Follow us:

Menjadi Muslim Terbaik

Ketika kita membangun sebuah komunitas muslim yang baik, maka sesungguhnya kita pun ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi yang terbaik. Jadi, umat islam memang dihadirkan oleh Allah Ta’ala untuk menjadi yang terbaik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (آل عمران: 110)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imran: 110)

Ayat ini memberikan isyarat bahwa kita diajak oleh Allah untuk selalu berfikir dan memberikan yang terbaik. Oleh itu, hal ini merupakan tuntutan daripada keimanan. Tema “Menjadi Muslim Yang Terbaik” pada kesempatan ini akan menjadi penyemangat diri untuk menjadi yang terbaik.

Siapa manusia muslim yang terbaik itu? Dalam ayat yang menjadi pijakan materi kita (surah Al Hujurat ayat 13) Allah Ta’ala menyampaikan satu hakekat dan keniscayaan yang tidak bisa kita hindari. Bahwa di dunia ini Allah menciptakan makhluknya bermacam-macam. Mulai dari jenis kelamin, warna kulit, bahasa, adat istiadat, bangsa dan sebagainya semuanya berbeda antara satu dengan yang lain.

Oleh karena itu, kita tidak bisa menilai kebaikan dari keragaman ini. Sebab itu semua hanya sekadar variable. Lalu apa timbangannya? Ternyata yang terbaik di sisi Allah Ta’ala adalah yang paling bertakwa. Kenapa ditekankan “yang paling bertakwa di sisi Allah”? Karena untuk menjawab beragam variable dalam menilai kemuliaan dan kebaikan manusia. Sebab dalam perspektif kultur budaya dan strata sosial manusia, terkadang seorang dengan lainnya berbeda dalam menilai kebaikan orang lain.

Oleh sebab itu Allah menegaskan orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات: 13)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al Hujurat: 13)

Ayat ini penting untuk kita renungkan agar setelah ini tidak ada lagi yang memandang bahwa kelompok, etnis, atau suku tertentu lebih utama daripada lainnya. Karena hal ini hanya menurut pandangan manusia. Ayat di atas sebenarnya menegaskan bagaimana sesungguhnya menilai kebaikan seseorang dan menunjukkan siapakah muslim terbaik disisi Allah Ta’ala.

Para ulama’ tafsir meriwayatkan sebuah riwayat yang menjadi sebab turunnya ayat 13 di atas. Ketika Fathu Makkah (penahlukan kota Makkah), Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Beberapa orang berkata: “Apakah pantas budak hitamm ini adzan di atas Ka’bah?” Maka berkatalah yang lainnya: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.”  Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Diriwayatakan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abi Mulaikah.

Kenapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggunakan bahasa “yang paling bertakwa” yang lebih integral dan universal?! Tidak menggunakan bahasa “yang paling dahulu islamnya” atau ”yang paling kuat imannya” dan sebagainya. Karena bahasa “Takwa” cakupannya lebih umum dan luas. Berbeda dengan lafadz-lafadz lainnya.

Oleh itu, ketika membaca ayat-ayat alquran yang berbicara tentang takwa, lihatlah sifat-sifat orang bertakwa. Apakah sifat-sifat orang bertakwa khusus terhadap sifat-sifat tertentu atau lebih variatif? Lebih variatif.  Contohnya, dalam awal surah Al Baqarah,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ{2} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ{3} والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ{4}

Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (Al Baqarah: 2-4)

Dalam redaksi lainnya, Allah Ta’ala menggambarkan sifat orang bertakwa dengan mereka yang sedikit tidur di waktu malam (qiyamul lail), beristighfar di waktu sahur dan memberikan sebagian harta yang memang telah menjadi hak orang-orang miskin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ{15} آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ{16} كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ{17} وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ{18} وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ{19}

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.  (Adz Dzariyat: 15-19)

Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa orang bertakwa adalah yang berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarahnya, dan mudah memaafkan saudaranya. Sebagaimana dalam surah Ali Imran.

Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ{133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ{134}

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Ali Imran: 133-134)

Apa kesimpulannya? Bahwa takwa ada hubungannya dengan Allah dan manusia. Selama ini, sebagian orang menilai takwa hanya focus pada ibadah ritual, ini tidak salah. Namun penilaian ini tidak lengkap, karena dimensi takwa juga terkait dengan dimensi social. Inilah mengapa Allah mendefinisikan manusia yang terbaik adalah yang paling bertakwa.

Rasulullah juga telah mengingatkan kedua sahabatnya dalam sebuah haditsnya yang shahih,

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح)

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih)

Ternyata interaksi sosial kita dengan sesama manusia merupakan bentuk takwa kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah tidak mengatakan “pergaulilah orang beriman dengan akhlak yang baik”, namun mengatakan “pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. Maknanya, bahwa takwa kepada Allah yang sesungguhnya sangat tergantung dengan pergaulan kepada orang lain.

Bagaimana Menjadi Muslim Terbaik

Kalau melihat kembali tentang pesan nabi terkait menjadi muslim terbaik, maka kehidupan ini akan menjadi damai, sejahtera dan makmur. Diantara hadits tersebut adalah,

عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Dari Abi Musa Radhiyallaahu Anhu, mereka bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling utama?’ Rasulullah menjawab: ‘Seorang muslim yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya.’ (HR. Bukhari)

Redaksi semakna akan didapatkan pada hadits shahih Muslim dengan lafadz أي المسلمين أفضل.

Dengan demikian, makna pertanyaan ini adalah bagaimanakah keislaman yang paling utama, atau orang Islam yang paling utama itu yang bagaimana?

Menjawab pertanyaan ini Rasulullah menjelaskan dengan sabda yang sama dengan hadits sebelumnya, yakni قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang muslim yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya”.

Kesimpulannya, sebagaimana salah satu makna Islam adalah “selamat” yang diambil dari asal kata salima, maka diantara karakter muslim terbaik adalah menyelamatkan. Tidak mencelakakan orang lain, terlebih sesama muslim. Baik dengan tangan maupun lisannya.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ustadz Dr. Kusyairi Suhail, MA.

(Hud/darussalaam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved