Follow us:

Muhasabah Menuju Takwa

 

إنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي ولا رسول بعده.

اللهم صل وسلم على هذا النبي الكريم والرسول المبين نبينا محمد وعلى أله وأصحابه، ومن سن بسنته، ومن دعا بدعوته، ومن جاهد فى سبيل الله حق جهاده، ومن سار على دربه إلى يوم الدين.

فقد قال الله تعالى فى كتابه الكريم:  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر: 18)

وقال أيضا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: 102)

أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون

Jama’ah sidang Jum’at Rahimakumullahu

Sebagai seorang mukmin sejati, tentu harus selalu berupaya untuk mengokohkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Karena dengan ketakwaan, seorang bisa meraih kebahagiaan baik ketika di dunia maupun di akhirat. Dengan takwa, seseorang bisa mendapatkan kemudahan, segala perkara akan dimudahkan. Takwa juga merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: 102)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran: 102)

Jama’ah Rahimakumullahu

Di bulan-bulan awal tahun ini, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan oleh Allah untuk memperbaiki diri kita. Lalu point-point apa saja yang harus kita evaluasi dalam diri kita masing-masing? Point-point tersebut tidak lain adalah point yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Ta’ala kelak di akhirat.

Secara spesifik Rasulullah menyebutkan point-point tersebut dalam sebuah hadits dari Sahabat Abu Barzah, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang (4 perkara:) (Pertama,) tentang umurnya dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” (HR. Tirmidzi, dan Tirmidzi berkara hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah)

Siapakah yang bertanya dalam hadits ini? Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb/Tuhan semesta alam, pada hari di mana seseorang tidak bisa memberi manfaat kepada selainnya dan keputusan hari itu hanya ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah sudah engkau persiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan diatas?

Ke empat hal ini akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Ta’ala kelak di akhirat. Maka berbahagialah orang-orang yang mampu menjawab, mempertanggungjawabkannya. Dan sebaliknya, celaka dan sengsaralah bagi orang yang tidak mampu mempertanggungjawabkannya.

Oleh karena itu, memahami pertanggungjawaban ke empat hal ini begitu sangat penting. Dan kita memang diminta oleh Allah Ta’ala untuk selalu bermuhasabah diri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر: 18)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Hasyr: 18)

Pertama, usia

Tentang umur, orang-orang beriman telah mengetahui bahwa panjang pendeknya umur seseorang telah ditentukan oleh Allah. Bahkan sejak usia seseorang baru 120 hari dalam kandungan ibu, usia seseorang sudah dicatat batasnya oleh Malaikat atas perintah Allah Ta’ala. Sehingga orang beriman tidak terlalu peduli dimana dan kapan akan meninggal. Tetapi yang sangat penting mendapatkan perhatian adalah apakah kematian kita nantinya akan dalam keadaan Husnul Khatimah atau Su’ul Khatimah.

Berbicara soal umur, akan berbicara tentang waktu. Apakah usia yang diberikan Allah sudah kita maksimalkan untuk beribadah dan beramal shalih?? Ataukah sebaliknya kita isi dengan kemaksiatan?? Hanya diri masing-masing yang mengetahui, oleh itu mari kita bermuhasabah diri.

Orang beriman akan senantiasa berupaya mengisi waktu-waktunya dengan amal-amal shalih. Sebab, nanti di akhirat akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala telah memperlihatkan kepada kita, begitu banyak orang-orang yang tidak bersegera beramal shalih dan lalai namun sudah dijemput oleh ajalnya. Alangkah ruginya orang-orang yang lalai dalam mengoptimalkan  waktunya untuk beramal shalih. Dan alangkah baiknya orang-orang yang sudah mempersiapkan bekal-bekal unutk kembali kepada Allah dengan beriman dan banyak beramal shalih. Karena hidup ini memang upaya bagi kita untuk mempersiapkan bekal yang banyak demi kembali ke negeri akhirat selama-lamanya. Dan hanya ada dua pilihan di akhirat kelak, yaitu bergabung bersama kelompok penghuni surga atau bersama penghuni neraka.

Allah Ta’ala menggambarkan penyesalan orang-orang di akhirat dalam ayat yang berbunyi,

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْماً ضَالِّينَ{106} رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ{107} قَالَ اخْسَؤُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ{108}

Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku”. (Al Mukminun: 106-108)

Sebuah penyesalan yang tidak ada gunanya. Karena itu, selama kita tetap bernafas, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua, ilmu

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk selalu mencari dan menuntut ilmu sampai kita mati. Sebab, ilmu lah yang menunjukkan mana yang halal dan haram, baik dan buruk, mana yang seharusnya dikerjakan mana yang seharusnya ditinggalkan.

Seharusnya semakin dalam ilmu seseorang, maka semakin ia takut, dekat dan khusyu’ dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta bertakwa kepada-Nya. Tapi hari ini, banyak orang semakin pintar, namun semakin membangkang terhadap perintah Allah, semakin jauh bahkan meninggalkan Allah Ta’ala. Apakah mereka merasa sudah hebat dan pintar? Apakah mereka sudah merasa menundukkan dunia dengan ilmu mereka??

Sebab itu, kita harus sadar diri bahwa sebenarnya ilmu yang kita dapatkan dan miliki ketimbang ilmu Allah, sangat-sangatlah sedikit sekali. Layaknya jari telunjuk yang dicelupkan kelautan kemudian diangkat lalu ada air yang menetes dari air tersebut, itulah ilmu manusia. Sedangkan air lautnya adalah ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

…. وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً (الإسراء: 85)

…..dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Isra’: 85)

Seharusnya, semakin luas dan dalam ilmu seseorang, ia akan semakin bertakwa dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

…..  إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (فاطر: 28)

…..Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Fathir: 28)

Ketiga, harta

Hal ketiga yang akan ditanyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tentang harta kita. Dari mana harta tersebut diperoleh dan ke mana harta itu dihabiskan. Apakah harta tersebut didapatkan dengan cara halal atau haram? Atau apakah kita memberikan harta yang haram kepada anak dan istri kita?

Allah Ta’ala telah menjelaskan harta yang halal dan haram. Apabila kita mendapatkan harta yang haram sangat berat hukumnya. Sebab, satu kunyahan yang berasal dari harta haram, neraka lebih utama baginya (orang yang mengkonsumsi harta haram tersebut).

Tetapi tidak sekedar sampai disini saja, “kemana harta itu dihabiskan”, akan menjadi pertanyaan selanjutnya dan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.

Seribu rupiah bisa tergolong menjadi syukur nikmat apabila dikeluarkan dalam rangka mendapatkan keridhaan Allah. Sebaliknya, bisa menjadi kufur nikmat yang mendapatkan ancaman dari Allah bila dikeluarkan dalam rangka mendurhakai Allah Azza wa Jalla. Maka ketika seorang mukmin mengeluarkan harta, harus jelas kemana harta itu akan disalurkan. Apakah dalam rangka meraih ridha Allah atau malah mendapat murka-Nya.

Sebab itu, bagi kita yang sering memubadzirkan, bahkan menyia-nyiakan harta, hendaklah sadar dan mawas diri karena kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Ta’ala. Darimana dan kemana harta itu dihabiskan.

Keempat, tubuh

Hal keempat yang akan ditanyakan oleh Allah Ta’ala adalah tentang tubuh atau fisik kita. Apakah kita gunakan tubuh sehat ini untuk beribadah dan beramal shalih atau malah digunakan untuk mengundang murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik itu mata, telinga, hidung, kaki, tangan, otak dan semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.

Oleh: Ustadz Abdullah Adam

(Hud/Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved