Follow us:

Meraih Keutamaan Ramadhan

Ramadhan merupakan suatu momen super khusus disediakan Allah Swt kepada kaum muslimin. Dikatakan demikian karena bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya. Allah Swt menyediakan berbagai keutamaan ini kepada orang-orang yang memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Inilah rahmat dan nikmat Allah Swt yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan moment ini dengan memperbanyak ibadah. Maka bersyukurlah kepada Allah dengan dipertemukan dengan bulan Ramadhan ini.

Memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah saw senantiasa memberi taushiah (ceramah) mengenai hukum puasa Ramadhan kepada para sahabat. Beliau juga menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan agar umatnya termotivasi dan bersemangat untuk beribadah dengan maksimal di bulan Ramadhan. Tujuannya untuk menjadi orang yang bertaqwa.

Rasulullah saw memberi gelar bulan Ramadhan dengan sebutan sayyidusy syuhur (penghulu bulan-bulan). Dinamakan demikian karena bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita berusaha untuk meraih keutamaan-keutamaan tersebut dengan melakukan berbagai ibadah.

Banyak keutamaan yang dibawa oleh bulan Ramadhan. Di antara keutamaan bulan Ramadhan yaitu:

Pertama: Ramadhan merupakan syahru asy-syiyaam (bulan puasa). Pada bulan Ramadhan Allah Swt mewajibkan puasa selama sebulan penuh. Tujuannya adalah untuk menjadi orang bertakwa. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183). Rasulullah saw bersabda: “Sungguh bulan yang penuh berkah telah datang kepada kalian. Allah mewajibkan berpuasa padanya….” (HR. Ahmad, An-Nasai dan al-Baihaqi). Inilah keutamaan bulan Ramadhan yaitu diwajibkan berpuasa padanya selama sebulan penuh agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Kedua: Ramadhan merupakan syahru al-Quran (bulan Al-Qur’an). Dinamakan Ramadhan dengan syahru al-Qur’an karena pada bulan Ramadhan diturunkan permulaan Al-Qur’an.

Allah Swt berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185). Di ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul qadar” (Al-Qadar: 1). Malam Lailatul Qadar itu hanya ada pada bulan Ramadhan. Dengan demikian, jelaslah bahwa Al-Quran itu diturunkan di bulan Ramadhan tepatnya pada pada malam Lailatul Qadar. Diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, amalan yang paling dianjurkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya pada bulan Ramadhan adalah memperbanyak tadarus Al-Qur’an (interaksi dengan Al-Quran). Rasulullah saw telah memberikan contoh teladan kepada kita bagaimana menghidupkan hari-hari Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. bahwa pada bulan Ramadhan Rasulullah saw selalu bertadarus Al-Qur’an dengan malaikat Jibril ‘alahi as-salam. (HR. Al-Bukhari).

Maka, sudah seharusnya pada bulan Ramadhan ini kita memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an atau tadarus al-Qur’an mengikuti sunnah Rasul saw dengan cara membaca, memahami, mengkhatamkan, mentadabburi, menghafal, dan mempelajari Al-Qur’an.

Ketiga: Bulan Ramadhan merupakan syahrun mubarak (bulan penuh keberkahan). Rasulullah saw menyebutkannya dengan syahrun mubarak, karena bulan Ramadhan memberi keberkahan, baik keberkahan di dunia maupun di akhirat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Ketika Ramadhan tiba, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya bulan yang penuh berkah telah datang kepada kalian. Allah mewajibkan kalian puasa padanya. Di bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para syaithan diikat. Padanya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa dihalangi dari kebaikannya, maka ia benar-benar telah dihalangi.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Yang dimaksud dengan keberkahan Ramadhan adalah dilipat gandakan pahala ibadah seseorang. Inilah keberkahan akhirat. Ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah Swt akan melipat gandakan pahalanya dan memberikannya bonus-bonus pahala lebih banyak dibandingkan bulan lainnya. Allah Swt menyediakan satu malam pada bulan Ramadhan yang bernama Lailatul Qadr (malam kemuliaan) yang pahala ibadah padanya itu lebih baik dari seribu bulan.

Allah Swt berfirman: ”Lailatul qadr (malam kemuliaan) itu lebih baik dari dunia daripada seribu bulan.” (Al-Qadr: 3). Umrah yang dilakukan pada bulan Ramadhan setara dengan amalan haji bersama Rasulullah saw. Nabi saw bersabda: “Umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji atau setara dengan haji bersamaku.” (HR. Muslim).

Tidak hanya itu, ibadah sunnat yang dilakukan di bulan Ramadhan senilai dengan ibadah wajib di bulan lainnya. Adapun ibadah wajib pada bulan Ramadhan senilai dengan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan lainnya. Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan (pada bulan itu), seolah-olah ia mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan lainnya. Siapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan yang lain, ia seolah-olah mengerjakan tujuh puluh kebaikan di bulan lainnya.” (HR. Baihaqi).

Ramadhan tidak hanya membawa keberkahan di akhirat dengan menuai dan berlipat ganda pahala, namun juga membawa keberkahan di dunia yaitu bertambah dan melimpah rezki kita. Banyak orang yang bertambah rezkinya pada bulan Ramadhan. Maka sudah seharusnya kita bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat-Nya kepada kita. Tentunya dengan cara berpuasa, memperbanyak tadarus Al-Quran, melakukan shalat-shalat sunnat, berzikir, dan berinfak.

Keempat: Bulan Ramadhan merupakan syahru al-‘ibadah wa at-taqwa (bulan ibadah dan ketakwaan). Di bulan Ramadhan ini kita diwajibkan berpuasa Ramadhan. Begitu pula, dianjurkan melakukan shalat-shalat sunnat khususnya shalat tarawih, tahajud, witir, melakukan tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, berzikir, berdoa, infak dan melakukan amal shalih lainnya. Maka bulan ini dinamakan dengan bulan ibadah dan ketakwaan. Dengan menjalankan ibadah puasa dan lainnya di bulan Ramadhan ini maka diharapkan kita menjadi orang yang bertakwa. Inilah cita-cita tertinggi, harapan dan doa setiap muslim kepada Allah Swt.

Ramadhan melatih kita dengan berbagai ibadah tersebut agar kita menjadi orang yang bertakwa. Melalui ibadah puasa fulltime setiap hari selama sebulan penuh, kita dilarang melakukan hal-hal yang mubah dan halal seperti makan, minum, dan hubungan suami istri hanya karena ketaatan kepada Allah Swt. Jika hal-hal yang halal dan mubah tersebut dilarang ketika berpuasa, maka terlebih lagi hal-hal yang diharamkan. Tentu kita harus lebih menjaga diri dari yang diharamkan Allah Swt. Inilah hikmah dan keutamaan puasa.

Selain itu, melalui ibadah qiyam Ramadhan (shalat tarawih dan witir), tadarus al-Qur’an dan i’tikaf. Melalui shalat tarawih dan witir setiap malam selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, kita diharapkan terbiasa dengan melakukan shalat-shalat sunnat di bulan-bulan lainnya setelah Ramadhan. Melalui tadarus Al-Quran setiap hari di bulan Ramadhan, maka kita diharapkan selalu berinteraksi dengan al-Quran sebagai petunjuk hidup kita. Begitu pula melalui ibadah i’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kita diharapkan terbiasa dengan melakukan ibadah setiap saat dan berkesinambungan.

Kelima: Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta setan-setan diikat. Rasulullah saw bersabda: “Apabila bulan Ramadhan masuk, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengomentari hadits ini, beliau berkata: “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertaubat serta kembali kepada Allah ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika setan-setan dibelenggu?”.

Rasulullah saw juga bersabda: “Pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu. Kemudian ada seorang malaikat berseru: “Wahai pencinta kebaikan bergembiralah!. Wahai para pencari kejahatan berhentilah!” hingga Ramadhan berakhir.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Dengan demikian, pada bulan Ramadhan dibuka peluang bagi kita untuk masuk ke surga dan ditutup peluang masuk ke neraka dengan ibadah puasa. Peluang berbuat maksiat pada bulan Ramadhan ditutup dengan ibadah puasa, karena puasa merupakan perisai atau penahan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Puasa itu perisai (pencegah maksiat)”. (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i). Terlebih lagi setan-setan yang menjadi guru para pelaku maksiat selama ini diikat dan dipenjara pada bulan Ramadhan. Jika ada yang melakukan maksiat pada bulan Ramadhan berarti dia murid setan selama ini atau dia tidak berpuasa sehingga tidak dapat menahan dirinya berbuat maksiat. Maka, bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat kondusif untuk beribadah, beramal shalih dan meninggalkan maksiat.

Keenam: Bulan Ramadhan merupakan syahru al-maghfirah (bulan pengampunan dosa). Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa melalui puasa dan shalat tarawih. Rasulullah saw bersabda: ”Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). Rasulullah saw bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batasnya, dan ia menjaga diri dari segala sesuatu yang harus dihindari, maka dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Rasulullah saw juga bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah saw juga bersabda: “Barangsiapa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan berharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketujuh: Bulan Ramadhan merupakan syahru itqin min an-nar (bulan pembebasan dari api neraka). Allah Swt membebaskan para hamba-Nya yang dikehendaki dari api neraka pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda, “Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam Ramadhan.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Kedelapan: Pada bulan Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadar. Keutamaan beribadah pada malam Lailatul Qadar itu pahalanya lebih baik dari seribu bulan atau 83 tahun lebih. Allah Swt berfirman: “Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr: 3).

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya bulan yang penuh berkah telah datang kepada kalian. Allah Swt mewajibkan kalian puasa padanya. Di bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Padanya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa dihalangi dari kebaikannya, maka ia benar-benar telah dihalangi.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Rasulullah saw juga bersabda: ”Barangsiapa yang melakukan shalat di malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Malam Lailatul Qadar itu Allah Swt sediakan pada suatu malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata: Rasulullah saw bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan Ramdhan melebihi bulan-bulan lainnya. Dan beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi malam-malam lainnya. (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata: Rasulullah saw beri’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda: ”Carilah malam Lailatul Qadar di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Karena itu, kita sangat digalakkan untuk beri’tikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah) pada hari-hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan mengikuti sunnah Rasul saw untuk mencari malam Lailatul Qadar.

Begitu banyak keutamaan dan kelebihan yang dimiliki oleh Ramadhan sehingga Rasulullah saw bersungguh-sungguh beribadah di bulan ini dan memberi gelar kepada bulan Ramadhan dengan dengan sebutan sayyid asy-syuhuur.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beribadahlah sesuai dengan petunjuk (sunnah) Rasul Saw agar ibadah kita diterima oleh Allah swt dan dapat meraih berbagai keutamaan yang disediakan Allah Swt pada bulan yang mulia ini.

Berbagai keutamaan Ramadhan tersebut tidak didapatkan oleh orang yang sibuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan tontonan televisi yang melalaikan ibadah dan tidak ada manfaat, bahkan menghilangkan pahala puasa jika tidak dikatakan membatalkannya seperti sinetron, film, musik dan lagu yang mempertontonkan aurat dan menimbulkan syahwat. Tidak pula didapatkan oleh orang yang sibuk dengan permainan yang melalaikan ibadah seperti permainan kartu, batu, catur, game, dan sebagainya. Begitu pula tidak didapatkan oleh orang yang menghabiskan waktu dengan tidur, bermalas-malasan dan media sosial seperti WA, Facebook, Instagram dan lainnya.

Sesungguhnya keutamaan-keutaaman Ramadhan tersebut hanya didapatkan oleh orang-orang yang mengisi Ramadhan dengan puasa dan berbagai aktivitas ibadah lainnya seperti shalat-shalat sunnat terutama tarawih, tahajjud dan witir, tadarus Al-Qur’an, berdoa, berzikir, berinfaq dan sebagainya. Keutamaan ini diperuntukkan kepada orang yang beribadah.

Sudah sepatutnya berbagai keutamaan Ramadhan tersebut memberi motivasi dan semangat bagi kita untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan keimanan kita agar kita menjadi orang bertakwa. Sangat disayangkan bila Ramadhan yang memiliki banyak keutamaan tersebut datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita.

Maka hendaklah kita memanfaatkan momentum Ramadhan kali ini dengan memperbanyak ibadah. Jadikanlah Ramadhan kali ini Ramadhan terbaik kita. Seolah-olah ini Ramadhan terakhir kita. Semoga kita dapat meraih berbagai keutamaan yang disediakan pada bulan Ramadhan ini. Amin..!

*Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Provinsi Aceh, & Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.

Oleh:Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

(hud/darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved