Follow us:

Para Muslimah Ulama yang Jarang Diketahui

Bukan hanya laki-laki, kaum perempuan pun turut berperan dalam memajukan peradaban Islam. Sayangnya, banyak sumbangsih Muslimah yang seolah-olah terlewatkan dari catatan buku-buku sejarah klasik.

Hal itulah yang kemudian menjadi sorotan para peneliti era kontemporer. Sebagai contoh, Mohammed Akram Nadwi.

Ia telah melakukan proyek jangka panjang untuk menggali biografi ribuan perempuan yang berpartisipasi dalam tradisi hadis sepanjang sejarah Islam. Hasil kerja kerasnya itu mewujud buku yang berjudul Al-Muhaddithat: Cendekiawan Wanita Dalam Islam. Buku biografi itu terdiri atas 40 jilid dari para perempuan Muslim yang mempelajari dan mengajarkan hadis.

Berikut ini adalah profil beberapa Muslimah yang termaktub dalam karya biografis dari M Akram Nadwi.

Umm Waraqah binti Abdullah (wafat sekitar 640-an M)

Nama lengkapnya Umm Waraqah binti Abdullah binti Harits. Merujuk hadis riwayat Abu Dawud, keilmuannya membuat Rasulullah SAW merestui Umm Waraqah menjadi imam di rumah dan kampungnya di Madinah. Ummu Waraqah tidak hanya pandai membaca Alquran, melainkan juga memahami dan menghafalnya dengan baik.

Ia turut berjasa menghimpun dan menuliskan ayat-ayat Alquran pada tulang, kulit, pelepah kurma dan lain-lain. Setelah Rasulullah SAW wafat, dan Abu Bakar berencana menghimpun Alquran, Ummu Waraqah ditunjuk Khalifah untuk menjadi salah seorang rujukan penting bagi Zaid bin Tsabit sebagai pelaksana proyek.

Amrah binti Abdurrahman (wafat 717 M)

Di antara murid ummul mukmini, Aisyah, yang paling cemerlang dari kalangan tabiin adalah Amrah binti Abdurrahman. Merujuk Yahya bin Main dan Ali bin al-Madini, Amrah adalah ulama paling tepercaya pada masanya dan yang paling ahli terkait hadis-hadis yang diriwayatkan Aisyah.

Sejarah Islam juga mencatat peran penting Amrah dalam pencatatan hadis. Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz pertama-tama mememerintahkan pengumpulan hadis pada Gubernur Madinah Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm, ia diminta merujuk pada dua ulama penghafal hadis. Di antara dua ulama itu adalah Amrah binti Abdurrahman dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Selain Amrah, murid-murid Aisyah lainnya yang dinilai cerdas dan terpecaya periwayatan hadistnya adalah Hafsah bint Sirin dan Aisyah bint Thalhah.

Umm al-Darda as-Sughra (abad ke-7)

Dialah seorang perempuan ulama yang dikenang dalam sejarah. Menurut Mohammad Akram Nadwi dalam Al-Muhaddithat (2007), sang Muslimah menebarkan ilmu di wilayah Syam, termasuk Damaskus dan Palestina.

Reputasinya tinggi sebagai seorang alim. Seorang tabiin, Iyas bin Mu’awiya, pernah berkata bahwa tidak ada yang melampaui Umm al-Darda dalam hal pengetahuan ilmu-ilmu agama pada masanya. Bahkan, seorang raja Dinasti Umayyah, yakni Abdul Malik bin Marwan diketahui sebagai salah satu murid Umm al-Darda.

Umm al-Darda juga terkenal dengan ucapannya yang menekankan nilai ibadah dari mencari ilmu. “Aku sudah mencari segala cara beribadah. Tak ada yang lebih menenangkan hatiku ketimbang duduk bersama para terpelajar dan bertukar ilmu dengan mereka,” katanya.

Perintis universitas pertama

Satu nama lainnya yang tak kalah luar biasa. Bahkan, dialah sosok yang menginisiasi universitas pertama di dunia. Sosok yang dimaksud adalah Fatima al-Fihria. Putri seorang pedagang kaya bernama Muhammad al-Fihri tersebut merintis berdirinya Universitas al-Qarawiyyin di Fez (Maroko) pada 859 Masehi.

Keluarga al-Fihri telah bermigrasi dari Kairouan (di sinilah asal nama masjid), Tunisia ke Fes pada awal abad kesembilan Masehi. Sepeninggal Muhammad al-Fihri, putrinya tersebut mengembangkan masjid yang sudah dibangun pihak keluarganya.

Bukan sekadar pengembangan. Ia mendirikan pusat keilmuan yang bukan hanya tempat transmisi ilmu-ilmu agama, melainkan segala ilmu yang berguna untuk masyarakat luas.

Lambat laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang. Tak cuma mengkaji Alquran dan fikih, tapi juga meluas hingga ke bidang tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, bahkan musik. Beragam topik yang disajikan oleh para ilmuwan terkemuka ini akhirnya membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia. Sejak itulah, aktivitas keilmuan di al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi, sebagaimana yang dipahami era modern kini. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved