan para pemuda yang mampu (ba’ah) agar menikah. Artinya, bagi para pemuda sudah mampu untuk ba’ah, maka saat itulah saat yang tepat baginya untuk meminang (khitbah).

Adapun maksud kata ba’ah dalam hadits di atas, para ulama terkelompokkan dalam dua pendapat. Kedua pendapat itu sebenarnya merujuk kepada satu pengertian yang sama dan terkait satu sama lainnya. Dua pendapat ulama tersebut adalah sebagai berikut,

Pendapat pertama, makna secara bahasa yaitu jimak (bersetubuh). Dan maksud dari hadits itu adalah siapa saja yang mampu bersetubuh karena ia mampu menanggung bebannya, yaitu beban pernikahan, maka hendaklah dia menikah. Sebaliknya, siapa saja yang tidak mampu jimak, karena kelemahannya dalam menanggung bebannya, maka hendaklah berpuasa untuk mengalahkan syahwat, dan memotong menetesnya air mani seperti al-wija’ (penawar atau penekan nafsu syahwat) memotongnya.

 

Pendapat kedua, makna ba’ah itu adalah kekuatan ekonomi atau kekuatan menanggung beban (al-mu’nah dan jamaknya mu’an) pernikahan. Imam Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim juz ix/173 ketika menjelaskan makna ba’ah, beliau mengutip pendapat Qadhi Iyadh, menurut bahasa yang fasih, makna ba’ah adalah bentukan dari kata al-maba’ah yaitu rumah atau tempat, di antaranya maba’ah unta yaitu tempat tinggal (kandang) unta. Kemudian mengapa akad nikah disebut ba’ah, karena siapa yang menikahi seorang wanita maka ia akan menempatkannya di rumah.

Secara tidak langsung Rasulullah menganjurkan kepada para pemuda untuk memperkuat fisiknya dengan makanan sehat yang bergizi, berolahraga dan sebagainya. Serta menasehati untuk segera berkarya atau berusaha mencari penghasilan halal lagi thayyib, karena dengan mempunyai penghasilan tersebut mereka akan segera menikah.

Asy Syabab

As-Syabab adalah bentuk jama’ dari kata syabbun, dan bentuk jama’ lainnya adalah syubab dan syababah, kata as-syab pada zaman shahabat adalah seseorang yang telah baligh dan belum melampaui umur tiga puluh tahun.

Pendapat Ibnu Hibban dalam kitabnya dijelaskan bahwa As-Syabab adalah nama/istilah/isim bagi seseorang yang telah baligh sampai seseorang yang akan menyempurnakan umur tiga puluh tahun, seperti yang dikemukakan oleh imam Syafi’i. al-Qurthuby berpendapat dalam kitab al-Mufhim dia berkata seseorang yang berusia  muda sampai umur 16 (enam belas) tahun, kemudian syabab (pemuda) sampai umur tigapuluh dua tahun kemudian kahl (orang dewasa yang berusia antara 30-50 tahun), pendapat ini juga dijustifikasi oleh imam Zamahsyari dalam masalah syabab yaitu dari permulaan baligh, sampai berumur 32 tahun. Ibnu Syas al-Maliki dalam kitabnya al-Jawahir berpendapat sampai berumur 40 tahun. Dan Nawawi berkata bahwa: yang lebih shahih dan yang menjadi pilihan adalah sesungguhnya Asy Syabab yaitu seseorang yang telah baligh dan belum mencapai umur 30 tahun, kemudian kahl yang akan mencapai umur 40 tahun, kemudian syaikh (seseorang yang umurnya lebih dari 40 tahun).

Masa muda, adalah masa yang indah. Identik dengan masa tumbuhnya ketertarikan seseorang kepada lawan jenisnya. Pada masa ini pula kematangan organ-organ reproduksi seseorang mulai terasa dan libido seks memuncak. Sehingga masa muda adalah masa yang rawan, jika tidak dibentengi keimanan dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Merebaknya media informasi dan hiburan yang kerap kali menyajikan hal-hal bersifat membangkitkan hawa nafsu sebagai hidangannya, budaya seronok negeri Barat maupun Timur mulai mewabah, serta perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan etika pergaulan Islami, sungguh menjadi cobaan berat bagi para pemuda dalam menjaga diri dan kehormatannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فَتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku cobaan bagi kaum pria yang lebih berbahaya melebihi cobaan wanita”. (HR. Bukhari-Muslim)

Sungguh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar dan telah terbukti. Betapa banyak para pemuda muslim menjadi korban fitnah kaum wanita. Betapa banyak yang terjatuh ke dalam lembah kenistaan, lantaran benteng keimanan mereka terlalu rapuh menghadapi dahsyatnya badai syahwat.

Tatkala muncul sesosok yang memesonakan dihadapan mereka –walau hanya sebuah gambar—mata mereka terlalu berat dipejamkan, wajah mereka terlalu sulit dipalingkan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ

“Katakanlah kepada kaum mu’minin, supaya mereka menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan mereka”. (QS. An-Nur: 30)

Hati mereka terlalu lemah untuk menghilangkan bayangan-bayangan yang mengusik. Tangan mereka terlalu susah dikendalikan, dan kaki mereka terlalu kuat untuk tidak melangkah kepadanya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَتَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kalian mendekat zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Akhirnya, mereka pun menyerah tak berdaya, menuruti bisikkan hawa nafsunya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, dalam menyifati orang-orang yang akan mewarisi surga-Nya

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

“Dan orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluannya”.  (QS. Al-Mu’minun: 5)

Akankah Engkau menjadi korban selanjutnya? Jangan! Janganlah engkau sia-siakan surga Firdaus yang telah dipanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Janganlah engkau menukar masa depan akhiratmu dengan kenikmatan semu yang sesaat. Janganlah engkau lemparkan dirimu ke dalam api neraka.

Oleh karena itu, dengan menikah salah satu masalah sosial akan berkurang. Seorang pemuda menjadi lebih bisa menjaga diri dan kehormatannya. Dengan menikah, seorang pemuda telah menyempurnakan separuh agamanya.

Menikah di samping sebagai ajaran Islam dan sunah Rasul, memiliki berbagai manfaat yang sangat besar diantaranya sebagai dorongan untuk bekerja dan mencari nafkah dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika memiliki beberapa anak. Sebab, semakin tinggi tanggungjawab semakin rajin pula bekerja. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Jika mereka adalah orang-orang miskin, Allaha kan memampukan mereka dengna karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)

Janganlah kemiskinan menghalangi untuk melangsungkan pernikahan. Enggan menikah hanya lantaran takut miskin, bukanlah sikap seorang pemuda yang berjiwa ksatria. Hendaklah berusaha sekuat tenaganya dalam mencari karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian ia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seandainya engkau seorang yang faqir, pasti Allah akan menolongmu dengan memberi rezeki yang berkecukupan. Apalagi pemuda-pemuda yang ingin menjaga kehormatan. Maka mereka itulah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak penelitian yang menunjukkan kalau menikah itu memberi dampak positif, mulai dari aspek psikologis, medis, maupun sosial. Diantaranya:

Menikah mempercepat perkembangan ekonomi dan memperlancar gairah ekonomi.

Menafkahi istri dan anak merupakan kewajiban dan pahalanya besar sekali, lebih besar daripada sedekah yang hukumnya sunnah. Sebagaimana sudah maklum bahwa yang wajib lebih utama daripada yang sunah. Menafkahi orang-orang terdekat sama halnya dengan menolong dan melindungi orang-orang lemah yang juga mempunyai pahalanya tersendiri

Menikah secara tidak langsung telah membantu kementrian sosial. Karena setengah pekerjaan kementrian social telah dikerjakan oleh pemuda-pemuda yang menikah.

Jiwa seseorang akan tenang dengan menikah. Sebab telah memiliki pasangan sebagai tempat mengadu dan bertukar pikiran. Mengurangi penghuni rumah sakit jiwa dan mengurangi jumlah orang bunuh diri.

Secara psikologis, menikah itu bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Frech & Williams (2007) menyatakan bahwa seseorang yang depresi berkurang tingkat depresinya ketika ia menikah. Kok bisa? Karena seseorang yang depresi itu membutuhkan teman untuk berbagi. Nah, ketika sudah menikah, selalu ada “teman” yang setia menemani. Teman alias pasangan hidup itulah yang berperan menurunkan depresi tersebut, karena seseorang bisa bercerita apapun kepada pasangannya tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Menikah di masa muda akan menyehatkan tubuh, diantaranya karena kebutuhan seksual telah dapat disalurkan dengan halal.

Ketika menikah di usia muda, maka kebugaran tubuh seorang pemuda sedang mencapai puncaknya. Bagi seorang wanita telah diketahui bawa menikah di atas usia 30 tahun akan menyebabkan kurangnya kesempatan bagi mereka untuk dapat hamil dan memperoleh keturunan. Selain itu, ketika anda telah punya anak kelak, tubuh anda masih bisa diajak kompromi untuk bekerja keras dalam mencari rizki. Berbeda dengan seorang lelaki yang kita katakanlah dia menikah ketika berusia 35 tahun. Coba banyangkan, ketika anaknya baru masuk SMP umurnya sudah hampir setengah abad, akan sangat sulit.

baginya dapat bekerja keras lagi demi memenuhi kebutuhan anak dan rumah tangganya. Di lain pihak, jika seseorang menikah di usia muda, misalkan 20 tahun, ketika ia berumur 21 atau 22 tahun, ia sudah bisa punya keturunan, dan ketika anaknya telah memasuki jenjang kuliah dan hampir tamat, ia baru berusia 40 tahun, sehingga di umur 50 tahun ia sudah bisa menimang cucu.

Menikah di masa muda lebih diharapkan menghasilkan anak dibandingkan menikah di usia senja.

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan anak atau keturunan. Tentu ada sangat banyak resiko, jika melahirkan anak di atas usia empat puluh tahun, apalagi kalau di atas limapuluh tahun. Idealnya, melahirkan anak itu pada rentang usia duapuluh tahun, hingga usia tigapuluh tahun, sebelum mencapai usia empatpuluh.

Sebagian orang, takut mempunyai banyak anak karena hanya akan menambah beban keluarga dan membuat hidup makin melarat. Sungguh kedua alasan itu adalah alasan yang hanya memperturutkan logika daripada firman Allah dan Sabda Nabi Nya.

Sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini, bom demografi Palestina terus menghantui Israel. Meskipun setiap bulan membunuhi warga Palestina, penjajah Zionis Israel tidak mampu menghentikan laju pertumbuhan penduduk Palestina yang terus meningkat. Angka kelahiran baru yang dirilis Kantor catatan sipil di Kementerian Dalam Negeri Gaza sekaligus menjadi bukti bahwa wanita Gaza paling subur di dunia.

Seperti dikutip Info Palestina, Senin (15/10), data itu menunjukkan perbandingan angka kelahiran dan kematian di Gaza adalah 15 dibanding 1. Selama empat bulan terakhir, terdapat 14,280 angka kelahiran baru. Terdiri dari 7.329 bayi laki-laki, atau 51,3 persen dan 6.955 wanita, atau 48,6 persen. Artinya, lebih dari 155 angka kelahiran terjadi setiap harinya.

Sedangkan angka kematian dalam periode yang sama berjumlah mencapai 974 orang. 523 orang atau 53,6 persen diantaranya adalah laki-laki dan 451 orang atau 46,3 persen adalah perempuan. Artinya kematian di Gaza mencapai 10 orang setiap harinya.

Data sebelumnya menunjukkan, wanita Gaza dikenal sebagai wanita paling subur di dunia. Tingkat kesuburan di Gaza mencapai 6 bayi per wanita. Angka itu jauh di atas tingkat kesuburan di Israel yang mencapai 2,6 bayi per wanita.

Seperti dikutip dari kantor berita Wafa, statistik demografi dan tren pada masyarakat Palestina menunjukkan, persentase jumlah anak-anak tersebut masih akan dominan selama beberapa tahun ke depan. Salah satu penyebabnya, tingkat kesuburan wanita Palestina dan rendahnya tingkat kematian bayi. Sebab lain semakin banyak yang menikah di usia muda. Anak-anak inilah yang kelak akan membela hak dirinya, saudaranya serta kehormatan islam dan kaum muslimin. Dan merekapun akan menghancurkan kekuatan Yahudi Israel.

Oleh:Ustadz Dr. Ahmad Zain An Najah, MA                                                                                                Hud/Darussalam.id

 

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved